
...🔥Hal Buruk dan Hal Baik🔥...
Ningsih sudah bangun dari pingsannya. Dia merasa tubuhnya kaku dan sulit bergerak. Ternyata sudah seminggu dirinya koma. Setelah dokter dan perawat mengecek kondisinya. Dia pun bisa bertemu dengan anak sulungnya. Wahyu tersenyum menatap ibunya yang tetap cantik dan awet muda meski usia tetap berjalan ke depan.
"Terima kasih, ya Allah. Engkau memberi kesempatan hamba-Mu yang penuh dosa ini bertemu kembali dengan suami dan anak gaibku. Engkau juga mengizinkan anak sulungku di sini menemaniku," batin Ningsih sambil menatap anaknya.
Setelah berbincang beberapa hal yang ringan, Wahyu pun meminta ibunya untuk beristirahat. Tentu saja karena Wahyu itu sangat memedulikan kesehatan dan pulihnya kondisi Ningsih terlebih dahulu. Meski soal Nindy dan Reno belum bisa diceritakan secara gamblang, tetapi Wahyu berjanji seiringnya berjalannya waktu akan menceritakan semuanya kepada ibunya.
Berbeda dengan pemikiran Wahyu, pihak Kepolisian yang mengetahui jika korban penusukan tersebut sudah sadarkan diri, mereka mengirim salah seorang untuk mengusut kasus tersebut. Semua ini karena Reno masih ditahan di kantor polisi untuk mengantikan Nindy sebagai tersangka.
Cinta Reno kepada Nindy sangatlah besar. Reno juga memikirkan perasaan anaknya jika ibunya terbukti menjadi tersangka penusukan tersebut. Lelaki itu rela mengorbankan dirinya yang dijadikan tersangka atas penusukan Ningsih. Oleh sebab itu, polisi ingin mengetahui kejadian yang sesungguhnya dari pihak korban, bukan dari anak korban tetapi dari korban langsung.
Benar adanya, keesokan hari kemudian seorang polisi datang menuju ke ruang tempat di mana Ningsih dirawat. Saat itu Ningsih sudah diperbolehkan pindah ke bangsal perawatan inap. Dia sudah tidak di ICU lagi karena semua prosedur pengecekan berlangsung dan Ningsih dinyatakan kondisinya membaik.
"Mama ... tenang dulu, ya. Semua pasti akan baik-baik saja. Mama sudah melewati masa kritis dan kondisi Mama sekarang sudah jauh lebih baik. Wahyu akan tetap di sini menunggu Mama, menemani Mama di bangsal ini. Mama tenang, ya. Wahyu juga sudah bilang ke Om Budi untuk mengizinkan Wahyu di sini sampai semuanya membaik. Mama perlu aku di sini berapa lama, pasti akan aku ikuti. Terpenting kesehatan Mama yang utama," kata Wahyu sambil tersenyum. Dia membawa semangkuk bubur ayam dan menyuapi ibunya perlahan.
Entah mengapa rasanya selalu ada hal baik di balik hal buruk yang terjadi. Seperti saat ini, Ningsih seminggu yang lalu ditusuk oleh Nindy dan mengalami pendarahan yang hebat. Namun secara tak dimengerti, dia bisa bertemu Bima dan Alex di dunia bawah sadar. Sebuah hal yang sangat membuat hati Ningsih galau dan bimbang karena dia tetap tidak diizinkan oleh Allah untuk bersama keluarganya yang makhluk beda dunia. Namun Ningsih juga merasa sangat senang atas kejadian ini karena Wahyu kembali menemaninya. Wahyu sudah berjanji tidak akan tergesa-gesa kembali ke pesantren asal ibunya lekas sembuh dan membaik.
"Wahyu sayang, keadaan Mama sudah baik-baik saja rasanya. Wahyu ingin terus menemani Mama saja, sudah membuat Mama berterima kasih. Sudah menemani Mama selama seminggu ini, bahkan terima kasih sudah berjanji akan menemani Mama beberapa hari ke depan atau berminggu-minggu ke depan. Mama sangat senang Wahyu ada di sini. Karena sesungguhnya ketika Wahyu kembali ke pesantren, Mama merasa kesepian dan merasa ditinggalkan sendirian," lirih Ningsih sambil menatap kedua bola mata anaknya itu.
__ADS_1
Terlihat bulir-bulir air mata mulai turun dari mata Ningsih. Dia bersedih karena merasa sangat egois hanya memikirkan perasaannya saja. Namun hal itulah yang dia rasakan saat ini. Ketika Wahyu kembali belajar di pesantren, Ningsih merasa sendirian kesepian. Hidup tanpa Bima, tanpa Alex, dan juga Wahyu. Bagaimana mungkin Ningsih bisa menahan hari-hari seperti itu? Tanpa gelak tawa keluarga dan kebahagiaan yang pernah mereka lewati bersama.
"Mama, jangan berpikir seperti itu. Wahyu akan selalu ada untuk Mama. Jika Mama tidak ingin Wahyu kembali ke sana, Wahyu tidak akan kembali ke sana, Mah. Sebentar lagi Wahyu lulus dan Wahyu akan selalu menemani Mama di rumah," ujar lelaki yang beranjak dewasa itu meyakinkan ibunya agar semua baik-baik saja. Tepat saat bersamaan, suara pintu bangsal pun terdengar diketuk dari luar.
Tok ... tok ... tok ....
Suara pintu itu terdengar diketuk. Wahyu pun segera berdiri dan membukakan pintu tersebut. Ternyata seorang polisi sudah berada di depan dan meminta izin untuk masuk. Sebenarnya Wahyu tidak ingin mengizinkan, tetapi demi membebaskan Kak Reno dan Kak Nindy dari hal yang rumit ini. Wahyu pun mengizinkan polisi itu masuk.
"Selamat pagi, Bu Ningsih. Bagaimana kondisi Anda saat ini? Apakah sudah membaik? Larena kami dari pihak kepolisian pun sangat menyesal adanya kejadian ini," kata orang itu mengawali pembicaraan. Ningsih melihat ke arah Wahyu dan Wahyu hanya menatapnya menanti jawaban dari ibunya. Apakah ibunya bersedia dimintai keterangan atau tidak?
"Selamat pagi juga, Pak Polisi. Beginilah keadaanku saat ini, sudah mulai membaik. Apakah ada yang bisa aku bantu?" tanya Ningsih yang sudah mengetahui pasti dirinya akan diinterogasi soal penusukan itu. Apakah mungkin dia harus mengatakan Nindy sedang kerasukan makhluk gaib? Apakah ada seorang polisi yang mempercayai hal tersebut? Pastinya tidak. Lantas, bagaimana Ningsih bisa menjelaskan hal itu?
Ningsih menarik napas perlahan dan mengeluarkannya segera untuk membuat dirinya rileks. Dia berusaha agar bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan baik dan tepat. Semua ini demi menyelamatkan Nindy dan Reno dari segala tuduhan.
"Begini, Pak Polisi. Andai kata dikatakan kejadian ini karena kerasukan makhluk gaib, dari pihak kepolisian pun tidak akan percaya, bukan? Oleh sebab itu, satu-satunya alasan apa yang harus aku katakan kepadamu? Apa pun yang sedang dilakukan pihak kepolisian, apa pun yang pihak kepolisian sedang usut, aku mohon lepaskan keponakanku. Reno dan juga istrinya yang bernama Nindy, mereka tidak bersalah apa pun. Dan saat ini aku sudah sehat, sudah keluar dari ICU. Apakah bisa keponakan ku dilepaskan juga? Anggap saja semua ini hanyalah kecelakaan atau apa yang bisa diangkat menjadi melukai diri sendiri. Terserah, tulislah dilaporan kepolisian.
"Bu Ningsih, tolonglah bekerja sama. Jangan membela pelaku atau tersangka hanya demi hal kekeluargaan. Apakah anak Anda yang sudah mendoktrin agar mengucapkan seperti itu? Karena tak mungkin Anda tahu jika keponakan Anda ditahan saat ini." Polisi itu justru berpindah mencurigai Wahyu.
"Pak, ini semua tidak ada kaitanya dengan anakku. Aku menyimpulkan semua itu karena yang terjadi adalah istri dari keponakanku mengalami kerasukan makhluk gaib di pagi itu. Kami berusaha menolong, bahkan ada Ustaz Rizaldi yang berusaha menyadarkan Nindy. Kami pun tidak menyangka jika semuanya berakhir dengan penyerangan kepadaku. Aku mohon dengan sangat, Pak Polisi, bebaskan lah keponakanku dan juga istrinya. Jika korban tidak mengajukan tuntutan, bukankah kasus tidak bisa berjalan begitu saja? Aku baik-baik saja dan bukan korban meninggal," jelas Ningsih yang masih mencoba membela diri dan juga membela Reno dan Nindy
__ADS_1
Setelah percakapan dan perdebatan yang cukup panjang, akhirnya Pak Polisi pun pamit undur diri. Karena dianggap semuanya sudah cukup, beliau meminta waktu sekitar dua atau tiga hari untuk memutuskan kasus itu selesai. Seperti yang diharapkan Ningsih. Ya, berarti waktu yang sama pula Reno masih berada di tahanan penjara sebelum akhirnya dibebaskan sebagai penjamin Nindy.
Mengetahui hal itu, Ningsih segera meminta Wahyu untuk menyampakian ke Nindy dan Reno agar mereka bersabar menunggu. Wanita itu bersyukur sudah bisa menyelesaikan urusan dengan polisi. Selanjutnya, dia bisa menunggu untuk segera keluar dari rumah sakit.
"Ma, sabar, ya. Terima kasih sudah berkata dengan bijak. Wahyu menyayangimu, Ma. Lekas sembuh dan kita bisa pulang bersama," ucap Wahyu sambil memeluk ibunya.
"Iya, Sayang. Jangan tinggalkan Mama lagi, ya," jawab Ningsih.
...****************...
Mendengar kabar penusukkan dan Reno berada di penjara membuat Santi meminta Budi segera mengantarkan dia ke kota. Meski harus menunggu agak lama karena kesibukan Budi tak bisa disisihkan, akhirnya hari ini mereka bisa mengunjungi Nindy dan Tante Ningsih yang masih berada di rumah sakit. Lalu mereka berencana melihat keadaan Reno yang saat ini menjadi penjamin di penjara.
"Ma, nanti jangan panik dulu, ya. Wahyu sudah menjelaskan semuanya, bukan? Hal ini karena Nindy kerasukan. Jangan menyalahlan siapa-siapa, ya." Budi mencoba menasehati sepanjang perjalanan. Dia menyetir mobil dengan khawatir.
Wahyu mengabari tiga hari yang lalu saat Reno menggantikan Nindy untuk ditahan sementara. Memang terlambat memberi kabar karena takut membuat Budi dan Santi khawatir. Namun, saat itu Budi sedang melakukan bazar amal selama tiga hari di Jawa Timur. Jadi, baru hari ini bisa bergegas ke Kota Yogyakarta.
"Iya, Pa. Terpenting kita segera sampai ke rumah sakit melihat kondisi Tante Ningsih dan Nindy. Lalu kita segera ke kantor polisi, ya Pah. Aku khawatir dengan Reno. Bagaimana dia bisa dipenjara padahal hal itu karena kerasukan?" Santi menjadi bingung soal hukum dan kenyataan yang terjadi.
"Sabar, Ma. Kita segera ke sana dan sebisa mungkin membantu."
__ADS_1
Budi fokus menyetir mobil secepat mungkin sampai ke Kota Yogyakarta. Anaknya yang masih kecil sengaja tidak dibawa karena akan ke rumah sakit tak baik membawa anak-anak. Dalam hatinya, Budi sangat khawatir dengan keadaan Ningsih yang koma. Hanya Wahyu yang menemani Ningsih di sana. Jujur saja, Budi sangat takut sesuatu yang buruk terjadi. Hal itu membuat Budi tak tenang sepanjang perjalanan. Dia masih saja memikirkan Ningsih yang tidak akan menanggapi dirinya.