JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
BAB 128


__ADS_3

πŸ€ AMARAH TUAN CHERNOBOG πŸ€


Malam itu, setelah membunuh kelima perampok, Ningsih dan Bima pergi ke Villa Putih Tulang miliknya di puncak. Mereka berdua sudah mengambil kembali uang dan emas yang dicuri perampok. Namun, entah mengapa rasa itu selalu menghampiri. Rasa tak tenang dan seperti diawasi setelah membunuh lima orang itu. Bukan hantu atau pun manusia, Bima merasa sesuatu dari Neraka mengintip setiap langkah mereka.


"Ningsih, sepertinya ada yang mengikuti kita," ucap Bima pada istrinya.


"Siapa yang mengikuti?" Ningsih langsung menengok ke kanan dan ke kiri.


"Sesuatu ... tenang saja, sesampainya di villa segera masuk kamar. Aku akan membereskannya." kata Bima sambil memacu kecepatan semakin tinggi. Dalam benak Bima, hanya ingin segera sampai villa dan melindungi Ningsih.


Mobil itu melaju dengan kencang. Kabut mulai turun di wilayah puncak. Sedangkan jam menunjukkan pukul 01.30 dini hari. Udara dingin semakin menambah nuansa yang mencekam. Mobil yang Bima kendarai sudah sampai pekarangan Villa Putih Tulang. Dia langsung mengajak Ningsih masuk. Membuka pintu villa dan menghentakkan kaki tiga kali di lantai. Hawa dingin pun berubah menjadi sesak dan panas.


"Bima, ada apa?" tanya Ningsih yang belum paham dengan keadaan yang terjadi.


"Tenang, sayang. Aku akan melindungimu. Sepertinya ada hewan Neraka yang mengincar kita," kata Bima kemudian menyeringai menatap pekarangan.


Bima langsung menarik tangan Ningsih dan masuk ke kamar utama di lantai dua. Ranjang yang besar dengan sprei putih dan nuansa kamar yang serba putih, membuat kamar itu terlihat nyaman. Ningsih duduk di pinggir ranjang dan menatap tajam suaminya. Bima pun mengubah wujudnya ke bentuk Iblis. Besar, merah, dan menakutkan bagi orang yang belum pernah melihatnya. Namun, tetap membuat Ningsih jatuh cinta seperti biasanya.


"Bima, kamu mau ke mana? Ada apa yang terjadi?" ucap Ningsih yang dipenuhi pertanyaan di dalam pikirannya.


"Ningsih, aku akan menemui hewan Neraka yang mengikuti kita. Kamu di sini saja. Aku sudah memberi pelindung di rumah ini. Lalu usahakan jangan keluar kamar karena kamar ini akan kusegel. Sayang, bertahanlah sampai matahari tinggi. Gangguan ini akan segera berakhir." jelas Bima, kemudian menggenggam erat tangan kekasihnya.


"Bima ... apakah Tuan Chernobog marah?"


"Bukan, sayang. Hanya peliharaannya yang lepas. Aku akan segera kembali. Jangan pergi ke mana-mana sebelum aku datang atau sebelum matahari meninggi," ujar Iblis romantis itu sambil mengecup bibir istrinya. Ningsih hanya bisa mengikuti apa perkataan Bima demi keselamatan mereka.


Luar villa mulai ramai dengan suara lolongan serigala. Hal yang aneh, karena di puncak tak ada hewan semacam itu. Bima tahu jika mereka sudah mendekat. Dia lekas pergi meninggalkan istrinya dengan rasa rindu yang masih melekat pada keduanya.


***


Dua jam sebelumnya ....


Keadaan di Neraka Lapis Ketujuh sangatlah kacau karena Tuan Chernobog marah. Bahkan beberapa penjaga Neraka pun harus merasakan pelampiasan amarah.

__ADS_1


"Arrr ... ampun Tuan Yang Mulia Chernobog. Jangan hukum kami. Siapa yang membuat hati Tuan begitu marah?" ucap penjaga Neraka yang tak betah melihat Tuannya terus mengamuk.


"Bima! Kepercayaanku kembali dinodainya! Kali ini dia membunuh lima orang sekaligus, tetapi tak membunuh pengikutnya!" kata Tuan Chernobog dengan suara yang menggelegar.


Penghuni Neraka Lapis Ketujuh gemetar melihat amarah sang penguasa. Bahkan jiwa-jiwa orang berdosa di sana meraung-raung membuat nyeri dan pilu telinga pendengarnya.


"Arrrr ... Bima lagi. Izinkan hamba ke dunia manusia memberinya pelajaran, Tuan. Arrr ...." kata penjaga Neraka Lapis Ketujuh yang berwujud anjing berkepala tiga dengan tinggi 1,2 meter. Layaknya anjing dari Neraka, Kerberos siap mengejar Bima.


"Baik. Beri pelajaran Bima! Jika kau kalah, maka mati saja!" gertak Tuan Chernobog dengan penuh emosi.


"Baik, Tuan Chernobog. Arrr ...."


Kerberos keluar dari gerbang Neraka dan berlari menuju portal dunia manusia. Dia mengendus di mana keberadaan Bima. Kali ini, Bima dan Ningsih dalam masalah besar.


***


Bima keluar dari villa dan siap menghadapi kemungkinan terburuk yang datang. Keadaan yang terlihat sesak dan ramai akhirnya kembali dingin dan sunyi. Sesaat hening membuat manusia pasti merinding, tetapi tidak bagi Bima. Dia langsung berkata dengan tegas, "KELUAR! AKU TAHU KALIAN ADA DI SANA!"


Gertakan Bima membuahkan hasil. Kerberos muncul dari pekatnya kabut malam. Penjaga Neraka yang berbentuk anjing berkepala tiga, siap mengubah wujud menjadi seperti Bima. "Arrr ... kami datang membawamu kembali ke Neraka! Ini perintah Tuan Chernobog!" kata Kerberos yang kemudian berdiri dan mengubah wujud dengan badan tegap, dua kaki, dua tangan, serta kepala tiga yang masih sama. Sangat mengerikan penjaga Neraka yang marah itu.


Kerberos menggeram dengan tatapan penuh kebencian. "Gara-gara ulahmu, Tuan Chernobog marah dan membuat Neraka semakin kacau! Di mana kau sembunyikan manusia itu? Tuan Chernobog menginginkannya!"


"BANYAK BICARA! DASAR HEWAN PELIHARAAN NERAKA!"


Bima segera menyerang Kerberos yang tersulut emosi karena panggilan 'hewan peliharaan Neraka'. Kerberos merupakan penjaga Neraka sejak zaman kuno. Dia diperintahkan pendahulu dari Yunani untuk menjaga gerbang Neraka hingga saat ini. Jumlah Kerberos ada banyak dan semua mempunyai insting yang sama.


Perkelahian pun tak dapat dielakkan. Bima dan Kerberos bertempur dengan serius. Sudah lama Bima ingin menghajar hewan dari Neraka ini karena pernah meludahinya saat dihukum cambuk beberapa waktu lalu.


Bima mengeluarkan senjata andalannya, tongkat kesengsaraan yang selama ini dia sembunyikan. Segera dia menebas ekor Kerberos. Makhluk berkepala tiga itu tak tinggal diam. Mereka menggigit Bima secara bersamaan dan mengunci tangan Bima tak bisa bergerak.


Tak disangka, Bima langsung menggunakan kakinya untuk menendang Kerberos hingga terpental jauh. Suara lolongan serigala dan anjing kembali terdengar memilukan hati. Seiring dengan kondisi Kerberos yang penuh luka dan mengeluarkan darah berwarna hitam, lolongan itu makin ramai dan saling bersautan.


Ningsih yang berada di dalam kamar merasa kalut. Suara lolongan yang tak henti itu membuatnya takut sekaligus merinding. Namun, rasa cemas terhadap Bima lebih besar dari rasa takutnya. Wanita itu berjalan mondar mandir, merasa tak nyaman dan semakin bingung memikirkan Bima. Satu sisi, dia ingin menolong Bima, tetapi bagaimana caranya? Satu sisi yang lain, dia tak berani keluar kamar apalagi villa. Seperti yang Bima katakan, Ningsih menyadari ada bahaya di luar sana.

__ADS_1


Bima mendekati Kerberos yang terkapar dengan ekor yang sudah putus akibat tebasan senjatanya. "MASIH MAU BERKELAHI? PULANG SANA KE NERAKA! JANGAN GANGGU AKU!" gertak Bima bersamaan dengan hantaman dahsyat tepat di perut Kerberos. Seketika, makhluk mengerikan itu takut jika dimusnahkan Bima. Dia pun lari ketakutan. Kembali ke portal Neraka.


Bima merasa puas menyingkirkan pengganggu itu. Namun, dia tak sadar tindakannya justru menyulut amarah yang lebih besar. Setelah kondisi sekitar kembali seperti semula, Bima masuk kembali ke rumah dan mencari Ningsih di kamarnya.


"Bima ...." teriak Ningsih yang berlari menuju suaminya yang baru saja membuka pintu.


"Ningsih!" Bima langsung memeluk kekasihnya dengan erat.


"Kamu tak apa?" tanya Ningsih yang mendongakkan wajah menatap suaminya yang berwujud iblis.


"Aku baik-baik saja. Aku janji akan mencari jalan keluar terbaik untuk hubungan kita. Ningsih, bersabarlah." Bima mengusap wajah lembut wanita yang masih dalam dekapan dengan pipinya.


"Bima, bawa aku bersamamu. Aku tak ingin kamu meninggalkanku atau mendapat hukuman sendirian seperti dahulu. Bawa aku ke mana saja kamu mau ...." bisik lembut Ningsih yang membangkitkan gelora asmara Bima.


Meskipun Bima iblis, sisi kejantanannya tetap sensitif. Terlebih dengan wanita yang menjadi istrinya. Wanita yang sungguh dia cintai sepenuh hati. Mereka pun mulai bertaut bibir dengan lembut. Saling memeluk erat, seakan tak ingin lepas lagi. Lalu perlahan, hal itu memburu dan membuat sepasang kekasih beda dunia itu mendesah dalam setiap kenikmatan yang mereka ciptakan. Ningsih menggeliat dan pasrah dengan perlakuan lembut Bima. Sedangkan Bima menikmati setiap inchi tubuh istrinya. Tak terasa, matahari pun mulai terbit bersamaan leguhan kenikmatan mereka.


Subuh di daerah puncak, menawarkan kesejukan yang menawan. Warga sekitar pun sudah berlalu lalang untuk beraktifitas. Sebagian besar mereka berkebun dan menjadi pekerja di kebun teh sekitas villa.


Ningsih masih menggeliat di ranjangnya yang luas. Sedangkan Bima menatap kekasihnya yang tak tertutup sehelai benangpun. Ningsih tersenyum bahagia. Bukan hanya karena pelepasan yang mereka lakukan, pun juga harapan untuk selalu bersama Bima bisa terwujud tanpa mengorbankan orang lain lagi.


"Sayang, apakah kamu akan tetap mencintaiku saat usiaku bertambah tua?" lirih Ningsih sambil memainkan jari jemarinya di pundak Bima.


"Tentu. Aku sudah tahu seperti apa kau saat usia senja nanti. Namun, jika kamu tak ingin menua, aku bisa melakukannya." kata Bima yang kemudian memeluk kembali tubuh Ningsih.


"Benarkah? Ah, aku tak takut bertambah tua. Aku hanya takut tak bisa bersamamu hingga aku tua. Siapa tahu, aku meninggal lebih dulu," celetuk Ningsih yang membuat Bima terkejut.


"Ningsih ... jangan berkata seperti itu. Aku tidak akan menbiarkan hal buruk terjadi padamu. Tidak akan." Bima memeluk tubuh Ningsih semakin erat. Ketakutan yang Bima sembunyikan tak bisa luput dari perasaan Ningsih.


Bima bisa melintasi ruang dan waktu. Dia pernah melihat seperti apa masa depan. Hal itu yang membuat Bima sangat ketakutan dan ingin melindungi Ningsih. Sepertinya, Ningsih pun merasakan hal itu. Bukankah di semesta ini tak ada suatu pun yang abadi? Bahkan suka dan duka pun silih berganti. Bima tak ingin mememikirkan hal yang belum terjadi terlalu dalam, karena hal itu melukainya. Lebih baik terfokus pada kenyataan hari ini bersama Ningsih, yang dicintainya.


"Sayang ... apakah bisa kita bersama selamanya?" lirih Ningsih yang membuat Bima harus berdusta.


"Bisa. Kita bisa selamanya bersama. Aku akan pastikan hal itu terjadi. Jangan khawatirkan apa-apa lagi. Semua akan baik-baik saja. Aku janji."

__ADS_1


Percakapan sepasang kekasih dua dunia itu pun terhenti. Mereka terdiam dengan pemikiran masing-masing.


Bersambung ....


__ADS_2