JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
BAB 131


__ADS_3

πŸ€ BIMA DAN KEGALAUAN πŸ€


Kebersamaan terkadang bisa membunuh, jika tak bersama orang yang tepat. Mungkin itulah yang dijalani Ningsih. Mencintai dan menyerahkan hidup pada Iblis bukanlah hal yang baik, tetapi juga bukan hal yang buruk baginya. Namun, semua itu berdampak dahsyat bagi kehidupan keduanya.


Menjelang matahari terbit, Bima berada danau tempatnya melepas kegalauan hati. Sekitar pukul 03.30 tepatnya dia berada di sana. Perkataan Tuan Chernobog tadi terus terngiang di pikirannya.


"Aku harus bagaimana untuk menyelamatkan Ningsih? Soal Wahyu, sudah ada jalan tersendiri dan penggantinya (Bayi Bagas & Wati) sedangkan Ningsih? Arrrgh! Lama-lama aku bisa gila!" rutuknya seraya membuang kekesalan dengan mengeluarkan bola-bola api dan dilempar ke danau.


Air danau yang tadinya tenang pun menjadi bergelombang karena hantaman bola api dari tangan Bima. Iblis itu menjadi bodoh karena cintanya kepada wanita yang menjadi pengikutnya. Bima merasa benar-benar kacau. Satu sisi dia ingin melindungi Ningsih, tetapi satu sisi yang lain jika dia terus mengulur waktu pasti membuat Tuan Chernobog makin marah. Bukan hanya Bima yang dalam bahaya, pun juga nyawa Ningsih yang menjadi taruhannya.


Bima terlalu galau sampai tak menyadari seseorang ada di belakangnya. "Hei, setan galau!" celetuk seseorang yang ternyata gadis tuna netra tempo lalu.


"Kenapa ke sini? Ini belum subuh. Tidur lagi, sana!" gertak Bima yang malas menanggapi gadis itu.


"Oh, ngusir? Ini danau milik keluargaku. Kamu harusnya kuusir, dasar setan!" ucap Lauren dengan santai.


"Aku bukan setan, dasar bocah ingusan!" Bima terpancing emosi dengan perkataan gadis itu.


"Terus, apa? Orang? Ha ha ha ... aneh!" ejek Lauren kepada Bima.


"Huh! Aku sudah sejak lama sering ke sini. Sebelum orang tuamu lahir! Aku ini Iblis!" gertak Bima agar membuat gadis itu takut.


"Ha ha ha ... jadi Iblis penghuni Neraka aja bangga. So what gitu loh! Jangan teriak-teriak dan marah-marah di sini. Kalau galau pindah aja! Ganggu aku tidur, tahu!" ucap gadis itu membuat Bima semakin geram.


Bima tahu jika menjawab akan menambah panjang perdebatannya. Dia pun bungkam. Gadis itu tak akan tahu yang dia rasakan malah justru menambah penat.


"Kamu kira, aku nggak tahu yang Iblis pikirkan dan rasakan? Bahkan sebelum daun gugur dari ranting, aku sudah mengetahuinya. Kamu menyukai manusia?" tanya Lauren pada Bima yang membuat Iblis itu membalas pertanyaannya.


"Kau hanya menebak, 'kan?" ketus Bima.


"No. Aku tahu. Kamu Iblis pesugihan, ya? Pengikutmu adalah cinta pertamamu? Kmau galau?" Perkataan Lauren semua benar. Bima menjadi heran pada gadis buta itu.


"Bagaimana kau tahu? Bahkan melihat dunia pun kau tak bisa?" Bima menjadi penasaran.


"Ya, Sang Pencipta mengambil mataku tetapi memberiku hal lain yang lebih dari sekedar mata. Kamu tak akan paham. Dasar, setan galau! Ha ha ha ...." Lauren kembali menertawakan Bima. Membuat Iblis itu seakan dipermainkan oleh gadis dihadapannya.


Angin berembus membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Lauren pun kedinginan. Dia hendak kembali ke rumahnya yang besar bagai istana.


"Oh, iya, siapa namamu? Aku mau kembali ke rumah karena dingin. Jangan galau lagi, ya. Satu pesanku, lepaskan saja jika tak bisa memperjuangkannya." Lauren berlalu pergi dengan tongkat panjang di tangannya.


Sedangkan Bima menatap gadis aneh itu pergi. Bukannya membuat tenang, justru makin galau. Bagaimana cara melepaskan Ningsih sedangkan hubungan mereka sudah terlalu dalam? Bagaimana memperjuangkannya jika Bima berhadapan dengan Tuan yang mengubahnya menjadi Iblis?


Bima termenung. Semakin larut dalam pemikirannya yang rumit. Tak disangka, cinta bisa membuat segala sesuatu menjadi tak mudah. Meski ia sudah menjadi Iblis.

__ADS_1


Waktu pun berjalan, menghilangkan gelap dengan terbitnya sang fajar. Bima pun pergi dari danau dan kembali ke rumah Ningsih.


Sesampainya di sana, Ningsih bangun dari tidurnya karena Bima tiba-tiba di samping tubuhnya. "Pagi, Bima. Kamu dari mana?" lirihnya.


"Aku ... dari suatu tempat. Maaf, kemarin aku pergi tanpa pamit." ucap Bima dengan senyum manis dalam wujud manusia.


"Iya, nggak apa. Aku mandi dulu, ya. Hari ini kita mau cek restauran, 'kan?" ucap Ningsih yang membalas Bima dengan senyum.


"Iya, sayang. Aku akan menemanimu," kata Bima.


Andai Bima bisa menjadi manusia, semua tak akan serumit ini. Mungkin, jika Ningsih menjadi Iblis juga, keadaan bisa berubah. Semua hanya sebuah andai-andai atau hanya kemungkinan saja. Bima menatap istrinya yang berjalan dan masuk ke kamar mandi.


Hari itu, mereka habiskan waktu bersama dari pagi hingga malam. Pergi ke tempat yang akan menjadi restauran, lalu berjalan-jalan. Hanya berdua, tanpa Joko dan Nindy. Bima menikmati setiap waktu kebersamaannya dengan Ningsih. Entah sampai kapan hal itu bisa berlangsung, Bima hanya ingin memberikan kenangan terindah pada istrinya.


"Bima, jika kita tidak bisa bersatu di kehidupan ini, maukah kamu menjemputku di kehidupan mendatang?" tanya Ningsih dengan tiba-tiba sambil menatap bintang di angkasa.


"Tentu kita akan selalu bersama. Jangan mengatakan hal yang konyol." jawab Bima sambil memeluk tubuh istrinya.


"Bima, kamu terluka? Mengapa ada bekas luka di sini?" ucap Ningsih sambil mengusap leher Bima dan melihat luka di bagian dadanya.


"Tak apa. Bukan hal serius. Ningsih, jika beberapa bulan aku harus pergi, maukah kamu menungguku?" lirih Bima.


"Tentu. Mengapa kamu mau pergi? Pergi ke mana?" Ningsih justru penasaran.


Kalimat itu menutup pembicaraan mereka. Bima merencanakan sesuatu demi hubungan mereka berjalan dengan baik. Ningsih hanya bisa menunggu jika Bima pergi. Mereka sudah bertekad untuk bersama selamanya.


***


Seminggu kemudian ....


Seperti yang dikatakan Bima, dia pergi beberapa saat untuk mencari jalan keluar hubungannya dengan Ningsih. Sedangkan Ningsih, dia mulai sibuk mempersiapkan opening restaurannya yang diberi nama N&B yang jelas inisial nama Ningsih dan Bima.


"Joko, hari ini temani ke resto, ya. Ada breafing sebelum besok mulai opening." seru Ningsih pada sopir pribadinya.


"Baik, Nyonya!" jawab Joko yang sudah menyiapkan mobil.


"Hih, udah kubilang jangan panggil Bu atau Nyonya. Kelihatan aku tua banget, tahu!" gerutu Ningsih yang lebih suka dipanggil namanya saja.


"Iya, Ningsih. Maaf," lirih Joko sambil menggaruk kepalanya dan tersenyum.


"Tante, sarapannya sudah siap. Oiya, semalam Reno telepon Nindy. Katanya, Wahyu sudah betah di pesantren. Jadi, agak susah untuk telepon Tante. Di sana jarang pegang handphone," ucap Nindy menyela perbincangan Ningsih dan Joko.


"Terima kasih, ya, Nindy. Iya, kemarin Santi juga bilang sama tante. Syukurlah kalau Wahyu betah di sana. Tante khawatir dia nangis kalau kangen tante. Makanya, tante sering telepon ke handphonnya walau jarang diangkat." jawab Ningsih sambil duduk di kursi-meja makan dan siap menikmati roti bakar dan susu yang menjadi hidangan untuk sarapannya.

__ADS_1


Setelah selesai sarapan, Ningsih pun pergi bersama Joko ke restauran. Ningsih merekrut lima waiters, dua koki, dan seorang kasir untuk soft opening. Dia juga sudah memikirkan jika respons pembeli bagus, hendak menambah koki dan waiters lagi.


"Selamat pagi menjelang siang, semuanya! Perkenalkan, saya Ningsih Sukmasari yang akan menjadi atasan sekaligus pemilik restauran ini. Saya harap, kita bisa bekerja sama dengan baik untuk memajukan N&B resto. Terima kasih!" kata Ningsih dengan semangat disambut tepuk tangan dari para pegawainya.


Setelah breafing singkat, mereka pun saling memperkenalkan diri masing-masing. Ningsih mencoba mengingat semua nama mereka, tetapi hanya satu yang dia sangat ingat. Aldo, seorang koki senior dari hotel bintang lima yang berhasil Ningsih rekrut.


"Sekian breafing hari ini, kalian bisa berlatih atau menghafalkan tugas karena besok pagi pukul 09.00 resto ini resmi dibuka. Terima kasih!" seru Ningsih saat mengakhiri pertemuan pagi itu.


Beberapa saat kemudian, setelah menghafal tempat dan pekerjaan, para pegawai itu pun pamit pulang satu per satu. Kecuali Aldo yang masih di dapur. Ningsih berjalan ke dalam dapur menghampiri juru masak handal itu.


"Aldo, hari ini belum mulai, kok. Kamu boleh pulang," ucap Ningsih lembut.


"Iya, Bos cantik. Sebelum pergi, cicipi masakan ini dahulu." kata Aldo sambil menyodorkan steak yang terlihat sangat menggugah selera makan Ningsih.


"Ah, baik. Aku akan mencoba masakkan chef handal," jawab Ningsih yang kemudian mencicipi masakan itu


"Bagaimana, Bos cantik?"


Ningsih mengunyah perlahan. Lalu menelan makanan itu. "Luar biasa, enak!" kata Ningsih dengan mata berbinar.


Aldo pun tersenyum, senang. Melihat apresiasi dari bosnya. Setelah berbenah dapur, Aldo pun pulang dan disusul Ningsih serta Joko meninggalkan restauran itu.


Hari ini menjadi awal berdirinya usaha baru Ningsih. Meski tanpa Bima di sana, Ningsih tahu jika suaminya pun. merasa senang. Ningsih yakin jika Bima akan segera menemukan jalan untuk mereka bersatu.


***


Di sisi lain ....


Bima sedang bernegosiasi dengan Iblis yang akan membantunya. Namun, hal itu tidaklah mudah. Menghabiskan waktu dan tenaga.


"Aku bisa mengubahnya menjadi seperti kita, tetapi jumlah darah yang harus kau berikan tak sedikit!" ucap Iblis itu dengan suara yang tegas.


"AKU AKAN LAKUKAN APA PUN UNTUK MENEBUSNYA. KALAU TIDAK, TUAN CHERNOBOG PASTI MEMBUNUHNYA." kata Bima dengan mantab.


"Baik, tetapi tujuh darah perawan sebelum purnama. Apakah kau sanggup?" tawar Iblis penguasa salah satu lapisan di Neraka. Tuan Asmodeus, Sang Penguasa hawa napsu. Dia adalah Tuan dari Evan dan Lily, yang menjadi musuh Bima.


"BAIK. AKU AKAN PENUHI. NAMUN, BERJANJILAH MEMBANTUKU, TUAN." jawab Bima sambil menunduk, hormat.


"Tentu! Aku juga tak suka pada Chernobog. Kau tahu, bukan? Mengabdilah padaku!" pungkas Tuan Asmodeus yang membuat Bima akan mempertimbangkan semuanya dengan baik.


Perpindahan di Neraka dan melintasi ruang dan waktu membuat setiap menit di sana dan di dunia nyata menjadi berbeda jauh. Kadang lebih cepat, dan kadang melambat. Saat inj Bima seperti menghabiskan beberapa jam saja, tetapi dalam dunia nyata ... berminggu-minggu Bima meninggalkan Ningsih dan memupuk rasa rindu bagi keduanya.


Bima pun segera pergi ke dunia manusia. Dia hendak mencari tujuh darah perawan untuk Tuan Asmodeus. Bima akan berjuang, menyelamatkan Ningsih dari kematian dan memberinya hidup abadi.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2