
π RUANG GELAP π
Ningsih membuka mata, sesuatu terjadi saat dirinya diruqiyah. Bima yang awalnya mencoba menahan untuk tidak menyerang, akhirnya terpental ketika kekuatan dahsyat menghantam. Hal itu membuat Tuan Chernobog geram dan langsung keluar dari neraka untuk mengambil Ningsih dan menyerang balik para manusia yang telah mengganggu.
Setelah itu, Ningsih tak tahu apa-apa lagi. Tiba-tiba dia tersadar dan berada di ruang gelap. Tak ada cahaya sama sekali di sana. Ningsih menjadi takut dan bingung.
"Aku di mana? Bima! Bima! Aku berada di mana?" teriak Ningsih berkali-kali sambil berjalan pelan dan meraba sekelilingnya.
Tak hanya gelap, di sana tak ada benda apa pun. Ruangan gelap, tak berisi, dan tak ada batas. Ningsih mencoba berjalan perlahan sambil meraba, tetapi tak kunjung dia temukan sudut ataupun ujung dari ruangan itu.
"Bima ... huhuhuhu ... aku takut, Bima," lirih Ningsih yang memang benci kegelapan.
Ningsih yang lelah pun memutuskan untuk duduk. Dia terdiam karena tak tahu harus berbuat apa dan bagaimana untuk keluar dari tempat itu. Herannya, meski sudah lama Ningsih di ruang gelap itu, tak juga dia rasakan lapar atau haus. Semua yang Ningsih rasakan hanya hampa.
"Bima ... kamu di mana? Please, tolong aku. Aku takut gelap. Aku benci tempat ini. Huhuhu ...." kata Ningsih di sela tangisnya.
Ruang gelap itu, tempat yang disediakan khusus dengan energi tinggi. Agar Ningsih tak bisa ditemukan oleh siapapun kecuali si pembuat ruang gelap itu. Tak hanya manusia, iblis, bahkan malaikat pun tak akan bisa menemukan Ningsih di ruang gelap.
Laurent membuat ruang itu dengan hampir seluruh energinya. Dia sudah bertekad membantu Bima dan wanita impiannya. Hal ini menjadi option terakhir untuk menghentikan manusia menyakiti raga Ningsih dan mencegah Tuan Chernobog mengambil roh Ningsih.
Sebenarnya, ruqiyah dan exorcism yang dilakukan manusia hanya akan membuat raga orang itu menjadi semakin lemah dan kondisinya bisa makin parah jika tak tertolong. Roh seseorang yang mengikat perjanjian dengan iblis, sudah menjadi milik iblis itu sendiri. Sulit untuk melepaskan dan kemungkinan bertahan hanya sedikit.
Tak heran jika pelaku pesugihan, pemakai susuk, santet, pelet, hingga penglaris, pasti berujung dengan hal sial dan kematian. Jerat Iblis sulit dilepas. Apalagi jika pelaku bersedia, dengan sadar menukar jiwanya demi mengikuti jalan iblis.
Namun, hal itu berbeda dengan keadaan Ningsih dan Bima yang saling mencinta. Bima tak ingin mengambil Ningsih menjadi budak abadi di neraka, tetapi apa daya Bima yang mempunyai Tuan Chernobog. Sulit bagi sepasang kekasih itu untuk bersatu. Sedangkan di dunia manusia, semua menganggap Bima yang ingin mengambil Ningsih. Hal itu menjadi rumit. Padahal, mereka membuat Bima kehilangan tenaga dan tak sadarkan diri. Bima sedang diambang kata "musnah".
Ningsih berdiri dari duduknya. Ruangan gelap itu membuatnya menjadi frustasi. Ningsih pun berlari tak tentu arah. Dia sengaja melakukan itu, siapa tahu menemukan jalan keluar.
"Aku harus keluar dari sini. Aku harus keluar! Bima ... apakah kau baik-baik saja? Aku justru mencemaskanmu," teriak Ningsih sambil berlari tanpa melihat apa pun, hanya gelap dan warna hitam pekat menutupi matanya.
Hingga tiba-tiba ... Ningsih menabrak sesuatu dan terjatuh. "Aduh, sakit."
Ningsih mengulurkan tangannya dan mencoba meraba apa yang ada di hadapannya. Seperti dinding, luas, tangan Ningsih meraba dan mencari sudut atau ujung dari benda itu, berharap ada sebuah pintu di sana.
__ADS_1
***
Di pesantren ....
Santi dan Mak Sri merawat Ningsih dengan baik. Lebih tepatnya, raga Ningsih. Setiap hari mereka menyeka bahkan memandikan tubuh Ningsih dan mengecek suhu tubuh serta kondisinya.
Sudah seminggu Ningsih seperti orang tidur, tak sadarkan diri. Selama itu juga, dokter dan perawat datang rutin dua hari sekali mengecek kondisi Ningsih. Sedangkan untuk mengganti infus, sudah diajarkan ke Santi agar bisa mengganti setiap saat.
Seusai kegiatan pesantren, Wahyu selalu mengajak Reno dan Budi untuk mengaji di dekat Ningsih. Anak itu, semenjak masuk pesantren menjadi lebih peka dan bersimpati tinggi. Dia bahkan sudah bisa menghafal beberapa doa dan rutin mengaji. Seorang ibu memang sangat berarti untuk anak. Sedangkan anak adalah semangat hidup ibu. Wahyu berharap, ibunya akan segera bangun dari mimpi panjangnya.
"Om Budi, Wahyu mau tanya." ucap Wahyu seusai mengaji di dekat Ningsih.
"Iya, silahkan kalau mau tanya," kata Budi yang berjalan bersama Reno dan Wahyu kembali ke gedung utama pesantren.
"Kalau Allah itu Maha Baik dan Maha Pengampun, kenapa Mamaku tidak ditolong agar terbangun?" tanya Wahyu dengan lugu.
Budi pun menghentikan langkah kakinya. Dia menghadap ke Wahyu dan berjongkok untuk menyetarakan wajahnya dengan Wahyu.
"Wahyu, Allah itu memang Maha Baik. Allah juga Maha Pengampun, Maha Tahu, dan Maha Segalanya. Namun, saat ini Mama Wahyu sedang beristirahat. Tidur panjang untuk waktu yang belum ditentukan. Biar Mama istirahat dulu, Wahyu bisa menunjukkan hasil Wahyu di pesantren dengan mengirim doa, mengaji dekat Mama, bahkan berpuasa. Hal itu akan membuat Mama Wahyu semakin kuat. Nanti ada saatnya bisa bangun dari tidur dan bermain dengan Wahyu lagi," jelas Budi agar mudah dipahami oleh anak dari Ningsih.
"Oh, gitu, ya, Om Budi. Baiklah, Wahyu akan semangat belajar mengaji, belajar semua hal yang ada di pesantren, agar Mama segera bangun. Mama pasti bangun, 'kan, Om?" tanya Wahyu lagi. Membuat Budi tersenyum menutupi kesedihannya.
"InsyaAllah ... InsyaAllah, mamanya Wahyu akan segera bangun. Jangan berhenti berharap." Budi pun berdiri dan menggandeng Wahyu kembali berjalan ke gedung utama pesantren.
Ningsih diletakkan di gedung yang berbeda dengan anak-anak pesantren. Karena rohnya sedang tak berada di raga, PakLek Darjo dan Pak Anwar membuat pagar gaib yang luar biasa tebal agar tidak bisa ditembus makhluk gaib yang mencoba mengambil alih tubuh Ningsih.
Makhluk gaib tak beraga, sering kali mencari manusia yang sengaja atau tak sengaja melepas rohnya. Jika tidak dijaga, raga itu akan dirasuki makhluk gaib. Herannya, makhluk gaib ingin hidup seperti manusia. Sedangkan manusia sering kali menyerah dengan persoalan kehidupan dan memilih bunuh diri.
"Reno, kau harus kuat. Jangan menangis di gadapan Wahyu. Dia belum mengerti tentang getirnya hidup. Anak itu, terus berharap ibunya bangun. Kita bantu semaksimal mungkin. Semua pasti ada jalan keluarnya." kata Budi sambil menepuk bahu Reno dalam perjalanan.
"Iya, Mas. Aku berusaha tidak menangis, tapi ingat alm. Mamaku jadi sedih. Aku janji nggak akan gitu lagi," jawab Reno yang kemudian terdiam.
Wahyu sudah masuk ke kamarnya. Mereka terpisah karena kamar di pesantren juga dikelompokkan berdasar usia. Sedangkan Reno dan Budi tetap sekamar untuk berjaga di dekat kamar Ningsih di rawat.
__ADS_1
Santi dan Mak Sri memilih untuk tidur sekamar dengan tubuh Ningsih untuk menjaga sewaktu-waktu ada suatu hal mendadak. Mereka juga mengaji dan berdoa di samping Ningsih. Berharap ada mujizat Allah menyadarkan Ningsih dari tidur panjangnya.
Waktu berjalan dengan cepat. Sebulan sudah berlalu, tetapi belum ada kemajuan apa pun tentang kondisi Ningsih. Makin lama, pihak dokter dan perawat pun seakan ingin menyerah. Mereka justru menganggap dengan bantuan medis hanya menyiksa raga wanita itu yang sebenarnya sudah mati.
PakLek Darjo dan Pak Kyai Anwar setiap hari berusaha untuk mencari di mana roh Ningsih. Bahkan, mereka sempat hampir menyerah karena mengira Ningsih sudah berada di Neraka. Namun, suatu ketika ada sebuah surat dari orang tak dikenal.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Kepada keluarga Ningsih
di Pesantren milik Kyai Anwar
Saya hendak memberikan beberapa informasi terkait Ningsih. Saat ini, tubuhnya mungkin lemas dan seakan tertidur panjang. Namun, tak kunjung bangun taua bergerak. Bagi Pak Kyai dan keluarga Ningsih, janganlah menyerah.
Entah kapan Ningsih akan bangun, tetapi ketika waktunya tiba, pastikan kalian belum memutus sumber energi di tubuhnya. Tetap jaga dia seperti saat ini. Jangan putuskan infus maupun bantuan lainnya. Ningsih akan segera bangun. Tunggulah dia.
Untuk keluarga Ningsih, mungkin kalian belum mendengar berita ini. Tempat tinggal, Villa, dan Restauran milik Ningsih terbakar beberapa hari yang lalu, tepat empat puluh hari setelah diambilnya tumbal ketujuh. Iblis yang hendak mengambil Ningsih adalah makhluk mengerikan yang memusnahkan para santrimu, bukan suami gaib Ningsih. Jadi, entah harus menunggu berapa lama hingga amarahnya meredam dan tak lagi mengejar roh Ningsih.
Oleh karena itu, sembari menunggu waktu yang tepat, jagalah tubuh Ningsih. Saya akan berjuang juga di sini. Maaf, kalian belum mengenal saya, tetapi segera akan bertemu dengan saya.
Dari Laurent
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Membaca surat itu pun membuat Pak Lek Darjo dan Pak Anwar sedikit lega. Entah siapa orang itu, tetapi menurut penerawangan Pak Anwar, si pengirim surat adalah orang baik. "Alhamdulilah, ya Allah. Mulai ada titik terang. Maafkan hambaMU yang sempat berpikir akan menyerah," lirih Pak Anwar.
PakLek Darjo pun izin pamit untuk pulang ke Salatiga karena sudah cukup lama dia pergi. "Pak Kyai, jika sekiranya boleh, saya hendak izin pulang ke Salatiga." kata PakLek Darjo.
"Boleh, Pak. Silahkan. Biar nanti diantar oleh Budi saja. Reno dan Santi terlalu lelah, biar mereka di sini terlebih dahulu," kata Pak Anwar yang mengizinkan PakLek Darjo pulang.
Selain untuk beristirahat dan menghimpun energi, PakLek Darjo juga khawatir dengan istrinya yang cukup lama ditinggal sendirian. Sedangkan kedua anaknya merantau dan belum pulang.
Hari itu, Budi mengantarkan PakLek Darjo pulang ke Salatiga sesuai perintah Pak Anwar. Sedangkan Reno dan Santi masih di Wonogiri dengan Mak Sri dan Wahyu tetap mengikuti segala kegiatan di pesantren. Mereka tak pernah berhenti berharap, menanti Ningsih bangun dari tidur panjangnya.
__ADS_1
***
Dalam ruang gelap, Ningsih tak menemukan pintu. Dinding pembatas yang pernah dia tabrak, telah diurutkan dan tidak ada ujungnya. Hanya kegelapan di sana. Ningsih pun masih berharap, Bima akan datang menolongnya, jika Bima selamat dari kejadian tempo lalu.