JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
BAB 104


__ADS_3

πŸ€ TAK SESUAI RENCANA πŸ€


Pagi itu Ningsih, Joko, dan Nindy berkemas untuk pulang ke Jakarta bersama Wahyu. Sedangkan Reno dan Santi berkemas mengantar Bapak dan Ibunya Ningsih pulang ke Wonosari. Kondisi Mak Sri yang masih trauma membuat beliau cuti dan beristirahat sejenak di kampung halaman.


Ningsih mengambil gawainya dan menelepon Budi, "Pagi, Budi. Sudah kamu siapkan mobil untuk menjemput ke bandara?"


"Pagi, Bu. Sudah semuanya beres. Saya tunggu kabar selanjutnya," jawab Budi dengan santun.


Ningsih selalu bisa mengandalkan keponakan Mak Sri itu. Selain sopan, Budi juga tak banyak bicara dan tak pernah bertindak kurang ajar pada Ningsih. Padahal wajah Budi termasuk tampan, badannya pun atletis karena bisa bela diri juga.


"Tante, sudah siap semuanya?" tanya Santi pada Tante Ningsih yang baru saja selesai menelepon Budi tetang kepulangannya.


"Oh, sudah kok. Maaf ya Santi dan Reno kalau Tante malah menyusahkan kalian."


"Nggak kok, Tante. Jangan mikir begitu," sahut Reno dari belakang Santi.


"Bapak, Ibu, maafkan Ningsih ya. Malah membuat kacau liburannya. Bapak sama Ibu banyak istirahat ya. Ningsih sudah minta Pak RT untuk mencari bibi dan tukang kebun yang akan membantu kegiatan Bapak dan Ibu di rumah. Pokoknya Bapak dan Ibu banyak istirahat di kampung. Ningsih dan Wahyu pamit pulang ke Jakarta, ya," ucap Ningsih sambil mencium tangan Bapak dan Ibunya satu per satu.


"Iya, terima kasih, Nduk. Bapak dan Ibu hanya bisa mendoakan kamu di sana sehat dan sukses. Jaga diri baik-baik. Jangan bertengkar dengan calon suamimu itu. Bima terlihat sangat mencintaimu, Nduk," kata Bapak membuat Ningsih terdiam.


Rasa marah masih singgah di hati Ningsih. Namun perkataan Bapak ada benarnya. Ningsih menjadi galau antara meminta maaf pada Bima atau membiarkan hal ini reda dahulu.


Setelah berpamitan, mereka pun berpisah. Ningsih bergegas ke bandara dengan Joko, Nindy, dan Wahyu. Mereka menyewa mobil untuk mengantar ke Bandara Adi Sucipto. Naik pesawat kelas bisnis dan segera sampai di Jakarta.


Tepat mendarat pukul 14.00 Ningsih menghubungi Budi untuk menjemputnya. Pemuda itu sudah berada di bandara sebelum Ningsih menyuruh. Budi sigap karena tahu kondisi mereka pasca kecelakaan dan memerlukan istirahat yang cukup.


"Hlo, kamu sudah nunggu di sini sejak jam berapa, Bud?" tanya Ningsih melihat pekerjanya menunggu di pintu keluar.


"Baru tiga puluh menit yang lalu, Bu. Mohon maaf saya berangkat lebih awal takut kena macet," jawab Budi sambil mengambil alih koper dan tas bawaan Ningsih.


Melihat kondisi Joko yang kesulitan berjalan, tentunya Ningsih membawa koper dan tasnya sendiri. Wahyu hanya memakai tas ransel kecil berisi mainan. Sedangkan Nindy kesusahan membawa dua tas miliknya dan milik Joko.


"Maaf ya, Bud. Aku tak bisa bantu membawa," lirih Joko yang malu karena kecelakaan itu membuatnya agak pincang.


"Tak apa, Bang. Terpenting Bang Joko lekas sembuh."


Budi tersenyum ikhlas. Joko justru semakin merasa malu. Kecelakaan itu membuat Joko bersalah. Padahal hal itu bukan kesalahannya.


"Joko, Nindy, ini sekalian kami antar ke rumah ya. Joko biar istirahat. Aku beri cuti untuk memulihkan kondisimu. Kalau belum sembuh total untuk beristirahat saja dulu," ucap Ningsih sambil masuk ke mobil yang sudah disiapkan Budi.


"Iya, Bu. Terima kasih dan maaf atas keteledoran saya membuat keluarga Bu Ningsih kecelakaan."


Joko beserta yang lain ikut masuk ke mobil. Budi menyalakan starter mobil dan mulai melaju ke rumah Joko.

__ADS_1


"Bukan salah kamu, Joko. Polisi pun mengatakan ini kecelakaan karena mobil orang menyelib mobil kita. Bukan salahmu. Jangan merasa bersalah. Oh iya, oleh-oleh di tas ini untuk Abah dan Ibu. Sampaikan salam dan permintaan maaf atas liburan ini malah membuatmu luka."


"Terima kasih Tante Ningsih baik sekali kepada keluarga kami," sahut Nindy menengahi perasaan Bang Joko yang masih bersedih.


"Sama-sama Nindy cantik. Kamu jaga Bang Joko ya sampai sembuh."


Percakapan itu pun berakhir ketika mobil sampai di depan rumah Joko. Ningsih tidak mampir karena lelah. Budi yang mengantar Joko dan Nindy sampai masuk rumah dan berbincang dengan Abah dan Ibu Joko. Tentunya mereka kaget melihat kondisi Joko. Setelah sedikit menjelaskan, akhirnya Budi bisa berpamit pulang.


"Saya pamit pulang mengantar Bu Ningsih dan Den Wahyu dahulu ya Abah dan Ibu. Assalamualaikum," kata Budi berpamit.


"Walaikumsallam," jawab keluarga Joko serentak.


Budi pun kembali melajukan mobil, pulang. Budi tahu jika kondisi Ningsih dan Wahyu masih lelah dan lemah setelah kecelakaan. Namun tak dirasanya makhluk astral yang selama ini mengikuti Bos cantiknya itu.


"Bu, sudah sampai di rumah. Saya sudah bereskan kamar Bu Ningsih dan Wahyu. Nanti jika lapar bisa bilang saya saja. Selama Mak Sri belum kembali di sini, saya akan kerjakan pekerjaan Mak Sri juga," jelas Budi agar Bosnya tenang.


"Duh, kasihan kamu dong. Nanti aku telepon jasa pembanti dari yayasan saja. Paling cuma butuh sebulan saja sama nunggu Mak Sri pulih. Terima kasih ya, Bud. Oh iya, ini oleh-oleh buat kamu dari Yogyakarta."


"Terima kasih, Bu."


"Sama-sama, Bud."


Ningsih berlalu ke dalam rumah bersama putranya. Setelah mengajak putranya ke kamar untuk tidur siang, Ningsih pun kembali ke kamarnya sendiri.


Bima mendengar hal itu dari jauh. Dia menghilang untuk mendatangi Ningsih yang sudah pulang di Jakarta. Saat hendak masuk rumah Ningsih, Bima terpental. Tak bisa.


Ningsih tidak tahu jika selama liburannya di Yogyakarta, Budi melakukan ruqiyah untuk mengusir hawa negatif di rumah Ningsih. Selain itu, dia mengaji rutin dan menanam pohon bidara di setiap sudut rumah. Budi sudah memagari rumah Ningsih dari gangguan makhluk gaib. Sudah saatnya dia bertindak, setelah mendengar kabar kecelakaan itu.


"AARRG! MANUSIA ITU MENCOBA MENGHALANGIKU MASUK, YA! BAIKLAH, KUTUNGGU NINGSIH SAAT PERGI KELUAR RUMAH," kata Bima tak mencoba masuk kembali.


Tenaga Bima belum seratus persen pulih sehabis pertempuran hebat dengan Evan dan Lily. Jika dia memaksakan masuk ke rumah Ningsih yang sudah dipagari, kemungkinan besar dia akan terluka lagi. Menunggu adalah kesempatan terbaik dari pada bunuh diri.


***


Suatu tempat lain ....


"Bagaimana kondisimu?" bisik Lily pada lelaki di sampingnya.


"Aku tak apa. Maafkan aku ... aku tak bermaksud menipumu. Awalnya semua ini perintah Tuan Asmodeus. Namun, perlahan aku jadi menyukaimu dan tak ingin berpisah denganmu," jelas Evan dengan napas tersengal.


"Tak apa. Aku memaafkanmu. Kita harus segera sembuh," jawab Lily yang mengelus lembut dada Evan.


Evan terbaring lemah di rumah tua pinggiran Kota Yogyakarta tempat bersembunyi bersama Lily sehabis peperangan dengan Bima. Rumah itu milik Abdi Dalem Kraton yang menyimpan banyak hal mistis yang tentunya bisa membantu menyembuhkan kondisi Lily dan Evan. Mereka bersembunyi untuk menyembuhkan luka.

__ADS_1


Lily yang sebenarnya kecewa dan marah dengan Evan justru sekarang iba. Evan sudah menceritakan asal usulnya. Bahkan rasanya dengan Lily belum pernah dia rasakan saat menjadi manusia dahulu. Hal itu membuat Lily semakin menaruh hati pada Evan. Entah kasihan atau justru simpatik. Tetapi hal itu bukanlah cinta seperti yang Evan harapkan.


"Lily ...."


"Ya, Evan?"


"Terima kasih masih di sini bersamaku," lirih Evan.


"Tentu. Bukankah kamu yang bertanggung jawab atas tugasku?"


Mereka pun tersenyum dan terlelap setelah membunuh dua orang yang hendak berbuat mesum di rumah tua itu. Menyerap sari kehidupan manusia membuat Lily dan Evan menerima energi untuk penyembuhan diri mereka.


"Evan ... Lily ... kalian harus mencari lebih banyak jiwa berdosa jika ingin menang dari utusan Chernobog," kata Tuan Asmodeus tanpa wujud. Bergema di seluruh ruangan.


"Baik, Tuan." jawab Evan dan Lily serentak.


Mereka tahu jika semakin cepat mencari korban lagi, mereka pun semakin cepat pulih. Tak sulit mendapatkan korban dalam jerat hawa nafsu karena banyak manusia yang mengorbankan kebahagiaan demi kepuasan sesaat.


***


Santi dan Reno sudah mengantarkan Bapak dan Ibu Ningsih ke rumah Wonosari. Serta memastikan pembantu dan tukang kebun yang Pak RT janjikan sudah bisa bekerja di sana. Setelah itu Santi dan Reno berpamitan untuk kembali ke Yogyakarta.


Rasa resah dan khawatir hinggap di hati mereka berdua. Tante Ningsih belum memberi kabar. Sedangkan handphone Nindy tak aktif dan Joko belum merespon.


"Semoga mereka baik-baik saja ya, Kak." kata Reno sambil menyetir mobil.


"Iya, Reno. Mungkin mereka capek dan langsung istirahat. Cuma Kakak jadi khawatir karena mereka kan habis kecelakaan. Cuma Nindy saja yang sehat," jawab Santi terlihat cemas.


"Iya, kak. Mungkin mereka sudah tidur karena capek perjalanan."


Reno hanya bisa berdoa dalam hati untuk Tante Ningsih dan Nindy. Reno pun tak menyangka dirinya kembali berdoa, meminta kepada Allah setelah sekian lama dia melupakan. Setelah kejadian Ratih meninggal dan dimakamkan di Salatiga, Reno seakan menyalahkan Sang Pencipta dan berhenti berdoa dalam bentuk apa pun sebagai bentuk protes. Dia tak sadar hal itu membuatnya semakin jauh dari kebenaran hidup.


"Jika baik itu salah, lantas apakah itu keburukan? Jika cinta itu semu, lantas apakah itu keabadian? Perihal laku dan rasa adalah dua hal yang berbeda dan tak ada titik temu yang sama. Seperti menggadaikan jiwa demi harta lalu terseret rasa cinta pada yang bukan manusia."


~ Ningsih Sukmasari ~


Bersambung ....


***


Dukung Author tetap bekarya caranya mudah, hlo! Klik favorit untuk mendapat pemberitahuan update JERAT IBLIS. Klik share jika kamu suka dan ingin merekomendasikan JERAT IBLIS kepada kawan-kawanmu. Klik like dan Vote jika kamu suka dengan setiap bab perjalanan Bima dan Ningsih di JERAT IBLIS. Terima kasih^^


Salam dari Bima Prawisnu dan Ningsih Sukmasari ❀ Sampai jumpa di bab berikutnya.

__ADS_1


__ADS_2