
...🔥Akhiri dengan Bahagia🔥...
Ningsih sudsh terlewat dari masa kritis. Dia sudah sadarkan diri dan mampu merespon dokter dan bidan dengan baik. Dia langsung bingung mencari bayinya. Bidan langsung datang membawa bayi Ningsih ke dekat wanita itu. Bayi Ningsih dan Bima juga sudah lewat dari masa kritis. Bayi itu sudah bisa menangis dan detak jantung normal. Bidan segera meletakkan bayi di dekat Ningsih untuk memberi ASI pertama kali.
Ningsih merasa sangat bahagia. Memiliki bayi perempuan yang cantik dan sehat. "Dokter, di mana suami dan putra-putra saya?" tanya Ningsih dengan lirih.
"Sebentar lagi mereka akan masuk. Selamat, Nyonya atas kelahiran putri nan cantik," kata dokter tersebut.
Wahyu dan Alex langsung masuk ke ruangan dengan sangat bahagia. Mereka langsung menatap adik bayi yang cantik dan menggemaskan itu. "Mama, syukurlah Mama dan adik bayi sehat dan selamat. Kamu sempat khawatir," kata Alex dengan spontan.
"Memangnya apa yang terjadi?" tanya Ningsih belum memahami kondisi kritis yang terjadi tadi.
"Tak apa, Mama. Terpenting saat ini Mama dan adik bayi sehat dan selamat," pungkas Wahyu tak ingin membuat ibunya khawatir.
"Iya, Sayang. Oh iya, di mana Papa kalian?" Ningsih menatap ke arah pintu karena tidak ada lelaki yang dia cintai di sana.
"Sebentar, Ma. Papa sedang di kamar mandi. Mama tunggu sebentar lagi Papa pasti ke sini," ujar Wahyu menenangkan ibunya meski dia tak yakin ayahnya akan kembali atau tidak. Wahyu tahu jika hati ayahnya gundah saat tahu nyawa ibu dan juga adik bayinya terancam. Wahyu memahami hal tersebut.
Setelah mereka berbincang banyak hal, dan bayi itu juga cukup minum ASI, Bima pun terlihat muncul dari arah luar tuangan masuk ke dalam melalui pintu depan. "Ningsih? Sayangku ... istri dan putriku selamat!" seru Bima yang segera memeluk erat Ningsih yang masih memberi ASI pada putinya.
"Bima, terima kasih. Kami sehat karena doa kalian. Terima kasih Wahyu dan Alex. Mama juga sangat sayang dengan kalian," ujar Ningsih membuat rasa haru menyeruak.
Mereka pun menyambut kelahiran bayi yang diberi nama Cahaya karena kelahiran anak bungsu Ningsih itu membawa kebahagiaan dalam keluarganya. Tepat seperti yang diperkirakan Bima, semua akan baik-baik saja meski dia harus segera pergi.
Setelah Cahaya tidur lelap, Ningsih pun meletakkan kembali bayinya di tempat tidur khusus yang disediakan pihak rumah sakit. Ningsih pun rasanya ingin segera terlelap karena sangat lelah.
Wahyu dan Alex sengaja meminta izin untuk tidur di sana. Dalam kamar untuk menunggu ibunya yang baru saja lahiran. Bima menyetujuinya sekaligus hendak mengucapkan perpisahan.
"Ningsih ... Wahyu ... dan Alex ... jagalah Cahaya dengan sebaik mungkin. Sekarang, spa pun yang terjadu kalian harus tetap bersama, saling menjaga, saling memperhatikan, dan saling menyayangi. Papa tidak selamanya di sini, tetapi Papa yakinkan akan selalu bersama kalian meski tak terlihat mata," jelas Bima membuat semua menjadi bingung.
__ADS_1
"Maksud Papa apa?" tanya Alex yang tak paham.
Bukankah menjadi manusia masih ada kesempatan dua bulan lagi?
"Sayang, jangan bicara yang tidak-tidak. Tetaplah di sini, Bima. Putri kita memerlukan seorang ayah luar bisa sepertimu," bujuk Ningsih pada suaminya.
"Maaf Ningsih, keputusan sudah bulat. Ayo kita akhiri semuanya dengan indah. Ningsih, jadilah ibu yang terbaik bagi anak-anak kita.. Yakinlah sesuatu hal, aku akan selalu ada bersama kalian meski tak terlihat mata. Ningsih jaga anak-anak kita, ya? Aku menyayangi kalian semua," ujar Bima menahan air mata yang akan menetes.
"Kamu bicara apa, Bima? Kita akan selalu bersama, kan? Anak-anak membutuhkan kamu," kata Ningsih yang belum bisa mencerna arti perkataan Bima yang sebenarnya karena dia lupa jika Bima adalah Iblis.
Keadaan bahagia menjadi sedih luar biasa. Bima berpamit untuk pergi dan mengakhiri hubungan denhan mereka. "Papa ... apakah tidak ada jalan lain?" tanya Wahyu pada ayahnya.
"Tidak. Ini jalan yang terbaik. Papa akan menjalaninya." Bima menepuk pundak Wahyu.
"Papa, Alex ...." Belum selesai Alex bicara, Bima langsung menegaskan.
"Alex tinggal dengan Mama dan keluarga. Papa saja yang kembali ke sana. Ini sudah keputusan final. Maafkan Papa," tegas Bima kepada anaknya.
...****************...
Bima kembali menjadi iblis dan dia sudah memutuskn menjadi pengabdi Tuan Abaddon. Alex menjadi manusia seutuhnya dah hidup bersama Ningsih, Wahyu, dan Cahaya. Mereka terlihat sangat bahagia. Meskipun Ningsih tak ingat perihal Bima adalah iblis, dia hanya bisa berdoa yang terbaik untuk suaminya yang sudah berpamit pergi.
Ingatan Ningsih yang tidak kembali membuatnya lebih mudah menjalani kehidupan. Wahyu membimbing keluarganya untuk bertaubat dan kembali ke jalan yang Allah tetapkan.
Terkadang dalam cinta, pengorbanan adalah bentuk rasa cinta tertinggi karena cinta tak harus memiliki. Ningsih terlepas dari JERAT IBLIS karena Sang Pencipta begitu menyayanginya. Dia bisa kembali bertaubat tanpa terbebani dengan ingatan masa lalu yang sudah diambil oleh Tuan Abaddon. Bima pun melepaskan keluarganya demi kebaikan dan kebahagiaan mereka.
Cahaya--bayi mungil yang membawa kehidupan baru untuk keluarganya. Membawa sinar kehidupan bagi Ningsih, Wahyu, dan juga Alex, serta membawa Bima kembali ke tempat seharusnya dia berada. Karena Iblis tetaplah iblis, tak mungkin bersatu dengan manusia.
...****************...
__ADS_1
Beberapa bulan kemudian ....
Cahaya sudah belajar merangkak dan juga berceloteh. Terkadang saat di tempat tidur bayi dan sendirian, seakan Cahaya ditemani sehingga dia senang berseloteh sambil melihat ke arah sudut kamar. Alex dan Wahyu merasa jika ada ayah mereka di sana. Sedangkan Ningsih tidak merasakan apa-apa.
Gelar janda kembali melekat pada Ningsih. Kali ini Ningsih harus berjuang lebih lagi karena menafkahi tiga orang anak. Dia peecaya jika mampu melewati semua ini, karena Allah menetapkan segalanya bagi manusia sesuai apa yang direncanakan baik adanya. Meski terkadang manusia tak sadar dan mengeluh, sebenarnya segala yang terjadi dalam kehidupan adalah atas izin Allah agar manusia berproses untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi.
"Mama, jangan bersedih lagi, ya. Kami akan menemani dan membantu Mama. Iya, kan, Alex?" kata Wahyu dengan mantap.
"Iya, Kak. Kalau Mama bekerja, biar Cahaya sama Alex aja di rumah. Lagi pula ada Bibi. Kak Wahyu, kan, sudah sibuk kuliah," sahut Alex yang memang sangt menyayangi adik bayinya.
"Terima kasih Wahyu dan Alex. Mama beruntung sekali memiliki dua putra tampan dan baik seperti kalian. Cahaya juga beruntung memiliki kakak-kakak sepeerti kalian. Mama sebentar lagi berangkat, ya?" ujar Ningsih yang sudah bersiap untuk berangkat pembukaan cabang minimarket di daerah Magelang. Usaha yang Ningsih bangun bersama Bima kini melaju pesat. Dia sangat pandai mengelolo usaha itu dan bisa berhasil tanpa bantuan magic.
"Iya, Mama. Semangat, ya!" Wahyu dan Alex menjawab serentak dengan senyum di wajah mereka. Dua lelaki itu senang bisa membantu ibunya.
"Siap, sayang! Mama berangkat dulu, ya," pamit Ningsih yang kemudian memeluk dan mencium keninng anaknya satu per satu. Kemudian wanita itu segera pergi dengan mobil yang sudah disiapkan pak sopir.
Alex sudah biasa membantu menjaga Cahaya bersama para bibi. Dia tidak malu untuk menjaga bayi karena sangat menyayangi adiknya. Wahyu bergegas berangkan ke kampus dengan mengendarai motor sport berwarna biru miliknya. Wahyu menuntut ilmu dengan serius karena ingin menjadi seorang psikiater terkenal dan membantu orang-orang lain yang butuh pertolongan. Di sisi lain, Wahyu percaya akan hal gaib. Dia juga masih sering membantu Budi jika ada acara tertentu atau dipanggil untuk meruqiyah seseorang. Di sisi lainnya, Wahyu ingin menjadi psikiater untuk menyembuhkan jiwa-jiwa manusia yang terluka. Entah apa pun masalahnya, Wahyu ingin membantu sesama.
"Alhamdulilah, ya Allah. Semua yang terjadi adalah sesuai dengan izin-Mu. Hamba percaya ini yang terbaik untuk keluarga hamba. Terima kasih, ya Allah," gumam Wahyu sepanjang perjalanan mengendarau motornya ke kampus.
Bima tersenyum melihat keluarganya bahagia meski tanpa dirinya. Dia tak boleh menampakkan wujud ke hadapan keluarganya. Namun dia tetap bahagia karena bisa melihat keluarganya walau tanpa disadari. Bima menjadi pengabdi Tuan Abaddon yang setia. Bukan lagi soal menyesatkan manusia dengan pesugihan dan harta, Bima tidak melakukan itu. Tuan Abaddon memiliki rencana yang jauh lebih besar.
Snowice bertambah kuat karena mendapat sedikit kekuatan dari Alex yang diberikan oleh Tuan Abaddon. Dia sangat senang akhirnya Tuan Abaddon lebih peduli dengannya meski misi terakhirnya tidak berjalan dengan mulus.
Semua kembali dengan normal. Reno menjalani hidupnya sebagai duda bersama putrinya--Lisa dengan bahagia. Mereka selalu mengenang Nindy dalam hati. Reno tidak berani terlalu dekat dengan Tante Ningsih karena takut kembali khilaf karena sesungguhnya ada perasaan yang masih tersimpan di hatinya. Perasaan yang tak semestinya ada.
Budi, Santi, dan putri kecilnya menjalani kehidupan bahagia dan menyenangkan di pesantren. Mereka sadar atas segala hal yang terjadi adalah proses yang Allah tentukan bagi hidup manusia. Mereka pun tetap menjaga silahturahmi dengan keluarga Reno dan keluarga Ningsih. Pesantren milik Budi berkembang pesat.
Pada sebuah kisah, pasti akan ada akhirnya. Seperti keputusan besar Bima yang dia pilih untuk mengakhiri semua dengan bahagia. Meski rasanya sedih dan hancur, Bima harus melepaskan keluarga yang sangat dia cintai. Dia hanya bisa menatap dan menjaga dari kejauhan. Bima adalah satu-satunya iblis yang memiliki hati lembut. Meski dalam kenyataannya, dia harus kejam saat menjalankan tugas-tugaa dari Tuan Abaddon. Bima hanya bisa berharap keluarganya, keluarga Reno, keluarga Budi, Evan dan Lily, Boy dan Dinda, serta Lauren dan Daniel bisa menjalani kehidupan dengan bahagia. Meski mereka memilih jalan kehidupan masing-masing yang jauh berbeda.
__ADS_1
...****************...
...“Sejak permulaan, Iblis itu pembunuh. Dia tidak pernah memihak kebenaran, karena tidak ada kebenaran padanya. Apabila Iblis berdusta, hal itu memang sudah sewajarnya, karena dia pendusta dan asal segala dusta."...