
...🔥 Pesona yang Membuat Luluh 🔥...
Sesampainya Budi, Santi, dan Ningsih di rumah Reno, mereka langsung bertemu dengan Reno dan Wahyu yang sedang menata beberapa barang bekas di garasi. Mereka langsung turun dari mobil dan bergegas ke dua lelaki itu.
"Assalamualaikum, Reno dan Wahyu," salam Santi saat turun dari mobil.
"Wa'alaikumsalam," jawab Reno dan Wahyu bersamaan.
Rasanya sangat senang melihat senyum di wajah Reno. Santi merasakan hangat di wajah adiknya karena pertolongan Wahyu yang mampu membuat pemikiran adiknya terbuka kembali.
"Wah, anak Mama rajin sekali bantu Kak Reno beres-beres," kata Ningsih tersenyum melihat kedua lelaki itu bersemangat dan ada tawa di wajah keduanya.
"Iya, Ma. Ini beres-beres mau membawa barang-barang tidak terpakai ke panti asuhan. Mama mau ikut? Kita punya barang tak terpakai, kan, Ma? Maksud Wahyu, pakaian tak terpakai."
"Ada. Ada banyak. Nanti telepon Bibi saja biar disiapkan. Mama sudah taruh di kardus-kardus dalam gudang," jawab Ningsih mendukung apa yang Wahyu dan Reno lakukan.
"Terima kasih, Tante. Rencana nanti kami mau ke panti asuhan tempat Nindy sering berkunjung," timpal Reno.
"Bagus, Reno. Nanti kami ikut ya? Kakak sama Mas Budi memesankan makanan saja, bagaimana?" Santi antusias mendukung adiknya.
"Wah, ide bagus, Kak. Terima kasih, ya," jawab Reno dengan mata berbinar.
Budi hanya tersenyum melihat semua itu. Pikirannya masih terfokus pada Ningsih. Entah mengapa, pesona Ningsih makin nyata terasa menggoda di pelupuk mata dan di dalam hati Budi. Tentu saja hal itu karena tipu daya Servus yang membuat Budi terlena.
Setelah bercakap banyak hal, Reno mengajak mereka masuk ke dalam rumah terlebih dahulu. Lisa sudah berangkat sekolah ditemani oleh Pak Sopir dan salah seorang Bibi.
Reno menyadari sesuatu. Gelagat Budi mencurigakan karena sering melihat ke arah Tante Ningsih. Sebenarnya Reno tahu jika dahulu Budi menyukai Tante Ningsih. Namun, apakah mungkin dia masih menyukai orang lain ketika sudah memiliki istri dan anak?
"Mas Budi, boleh aku bicara sebentar? Berdua saja?" Reno segera mengajak kakak iparnya ke taman belakang rumah sedangkan yang lain sedang di ruang tamu menikmati minuman dan kudapan yang bibi sajikan.
"Ya, Reno." Budi mengikuti saja adik iparnya berjalan ke taman belakang rumah. Entah apa yang hendak Reno sampaikan sampai meminta berbicara empat mata saja.
Sesampainya di taman belakang rumah, Budi duduk di samping Reno. "Ada apa, Reno?" tanya Budi to the point.
__ADS_1
"Begini, Mas. Maaf jika aku merepotkan setelah kepergian mendiang istriku. Aku kira, Mas pasti kerepotan sering ke sini," ujar Reno mencoba membuka pembicaraan.
"Tak apa, Reno. Mas dan Kakakmu senang bisa menemanimu. Tetap semangat, ya."
"Iya, Mas. Pasti. Oh iya, bolehkah aku bertanya sesuatu?"
"Boleh, Reno. Silakan." Budi merasa curiga dengan pertanyaan Reno yang tidak seperti biasanya.
"Mas, apakah Mas masih menyukai Tante Ningsih?"
Pertanyaan dari Reno bak petir di siang bolong. Budi terdiam sejenak. Menjawab jujur pasti menimbulkan masalah, sedangkan berbohong pasti ketahuan. Sepertinya Reno merasakan apa yang Budi rasakan. Apakah rasa cinta Budi terlihat sebegitu besar hingga Reno menyadarinya?
"Apa? Kenapa kamu bertanya seperti itu, Reno. Mas ini, kan ...."
"Jujur saja, Mas. Aku tanya soal hati ke hati. Kasihan kalau Kak Santi tahu," potong Reno saat Budi hendak berkilah.
Budi terdiam sejenak. Dia merasa terpojok. Dia pun menarik napas perlahan, lalu mengeluarkan napas perlahan. "Iya ... dari dulu aku menyukainya. Tapi tak mungkin menggapainya, bukan?"
Jawaban dari Budi seakan menampar Reno. Dia tahu jika Budi menyukai Tante Ningsih, tetapi tak percaya kalau Budi mengakuinya. Bagaimana mungkin dia menyimpan rasa itu setelah tahunan menikah dengan Santi dan sudah memiliki anak---Safira.
"Mereka keluargaku. Aku bertanggung jawab atas mereka," jawab Budi yang tak bisa menjabarkan lebih lagi. Jika harus menjawab soal rasa dan hati, dirinya masih dan tetap mencintai Ningsih. Santi tidak mengubah apa pun selain status sosial dan nama di buku nikah serta kartu keluarga.
"Oh, hanya formalitas? Kak Santi tahu tidak soal ini?" Reno sudah mengepalkan tangan. Dia masih mencoba menahan sekuat hati untuk tidak memukul kakak iparnya.
"Tidak. Perasaan ini hanya kusimpan saja. Dia tak menginginkanku dan aku sudah memiliki keluarga. Tak perlu bahas hal ini lagi, Reno. Maafkan aku, manusia yang tak sempurna," ujar Budi yang langsung berdiri hendak pergi.
Reno langsung mencegah dengan menarik tangan kakak iparnya. "Mas, lebih baik katakan yang sesungguhnya ke Kak Santi daripada kelak membuat luka," tegur Reno mengingatkan. Budi hanya menganggukkan kepala dan melepaskan pegangan tangan Reno. Lelaki itu segera ke ruang tamu.
Mereka pun berberes dan ke rumah Ningsih untuk mengambil beberapa barang yang akan disumbangkan. Tak lupa Santi sudah memesan makanan untuk anak-anak Panti Asuhan Kasih Ibu. Mereka menggunakan dua mobil. Reno, Wahyu, dan Ningsih berada di dalam satu mobil, sedangkan Budi dan Santi di mobil mereka mengikuti ke rumah Ningsih terlebih dahulu.
Reno menahan rasa amarah karena mengetahui kakak ipar yang soleh dan seorang ustad yang dielu-elukan banyak orang ternyata menyukai wanita lain. Jadi selama ini Kak Santi hanya sebatas formalitas saja. Reno tak bisa membayangkan betapa sedihnya Santi jika mengetahui hal itu. Bagaimana rasanya pahit jika cinta bertepuk sebelah tangan?
"Reno, kamu tak apa?" tanya Tante Ningsih membuyarkan pemikiran Reno.
__ADS_1
"Ah, nggak apa, Tante. Terima kasih, ya, sudah mau ikut repot-repot ke panti," jawab Reno seadanya. Dia tak ingin Tante Ningsih curiga jika dia memikirkan suatu hal.
"Iya, nggak apa. Tante nggak repot. Terlebih Wahyu ini semangat sekali membantu. Tante jadi semangat juga, donk," timpal Ningsih dengan senyumnya mempesona.
Reno tahu jika Tante Ningsih memang memiliki pesona tersendiri yang mengusik pikiran lelaki normal. Reno pun pernah jatuh dalam dosa, menginginkan Tante Ningsih lebih dari apa pun. Namun, saat dia sudah berkeluarga, Reno tak ingib seperti itu lagi. Dia memikirkan perasaan Nindy meski mendiang istri Reno itu selalu saja cemburu ketika ada Tante Ningsih.
Reno pun jadi paham suatu hal. Tante Ningsih sudah bertaubat dan mengubah penampilan, tentu saja hal itu membuat Mas Budi makin tertarik. Menyukai wanita berhijab yang kalem. Pantas saja Mas Budi tak berkedip ketika menatap Tante Ningsih. Reno merasa hal ini tak boleh terjadi dan tak boleh terlarut-larut. Kasihan Kak Santi jika tahu. Itu yang Reno pikirkan sepanjang jalan.
Sesampainya di rumah Ningsih, mereka mengambil kardus-kardus yang sudah disiapkan Bibi, lalu mereka melanjutkan pergi ke panti asuhan. Reno tak tahu jika dirinya masih diikuti iblis penghasut kesedihan. Budi pun tak sadar jika iblis Servus menggelitik jiwanya. Menggoyahkan imannya yang bisa saja jatuh dalam dosa.
Penampilan paripurna Ningsih dengan balutan gamis berwarna cokelat muda dan jilbab berwarna krem, membuat Budi merasa wanita itu semakin mencuri hatinya. Meski perasaan Budi makin menjadi, entah mengapa Santi tak menyadari hal itu dan masih diam saja tam berkomentar. Dalam benak Santi, dia sudah bersyukur karena Reno tidak terpuruk dalam kesedihan yang berlarut-larut.
"Budi ... cantik sekali, kan, Ningsih. Sayang kalau dianggurin. Dia sudah berbulan-bulan tidak dijamah lelaki. Pasti merindukan sentuhan juga. Cari kesempatan, buat dia bisa merasakan hangatnya pelukanmu, Budi ...." bisikan Servus makin membuat Budi terobsesi ingin mendapatkan Ningsih. Dia bergelut dalam batin yang bergejolak antara iya dan tidak.
Seusai acara amal dan donasi serta pembagian makanan santap siang ke anak-anak panti asuhan, Reno dan rombongannya segera berpamit pulang. Mereka pergi ke rumah makan untuk bersantap bersama. Rumah makan yang cukup luas dan memiki taman kecil di belakang. Saat menunggu pesanan makanan datang, mereka berbincang banyak hal. Namun, Ningsih hendak pergi ke kamar mandi.
"Maaf, aku ke kamar mandi dulu, ya," izin Ningsih yang berdiri lalu berjalan ke belakang arah taman. Sebelah kanan ada kamar mandi.
Melihat peluang bisa berbicara berdua, Budi pun pamit hendak ke taman. Reno pun menahan diri. Dia tahu jika Budi mengikuti Tante Ningsih. Saat itu, Wahyu pun merasakan ada hal yang aneh, dia pun berpamit ke kamar mandi. Akhirnya Reno dan Santi bisa berbincang berdua. Santi sangat senang jika Reno mau membuka diri membali.
Wahyu pun berjalan dengan cepat ke kamar mandi. Benar saja apa yang dia pikirkan, Budi mengikuti Ningsih. Wahyu masih diam, menyimak. Ternyata percakapan kedua orang itu membuat Wahyu terkejut.
"Ningsih, sampai kapan kau acuhkan aku?" tanya Budi saat Ningsih keluar dari kamar mandi.
"Acuhkan apa? Mas Budi yang terhormat, tolong jangan membuat masalah di keluarga kita. Sudahlah, aku ini tak bisa," jawab Ningsih yang tahu pembicaraan itu lari ke mana.
"Ningsih, beri aku kesempatan. Please. Aku tersiksa seperti ini," tutur Budi memohon.
"Kesempatan apa? Poligami? NO! Aku tak mau dan Santi pun tak boleh terluka hanya karena perasaanmu," tegas Ningsih yang kemudian melihat adanga Wahyu di sana.
"Ma-Mama ... O-Om Budi ... apa maksudnya semua ini?" lirih Wahyu dengan mata terbelalak. Selama ini, Budi sudah menganggap Wahyu seperti saudara atau ponakannya sendiri. Almarhum Kyai Anwar pun mewariskan ilmunya pada Wahyu agar bisa membantu Budi menuntuk manusia ke jalan yang ditetapkan Allah.
Wahyu menganggap Budi sebagai guru sekaligus omnya yang sangat baik dan pengertian. Namun saat ini, rasanya hati Wahyu hancur. Selama ini kebaikan Budi ternyata karena cintanya pada Ningsih? Wahyu merasa sedih menhapa seperti itu.
__ADS_1
"Wahyu Sayang, jangan salah paham. Biar Mama jelaskan," kata Ningsih yang kaget dan bingung.
Sedangkan Budi tidak berani berucap. Dia hanya menatap Wahyu yang menatapnya kecewa. Rasa cinta Budi jauh dari logika. Pesona Ningsih terlalu menawan hati Budi. Dia sampai lupa siapa dirinya dan apa tujuan hidupnya. Iblis memang pintar mencari celah dalam kehidupan manusia. Siapa pun bisa terjebak dalam JERAT IBLIS.