JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
Persiapan Menuju Hari Bahagia


__ADS_3

Alex merasa berdebar hebat karena hendak mempersunting Lisa. Keputusannya sudah bulat. Dia tahu Lisa hanya ingin bersamanya bukan karena ingin kuliah, tetapi untuk bersama lelaki yang dicintai.


"Ma ... Mama tidak marah, kan, pada keinginan Alex tadi siang?" tanya Alex pada ibunya yang sedang duduk di sisi taman belakang rumah mereka.


"Tidak, Alex. Mama justru bangga padamu. Bangga karena kamu memilih menikahi gadis yang selama ini kamu cintai. Kamu tahu pasti kalau ini yang terbaik. Mama yakin, kamu cukup dewasa untuk melindungi Lisa. Sejak kecil, kalian terlihat akrab dan kamu selalu perhatian serta menjaga Lisa. Mama pun tidak terkejut, jika akhirnya ada cinta di antara kalian," ucap Ningsih dengan tenang.


"Ah, Mama. Mama memang ibu yang terbaik! Terima kasih sudah memahami Alex. Alex memutuskan meminang Lisa agar tidak ada khilaf di antara kami. Apalagi Lisa berniat ke Sydney dan meminta tinggal bersamaku. Ma ... aku tahu di sana banyak kasus tinggal bersama tapi tidak menikah. Alex tak ingin hal seperti itu. Terlebih, Lisa anak yang baik. Alex tak mau orang-orang menggosipkan dirinya karena tinggal dengan Alex yang sudah menjadi pengusaha di sana," jelas Alex membuat mata Ningsih berkaca-kaca.


Ningsih langsung memeluk erat tubuh anaknya. Dia sangat menghargai wanita. Menjaga wanita gang dia cintai. Sosok Alex selalu mengingatkan Ningsih pada Bima. Mereka sangat mirip dari wajah, hingga tingkah laku.


"Mama sayang kamu, Alex. Keputusanmu sudah benar. Mama akan mendukung kamu. Kakakmu juga, dia sangat mendukungmu."


Malam itu, Ningsih dan Alex berbincang banyak hal di taman belakang. Wahyu hanya menatap dari jendela kamarnya saat membuka tirai sedikit. Setelah itu, Wahyu ke kamar Cahaya untuk melihat adik bungsunya apakah sudah tertidur lelap atau belum.


Cahaya tidur dengan nyenyak. Gadis kecil itu terlihat bahagia dan senang. Tidur pun dengan senyuman melengkung di wajahnya. Wahyu mengusap dahi adik bungsunya.


"Tidur yang nyenyak, ya, Cahaya. Kakak akan selalu menjagamu. Kasihan kamu ... belum pernah merasakan kasih sayang Papa. Kakak harap kamu akan bahagia meski tanpa Papa," ujar Wahyu yang masih mengusap dahi adiknya perlahan.


Setelah memastikan adiknya tidur nyenyak, Wahyu pun keluar dari kamar Cahaya. Dia segera kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Banyak hal yang Wahyu pikirkan. Terlebih tentang masa depan adik-adiknya. Banyak kekhawatiran yang hinggap di hati Wahyu.


"Andai ada Papa di sini ... pasti tidak serumit ini perasaanku," gumam Wahyu sambil berbaring di ranjangnya.


Bima menatap Wahyu dari sudut kamarnya. "Apa yang sebenarnya kamu khawatirkan, Wahyu? Kamu sudah sukses. Soal keuangan Ningsih dan Alex juga sudah bagus. Apa yang kamu khawatirkan? Mengapa kamu menyiksa dirimu dengan kesendirian?" Bima merasa sedih dengan apa yang Wahyu lakukan dan rasakan selama ini.


Seakan Wahyu menanggung segala kesedihan sendiri. Padahal, dia terlihat tegar dan kuat di depan keluarganya. Ternyata dalam benak Wahyu penuh pertimbangan dan keraguan. Ingin memiliki pujaan hati pun rasanya tak mungkin. Wahyu sebenarnya masih takut. Takut jika pasangannya kelak tidak bisa menerima dirinya dan keluarganya secara utuh.


Wahyu pun mengambil wudhu. Dia segera memanjatkan doa setelah salat. Tak terasa air mata menetes saat bibir lelaki itu mengucapkan doa untuk ayah kandungnya. Wahyu sudah tahu cerita pahit masa lalu ibunya. Ayah kandungnya tidak pantas disebut ayah. Justru Bima yang menjadi sosok ayah untuk Wahyu.


"Ya Allah, hamba bersyukur atas rahmat-Mu yang tiada henti. Terima kasih untuk segalanya, ya, Allah. Ampuni segala dosa dan kesalahan Bapak Agus. Semoga semua amal dan ibadahnya diterima. Serta semoga Papa Bima bisa bahagia. Tuntutlah Papa Bima agar bisa menyambut surga-Mu. Amin."


Wahyu menghela napas dan segera berbaring kembali di ranjang. Wahyu menatap langit-langit kamarnya. Dia pun terlelap.


Alex masuk ke kamar setelah selesai berbincang dengan Ningsih. Ningsih juga sudah masuk ke kamarnya.


Alex meraih ponselnya yang berada di atas meja. Dia segera membalas pesan yang masuk dari Lisa.


Lisa: [Kak Alex ... lagi apa?]


Lisa: [Kak Alex ... apa sudah tidur?]


Lisa: [Kak Alex, kenapa nggak bales?]


Alex: [Maaf baru balas. Tadi ngobrol sama Mama. Ada apa, sayang?]


Ting! satu pesan diterima. Lisa langsung semangat membaca pesan itu. Benar! Pesan itu dari Alex yang sudah dia tunggu sejak tadi.


Lisa: [Emm ... iya, nggak apa. Eh, kok, panggil sayang, sih?]


Alex tersenyum. Dia langsung berbalas pesan dengan Lisa.


Alex: [ Boleh, kan? Oh, iya. Panda mau pernikahan seperti apa? Pakai gaun atau kebaya?]

__ADS_1


Lisa: [Apa, sih? Jangan bahas itu sekarang. Besok-besok aja kalau ada Papa juga.]


Lisa merasa malu. Pipinya mulai memerah.


Alex: [Iya, deh. Panda lagi apa?]


Lisa: [Lagi mikirin kamu ....]


Alex: [Cie ... panggil sayang, dong.]


Lisa: [Besok.]


Alex : [Besok kapan?]


Lisa: [Kalau udah sah ....]


Alex: [Ok. Aku udah bilang Mama untuk segera lamar Panda secara resmi. Mau kapan?]


Lisa: [Kak ... tanya Papa Reno aja. Aku jadi malu kalau bahas ini.]


Alex: [Kenapa malu?]


Alex menunggu semenit belum dibalas, dia langsung menelepon Lisa. Apakah Lisa malu menjadi istri Alex?


"Hallo? Lisa Panda ... kenapa tak balas?"


"Kak Alex ... aku baru aja minum. Telat semenit aja langsung telepon. Kenapa, Kak Alex?"


"Nggak, Kak. Bukan begitu. Aku malu bahas itu. Kalau bahas soal wedding sama Papa aja. Aku nggak malu jadi istri Kakak. Malah seneng banget."


Alex pun tertawa mendengar pengakuan Lisa yang senang akan menjadi istrinya.


"Kamu lucu sekali, Pandaku. Tetap seperti ini, ya. Aku ingin membahagiakan kamu selamanya."


"Idih ... Kak Alex gombal. Udah malam ini, Kak. Aku mau tidur, ya. Tadi nunggu Kakak sebenernya aku udah ngantuk."


"Oh, iya kalau gitu. Sayang tidur dulu aja. Met malam Pandaku."


"Met malam juga ... Kak Alex ... sayang."


Lisa langsung memutuskan telepon itu karena malu sudah berani memanggil Alex dengan panggilan sayang. Sedangkan Alex merasa apakah salah dengar.


"Hallo? Hallo?"


Tut ... Tut ... Tut ....


Alex pun meletakkan ponselnya di meja. Dia tersenyum membayangkan Lisa. Sejak Lisa kecil, Alex sering merawat dan menjaganya. Jadi saat ini, Alex ingin menjaga Lisa selama hidupnya. Seperti ayahnya yang berusaha menjaga ibunya. Alex meneladani hal itu.


Lisa pun mencoba memejamkan matanya. Besok, Reno akan mengajak Lisa ke beberapa wedding organizer bersama Alex dan Ningsih. Mungkin Cahaya dan Wahyu juga ikut serta. Acara itu akan mengasyikkan karena Alex akan segera melamar secara resmi. Lisa tak sabar menunggu hari pernikahan tiba. Reno menginginkan Lisa mengenakan kebaya. Namun Lisa lebih menginginkan dengan gaun cantik.


"Bunga mawar merah ... satu tanda cinta ... yang berarti bahwa kau cinta padaku ... dengan senang hati kuterima cintamu ... karena aku juga cinta kepadamu ... oh bahagia .... ihir ihir ... cie ... ciee ...." celetuk Oben yang muncul tiba-tiba.

__ADS_1


Hantu lady boy itu gemar mengganggu Lisa. Meski diusir berkali-kali, Oben masih saja mendekati Lisa.


"Iih ... apaan, sih, Oben?! Pergi sana!" Lisa kesal selalu digoda hantu tak jelas itu.


"Lisa ... eyke mohon ... bantu Napa? Bantu temukan cowok yang rampok dan bunuh eyke. Please ...." pinta Oben dengan wajah memelas tapi masih menakutkan.


"Kenapa minta tolong aku, sih?! Sana minta tolong yang lain aja!" gertak Lisa.


"Minta tolong sapa lagi ... Lisa tolonglah, please ... apa eyke minta tolong Alex cakep aja?" Oben menguji kesabaran Lisa dengan menggodanya.


"Awas aja kalau ganggu Alex! Aku buat kamu mati dua kali, ya!" Lisa langsung melotot menatap Oben.


"Ampun cint ... posesif amat. Eyke nggak ganggu, kok. Eyke cuma pingin tahu siapa yang udah buat eyke metong. Udah gitu aja. Balas dendam juga nggak tega. Tolonglah bantu eyke ...." Oben masih berusaha memohon.


Lisa hanya terdiam. Dia merasa kasihan juga pada hantu yang penasaran ini.


"Hmm ... iya, iya ... aku bantu kamu. Tapi kalau aku sudah selesai pernikahan, bagaimana? Sebagai gantinya, kamu nggak boleh ganggu aku dulu," kata Lisa membuat kesepakatan.


"Beneran? Yeay! Oke cint ... met nikah, ya. Eyke pergi dulu. Kalau udah selesai, eyke muncul lagi. Da dah bye bye ....!" Oben pun menghilang.


Lisa menghela napas. "Fiuh ... Untung lah pergi si Oben. Aku mau tidur dulu, ah!"


Lisa mengenakan bedcover berwarna pink motif hello Kitty lalu memejamkan mata. Dia tertidur dengan senyum indah di wajahnya.


...****************...


Keesokan harinya ....


Ningsih menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya. Dia semangat membuat nasi goreng dan jus buah kesukaan ketiga anaknya.


"Hmm ... wangi banget. Mama masak, ya?" Wahyu yang sudah bangun awal dan mengenakan pakaian rapi pun segera ke dapur karena mencium aroma masakan khas ibunya.


"Eh, Wahyu sudah bangun. Sini, sayang! Mama buat nasi goreng kesukaan kamu. Mama buat jus buah juga. Jus buah naga buat kamu, jus jeruk buat Alex, dan jus strawberry buat Cahaya. Duduk dulu, sini." Ningsih senang putra pertamanya sudah bangun awal.


Seperti biasa, Wahyu duduk dan memuji kepiawaian ibunya di dapur. Lelaki itu tahu persis apa yang bisa menyenangkan hati ibunya.


Beberapa saat kemudian, Alex dan Cahaya bangun. Mereka juga ke ruang makan yang menjadi satu dengan dapur. Hanya ada sekat sepinggang orang dewasa.


"Mama ... Aya laper!" seru Cahaya sambil mengusap matanya dan menguap. Gadis kecil itu masih mengantuk, tetapi sudah lapar.


"Duh, putri Mama yang paling cantik sudah bangun. Sini, duduk dulu. Mama sudah selesai yang masak. Ayo kita makan. Itu Kak Alex juga sudah ke sini," kata Ningsih yang semangat melihat ketiga anaknya sudah berkumpul.


Mereka sarapan bersama. Ningsih masih berharap keluarganya bisa komplit dengan adanya Bima. Namun semua itu hanya keinginan semata.


Setelah selesai sarapan, mereka bersiap untuk ke rumah Reno dan Lisa. Rencana lamaran akan dilakukan nanti malam. Ningsih menginginkan mencari event organizer juga hari ini agar semua lebih cepat terselesaikan.


"Alex ... kamu siap?" tanya Wahyu memastikan.


"Siap, Kak. Kakak memperbolehkan aku dahulu yang menikah?" tanya Alex.


Wahyu hanya tersenyum. Alex pun bingung. Jangan-jangan ada syaratnya?

__ADS_1


__ADS_2