
...π₯ API CEMBURU π₯...
π΅ Ingin kubunuh pacarmu
Saat dia peluk tubuh indahmu
di depan kedua mataku
Hatiku terbakar jadinya, Cantik
Aku cemburu ....
Meski kuhanya pacar rahasiamu
Meski kuselalu jadi yang kedua
Tapi aku manusia, yang mudah sakit hatinya .... π΅
by Dewa19
Seakan lagu itu menggambarkan perasaan Reno yang sudah tak berjumpa Dinda selama hampir sembilan tahun. Namun, justru ada lelaki yang akan menikahi Dinda. Jika memang Dinda itu Nyi Pelet, wanita iblis dari neraka, mengapa dia hendak menikah? Reno masih tak habis pikir dengan semua itu.
Reno menatap ke tangan Boy yang masih memeluk pinggang Dinda. Hal itu membuat keadaan menjadi canggung. Tiba-tiba, suara klakson mobil mengagetkan mereka. Ternyata, Nindy dan anaknya sudah pulang. Sopir membunyikan klakson agar Bibi segera datang membantu membawa barang belanjaan.
"Eh, ada tamu? Siapa ini, Pah?" seru Nindy saat turun dari mobil bersama anak perempuannya yang cantik dan lucu.
Dinda dan Boy pun membalikkan badan. Menatap ke Nindy. Seketika Nindy terdiam melihat perempuan di hadapannya. Orang yang tak ingin dia lihat lagi.
"Nindy, sudah lama tak jumpa," kata Dinda tersenyum sinis.
"Oh, iya. Silakan masuk ke rumah kami. Pah, tamunya diajak masuk dulu. Mama mau ajak Lisa ganti pakaian dulu," kata Nindy dengan cuek tak memperhatikan Dinda. Dia justru menghampiri suaminya dan mencium pipi Reno, lalu masuk ke rumah mengejar anaknya.
Seakan sengaja membakar api cemburu Dinda, Nindy melakukan itu begitu saja. Boy yang merasakan hal itu, langsung membisikkan sesuatu ke Dinda. "Sabar, sayang. Masa lalumu memang di depan mata. Namun, masa depanmu ada di sini. Tepat di sampingmu."
Dinda pun menatap Boy. Dia tak menyangka Boy berkata seperti itu. Bukannya cemburu, Boy justru menenangkan hati Dinda.
"Eghm, ayo masuk dulu," kata Reno mempersilakan mereka masuk.
Dinda dan Boy pun masuk ke rumah mewah itu. Duduk di sofa berwarna cokelat. Lalu, berbincang banyak hal. Cukup lama mereka berbincang, Bibi membawa minuman ke ruang tamu. Tak berselang lama, Nindy pun keluar bersama Lisa.
"Ma, Paman itu siapa? Paman itu punya sayap, lucu. Kalau Tante itu siapa? Tantenya seram ada tanduknya." celoteh Lisa yang membuat Dinda dan Boy menatap anak cantik itu.
"Lisa kebanyakan nonton kartun, ya? Ini Tante Dinda. Kalau itu Paman siapa, kenalan dulu," ucap Nindy yang tidak curiga dengan perkataan anaknya.
"Hallo, cantik. Nama Paman adalah Boy." kata Boy dengan ramah dan tersenyum manis.
__ADS_1
"Hallo, Paman. Paman mirip Oppa Korea di televisi. Mama suka lihat itu. Oppa Goblin. Tapi beda. Paman punya sayap. Oppa Goblin tidak punya," celetuk Lisa membuat Boy tertawa.
"Maaf, ya. Lisa ini imajinasinya luas." kata Nindy yang malu anaknya terasa tak sopan. "Lisa masuk aja sama Bibi, ya?" imbuh Nindy. Lisa pun langsung masuk seperti perkataan mamanya.
"Mah, tak apa. Lisa 'kan masih anak kecil," lirih Reno merasa istrinya terlalu over.
"Iya. Oh, ngomong-ngomong ada angin apa sampai ke sini? Tahu rumah kita dari mana? Sudah bertahun-tahun tak ada kabar, bukan?" tanya Nindy to the point. Seakan memang tak suka dengan kehadiran Dinda di kediamannya.
Dinda pun tersenyum. "Aku tanya ke rumah lama Reno dan Santi. Kata penjaga rumah itu, kalian sudah berkeluarga dan pindah. Aku hanya mau bertanya soal Ningsih. Siapa tahu kalian tahu di mana Kakakku berada." kata Dinda dengan jelas.
"Tante Ningsih? Dia jadi saudagar sekarang. Dia sudah menikah dan memiliki seorang anak lelaki. Tapi Wahyu tinggal di pesantren," jawab Nindy singkat. Dia hanya ingin Dinda segera pergi. Jujur saja, Nindy tak suka ada Dinda. Dia tahu jika Reno masih menyimpan rasa.
Reno agak terkejut, istrinya berani menjawab seperti itu dengan santai. Sebenarnya, Reno tak ingin membahas hal itu saat ini. Namun, apa daya. Dia pun sadar, Nindy pasti cemburu.
"Terima kasih, informasinya. Bolehkah kami meminta alamat Kak Ningsih? Dinda ini calon istriku. Aku ingin berkenalan dengan Ningsih." jawab Boy membuat Nindy tercengang. Dia tak ingin Dinda dianggap rendah oleh orang lain. Meski Boy tahu siapa Dinda sebenarnya, dia tetap tak rela melihat istri Reno seakan merendahkan Dinda.
"Oh, calon suaminya, ya? Bagus kalau begitu. Oh, iya. Alamatnya Tante Ningsih di mana, Pah?" kata Nindy pada Reno.
"Apa tidak kita antar saja ke sana. Sekalian berkunjung. Sudah lama kita ...." Belum selesai Reno bicara, Nindy sudah memotong kalimatnya.
"Kita nanti malam ada acara 'kan, Pah? Sama investormu. Kasih alamat aja. Biar mereka ke sana dulu," kata Nindy dengan tatapan tajam.
Boy pun berdiri dan tersenyum. "Maaf jika kehadiran kami merepotkan. Kami minta alamat saja untuk ke sana. Ayo, Sayang. Kita segera ke Kak Ningsih."
Dinda pun ikut berdiri. Dia sadar api cemburu di ruangan itu bisa membakar siapa saja. Lebih baik saat ink, menenangkan hati dan pikiran masing-masing.
"Tak apa, Reno. Terima kasih. Kami pergi dulu." kata Dinda berpamit. Boy dan Dinda pun keluar rumah dengan diantar oleh Reno dan Nindy.
Boy menggenggam tangan Dinda erat. Agar dia tak melakukan hal nekat. Boy tahu jika Dinda tak suka dengan perlakuan Nindy kepadanya. Meski bertahun-tahun belalu, ternyata Nindy masih ingat kejadian itu. Nindy yang sekarang lebih berani berkata, meski dia tak tahu dengan siapa dia berhadapan. Jika tidak ada Boy, mungkin Dinda sudah merobek muluk Nindy.
"Sabar, semua ini berproses. Jika kamu marah dan membunuh orang tanpa alasan, akan semakin susah ke depannya." lirih Boy saat berjalan ke depan perumahan. Mereka pun menghentikan taksi untuk pergi ke alamat yang dituju.
Dinda tidak menjawab perkataan Boy. Dia segera meraih ponselnya dan mengirim pesan singkat ke nomor handphone itu.
Dinda: [ Ningsih, ini aku, Dinda. Apa kabar? Apakah kau bersama Kakakku? ]
Pesan terkirim
Beberapa saat kemudian ada balasan. Justru hal itu membuat Dinda terkejut. Bukan Tante Ningsih pemilik nomor itu.
Reno: [ Hai, Dinda. Lama tak berjumpa, kamu tetap cantik seperti dulu. Ini aku, Reno. ]
Sebenarnya Dinda tak ingin membalas pesan itu. Namun, ada satu hal yang membuatnya terpaksa membalas dan bertanya.
Dinda: [ Kukira ini nomor Kak Ningsih. Oh, iya, Kak Ningsih menikah dengan siapa? ]
__ADS_1
Reno: [ Kenapa tidak basa basi dulu. Kau tidak merindukanku? ]
Dinda: [ Aku tak perlu basa basi busuk. Bukannya kamu suka to the point seperti mulut istrimu? ]
Reno: [ Ha ha ha ... maafkan dia. Dia cemburu melihatmu. Tante Ningsih menikah dengan Om Bima. Kakakmu di sana hidup bahagia. ]
Dinda pun meletakkan handphone kembali ke sakunya. Dia merasa jika percuma berkata dengan Reno. Jika benar Ningsih menikah dengan Bima, harusnya Dinda bisa melacak keberadaan Bima. Namun, hal ini menjadi ganjil baginya. Dinda kehilangan jejak Bima setelah perdebatan beberapa tahun lalu.
"Mas, Mbak, sudah sampai ke tujuan. Rumah gedongan ini. Jauh lebih mewah dari perumahan tadi." ucap sopir yang berhenti di depan rumah megah berlantai dua dengan cat berwarna putih tertutup gerbang yang tinggi. Megah dan indah.
"Iya, Pak. Ini ongkosnya. Kembaliannya diambil saja." kata Boy yang sangat baik.
Dinda tersenyum melihat lelaki itu. Pengusaha muda yang sukses dan kaya raya, dermawan, serta berhati malaikat. Ternyata benar-benar keturunan malaikat. Dinda merasa jika semakin lama, ada rasa di hatinya.
Dinda dan Boy turun dari taksi dan segera menekan bel di gerbang rumah. Seorang satpan membuka gerbang dan mengajukan pertanyaan seperti biasa. Mereka pun kompak menjawab mencari Ningsih dan Bima. Satpam pun mempersilahkan masuk. Gerbang dibuka. Rumah mewah dan megah itu terlihat makin mempesona.
Taman yang luas, garasi yang besar, arsitektur menawan dengan sentuhan khas Belanda Indonesia membuat Dinda yakin kakaknya di sana. "Ini, seperti rumah impian Kak Bima," gumam Dinda saat satpam mengajak mereka masuk.
Sampainya di pintu utama, mereka pun menekan bel rumah. Beberapa saat kemudian, seorang lelaki membuka pintu. Dia terkejut saat melihat siapa yang datang. "Dinda?" ucap Bima terkejut.
"Kakak!" seru Dinda yang langsung memeluk Bima. Rasa rindu dan sesal di hatinya tak terbendung. Satpam segera kembali ke pos jaga. Sedangkan Boy membiarkan Dinda meluapkan isi hatinya.
Ningsih berada di belakang Bima saat itu. "Dinda!" kata Ningsih yang juga terkejut.
Dinda segera melepaskan pelukkannya dari Bima dan berganti memeluk Ningsih. "Kukira kalian sudah musnah. Aku mencari kalian ke mana-mana. Bahkan di dalam neraka, tak bisa kutemukan kalian. Kenapa kalian menghilang lama sekali," kata Dinda yang merasa sangat lega menemukan Bima dan Ningsih.
"Sini, masuk dulu!" kata Bima mengajak adiknya beserta lelaki Korea yang sudah pasti adalah Boy.
Mereka pun berbincang banyak hal. Sampai pada pembahasan serius, Alex justru muncul. "Pa, Ma, tumben ada tamu. Siapa mereka?" kata Alex dengan polos.
"Di-dia ...."Dinda terbata sambil menunjuk Alex.
"Iya, dia keponakanmu. Anak kami," jelas Bima. "Alex, sini. Ini Tantemu asli. Dia adik Papa. Namanya Dinda." imbuh Bima memperkenalkan.
"Wah, asyik! Akhirnya Alex ketemu sama Tante Dinda yang keren," ucap Alex sambil mengulurkan tangan ke Dinda dan Boy.
"Jadi, ini yang membuat kamu tak bisa menemukan kakakmu," lirih Boy saat menjabat tangan Alex.
"Maksudmu, Boy?" tanya Dinda yang belum paham. Dia menatap Boy dan Alex bergantian.
"Anak ini istimewa. Dia bisa mengubah aura bahkan identitas makhluk dengan mudah. Bahkan jika dia mau, bisa membuat makhluk sepertiku menjadi manusia utuh atau bahkan kembali mengemban tugas dari surga. Iya, bukan?" kata Boy yang disambut senyum Alex.
"Ternyata Boy bukan orang sembarangan, ya?" Bima pun tersenyum memahami Boy bukan manusia murni.
"Om, keren banget! Ajari Alex biar bisa punya sayap, donk!" Alex justru lebih tertarik dengan sayap Boy yang sebenarnya sudah disembunyikan.
__ADS_1
Dinda pun mengamati Alex. Dia jadi teringat suatu hal kegemparan di neraka saat Tuan Asmodeus marah. Para iblis yang disuruhnya pergi, musnah karena menghadapi bocah berenergi dahsyat. Cerita itu menyebar ke seluruh penjuru neraka hingga Dinda mendengarnya. Dinda tak menyangka jika hal itu ternyata Alex. Anak dari Bima dan Ningsih yang menjadi buronan Neraka. Dia pun was-was karena bisa saja dirinya dilacak oleh Tuan Chernobog saat ini.
"Alex, bisa bantu Tante dan Om?" tanya Dinda serius.