
π DILEMA π
Beberapa hari Ningsih hanya di rumah dan menangis. Meraung-raung menyesali setiap perbuatan yang telah dia perbuat. Dia tak merasa lapar, bahkan minum air pun tidak. Hingga tubuh Ningsih semakin lemas. Saat Bima memperlihatkan Neraka, membuat Ningsih merasakan gundah di hatinya. Satu sisi, dia mencintai Bima serta ingin mempertahankan hubungannya dengan Sang Iblis yang telah mencuri hatinya. Satu sisi yang lain, Ningsih merasa ketakutan dan bersalah atas perbuatannya.
"Adakah jalan untukku yang sudah terlalu jauh tersesat ini?" gumam Ningsih di sela isak tangisnya.
Beberapa saat kemudian, ada sebuah pesan masuk dari Santi. Ningsih membuka pesan itu karena merasa bersalah juga dengan Santi.
Santi: [Tante, Santi minta maaf kalau sudah keterlaluan. Santi hanya terlalu bersedih, padahal Santi bukan siapa-siapa Bang Joko. Tidak seharusnya, Santi mengatakan hal buruk kepada Tante. Maaf, ya.]
Ningsih: [Tak apa, Santi. Tante yang minta maaf. Tante bersalah atas semua ini dan pantas dihukum.]
Santi: [Tidak, Tante. Tante berhak bertaubat. Tante bisa lepas jika Tante mau. Jangan berkata seperti itu.]
Kalimat itu membuat Ningsih semakin sedih dan bimbang. Setelah dia mengorbankan banyak orang, pantaskah dia bertaubat? Hal yang tak pernah Ningsih bayangkan jika jalan pintas yang dia pilih lewat pesugihan menikah dengan makhluk gaib akan membawa kesengsaraan yang tak berujung. Rasa bersalah yang tak kunjung hilang serta siksa alam setelah kubur yang mengerikan.
Santi menunggu balasan dari Tante Ningsih. Namun, hingga satu jam, tak ada balasan. Bahkan, telepon yang Santi lakukan pun tak dijawab. Rasa khawatir semakin besar. "PakLek, gimana kalau kita ke rumah Tante Ningsih? Santi khawatir. Sudah hampir empat hari, Tante Ningsih tidak memberi kabar. Tadi sempat berbalas pesan, tetapi sekarang tak bisa dihubungi." kata Santi pada PakLek Darjo yang sedari tadi menerawang.
"Ayo, kita ke sana. Ajak Budi. Biar Reno di sini dahulu." jawab PakLek Darjo.
Santi pun bersama PakLek Darjo dan Budi segera ke rumah Ningsih. Sedangkan Reno di homestay menunggu rombongan Pak Anwar yang sedang duduk bersila, menghadapi Bima di alam gaib. Terjadi sesuatu yang Ningsih tak ketahui. Saat Ningsih galau dan terjebak dalam dilemanya, Bima justru sedang dalam masalah menghalau Kyai Anwar beserta lima santrinya.
***
Sesampainya di rumah Ningsih ....
"Asalamualaikum, Tante!" ucap Santi beberapa kali dari depan pintu rumah sambil menekan bel. Namun, tidak ada respon dari Ningsih. Sedangkan gerbang tidak dikunci, satpam yang Ningsih ceritakan pun sedang pulang kampung.
"PakLek, bagaimana kalau kita masuk saja? Santi khawatir jika Tante Ningsih kenapa-napa." tanya Santi kepada PakLek Darjo.
"Iya, coba kita masuk saja. Bismillah ...." jawab PakLek Darjo sambil membuka pintu yang ternyata tidak dikunci.
Santi langsung panik dan memanggil Tante Ningsih beberapa kali. Hening. Tiada jawaban. Dia segera ke lantai dua, kamar Tante Ningsih karena mempunyai firasat buruk. Benar saja, saat Santi membuka pintu kamar, Tante Ningsih sudah tergeletak di lantai dengan wajah pucat.
"Astagfirullah ... Tante Ningsih kenapa? PakLek ... Mas Budi ... ayo kita bawa Tante Ningsih ke rumah sakit." teriak Santi yang makin panik.
PakLek Darjo pun segera mencari bantuan, memanggil orang yang lewat depan rumah untuk membantu mengangkat Ningsih. Sedangkan Budi langsung ke lantai dua. Mereka segera membawa Ningsih ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, IGD terlihat ramai dengan pasien dan petugas kesehatan yang mondar mandir. Sedangkan Ningsih, sudah berada di IGD dan mendapat pertolongan pertama bagi orang pingsan.
__ADS_1
"Keluarga Nyonya Ningsih?" panggil Dokter.
"Saya keponakannya, Dokter," jawab Santi mendekat.
"Kondisi Tante Anda dehidrasi dan kurang asupan makanan. Kemungkinan besar, beberapa hari ini tidak makan dan minum sehingga lemas dan kekurangan cairan. Untung saja tidak terlambat dibawa ke rumah sakit karena kondisinya bisa serius. Saat ini, Tante Anda diinfus dan disarankan opname untuk memantau kondisinya," jelas Dokter pada Santi.
"Baik, Dok. Saya setuju Tante opname." ucap Santi yang tak tega melihat kondisi Tante Ningsih.
"Kalau begitu, silahkan selesaikan administrasi terlebih dahulu dan memilih kelas bangsal pasien," kata Dokter yang kemudian berlalu pergi.
Santi, Budi, dan PakLek Darjo menemani Ningsih terlebih dahulu karena khawatir dengan keadaan fisik Ningsih yang lemah. Mereka juga berjaga jika ada suatu hal terjadi. PakLek Darjo curiga jika ini ada sangkut pautnya dengan suami gaib Ningsih yang sedang digempur Kyai Anwar dan kelima santri.
***
Alam bawah sadar Ningsih ....
Ningsih seakan berjalan di tengah padang rumput hijau yang sangat luas. Tak ada apa pun di hadapan matanya selain rumput hijau. Ningsih melihat ke segala arah. Hanyalah rumput yang membentang di tanah seluas beberapa hektar.
"Bima? Aku di mana? Tempat apa ini?" tanya Ningsih pada dirinya sendiri.
Langit biru yang cerah, awan putih yang menghiasi langit, serta sinar matahari yang terlihat mulai turun dari tahtanya. Mungkin sekitar pukul 15.00 saat itu, perkiraan Ningsih. Angin berembus sepoi-sepoi. Membuat rambut Ningsih terbelai perlahan.
Ningsih lelah berjalan sangat jauh. Bahkan tak terlihat sumber mata air di sana, dia pun berhenti berjalan. Ningsih duduk di atas rumput, lalu segera berbaring. Menatap langit biru yang ada di atasnya. Sinar matahari tertutup awan sehingga tidak menyilaukan matanya.
Tiba-tiba ... ada seorang gadis di sampingnya, duduk tepat di samping Ningsih. Membuatnya kaget karena dia tak melihat kapan gadis itu datang. "Si-siapa kamu?" tanya Ningsih yang terkejut.
"Tenang. Aku bukan bantu. Aku bukan orang jahat. Namaku Laurent." ucap gadis itu, segera mengulurkan tangan.
Ningsih pun duduk dan menjabat tangan gadis itu. "Namaku Ningsih. Ini tempat apa?" kata Ningsih yang terkejut ternyata gadis itu tuna netra karena kedua matanya hanya putih tak terlihat bola mata hitam.
"Jangan takut, aku memang buta. Namun, aku bisa melihat jauh lebih baik darimu. Ini alam bawah sadar. Kalau kamu terus berada di sini, kamu akan mati. Ayo ikut aku, kita keluar dari sini." jelas Laurent pada Ningsih yang masih bingung.
"Kenapa kamu bisa sampai sini?" Ningsih berdiri mengikuti gadis buta itu yang terlebih dahulu berdiri dengan tongkat di tangannya.
"Panjang ceritanya, kamu punya kekasih Iblis bucin yang galau, 'kan?" kata Laurent yang membuat Ningsih makin tak mengerti.
"Bucin apa? Galau kenapa? Kalau Iblis, iya."
"Bima namanya?"
__ADS_1
"Iya, namanya Bima."
"Nah, itu. Iblis bucin yang suka galau di danau dekat kastilku. Sudah, jangan berlama-lama di sini. Nanti tubuhmu makin lemah dan bisa meninggal beneran!" tegas Laurent yang kemudian menggandeng Ningsih.
Ningsih menatap gadis itu. Dia terlihat tenang dan berjalan dengan mantab melangkahkan kaki. "Kamu tidak takut di sini? Kamu kenal Bima dari mana?" tanya Ningsih yang masih menyimpan banyak pertanyaan.
"Aku tidak takut. Ada hal yang jauh lebih buruk dari kematian. Aku kenal Bima karena Iblis itu sering di tepi danau tempatku menatap senja. Dia pernah menyelamatkanku dan bodyguardku dari gangguan gangster jahat. Anggap saja, ini sebagai misi balas budi," lirih Laurent sambil tersenyum menatap Ningsih.
"Terima kasih, Laurent. Oiya, apakah kamu tahu di mana Bima?"
Laurent berhenti. Di depan Ningsih dan Laurent ada sebuah pintu berwarna putih yang entah datang dari mana. "Jangan cari Bima. Dia sedang menyelesaikan masalahnya. Lebih baik kamu kembali ke dunia nyata. Ini pintu menuju dunia nyata. Jaga diri baik-baik," kata Laurent yang hendak membuka pintu.
"Tunggu ... kamu manusia atau makhluk gaib? Bisakah aku bertemu denganmu lagi jika ada suatu hal? Mungkin saja aku akan memerlukan bantuanmu." tanya Ningsih yang berharap Laurent adalah manusia.
"Aku ... aku manusia. Kita akan segera berjumpa di alam nyata. Segera pulang Ningsih." ucap Laurent yang kemudian membuka pintu putih itu.
Sekejab, Ningsih tersedot masuk ke pintu putih itu dan tiba-tiba dia terbangun. Dia mendapati diri sudah berada di ruangan yang berbeda dengan kamarnya.
"Tante ... Tante sudah sadar?" kata Santi yang senang melihat Tante Ningsih sudah membuka mata.
"I-ini di mana, Santi?" tanya Tante Ningsih yang mencoba bangkit dari tempat tidur.
"Jangan banyak bergerak, Tante. Ini di rumah sakit. Tante masih diinfus dan memakai selang oksigen. Santi panggil dokter dulu, ya," kata Santi yang kemudian beranjak pergi.
Tiga hari ... Ningsih tak sadarkan diri selama tiga hari. Padahal dia merasa hanya beberapa menit di hamparan rumput hijau itu. Benar kata Laurent, jika tak segera pulang bisa jadi nyawa Ningsih taruhannya.
PakLek Darjo menghampiri Ningsih. "Ningsih, sudah waktunya kamu bertaubat. Mumpung Santi berada di luar, saya hanya bisa berpesan jangan ikuti jejak Ratih. Saat ini, suami gaibmu sedang melawan Kyai Anwar beserta santrinya di alam gaib. Budi di sini untuk menunggumu. Hari ini sudah hari ketujuh wafatnya Joko. Kemungkinan besar, Tuan dari suami gaibmu bisa kapan saja mengambilmu jika kamu tak bertaubat," jelas PakLek Darjo yang berharap wanita itu mengerti.
"Pak ... hal itu membuatku bingung. Apakah ada harapan untuk keluar dari semua ini?" tanya Ningsih menatap PakLek Darjo dan Budi.
"Bu, selalu ada jalan jika mau bertaubat. Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Jangan khawatir, kami akan bantu." jawab Budi sambil tersenyum menatap Ningsih. Seakan memberi harapan baru.
Semakin kalut hati Ningsih. Dia mencintai Bjma dan tak ingin Bima terluka. "Pak ... Budi ... bisakah kalian bilang ke Kyai, jangan musnahkan Bima. Aku mau bertaubat asal Bima selamat," kata Ningsih yang menyerah dengan keadaan.
Ningsih mencintai Bima teramat sangat, hingga tak bisa melihat Bima dimusnahkan oleh bapaknya Budi. Ningsih tahu, kemungkinan bertaubat dan selamat juga sangat kecil. Namun, dia memilih resiko itu dari pada melihat suaminya musnah.
"Baik. Saya janji akan mengatakan itu lada Kyai Anwar." jawab PakLek yang diikuti anggukan oleh Budi.
Ningsih terenyuh. Dia meneteskan air mata. Hanya bisa berharap adanya keajaiban di hubungan mereka. "Bima ... bertahanlah. Aku tak ingin kamu musnah. Bertahanlah untukku!" batin Ningsih.
__ADS_1