
Seminggu berlalu sejak Reno masuk rumah sakit. Hari ini, Reno sudah beraktifitas ringan di rumah. Santi harus bekerja karena banyak hal yang harus diselesaikan. Ningsih memutuskan untuk kembali ke Kudus esok hari.
"Tante, aku ingin ..."
"Reno, pulihkan keadaan kamu dulu ya. Tante janji, bulan depan ke sini lagi."
Seakan mengerti yang ingin disampaikan, Ningsih tak bisa menyanggupinya. Terlebih Bima yang seketika tak menjawab panggilannya.
Bima ... mengapa kamu tidak menemuiku?
Batin Ningsih bergejolak. Bima sudah menjadi bagian hidupnya. Tidak tersentuh Bima selama seminggu membuatnya gila!
[Miss Ningsih. Apakah besok jadi pulang? Ijinkan aku mengantarmu.]
Sebuah pesan dari Satria. Ningsih membalas dengan ragu. Namun tak salah jika Ningsih pulang bersamanya, bukan?
[Ok. Jemput aku pagi ya sebelum pukul 09.00 agar tidak terjebak macet.]
__ADS_1
[Baik Ningsih cantik. Wait for me tomorrow. Ok]
Ningsih tersenyum membayangkan gaya bicara Satria yang kebule-bulean. Tak disadari, Reno memperhatikan Ningsih. Seakan tak ingin melewatkan waktu sempit ink, Reno memeluk tubuh Ningsih.
"Tante, please. Jangan tolak aku. Kalau tidak, besok aku antar Tante pulang walau pakai motor." ucap Reno sambil menggerayangi tubuh Ningsih.
"Duh, jangan Reno." Ningsih mencoba melepaskan pelukkan Reno tapi percuma.
Seperti kerasukan, Reno menggendong tubuh sintal Ningsih ke kamarnya. Perlahan dia letakkan ke ranjang. Lalu mulai menciumi tubuh Ningsih secara acak.
-------------------
Pagi itu Ningsih sudah siap pulang ke Kudus. Tak sabar memeluk Wahyu kecil yang menggemaskan. Satria sudah siap memulai perjalanan bersama Ningsih.
Santi melambaikan tangan saat pajero sport itu mulai menjauh. Reno memperhatikan Ningsih dan merasa cemburu. Lelaki ABG itu bertekad segera menamatkan setir mobil.
Sepanjang perjalanan, Satria tak henti-hentinya berbincang dengan Ningsih. Semua hal menjadi bahan pembicaraan mereka. Mulai dari hobi, makanan kesukaan, film yang wajib ditonton, hingga soal hati.
__ADS_1
Satria sangat menginginkan Ningsih. Tetapi Ningsih seperti enggan mengutarakan pikirannya. Di tengah perjalanan, hujan lebat turun. Saat itu mereka masih di jalan menuju Ambarawa dengan jalan yang meliuk-liuk. Begitu derasnya hujan, Satria memilih berhenti sejenak di depan ruko kosong.
"Berhenti dulu ya Miss. Jarak pandangnya kabur. Hujan terlalu deras." ucap Satria setelah memarkirkan mobilnya.
Mereka sejenak terdiam dan saling pandang. Terdengar suara hujan begitu lebat di luar mobil. Entah siapa yang memulai, mereka semakin mendekat dan berciuman. Hal itu membuat tubuh mereka mulai hangat.
Satria pun memundurkan kursi Ningsih sehingga mereka bisa agak rebahan. Satria mulai memyentuh Ningsih secara perlahan dengan hati-hati. Saat hampir meraba bagian bawah Ningsih, terdengar suara ketukan kasar di kaca mobil. Satria bergegas menengok sedangkan Ningsih membenahi pakaiannya.
Tiga orang berbadan besar seperti preman mengetuk kaca mobil itu berkali-kali. Meski hujan lebat mengguyur badan mereka, tak satupun yang terlihat kedinginan. Satria menyadari bahaya besar mengintainya dan Ningsih. Satria segera menyalakan mobilnya, namun ketiga orang itu semakin keras menggebrak pintu mobil.
"A-aku takut Sat!" Ningsih terlihat ketakutan melihat wajah preman-preman itu.
"Jangan takut. Kita pasti bisa menghindari mereka!" Satria memundurkan Pajeronya dengan cepat dan membelok ke arah jalan raya.
Salah satu preman itu segera menghalangi mobil Satria untuk melaju. Antara gas atau tidak, Satria harus memutuskan. Tabrak atau tidak?
Bersambung ....
__ADS_1