
π MISI MULIA π
Flashback ....
Saat pertama kali pindah ke Jakarta, Mak Sri disuruh oleh Ningsih mencari seseorang untuk menjaga rumah dan jadi tukang kebun. Beliau bertanya kepada saudaranya di kampung halaman.
"Ini Nyonya besar cari tenaga lelaki untuk jaga rumah dan membersihkan kebun. Tapi Mbak tidak tega mau mempekerjakan siapapun," keluh Mak Sri waktu awal Ningsih pindah ke Jakarta.
"Mbakyu, saya tahu jika majikanmu menggunakan jalan pintas untuk kaya raya. Apakah Mbakyu tidak berniat berhenti kerja? Takutnya jika terbawa masalah itu," ucap Pak Anwar adik Mak Sri yang sukses menjadi Kyai dan memiliki pesantren di Wonogiri.
"Iya, Anwar. Mbak tahu. Tapi sudah terlanjur sayang sama Wahyu. Kasihan kalau tidak sama Mbakmu ini, dia mau sama siapa? Nyonya jarang bersama Wahyu. Belajar agama pun tidak boleh. Cuma Mbak yang mengajarkannya sholat dan ngaji walau curi waktu," kata Mak Sri menghela napas.
"Masyaallah mulia hatimu, Mbak. Insyaallah perlindungan pasti ada. Kalau begitu, Mbakyu pekerjakan Budi saja. Bud, Budi ... ke sini sebentar," ucap Kyai Anwar memanggil anak semata wayangnya. Budi, keponakan Mak Sri.
"Iya, Bapak. Ada apa gerangan?" tanya Budi dengan sopan.
"Ini ... Budhemu kerja ikut Juragannya di Jakarta. Butuh teman sekaligus jaga rumah. Bapak utus kamu ke sana. Mungkin tidak akan mudah di sana, tapi ini juga ujian imanmu," jelas Kyai Anwar pada puteranya.
"Budi siap, Pak. Budhe tak perlu khawatir. Budi akan menjaga Budhe di sana," kata Budi seakan tahu apa yang akan terjadi.
Setelah mengakhiri percakapan itu, Kyai Anwar membekali puteranya dengan nasehat dan juga pagar gaib yang tak bisa dideteksi makhluk astral.
"Jangan melihatkan kemampuanmu di sana. Amati saja dan lindungi Budhemu. Jika waktunya tiba, Bapak akan bantu memutuskan belenggu Iblis terkutuk itu," tegas Kyai Anwar melepas kepergian Budi.
Budi berangkat ke Jakarta. Melepas pakaian khas santri yang selama ini dikenakannya. Dia berusaha sebiasa mungkin menjadi pemuda dari desa yang memang berniat kerja.
Sesampainya di rumah Ningsih, Mak Sri memperkenalkan keponakannya kepada Ningsih.
"Bu Ningsih, keponakan saya sudah datang. Ini namanya Budi. Anaknya rajin, Bu," kata Mak Sri.
Pertama kali melihat Budi, Ningsih merasa bahwa pernah melihat pemuda ini. Tapi Ningsih lupa di mana tempatnya.
"Iya, selamat bekerja di sini. Semoga betah ya. Kamu yakin kan kerja jadi penjaga rumah dan tukang kebun? Berat hlo. Kamu sanggup?" tanya Ningsih yang melihat Budi terlalu tampan untuk bekerja kasar.
"Saya siap, Nyonya. Terlebih bisa menemani Budhe Sri di sini," jawab Budi dengan senyum manis.
"Oh, baguslah kalau begitu. Panggil aku Bu saja atau langsung nama. Jangan panggil Nyonya. Nggak enak kan seperti sudah tua saja. Ha ha ha ...."
Awal Budi bekerja, banyak gesekan gaib yang membuatnya tak nyaman. Untung saja Kyai Anwar memagari tubuh Budi dengan baik. Budi sebenarnya bisa melihat Bima yang selalu keluar masuk rumah bahkan ke kamar Ningsih dalam bentuk aslinya yang menakutkan. Namun, seperti apa yang bapaknya sampaikan, semua ini untuk pengamatan terlebih dahulu.
Empat tahun bekerja di rumah Ningsih membuat Budi sudah hafal dengan segala tingkah laku bahkan apa saja yang makhluk gaib itu lakukan. Alih-alih memusnahkan, Budi jadi tak tega karena tahu Iblis itu menaruh hati kepada Nyonya Ningsih dan begitu pula sebaliknya. Budi hanya bisa mengamati dalam diam.
__ADS_1
Kesempatan datang saat Ningsih mengajak berlibur ke Yogyakarta.
"Budi, ini aku sama Wahyu, Mak Sri, dan Joko serta adiknya mau antar pulang Santi sama Reno ke Yogyakarta. Tapi kami sekalian liburan di sana. Kamu ditinggal sendirian di rumah nggak apa kan?" tanya Ningsih sore hari sebelum paginya hendak pergi.
"Iya, Bu. Tak apa. Saya jaga rumahnya biar tak lari," jawab Budi sambil bercanda.
Empat tahun bekerja bersama Ningsih membuatnya sudah tak sekaku dahulu. Terlebih Ningsih adalah wanita yang hangat.
"Malah bercanda deh. Tenang Bud ... nanti dua hari sekali ada cleaning service house seperti biasa datang bersih-bersih. Aku sudah bayar kontrak untuk sebulan penuh. Jadi kamu hanya menjaga rumah saja seperti biasa sama masak sendiri kalau lapar. Mak Sri ikut soalnya," jelas Ningsih.
"Baik, Bu. Siap laksanakan!"
Kepergian Ningsih sekeluarga membuat Budi tak menyia-nyiakan waktunya. Setelah menelepon Bapaknya di kampung, Budi menjalankan perintah penting untuk membersihkan rumah dari aura negatif. Ningsih bersekutu dengan Bima yang telah menjadi kaki tangan Iblis, tentu saja membawa hal kelam di tempat tinggalnya. Jika tidak dihilangkan, lama kelamaan akan membawa masalah entah itu mengganggu kesehatan maupun lainnya. Efeknya pun pada seluruh penghuni rumah bukan saja sang pelaku.
"Mengapa Ibumu mengambil jalan sesat seperti ini? Tak tahukah dia sedang menyeret dirinya dan seluruh orang di sekelilingnya ke jurang Neraka?" gumam Budi saat membersihkan aura negatif di kamar Wahyu.
Ruqiyah mandiri sebagai jalan membersihkan kekuatan gaib di dalam rumah Ningsih. Tak cukup satu dua hari. Seminggu pertama, kekuatan Budi terkuras banyak untuk membuang kekuatan gaib yang menyelimuti rumah Ningsih. Setelah selesai, Budi memagari rumah Ningsih. Tak lupa seperti pesan bapaknya, menanam pohon bidara di setiap sudut rumah.
"Insyaallah semua akan baik-baik saja. Setidaknya makhluk itu tak akan mengganggu di dalam rumah lagi. Aku harus bersiap menghadapi hal selanjutnya," lirih Budi menatap rumah megah milik Ningsih yang sudah dia bersihkan secara mata batin.
***
Malam itu sehabis Ningsih tidur sore karena lelah perjalanan, Ningsih terkejut karena almari sesaji yang dia kunci membuka sendiri. Takut jika Budi tahu sesuatu, Ningsih pun memanggilnya setelah menutup pintu almari kembali.
"Iya, Bu. Ada apa?" Budi bergegas ke lantai dua.
"Kamu masuk ke kamarku waktu lalu?" tanya Ningsih curiga.
"Maaf, Bu. Saya hanya bantu membersihkan waktu petugas kebersihan datang."
"Terus kamu buka-buka almari?" selidik Ningsih.
"Tidak, Bu. Saya hanya membersihkan kamar saja."
Budi berkata jujur. Dia tidak membuka almari itu walau tahu isinya adalah sesaji untuk suami gaib Ningsih. Saat Budi membersihkan, tak ada reaksi apa pun. Namun kemungkinan saat Bima hendak masuk rumah dan terpental, hal itu berdamlak pada almari sesajinya.
"Oh, ya udah kalau begitu. Maaf ya."
"Iya, Bu."
Budi pun turun dan kembali ke kamarnya. Sebenarnya dia kasihan dengan Ningsih. Terjerat tipu daya Iblis bertahun-tahun membuatnya susah untuk disembuhkan jika hendak bertaubat.
__ADS_1
Mak Sri pernah menceritakan seperti apa kehidupan Ningsih dahulu sebelum akhirnya mulai kaya mendadak karena kematian suami-suaminya. Mak Sri ikut Ningsih cukup lama jadi sudah tahu seluk beluk hati Ningsih.
Budi pun terenyuh mendengar cerita dari Mak Sri. Sebenarnya dia ingin sekali membantu. Namun perihal bertaubat adalah pilihan individu yang tak bisa dipaksakan
"Malam ini, makhluk gaib itu pasti akan mencari cara untuk masuk. Aku harus berjaga dan bersiap," gumam Budi sambil melafalkan doa-doa untuk menguatkan imannya.
Di sisi lain, Bima geram dan marah karena tak bisa menembus pagar gaib di rumah Ningsih. Kondisi Bima yang terluka parah sejak bertempur dengan Evan dan Lily membuatnya tak bisa menembus dengan mudah.
Saat dipenuhi amarah, Bima mendapat panggilan dari pengikutnya. Bagas hendak bertaut asmara dengan wanita. Bima langsung menghilang dan datang ke tempat Bagas.
Bagas memang lelaki yang tak pernah puas dengan apa yang dia punya. Dia berselingkuh dengan sahabat Wati. Mereka sudah melepas kain di badan saat Bima datang. Bima pun masuk ke tubuh Bagas dan menguasai permainan itu.
"JIKA SETIAP HARI AKU MENDAPATKAN TUMBAL, TAK PERLU WAKTU LAMA UNTUK MEMULIHLAN KEKUATAN. BAGAS MEMANG MANUSIA BERGUNA UNTUK MEMBAWA JIWA KE NERAKA." kata Bima dalam hati merasa puas menghisap hawa kehidupan dari wanita yang disetubuhi Bagas.
Kali ini, Bima keluar dari tubuh Bagas sebelum wanita itu usai. Bagas bisa melanjutkan menikmati dosa yang dibuatnya.
Bima pun menunggu saat yang tepat untuk mengambil nyawa wanita itu. Tepat menjelang subuh, wanita itu berpamit pulang.
"Mas Bagas, aku siap-siap pulang ya. Sudah subuh soalnya," lirih wanita itu beranjak dari ranjang hotel yang empuk.
Bagas selalu menyewa kamar untuk berselingkuh. Wati memang sering sendirian di rumah. Namun saat ini Wati sudah mengandung dan ada pekerja yang menginap di sana untuk membantu keperluan Wati.
Saat wanita yang semalaman bersama Bagas itu keluar dari Hotel, Bima mengikutinya. Perlahan tapi pasti, Bima akan mengambil nyawa wanita itu.
Saat berjalan ke arah taksi, wanita itu terkejut karena ada kecelakaan di dekatnya. Mobil melaju kencang dan menabrak tiang listrik. Tak disangka, tiang listrik itu jatuh dan menimpa sahabat Wati itu.
"BERES! SATU JIWA LAGI KUDAPATKAN," kata Bima sambil menyeringai.
Apa yang Bima lakukan semata untuk memenuhi perintah Tuan Chernobog dan mengulur waktu untuk mencari cara menyelamatkan Ningsih. Meski Bima menjadi Iblis, dia tak ingin jika Ningsih menjadi penghuni Neraka seperti pelaku pesugihan lainnya. Menikah dengan makhluk gaib termasuk salah satu pesugihan di bawah naungan penguasa Neraka lapis ke tujuh.
"NINGSIH, ANDAI KAMU TAHU ... APA PUN AKAN KULAKUKAN UNTUK MEMBEBASKANMU DARI HAL INI. NAMUN, APA DAYA AKU HANYA IBLIS YANG MENYIMPAN RASA PADA MANUSIA." gumam Bima yang lalu menghilang.
Orang-orang berdatangan melihat kejadian mengerikan kecelakaan itu. Bagas sudah tahu hal itu akan terjadi. Dia tak peduli dan berlenggang begitu saja dengan mobilnya. Bahkan manusia yang bersekutu dengan Iblis bisa tak berperasaan seperti itu.
Bagas tahu hal ini hanya bagian dari perjanjiannya. Wati sudah dinyatakan hamil. Bagas akan mendapatkan keturunan segera. Lalu soal jabatan, perlahan tapi pasti akan didapatkan Bagas bersama pundi-pundi uang gaib yang datang begitu saja dari dalam kantong hitam yang Bima beri.
"Kalau bisa hidup mudah, mengapa banyak orang berlomba-lomba susah payah bekerja? Dasar orang-orang bodoh!" hina Bagas saat melaju dengan mobil di tengah keramaian penanganan kecelakaan.
Bersambung ....
***
__ADS_1
"Terkadang, manusia justru lebih mengerikan dari Iblis. Mengorbankan orang lain demi kepentingannya saja." ~ Bima Prawisnu