JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
JERAT IBLIS - 2 - BAB 14


__ADS_3

...🔥 PERNIKAHAN (?) 🔥...


Hari-hari berlalu begitu cepat, tanpa Vira sadari, Samy merencanakan lamaran serta pernikahan dengannya. Sebenarnya Vira ingin menghindar dari Samy setelah mengetahui Dinda tidak akan membatalkan perjanjian terkutuk itu.


Sepulang bekerja, Vira hendak menghindar dari Samy, tetapi kekasihnya itu langsung memegang tangannya. "Vira, mengapa beberapa hari ini menghindar? Apa aku ada salah?" tanya Samy menatap mata Vira yang mulai berkaca-kaca.


"Nggak, Samy. Kamu nggak ada salah apa pun." lirih Vira kepada kekasihnya.


"Lantas, kenapa sikapmu berubah? Vir, jangan seperti ini, ya. Aku serius denganmu."


Kalimat itu seakan membuat gendang telinga Vira berdengung. Vira merasa takut dan senang dalam waktu yang sama. Dia tak bisa menolak betapa besar keinginannya bersanding dengan Samy, tetapi dia pun tak bisa membendung betapa ketakutannya dia jika harus kehilangan Samy. Seperti orang bodoh, Vira terdiam dan tak bisa berkata apa-apa dalam beberapa detik. Namun, dalam detik-detik itu pula Vira merasakan kegundahan dalam dada.


"Vir, kamu nggak apa, kan?" tanya Samy kembali sambil menggerakkan tangan ke kanan dan ke kiri di hadapan wajah Vira.


Vira pun mengedipkan kedua matanya dan menatap Samy. "Aku baik-baik aja, kok," jawab Vira menutupi perasaannya. Bagaimana bisa kekasih yang selama ini menjadi lelaki impiannya akan menikahinya, tetapi dia justru gundah? Jika tidak ada perjanjian sialan itu tak mungkin Vira berpikir serumit ini.


"Aku antar pulang, ya." Samy pun menggandeng tangan Vira dan mengajaknya pulang bersama. Sepanjang perjalanan, Vira hanya diam. Samy justru merasa jika Vira meragukan kesungguhan hatinya. Oleh sebab itu, malam ini lelaki berbadan atletis dengan wajah tampan yang super cool itu hendak melamar ke orang tua Vira serta mengutarakan persiapan pernikahan yang sudah direncanakannya.


Samy mengira hal itu yang membuat Vira gundah dan dia ingin segera bersama Vira. Seorang lelaki yang baik tidak akan menggantungkan hubungan status dengan wanita yang disayanginya apalagi sampai bertahun-tahun. Tentu saja lelaki yang baik adalah yang mau berjuang untuk bisa menikahi wanitanya. Bukan untuk berpacaran atau main-main saja.


Sesampainya di perumahan, Vira tidak mengajak Samy masuk ke rumahnya seperti biasa. Dia justru langsung berpamit dan mengucapkan salam. "Terima kasih sudah antat pulang. Padahal tadi Ayah mau jemput. Hati-hati di jalan, ya. See you," ucap Vira singkat lalu masuk ke dalam rumah.


Samy tersenyum menatap punggung kekasihnya yang kemudian menghilang saat masuk ke dalam rumah dan pintu tertutup. Samy justru makin semangat untuk melaksanakan rencananya nanti malam. Dia sudah menghubungi papa mamanya di rumah untuk bisa melamar Vira. Samy pun beranjak pergi dengan mobilnya dari rumah Vira.


Langit senja seakan menjadi saksi dari niat suci Samy. Lelaki itu segera pulang dan mandi. Dia segera mengenakan setelan jas berwarna navy dan menyiapkan semuanya. Setelah siap, dia pun pergi menjemput orang tuanya. Pasti papa mama sudah menunggu Samy di rumah. Langit senja sudah berubah menjadi gelap malam. Sekitar pukul tujuh malam, Samy sampai di rumah orang tuanya.


Setelah menjemput papa mama, Samy melanjutkan perjalanan ke perumahan tempat Vira tinggal. Dia tak sabar melihat ekspresi wajah kekasihnya saat dia datang melamar dan mengajaknya menikah secara resmi.


Tanpa Samy tahu, Dinda mengamati dengan senyum di bibirnya. "Tumbal suci adalah santapan paling lezat bagi Iblis. Datanglah kepada kegelapan, hai, manusia lemah." gumam Dinda yang kemudian menghilang.


Sesampainya di rumah Vira, Samy segera keluar dari mobil. Mengajak mama papanya ke rumah yang bernuansa biru itu. Samy sudah membawa mahar, cincin emas sepasang, beberapa bingkisan, dan juga progess rencana pernikahan yang dia siapkan. Tentu saja Samy akan meminta persetujuan Vira dan memintanya memilih apa saja yang ia inginkan dalam pernikahan.

__ADS_1


Samy terlihat gugup saat menekan bel di pintu berwarna biru itu. Beberapa saat kemudian, wanita pujaan hatinya membuka pintu. "Ya, siapa? Eh ... Samy? Loh, kamu sama Mama Papa?" kata Vira yang masih bingung sedangkan Samy tersenyum padanya.


"Suprise buat Vira. Aku dan Papa Mama ke sini spesial buat kamu." kata Samy.


"Vira, ada tamu siapa? Kok, tidak diajak masuk?" seru bunda dari ruang tamu.


"Eh, iya, Bu. Ini Samy dsn kedua orang tuanya datang," jawab Vira kemudian mempersilakan masuk.


Tentu saja hal itu membuat Samy semakin senang dan bersemangat. Sedangakn Vira justru bingung. Ayah dan bunda meminta Vira untuk berganti pakaian agar sopan menemui calon mertua. Lalu, setelah Vira sudah terlihat cantik dengan gaun berwarna biru, orang tua Vira bergantian untuk ganti pakaian. Mereka sangat senang Samy dan kedua orang tuanya datang.


"Begini ... Ayah, Bunda, dan Vira, sebelumnya maaf kalau kedatangan Samy dan orang tua mendadak. Kami memberi kejutan sekaligus menyampaikan niat baik. Ini orang tua Sami. Papa dan Mama, ini Ayah dan Bunda Vira." ucap Samy melakukan pembukaan percakapan.


Mereka pun berkenalan. Saling berbincang banyak hal sebelum akhirnya papa dari Samy mengutarakan niat mereka datang untuk melamar dan membicarakan pernikahan yang akan dilakukan.


"Kalau kami, tergantung Vira saja. Semua yang menjalani Vira dan Samy. Niat baik keluarga Samy kami terima. Vira, bagaimana jawbannya?" kata ayah Vira sambil menatap putrinya dengan senyum penuh harap.


Hati Vira kembali gundah. Antara senang impiannya terwujud kurang selangkah lagi, atau justru sedih karena hal yang dia takuti akan terjadi. Tak mungkin jika menikah, Samy tak menyentuh Vira, bukan? Kegundahan itu semakin menjadi karena lelaki yang dicintai sudah berada di hadapan dengan kedua orang tuanya, menatap Vira penuh harap. Samy merasa semua akan bahagia saat mereka menikah.


"Emm ... ba-baik. Vira menerima lamaran Samy." jawab Vira setelah bergelut dengan kegelisahan batin. Tak bisa dipungkiri jika hidup bersama Samy adalah hal yang paling Vira inginkan sejak setahun lalu.


Samy pun bersorak girang. Dia pun segera memberikan semua bingkisan yang dibawa serta membicarakan untuk melaksanakan pernikahan segera. Semua sudah diatur oleh Samy, hanya tinggal Vira memilih suka baju pengantin seperti apa, dekorasi seperti apa, dan sebagainya. Semua dengan menggunakan uang Samy. Lelaki itu sungguh bahagia karena Vira menerima lamarannya. Dia tidak tahu jika hal buruk mengintainya.


...****************...


Dua minggu kemudian ....


Pernikahan Vira dan Samy akan dilaksanakan akhir pekan. Saat itu, mereka sudah mengambil cuti untuk menyiapkan semuanya. Undangan sudah tersebar dengan foto prewedding yang sangat menawan. Vira dan Samy mendapat ucapan selamat dari seluruh karyawan kantor. Ya, seluruhnya, kecuali Edo. Edo menjadi dendam pada mereka berdua. Edo justru berpikir jika Samy yang menjebak dia agar turun jabatan.


"Awas saja. Gue nggak akan biarkan kalian bahagia!" batin Edo sambil mengepalkan tangan, melihat undangan yang sudah tersebar.


Saat menyiapkan semuanya di rumah dan gedung tempat resepsi akan diberlangsungkan, Samy dan Vira membicarakan hal yang serius.

__ADS_1


"Samy, apakah kamu mau menahan diri terlebih dahulu. Bukannya aku tak ingin, tapi setelah menikah beri waktu aku sedikit untuk mempersiapkan mental." lirih Vira setelah menjelaskan keinginannya untuk menunda malam pertama dengan berbagai alasan yang dia buat.


Di luar perkiraan Vira, Samy justru tertawa. "Ha ha ha ... kamu lucu sekali, sayang. Iya, tidak apa. Aku menikahimu bukan untuk napsu. Aku ingin bersamamu. Membuatmu bahagia." kata Samy membuat hati Vira semakin luluh.


Samy yang pengertian, sopan, baik, bertanggung jawab, dan tampan. Samy begitu sempurna di mata Vira hingga dia tak bisa mengutarakan hal sesungguhnya.


Hari pernikahan ....


Pernikahan pun berlangsung dengan megah dan meriah. Namun, ada hal yang mengusik Vira. Sedari tadi, Dinda berada di pojok ruangan, menatap Vira dengan seringai mengerikan. Vira tahu jika Dinda berjaga untuk mengambil Samy yang saat ini menjadi suaminya.


Vira makin cemas, tetapi sedikit tenang karena Samy sudah sepakat dengan Vira. Kapan hari yang menjadi malam pertama adalah pilihan Vira. Samy tidak akan memaksa. Resepsi itu berjalan lancar, tamu datang dan pergi begitu saja. Namun, Dinda masih saja di sudut ruangan.


Rasa ngeri itu makin terasa ketika mata Vira bertatapan langsung dengan mata Dinda. "Vira ... perjanjian tetap berjalan. Ketika suamimu menyentuh, aku akan ada di sana mengambil jiwanya." ucapan Dinda seakan berbisik di telingan Vira. Membuat wanita itu mendadak pening dan seketika gelap.


Vira pingsan di hari bahagianya. Membuat keluarga dan tamu undangan panik. Terlebih Samy langsung menangkap tubuh Vira. Malam itu, Vira tak sadar hingga pagi. Resepsi sudah berakhir. Vira berada di kamar rumah Samy. Entah siapa yang menggendong dan membawanya ke sana, Vira tak tahu.


Samy dibantu oleh keluarganya, segera mencoba menyadarkan Vira. Karena Vira masih pingsan dan belum merespon, akhirnya keluarga Samy mengajak mereka pulang meninggalkan gedung untuk beristirahat. Meski sedikit kacau di akhir, Samy tetap bersyukur sudah menjadi suami Vira. Dia ingin melindungi istrinya selamanya.


Keesokan harinya ....


Vira terbangun dengan kepala yang sangat pening. Dia mengusap mata dan beberapa kali memegang kepalanya. Dia heran bisa di kamar yang asing. Ternyata itu kamar Samy karena lelaki itu ada di samping Vira.


Vira terkejut karena gaunnya sudah terlepas dan berganti pakaian dengan piyama. Lalu, Vira perlahan bangkit dari tempat tidur. Dia melihat cermin, riasan dan wajahnya sudah bersih dari make up. Vira pun terkejut. Apa yang terjadi? Vira bertanya-tanya dalam hati.


"Sayang, kamu sudah bangun?" lirih Samy yang kemudian duduk di sisi ranjang.


"Ah, i-iya. Apa yang terjadi, Samy? Aku bingung." jawab Vira sambil memegang kepalanya beberapa kali.


"Kemarin malam sayang pingsan karena kecapekan. Keluarga membawa sayang ke sini dan untungnya ada Mama serta Bunda membantu ganti gaun dan menghilangkan make up di wajah." jelas Samy dengan singkat.


Vira pun merasa lega dengan hal itu. Namun, baru beberapa detik dia lega, Samy justru menyampaikan hal yang membuatnya bergidik ngeri.

__ADS_1


"Oh, iya. Sayang dapat salam dari sahabat. Kemarin dia datang akhir saat Samy hendak bawa sayang pulang. Namanya Dinda. Katanya, dia hendak membawa kejutan untuk sayang. Dinda itu siapa? Sepertinya bukan pegawai kantor kita," kata Samy.


__ADS_2