
...🔥 AMBISI - 2 🔥...
Meski Dinda menjadi adik Bima, kemampuannya dalam menyesatkan manusia tidak bisa dipandang sebelah mata. Dia bisa melakukan hal buruk yang terselubung hal yang sepertinya baik. Menyesatkan para manusia yang memiliki ambisi besar untuk menguasai hal lain di luar kemampuannya.
Berbeda dengan Bima yang tegas dan kejam, tetapi akhirnya takhluk karena menaruh rasa pada Ningsih. Dinda justru tak peduli soal rasa. Dia tak pernah berpikir akan menjalin hubungan dengan manusia. Dendam masa lalu membuat Dinda tak bisa memaafkan manusia begitu saja.
Pagi itu, Vira bergegas berangkat ke kantor. Setelah mengalami perubahan besar, Vira semakin memperhatikan penampilan. "Aku harus bisa menyingkirkan Juvy dan mendapatkan jabatannya. Dia itu tak layak jadi atasanku," batin Vira saat keluar dari rumah.
Setelah keluar dari gang, tak disangka ada Edo di sana. Lelaki itu bersandar di mobil mewah menanti kedatangan Vira.
"Pagi, Vir! Gue jemput sekalian soalnya searah," sapa Edo pada Vira yang terlihat tidak suka.
"Oh, iya, selamat pagi Edo. Kenapa repot-repot jemput? Aku terbiasa jalan sendiri." jawab Vira yang kemudian menghindari Edo.
"Vir, please bareng gue. Gue udah nunggu di sini selama tiga puluh menit. Emang lu tega ninggal gue dengan jalan kaki?" tanya Edo memohon.
Vira tak menjawab dan justru menepis tangan Edo yang memegang lengannya. Wanita itu memutuskan jalan kaki saja sendirian. Edo pun kecewa dan masuk ke mobil tanpa bisa menghentikan langkah Vira. Sebenarnya, Vira sengaja melakukan itu karena tahu Juvy menjadi kekasih Edo tetapi masih saja menginginkan Samy.
Vira menaruh amarah pada Juvy. Dia pun berambisi untuk bisa memenangkan persaingan di tempat kerja dan mendapatkan Samy. Saat berjalan hendak sampai kantor, ada seorang yang mengamati Vira. Orang itu adalah salah satu dari penjahat yang merusak kehidupan Vira, atau justru mengubah kehidupan Vira menjadi lebih baik?
"Vira, itu adalah tumbalmu yang pertama. Dia adalah laki-laki yang menghentikan langkahmu dimalam memilukan itu. Jika dia menyapamu, kendalikan diri dan pura-pura tak mengenalnya. Ikuti saja alurnya," bisik Dinda seakan di telinga Vira.
Vira pun tersenyum dan mengangguk paham. Dia mengikuti perkataan Dinda seperti kerbau dicucuk hidungnya. Vira tak tahu jika dia dalam pengaruh kekuatan gaib yang luar biasa.
"Hei, selamat pagi, cewek cantik. Boleh kenalan?" sapa pemuda sampah itu. Meski dalam benak Vira ingin sekali mencabik dan mencakar wajah orang itu, tetapi Vira menahan demi keberhasilan rencananya untuk Dinda.
"Pagi. Maaf, kamu siapa?" jawab Vira dengan wajah pura-pura polos.
"Wah, cewek ini benar cewek cupu malam itu atau bukan, sih? Nggak mungkin kalau nggak kenal aku. Berarti beda orang, ya? Nggak mungkin juga cupu udik begitu jadi cantik seperti ini," batin pemuda itu menatap Vira dari atas hingga bawah.
"Hei, kamu siapa?" tanya Vira kembali sambil menggerakkan telapak tangannya di depan wajah pemuda yang sedang melamun itu.
"Eh, maaf. Aku jadi salah terka. Oh, namaku Santo. Kamu namanya siapa?" kata Santo yang terkejut dari lamunannya.
__ADS_1
"Aku Vira. Ada apa, Santo?" tanya Vira dengan senyum menawan membuat siapapun lelaki yang menatap pasti terpikat.
"Tak apa. Hanya kenalan saja. Soalnya belum pernah lihat kamu lewat sini. Kamu orang baru, ya?"
"Iya, aku baru pindah di sini," kata Vira berbohong.
"Oh, gitu. Kamu kerja di mana? Kapan-kapan boleh ketemu lagi? Sekedar minun kopi bareng," ucap Santo dengan penuh harap.
"Ok. Nanti sore jam empat, ya?" Vira pun pergi dan melambaikan tangan tanda perpisahan dengan Santo.
Santo pun tertawa girang. "Yes, akhirnya dapat gebetan! Kalau ini jadi pacarku, pasti Mama nggak marah lagi," gumam Santo sambil melonjak dengan semangat.
Santo sebenarnya bukan anak jalanan. Dia anak dari pengusaha bakery sukses di Jakarta. Hanya saja, Mamanya selalu ingin menjodohkan Santo pada wanita-wanita yang Santo tak suka. Dia akhirnya keluar dari rumah dan sering berada di jalan bersama teman-temannya yang senasib. Sesungguhnya, saat pemerkosaan terjadi malam itu, Santo tidak berani melakukan. Hanya saja semua temannya memaksa Santo membuktikan kejantanannya. Santo melakukan hal yang salah malam itu.
Sesampainya di kantor, Vira segera ke tempat duduknya. Betapa terkejutnya Vira, meja kerjanya berantakan. Banyak file yang disobek di sana. Vira pun menarik napas panjang dan mengeluarkan perlahan. Dia tahu siapa pelakunya, tetapi tak bisa asal menuduh.
Vira pun memungut semua kertas yang berjatuhan dan menata kembali meja kerjanya. Tak terasa air mata menetes dari sudut matanya saat membereskan tempat kerjanya. Tiba-tiba, tangan lembut itu mengusap bahu Vira perlahan.
"Sabar, ya, Vir. Meski kamu tahu pelakunya, jangan balas. Biar aku yang urus semua ini," lirih Samy yang kemudian membantu Vira membereskan meja kerjanya.
Setelah selesai merapikan meja, Samy pun hendak kembali ke ruangannya. "Vira, kamu tampak sangat berbeda, tetapi entah mengapa aku lebih suka kamu yang dulu. Semangat bekerja, ya." kata Samy kemudian pergi.
Vira yang awalnya diam pun mengernyitkan dahi seiring Samy menghilang keluar pintu ruangan. "Suka yang dulu gimana? Bukannya dulu aku cupu dan nggak ada yang mau ajak bicara aku? Huft, lihat aja nanti." gumam Vira pada diri sendiri.
Ambisi yang membara itu membuat Vira berubah menjadi pribadi yang berbeda. Itulah yang Samy rasakan. Vira berubah menjadi Vira yang tidak lugu seperti dahulu. Vira berubah menjadi orang yang Samy tak kenal. Meski terlihat cuek, Samy sudah menyimpan rasa pada Vira sejak lama. Dia suka Vira apa adanya. Samy yang berada di jabatan lebih tinggi, merasa gugup mendekati Vira. Dia hanya mengamati Vira selama setahun ini.
Samy berusia tiga puluh lima tahun dan belum menikah. Dia menyukai Vira dan ingin dekat dengannya. Namun, setiap ingin ke Vira, Juvy selalu mencegah dan menggodanya. Membuat Samy jijik karena dia tahu kalau Juvy sudah menjalin kasih dengan Edo.
...****************...
Sore harinya setelah usai bekerja, Edo menghampiri Vira lagi. Dia masih saja tak menyerah menggoda Vira. "Vira, pulang bareng, yuk." kata Edo pada Vira yang sedang mengemasi laptop dan berkas penting.
"Nggak, Edo. Kamu, kan, pacarnya Juvy. Ntar yang ada Juvy makin nyiksa aku." ucap Vira tanpa menatap Edo.
__ADS_1
"Nyiksa apa? Dia berani lukain Vira? Ntar, biar Edo marahin tuh cewek gila." ucap Edo sok jadi pahlawan.
"Nggak usah. I'm fine."
"Vira, gue nggak ada hubungan apa-apa ama cewek itu. Yuk, gue antar pulang." Edo masih memaksa Vira tanpa mengetahui Juvy berada di belakang Edo.
"Eghm ... oh, jadi begini, ya. Elu bilang gue cewek gila dan bilang nggak ada hubungan apa-apa? Bagus!" gertak Juvy pada Edo.
Edo pun terkejut dan salah tingkah. "Eh, Juvy. Bukan gitu. Gue nggak bilang soal elu. Tenang dulu." Edo mencoba menjelaskan.
"Emangnya gue budek, apa? Udahlah, nggak usah ngelak, dasar lelaki hidung belang! Elu deketin cewek cupu itu garagara dia sudah melek gaya, kan?" Juvy semakin emosi.
Dalam pertengkaran Juvy dan Edo, Vira diam-diam pergi meninggalkan mereka yang mulai menjadi bahan tontonan. Sedangkan Samy mengikuti Vira. "Vir, jangan terpancing emosi kalau Juvy cari masalah, ya? Kemarin, Tuan Brams mempertimbangkan posisi Juvy digantikan olehmu karena pengabdian dan kerjamu sangat bagus." kata Samy membuat Vira semagat.
"Terima kasih, Samy. Aku akan mencoba bersabar." ucap Vira yang bergegas pergi karena jam sudah menunjukkan pukul empat lebih lime belas menit sore hari. Dia ingat jika Santo menunggunya.
Sedangkan Edo dan Juvy menjadi tontonan karena pertengkaran mereka di kantor membuat gempar. "Emangnya gue buta? Elu juga ganjen deketi Samy, kan? Udah elu nggak usah munafik!" kata Edo menbuat Juvy kesal.
"Elu! Keterlaluan mulut lu, Edo! Dasar brengsek!" seru Juvy yang langsung menyiramkan sisa air minum di meja sampingnya ke wajah Edo. Tentu saja hal itu membuat Edo marah dan sangat malu di hadapan banyak karyawan.
Edo pun menampar wajah Juvy. Bekas merah di pipi Juvy membuatnya menangis dan segera pergi dari kantor. Juvy merasa sakit hati dan direndahkan oleh Edo. Dia sudah terlanjur mengikuti semua perkataan Edo agar bisa mendapatkan jabatannya saat ini meski baru lima bulan kerja, tetapi hal ini sungguh menyakitkan bagi Juvy.
Vira keluar dari kantor dan terkejut karena seseorang menepuk pundaknya. "Hai, Vira!" sapa Santo yang ternyata menunggu di depan kantor Vira.
"Eh, kaget banget. Kamu, kok, nunggu di sini? Udah lama?" jawab Vira yang menatap Santo sudah rapi dengan setelan jas hitam dan membawa kunci mobil di tangannya.
"Nggak lama, kok. Yuk. ngopi dulu. Kamu pasti capek setelah bekerja. Nanti aku ajak keliling dan ketemu Mamaku, mau?" tanya Santo to the point.
Vira yang mengingat pesan dari Dinda pun hanya bisa mengikuti alur yang Santo buat. "Iya, boleh. Terima kasih, ya, Santo."
Santo pun menggandeng tangan Vira. Dia mengajak Vira masuk ke mobilnya. Santo tadi pagi pulang ke rumahnya untuk menemui mamanya. Dia bilang jika hendak mengenalkan calon istri cantik ke mamanya. Mamanya pun mengizinkan Santo membawa mobil dan kartu credit dan ATM untuk belanja. Mamanya senang saat Santo bilang hendak mengenalkan wanita pilihannya pada mamanya.
"Kita ke star*uck dulu, yuk. Minum kopi seusai bekerja biar santai," kata Santo yang jelas dituruti oleh Vira.
__ADS_1
"Vira, malam ini akan kuambil tumbal pertamamu. Jika dia mengajak ke apartemennya, ikuti saja. Semua akan berjalan lancar. Aku akan selalu di sampingmu," bisik Dinda yang lagi-lagi terasa di telinga Vira. Tentunya hanya Vira yang bisa mendengar perkataan Dinda. Vira hanya bisa mengikuti semua kata Dinda.
Hal itu yang paling Dinda suka. Ambisi manusia yang perlahan tetapi pasti menghancurkan kehidupan manusia itu sendiri dan orang lain. Kecil atau besar, ambisi tetaplah ambisi. Menginginkan sesuatu yang bukan miliknya, ingin menguasai segala sesuatu, menghancurkan orang lain tanpa ragu, mengatakan hal buruk untuk menjatuhkan mental orang lain, dan masih banyak lagi contoh ambisi manusia yang ada di sekliling membuat Dinda sangat bersemangat.