JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
BAB 56


__ADS_3

Dua minggu kehidupan Joko bagaikan terlempar dari gedung mewah, jatuh dan hancur seketika. Begitu banyak yang dia pikir, akhirnya Joko pergi dari rumah. Orang tua Joko tak bisa berbuat apa-apa, terlebih adiknya yang masih SMP.


Joko mengendarai motornya. Menyusuri jalan yang sering dia lewati bersama Tante Silvi. Mencari dimana pujaan hatinya berada. Saat di perempatan jalan yang sepi, Joko melihat seorang wanita diganggu dua lelaki. Wanita tu berteriak minta tolong. Joko pun menyetandartkan motornya dan mendekati wanita yang ternyata adalah Tina.


"Hentikan! Jangan ganggu wanita itu!" gertak Joko, membuat kedua lelaki itu berhenti mengganggu Tina.


"Oh, ada yang mau jadi pahlawan kesiangan, ya?" kata seorang lelaki itu.


"Ayo kita hajar saja!" ajak lelaki yang satunya.


Perkelahian pun tak terelakan. Joko yang sedang dalam emosi campur aduk, merasa senang bisa melampiaskan dengan berkelahi. Dia dengan mudah menghantam dan membuat kedua lelaki itu tak berdaya. Terlihat nyaris kalah, kedua lelaki itu pun pergi. Mereka kabur menjauh.


"Joko? Ma ... makasih ya," lirih Tina mendekati Joko.


"Iya, Tina. Kamu nggak apa 'kan?" tanya Joko memastikan.


"Nggak apa kok. Itu orang suruhan mantan pacarku. Joko, kamu mau nggak anter aku pulang?" pinta Tina memelas.


"Oh, iya nggak apa. Ayo naik motorku," jawab Joko.


Tepat sekali rasa emosi Joko yang berkecamuk sudah terlampiaskan dengan memukuli dua orang tadi. Lalu sekarang bagaikan disajikan makanan segar, Tina sendiri yang meminta Joko ke rumahnya. Pikiran Joko pun mulai melayang. Terlebih Tina memeluknya erat saat membonceng motor.


Sesampainya di rumah Tina, "Masuk dulu Joko. Aku buatin minum ya? Mau teh atau kopi?"


"Kalau anggur merah ada nggak? Ha ha ha ha...."


"Ish, bercanda deh." Tina mencubit lengan Joko.


Saat di ruang tamu, Joko mengamati situasi rumah Tina yang sepi. "Tin, kok sepi sih?"


"Oh, iya sepi. Aku kan tinggak sendirian. Kalau tetangga sekitar juga pada sibuk dan jarang keluar rumah. Kenapa Joko?"


"Wah boleh dong aku nginep sini?" goda Joko menunggu reaksi Tina.


Ternyata Tina cewek agresif, dia memeluk punggung Joko dari belakang. "Joko, mau tidur di sini boleh kok. Nemenin aku," bisik wanita itu.


Semua terjadi begitu saja, seakan Tina juga menginginkan itu. Joko sudah tak ada rasa dengan Tina. Saat melakukannya pun hanya wajah Tante Silvi yang ada di pelupuk matanya. Bagi Joko, Tina hanya pelampiasan saja.


Hal itu berlangsung berhari-hari, Joko tinggal di rumah Tina bagaikan raja. Tina yang merasa puas dengan Joko, menjadi budak cintanya. Joko merasa hal ini benar, setelah dicampakan Tante Silvi tanpa alasan dan uang tabungannya ludes ditipu orang, hal ini satu-satunya pilihan. Menipu hati wanita.


"Joko, mau nggak kamu nikah denganku?" tanya Tina setelah enam bulan lamanya mereka tinggal bersama.


"Oh, nikah? Emm ... aku pikir-pikir dulu ya, sayang. Tahu kan aku belum dapat kerjaan lagi. Sabar dulu, ya," jawab Joko santai sambil membelai rambut Tina.


"Iya deh, sayang. Aku sabar kok. Yaudah, bentar lagi antar aku berangkat kerja ya."


"Loh, nggak bawa motor sendiri?"


"Maunya dianter aja ...."


"Yaudah, siap-siap dulu ya."


Beberapa bulan di rumah Tina, Joko mulai bosan. Setelah mengantar Tina ke tempat kerja di Hotel Edwards, Joko pun pergi berjalan-jalan ke taman. Tempat kerja Tina sudah pindah, demi mendapatkan gaji yang lebih besar. Menjadi budak cinta merupakan hal yang merugikan bagi wanita. Terlebih sejak bersama Joko, semua biaya Tina yang mencari uang. Berbeda saat Tina menjadi pacar Om-om. Namun, namanya perasaan cinta selalu membutakan mata.

__ADS_1


"Huh, lebih enak bareng Tante Silvi. Apa-apa ada dan serba mewah. Hla si Tina bekas Om-om. Rasanya seperti itu, cuiih!" gumam Joko sambil berjalan di taman.


Motor dia parkirkan tak jauh dari tempat Tina bekerja. Joko yang mulai bosan memutar otak untuk mencari wanita lain. Pucuk dicinta ulam pun tiba, ada seorang wanita duduk sendirian di taman. Wanita itu menangis karena putus cinta. Joko mendekatinya perlahan.


"Ini sapu tangan buatmu. Jangan menangis di taman, banyak orang jahat di sini," kata Joko sambil menyodorkan sapu tangannya.


Wanita itu pun mendongakan kepalanya, menatap Joko. Matanya sembab pertanda menangis terlalu lama. "Terima kasih, ya," lirihnya.


"Namamu siapa?" tanya Joko.


"Sita ...."


"Kok menangis di sini, sih?"


"Terus menangis dimana? Aku sudah males pulang rumah."


"Hlo, emangnya kenapa?"


"Nggak apa, Kak."


"Namaku Jack, Sita mau keliling kota?" kata Joko memperkenalkan nama palsu kepada wanita yang diperkirakan masih SMA itu.


"Kak Jack mau nemeni Sita?"


"Tentu dong, ayo!"


Mereka pun berjalan menuju parkiran motor lalu Sita membonceng Joko keliling kota.


"Liat motor Kak Jack jadi ingat Mamaku," kata Sita, dengan suara keras.


"Beberapa waktu yang lalu, Mamaku beli motor beginian. Ternyata untuk pacarnya," jelas Sita.


Joko menjadi penasaran, kira-kira siapa Mama Sita ini? Joko pun mempunyai ide cemerlang, mengajak Sita ke rumah Tina. Mumpung Tina sedang bekerja.


"Mau ke rumah Kakak nggak? Haus nih," bujuk Joko.


"Ya, Kak. Nggak apa," jawab Sita dengan polos.


Sita yang masih kelas sebelas SMA tak tahu apa yang Joko rencanakan. Sesampainya di rumah, Joko lekas mengajak Sita masuk.


"Tadi Sita ngomongin soal Mamanya ya? Emang Sita nangis karena pacar atau karena Mama? Kakak sambil buat minum dulu, ya," ucap Joko memancing informasi.


"Sita jenuh di rumah, orang tua bertengkar terus padahal mereka sama-sama salah."


"Emang salah apa?"


"Papaku suka wanita lebih muda, sering selingkuh sana sini dan belakangan ini sering marah karena pacarnya memutuskan Papa begitu saja. Sedangkan Mama nggak ada bedanya, suka lelaki berondong dan ganti-ganti begitu saja kalau bosan. Aku capek, Kak. Keluargaku nggak sehat begitu. Rasanya pingin bunuh diri," lirih Sita putus asa.


Tangis pun keluar dari kedua sudut matanya. Joko mencoba meredamkan kesedihan gadis remaja itu dengan pelukan.


"Sabar ya, Sita. Emang nama Papa Mamamu siapa?"


"Silvi dan Brams, Kak. Mungkin kakak pernah tahu, soalnya mereka orang terkenal dan suka pencitraan."

__ADS_1


DEG!


Joko merasa sesak. Tante Silvi yang dikira baik dan menyayanginya tulus ternyata hanya tante girang yang suka berganti berondong. Berarti saat ini si Joko sudah membosankan bagi Tante Silvi dan dengan mudah dibuang serta digantikan. Sedangkan nama Brams itu, ternyata mantan Tina yang masih mengejar dan meminta balikan. Dua orang yang dulu memaksa Tina pergi adalah orang suruhan Brams.


"Sita, biarkan saja orang tuamu seperti itu. Jangan terlalu pikirkan," kata Joko yang memeluk Sita semakin erat.


"Brengsek, Tante Silvi membuangku! Kalau begitu lebih baik aku gunakan kesempatan ini!" batin Joko bergejolak.


Sita yang masih remaja tak tahu jika minuman yang Joko buat sudah dicampur obat.


"Minum dulu, Dek."


"Iya, Kak Jack."


Sita pun menenggak minuman soda dingin yang disajikan Joko. Setelah meminumnya, rasa panas membuat tubuh Sita gerah. Joko mencampurkan obat perangsang diminuman Sita.


"Kak, kok panas ya rasanya. Kak .... uh...."


Joko langsung mengambil kesempatan, memeluk dan mencium Sita. Sempat menolak dicium, akhirnya Sita pun pasrah dan mendesah. Menikmati apa yang Joko lakukan. Siang itu, Joko membalas sakit hatinya.


"Dulu ibumu mengambil keperjakaanku. Sekarang gantian! Kunikmati perawanmu biar impas." batin Joko sambil menghujam Sita bertubi-tubi.


Sore harinya, Sita terbangun di sofa ruang tamu. Joko pun mengajaknya pulang, sebentar lagi waktunya menjemput Tina.


Seakan Sita lupa yang terjadi atau mencoba tak membahas, tetapi bercak darah di pakaiannya membuat jelas semua yang terjadi. Joko merenggut keperawanan Sita di sofa.


"Kak, aku takut. Ini kok sakit banget ...." lirih Sita.


"Udah nggak apa. Nanti nggak sakit lagi."


"Kak Jack, kalau aku kenapa-napa gimana?"


"Cerewet sih loe! Mau diantar sampai rumah nggak?" Joko yang memboncengkan Sita ke arah rumah Tante Silvi mendadak jadi emosi.


"Maaf, Kak. Aku nggak bermaksud begitu ...." Sita pun menangis.


Joko takut ketahuan atau dilaporkan polisi, dia lekas menenangkan Sita.


"Iya, iya nggak apa sayang. Maafin Kak Jack ya. Kakak bingung ini apa lagi saat ini kakak belum dapat kerja. Maafin yang tadi Kakak perbuat ya?" rayu Joko pada remaja lugu itu.


"Iya, Kak. Oiya ini nomor handphoneku ya Kak. Tolong nanti hubungi aku," pintanya.


Joko berhenti di ujung jalan dekat rumah Tante Silvi.


"Iya, pasti nanti Kakak telepon. Antar sampai sini aja ya. Nggak enak kalau ketahuan orang tuamu. Kakak kan pengangguran."


"Iya, Kak. Nggak apa."


Sita pun berjalan perlahan, menahan rasa ngilu di bawah pusarnya. Dia mencoba menutupi hal itu dari orang tuanya.


Joko pun memutar motor dan bergegas menjemput Tina di kerjaan. Dia merasa puas dan menang atas balas dendamnya. Benarkah itu?


Bersambung.....

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hai guys! Author akan semakin semangat kalau para pembaca ikut berbagi VOTE, LIKE dan KOMENTAR^^ Jangan lupa share jika cerita ini menarik ya. Terima kasih


__ADS_2