JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
JERAT IBLIS - 2 - BAB 50


__ADS_3

...🔥 Boy dan Rencana Licik Park Kim 🔥...


Boy tak tahu jika Dinda sudah memulai aksinya menyesatkan manusia ke lubang dosa. Dia pergi meninggalkan Indonesia dan segera ke Korea. Perjalanan dari Bali ke Korea Selatan yang memakan waktu hampir empat belas jam membuat Boy makin tersiksa saat memikirkan Dinda.


Mengapa Dinda memilih mengakhiri hubungan mereka begitu saja? Boy masih tak habis pikir. Namun, karena Boy menginginkan yang terbaik untuk wanita yang dia cintai, tetap saja dia bertahan meski sakit. Dia kembali ke Korea bukan berarti meninggalkan Dinda, dia hanya memberi waktu agar Dinda bisa melepaskan rasa gundahnya. Boy bukan tipe lelaki yang suka memaksakan kehendak. Dia berpikir lebih baik mengalah lebih dahulu untuk membuat keadaan lebih baik kemudian.


Sepanjang perjalanan, Boy merasa resah. Dinda yang sedang gundah dan tidak memiliki siapa-siapa yang menemani membuay Boy tak bisa berhenti memikirkannya. Lelaki setengah malaikat itu lebih fokus memikirkan kekasihnya dari pada memikirkan hidupnya sendiri. Padahal, Park Kim dan Joon sudah menyiapkan rencana licik menyambut kedatangan Boy di Korea. Salah satu kesalahan Boy adalah pernah mengatakan kepada Park Kim tentang keadaannya serta menceritakan apa yang menjadi kelemahannya.


Boy tidak menyangka jika kepercaannya akan menjadi boomerang bagi kehidupannya sendiri di masa kini. Manusia bukan makhluk yang bisa menggenggam kepercayaan dalam waktu lama. Meski tak semua seperti itu, tetapi hanya berapakah yang bertahan menghadapi godaan? Terkadang sebuah janji saja dengan mudah dinodai untuk menjadikan bahan gosip orang lain agar menjadi trending. Atau mengingkari seseorang agar terlihat keren di mata orang lain. Begitulah cara dosa menyebar dengan mudah di kalangan manusia. Hanya dari bibir saja bisa membuat seluruh tubuh masuk ke neraka jika tidak bertaubat.


Boy pun tertidur menanti sampai ke Korea Selatan sangatlah lama. Dalam tidurnya, dia bermimpi melihat Dinda. Dia melihat Dinda yang murung, duduk di atas batu yang besar. Di sekitar batu itu adalah jurang yang dalam dan tak berujung. Boy posisi dalam keadaan melayang mengepakkan sayapnya hendak mendekati Dinda. Namun, api menyambar-nyambar keluar dari dalam jurang hingga menembus ke langit. Memisahkan pandangan Boy ke Dinda. Lelaki itu tak bisa menjangkau kekasihnya apalagi menyelamatkannya.


"Tidak!" seru Boy yang seketika bangun dari tidurnya.


"Ada apa, Tuan? Apakah ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang pramugari yang langsung menghampiri Boy yang berteriak.


"Tidak apa. Aku hanya bermimpi buruk. Berapa jam lagi pesawat landing?" tanya Boy yang kemudian mengusap wajahnya.


"Tiga puluh menit lagi, Tuan. Anda ingin segelas kopi?" Pramugari itu pun menawarkan minuman.


"Ya. Terima kasih."


Boy pun mendapatkan secangkir kopi untuk menghilangkan rasa kantuk yang bergelanyut di matanya. Dia pun mencoba memahami arti mimpi yang aneh itu. Namun, lagi-lagi sulit dipahami. Meski dia tahu jika Dinda adalah iblis neraka, tetapi mengapa dia murung? Dalam mimpi itu, jelas Dinda terlihat tidak bahagia di sana. Apakah selama ratusan tahun dirinya menjadi Nyi Pelet karena terpaksa? Ataukah justru Dinda bersedih karena berpisah dengan Boy? Pertanyaan itu muncul di dalam pikiran Boy seakan menari-nari dan memenuhi pemikirannya.


Tiga puluh menit kemudian, pesawat landing di Korea Selatan. Kemudian, para penumpang pesawat mulai turun satu per satu. Boy pun segera mengambil koper dan keluar dari pintu exit gate. Terlihat Park Kim di sana. Menyambutnya dengan hangat dan membawa tulisan dalam kertas putih besar "Welcome Boy. It's time to shining!" di tangannya.


"Hai, Boy. My brother! Apa kabarmu?" seru Park Kim yang langsung memeluk erat Boy. Tanpa rasa bersalah, lelaki itu memeluk tubuh orang yang sudah ia khianati.

__ADS_1


"Park Kim! Senang bisa melihatmu secara langsung setelah sekian tahun hanya melihat secara virtual," jawab Boy yang membalas pelukkan hangat seorang yang sudah dia anggap sebagai teman, bahkan sahabat.


"Banyak yang akan kita bahas besok. Sekarang ayo pulang dahulu, makan enak, dan beristirahat!" ajak Park Kim yang sama sekali tidak dirasa curiga oleh Boy.


"Ayo! Aku juga ingin menikmati kimchi buatanmu serta rameyoun."


Boy membawa sebuah koper sedangkan Park Kim membawakan tas milik Boy. Mereka berjalan bukan menuju ke tempat parkir mobil. Mereka langsung ke depan bandara. Di sana, Joon sudah menunggu dengan mobil silver keluaran terbaru dengan harga yang fantastis.


"Park Kim, siapa dia? Aku baru melihatnya," tanya Boy tanpa mengetahui rencana licik mereka.


"Dia Joon. Joon, perkenalkan ini bos kita, namanya Boy. Boy, perkenalkan Joon ini yang membantuku bekerja selama kau di Bali. Kita perlu berbincang banyak hal seputar pekerjaan maupun pribadi agar saling mengenal satu dengan yang lain," jelas Park Kim yang mencari celah untuk tetap dipercaya oleh Boy.


"Wah, baiklah. Aku mempunyai banyak waktu senggang untuk membahas banyak hal," jawab Boy dengan riang seperti biasanya.


Mereka pun masuk ke mobil. Perlahan tetapi pasti, mobil itu melaju meninggalkan bandara. Mereka berbincang banyak hal. Seperti yang Park Kim pesan pada Joon, "Jangan bicara dalam hati atau memikirikan rencana kita di depan Boy. Dia bisa membaca hati dan pikiran kita. Tutupi semuanya dengan memikirkan hal lain dan tetap fokus."


Oleh karena itu, Boy sama sekali tidak tahu rencana licik mereka. Boy yang penuh kebaikan sama sekali tidak memikirkan soal kecurangan atau pengkhianatan.


"Boy, istirahatlah dahulu. Kau pasti rindu kamarmu, bukan? Aku tetap merawatnya dengan baik. Sama seperti saat kau meninggalkan rumah ini," kata Park Kim dengan senyum yang lebar.


"Baik, Park Kim. Kau yang terbaik! Terima kasih, ya," jawab Boy yang melangkah pergi ke kamarnya dengan membawa koper dan tasnya.


Setelah masuk ke kamar, Boy langsung meletakkan kopernya. Menyentuh setiap sisi kamar yang sudah bertahun-tahun dia tinggalkan. Dia pun banyak mengenang hal indah di sana. Rumah Boy sengaja hanya direnovasi dan diperluas, tidak untuk ditinggalkan karena kenangan bersama orang tuanya ada di sana. Lelaki yang lelah itu pun langsung berbaring di ranjang tanpa memikirkan sesuatu apa pun.


Tiba-tiba ... "Gawat! Aku tidak bisa bergerak! Ada apa ini?" gumam Boy yang langsung panik karena tubuhnya kaku.


"Ya ... ya ... ya ... maafkan aku, brother. Aku terpaksa melakukan ini. Segel malaikat dengan ritual dan darah kucing hitam adalah solusi terbaik," ucap Park Kim yang masuk ke kamar Boy diikuti oleh Joon.

__ADS_1


"Ma-maksudmu? Ada apa, Park Kim? Kita bicarakan semuanya baik-baik," kata Boy yang sama sekali tak bisa bergerak. Hanya bisa melihat dan berucap kata saja.


"Ha ... ha ... ha ... maafkan aku, Boy. Aku hanya ingin kau tetap di Indonesia. Mengapa kau kembali disaat yang tak tepat? Aku terpaksa melakukan ini. Aku dan Joon sudah membuat perusahaanmu berkembang pesat. Kami tak ingin buru-buru menyerahkan hasil kerja keras kami kepadamu. Setidaknya bukan hari ini. Tidak untuk saat ini. Ikuti saja alur yang kami tetapkan jika masih ingin melihat dunia," gertak Park Kim membuat hati Boy sakit.


"Kim ... Park Kim ... mengapa kau mengkhianatiku? Hal ini seharusnya tak perlu terjadi. Jika penyebabnya harta, ambil saja semua. Jangan biarkan kejahatan merusak hati dan jiwamu. Park Kim, sadarlah!" seru Boy yang tak ingin sahabat dan keluarga terakhirnya itu masuk ke jurang dosa.


"Sadar? Sadar katamu? Kau yang sadar! Aku yang membantumu mengelola perusahaan hingga besar. Namun, selalu saja kau yang mendapatkan pujian atas segala kerja kerasku. Kau yang harusnya sadar! Banyak hal kukorbankan, tetapi tak sebanding dengan yang kudapatkan!" teriak Park Kim yang sudah dikuasi ambisi, cemburu, dan ketamakan.


"Park Kim ... kumohon jangan berpikir seperti itu. Jika soal harta kekayaan, aku bisa memberikannya padamu. Namun, jangan nodai jiwa dan pikiranmu dengan dosa-dosa itu. Aku tak ingin melihatmu tersiksa di neraka," lirih Boy yang tak sadar meneteskan air mata. Dia tahu jika apa yang dilakukan Park Kim sama saja berbuat dosa.


"Dasar munafik dan sok suci! Aku sudah muak dengan omong kosongmu! Joon, kunci kamar ini dan tutupi semua akses cahaya. Biarkan orang ini dalam kegelapan!" perintah Park Kim pada Joon.


"Baik, Kim. Dengan senang hati!" jawab Joon yang selalu menuruti perkataan Park Kim.


"Jangan! Jangan!" Boy berteriak dan itu percuma. Rumah mereka terlalu luas untuk terdengar dari luar. Lagi pula, semua pegawai sudah dalam naungan Park Kim. Tak ada yang berani membantah.


Boy pun dikurung dalam kamarnya. Dia tersegel dan tak bisa bergerak atau menggunakan kekuatannya sama sekali. Terlebih dalam kondisi kamar tertutup dan gelap secara penuh, hal itu membuat energi Boy redup. Park Kim tahu semua pantangan itu karena Boy pernah menceritakannya.


"Dinda ... kuharap kau merasakan apa yang kurasa. Tolong ... bantu aku, Dinda," lirih Boy yang hanya bisa menggunakan kekuatan ikatan batin. Itu pun jika Dinda juga merasakannya.


Boy tidak tahu jika kekasihnya sedang asyik menyesatkan kehidupan manusia. Dia masih mencari jiwa-jiwa berdosa untuk menambah kekuatan dan juga mempersembahkan ke neraka lapis ketujuh seperti biasanya. Dinda melakukan itu untuk melepas rasa sedih, kecewa, bingung, dan amarahnya. Melampiaskan semuanya dalam suatu kejahatan lainnya. Tanpa disadari, hal itu justru membuatnya makin sakit memikirkan Boy yang sudah pergi ke Korea Selatan.


...



ilustrasi Boy yang ganteng banget...

__ADS_1


...****************...


...Hai ... hai ... hai .... Ketemu lagi dengan JERAT IBLIS dihari Minggu. Tentu saja tak lelah Author minta dukungan kalian ya, Ayo VOTE setiap Minggu pukul 23.35 WIB berlanjut Senin agar karya Author semakin up dan bisa tetap eksis. Jangan lupa share juga agar kawan-kawan lain di sosmed bisa ikut membaca keajaiban dalam cerita JERAT IBLIS. Author berterima kasih atas dukungan kalian. Selamat malam. Love you all^^...


__ADS_2