
...🔥 Kenyataan Pahit 🔥...
Dinda senang dengan jawaban Vira hari itu. Saat Vira menginginkan orang lain mati, di sana Iblis datang untuk mewujudkan. Mengambil alih jiwa manusia berdosa. Meski Vira belum sadar dirinya diperbudak Iblis, dia justru merasa para pemerkosa itu pantas mendapatkan hukuman terberat.
"Kalau begini, bulan ini aku bisa melunasi hutang Ayah dan Bunda. Gaji dijabatan ini dua kali lipat gajiku dahulu, belum lagi ditambah insentif dan bonus," gumam Vira yang segera menyelesaikan pekerjaannya sebelum makan siang.
Tanpa diduga, Edo datang ke ruangan Vira. "Permisi ...." ucap Edo sambil mengetuk pintu ruangan Vira.
"Iya, silakan masuk." jawab Vira yang masih fokus menyelesaikan pekerjaannya.
"Eh, kok, Vira di sini?" tanya Edo yang bingung. Harusnya bukan Vira yang memiliki ruangan bosnya. Bahkan jabatan ini lebih tinggi dari jabatan Edo dahulu.
"Edo, sekarang aku menjadi pimpinan di marketing. Tuan Brams yang memberikan jabatan ini. Kemungkinan Senin akan diumumkan," kata Vira yang menatap Edo sebentar, lalu melanjutkan mengerjakan pekerjaan.
"Sial, nih. Kenapa Vira jadi atasanku? Jadi gengsi, kan." batin Edo menatap wanita yang duduk di kursi ketua marketing.
"Vir, maaf kalau ganggu. Ini ada berkas untuk ditandatangani." lirih Edo menyodorkan satu map pada Vira.
Vira hanya meraih tanpa menatap Edo. Dia membaca berkas itu, lalu membubuhkan tanda tangan serta stampel. Setelah itu mengembalikan berkas pada Edo. Edo merasa tersinggung karena sikap acuh Vira. Dia makin terobsesi ingin memiliki Vira.
"Sudah selesai, kan? Kenapa masih di sini?" ucap Vira menatap Edo yang masih berdiri di hadapannya.
Edo pun gugup dan segera pergi dari ruangan. Dia tak berani menjawab karena takut menjadi masalah lagi. Pagi ini Edo sudah merasa gagal mempertahankan jabatannya.
...****************...
Sore harinya saat pulang bekerja ....
Vira merapikan meja kerjanya dan bergegas pulang. Jam menunjukkan pukul 16.10 dan sudah waktunya Vira pulang kerja. Saat hendak keluar ruangan, Juvy menghampiri Vira. Tak disangka, Juvy membuat onar lagi.
"Heh, cewek cupu! Lu ngapain pimpinan sampai dia bela lu? Lu kira bisa buat gue tersingkir, ha?" gertak Juvy yang melayangkan tangan hendak menampar Vira.
Seketika, Samy memegang tangan Juvy agar tidak mengenai pipi Vira. "Cukup, Juvy! Kali ini kamu keterlaluan.
Samy segera menepis tangan Juvy dan menolong Vira. Kegaduhan itu membuat karyawan yang hendak pulang, justru berkumpul melihat mereka. Tentu saja banyak karyawan tak suka dengan Juvy. Dunia kerja bukan seperti dunia sekolah yang bisa saling labrak seenaknya.
"Juvy keterlaluan itu."
"Juvy nggak tahu malu, ya. Padahal Bu Vira sekarang sudah naik jabatan. Masih aja ganggu."
"Wah, Pak Samy sampai marah. Keterlaluan si Juvy."
Karyawan mulai berbisik dan saling membicarakan kelakuan Juvy. Juvy pun menatap mereka. "Apa lu semua! Mau bela si Vira juga? Dasar orang gila jabatan!" kata Juvy yang justru geram pada karyawan yang berkumpul.
__ADS_1
"Juvy, sepertinya gangguanmu ada di sini," ucap Samy menunjuk kepala Juvy. "Kalau kamu seperti ini terus, lebih baik istirahat dulu di rumah. Jika pimpinan besar tahu, kamu bisa kena masalah serius."
Baru saja Samy memperingatkan Juvy, Tuan Brams justru datang ke sana karena ada yang melaporkan kegaduhan itu. Pimpinan segera menindak lanjuti perilaku Juvy yang seperti berandal.
"Juvy! Kemasi barangmu dan mulai hari ini kau dipecat! Tidak bisa mengubah diri, malah justru membuat onar lagi. Gajimu bulan ini akan dikirimkan sesuai prosedur." pungkas Tuan Brams yang sudah muak melihat Juvy membuat masalah. Meski cantik, jika tak memiliki attitude menjadi percuma.
"Ta-tapi, Tuan Brams ...." Juvy mencoba menyanggah meski terbata-bata.
"Tidak ada tapi-tapi'an. Sekarang juga kamu pergi!" tegas Tuan Brams.
Juvy melangkahkan kaki dengan gontai meninggalkan ruangan kerja. Dia kembali ke tempat kerjanya untuk membereskan apa yang menjadi miliknya. Dia pun segera pulang.
"Vira, mulai saat ini jika ada apa-apa, kamu harus berani melawan. Apalagi jabatanmu sekarang sudah jauh lebih baik." kata Tuan Brams kepada Vira yang masih terlihat syok.
"Terima kasih, Tuan Brams." ucap Vira sambil membungkukkan badan sebagai rasa hormat.
Samy pun mengucapkan terima kasih atas kebijaksanaan Tuan Brams. Setelah Tuan Brams pergi, para karyawan yang lain pun ikut pergi meninggalkan Samy dan Vira.
"Vir, kamu nggak apa, kan? Aku antar kamu pulang, ya?" kata Samy, khawatir.
"Terima kasih, Samy. Tapi aku nggak mau merepotkan." lirih Vira yang kemudian hendak pergi.
Samy memegang tangan Vira. "Vir, aku antar, ya? Suasana hatimu sedang tidak baik. Aku khawatir di jalan Juvy menghadang kamu lagi," kata Samy secara logis.
...****************...
Sebulan kemudian ....
Vira makin terlihat cantik dengan segala pesonanya. Dia saat ini sudah memiliki mobil sendiri karena hadiah dari Dinda. Berandal yang memperkosa Vira, satu per satu dibunuh oleh Dinda dengan cara yang cantik.
Balas dendam termanis yang Vira lakukan hanya memikat para lekaki itu, kemudian Dinda melanjutkan melakukan perhitungan. Vira menikmati semua balas dendam itu. Setelah tugasnya berakhir, Dinda memberika uang dalam jumlah banyak di dalam koper. Vira mengalokasikan untuk membeli rumah dan mobil. Dia mengajak ayah dan bundanya untuk pindah rumah.
Semua terlihat instan dan menyenangkan. Vira menikmati semua itu. Terlebih jabatannya di kantor sangat bagus.
"Vira, kamu melamunkan apa?" sapa Samy kepada Vira yang membayangkan segala kemudahan dalam sebulan belakangan ini.
"Ah, nggak, kok. Aku cuma mikir sesuatu aja. Samy sejak kapan di sini?" Vira mendongakkan kepala menatap lelaki di hadapannya yang sedang berdiri.
"Dari tadi. Kamu asyik melamun sampai tak sadar aku di sini. Oh, iya, aku mau ajak kamu makan malam nanti, mau?"
Hal yang selama ini menjadi keinginan Vira akhirnya terwujud. Samy mengatakan hal yang ingin Vira lakukan dari dulu. Makan malam romantis dengan sang pujaan hati.
"I-iya, Samy. Aku mau." jawab Vira yang masih tak menyangka ajakkan itu.
__ADS_1
Hati Vira merasa sangat senang. Dia pun lupa akan Dinda dan perjanjiannya. Setelah memberi uang satu koper, Dinda jarang muncul di hadapan Vira lagi. Vira mengira perjanjiannya usai. Namun, kenyataan tidak seperti itu.
Malam harinya ....
Samy menjemput Vira di rumahnya yang baru. Dia berpamitan kepada orang tua Vira dengan sopan. Samy menyiapkan kejutan untuk Vira.
Mereka melakukan perjalanan selama dua puluh menit menuju restoran yang mewah. Samy mengajak Vira dinner romantis dengan layanan mewah. Bagaikan puteri dan pangeran yang sedang dimabuk cinta, Samy dan Vira pun makan malam dengan penuh rasa bahagia.
Menyantap aneka makanan yang lezat dan saling menatap mata, Samy dan Vira terhanyut dalam cinta. Setelah selesai makan, Samy pun berlutut di hadapan Vira. Dia mengeluarkan kotak kecil berwarna merah.
"Vira, maukah kamu menjadi istriku?" tanya Samy membuat Vira terperanga.
Hal yang diimpikan Vira, baru saja Samy ucapkan. Vira pun tak kuasa menahan haru. Air mata menetes di sudut matanya.
"Ma-Mau. Aku mau, Samy." kata Vira yang membuat Samy sangat bahagia.
Lelaki itu langsung menyematkan cincin di jari manis Vira. Dia merasa senang bisa mendapatkan Vira. Wanita lugu yang dia cintai sejak setahun terakhir. Meski penampilan Vira berubah drastis, Samy tetap mencintai diri Vira yang polos dan lugu.
Seusai makan malam itu, Samy mengantar Vira kembali ke rumahnya. Dia merasa yakin untuk segera melamar dan mengajak nikah Vira. Dia tak tahu jika Vira menjalani perjanjian gaib.
Vira sangat senang. Dia pun masuk ke rumah dengan senyum mengembang di wajahnya. Setelah itu, Vira segera pergi ke kamarnya. Merasa hal itu seakan mimpi.
"Ini, mimpi bukan, sih?" tanya Vira pada diri sendiri sambil melihat cincin yang melingkar di jari manisnya.
"Vira ... jangan terlalu bahagia dahulu. Ingat perjanjianmu. Semua lelaki yang menyentuhmu, akan menjadi tumbal untukku. Perjanjian itu tanpa kecuali. Berlaku selama kau hidup," bisik Dinda yang membuyarkan impian indah Vira.
Vira langsung duduk di ranjang dan menatap sekeliling dalam kamarnya. Dia mencari di mana arah suara itu. "Dinda, keluar kamu. Jangan seperti itu. Bagaimana kalau aku menikah nanti?" kata Vira yang mencoba protes.
Dinda pun muncul di hadapan Vira. Dia menampakkan wujud Iblisnya. "Kau kira aku ini bisa diajak kompromi? Sekali manusia membuat perjanjian dengan Iblis, tidak bisa kau batalkan begitu saja! Ini wujudku yang sebenarnya." tegas Dinda membuat Vira ketakutan dan hampir terjatuh.
"Ma-maaf ... maksudku, bagaimana jika aku menikah?" ucap Vira yang tubuhnya gemetar takut melihat Dinda.
"Menikahlah. Namun, jika suamimu menyentuhmu, saat itulah dia akan menjadi tumbalku. Jangan bermain-main dengan perjanjian ini!" gertak Dinda membuat Vira tak bisa berkata apa-apa.
Dinda pun menghilang bersamaan suara tawanya yang menggelegar terdengar jelas. Vira meringkuk di sudut kamarnya. Merasa takut akan peringatan dari Dinda. Tak disangka, Dinda yang dahulu seperti menolong Vira, ternyata justru menjerumuskan Vira dalam jurang dosa.
"Bagaimana ini? Kalau aku menikah dengan Samy, berarti ... tidak! Samy tidak boleh menjadi tumbal. Kalau begitu, berarti aku tidak bisa bersama Samy?" gumam Vira pada dirinya sendiri. Dia bersedih dan bingung apa yang akan dilakukan ke depan.
Vira menyukai Samy bahkan sebelum semua kejadian kacau ini terjadi. Vira yang dahulu menyukai dalam diam, sekarang bisa dekat bahkan menerima lamaran Samy, dan memakai cincin tunangan. Wanita itu menangis tersedu-sedu sambil mengusap cincin yang baru saja dia terima dari Samy.
Rasa menyesal selalu terjadi di akhir. Tidak ada kesempatan untuk Vira kembali mengulang masa lalu atau memperbaikinya. "Jika dahulu aku tidak menerima ajakan Dinda dan melaporkan ke polisi para pemerkosa itu, tentunya tidak akan seperti ini. Aku sudah salah memilih jalan hidup," ucap Vira dalam sela isak tangisnya.
Vira merupakan satu dari sekian ratus korban yang terjebak dalam tipu daya Dinda yang begitu menyesatkan. Seakan menolong, tetapi perlahan merong-rong kehidupan dan mengambil jiwanya dalam kehancuran. Iblis selalu mencari celah dari segala pesakitan hati manusia. Jika tidak waspada, mungkin akan semakin banyak manusia yang terjebak dalam pesona dan iming-iming manis Iblis. Malam itu, hanya penyesalan yang menyiksa di benak Vira.
__ADS_1