
π PENYELIDIKAN - PART 3 π
Sepanjang jalan-jalan di mall, Santi merasa tak enak hati. Reno belum membuka handphonenya, jadi hanya Santi yang merasa bingung dan takut.
"Kita makan di pizza hut, yuk!" ajak Ningsih dengan semangat.
"Yeay! Wahyu mauu, Ma." jawab putera Ningsih dengan semangat.
"Wah asyik makan pizza. Bosen nih makan angin mulu. Apalagi makan hati. Ha ha ha ...." celetuk Reno membuat gemas Ningsih.
"Reno dah besar kok galau-galauan. Gimana sama adiknya Joko?"
Ningsih menggandeng Wahyu dan Reno. Sedangkan Joko berjalan di samping Santi. Bima juga menggandeng Ningsih dengan senang hati. Serasa keluarga nyata, tetapi semua hanya sementara.
Mereka pun duduk di meja besar dan memesan beberapa pizza dan salad. Berbincang-bincang dan Santi membuat kode agar Reno membuka handphonenya. Santi berkedip-kedip dan menunjuk handphone. Reno pun membuka pesan dari kakaknya.
"Astaga!" ucap Reno membuat yang lain terkejut dan memandang ke arah Reno.
"Ada apa, Reno?" tanya Ningsih.
"Eh, anu Tante ... ini Reno baru ingat ada keperluan yang belum dibeli sama Kak Santi. Kita ke bawah dulu ya, Tan," kata Reno agak gugup.
"Oh, gitu. Iya deh nggak apa. Kita nunggu di sini aja ya," jawab Ningsih dengan tenang.
Bima melihat ke arah Santi dan Reno yang berdiri lalu pergi. "Ningsih, keponakanmu kepo juga, ya?" bisik Bima kepada Ningsih di sampingnya.
Joko hanya diam saja tak ingin ikut campur urusan yang dia tak pahami. Memang tadi Santi mengatakan jika seram dan merinding melihat Om Bima. Namun bagi Joko semua biasa saja karena Joko tidak sensitif dengan hal gaib.
"Kepo apa, sayang? Udah biarin aja namanya anak muda," jawab Ningsih sambil menyuapi puteranya makan.
Santi dan Reno berjalan agak jauh. Setelah turun ke lantai dua, mereka pun berhenti untuk berbicara serius.
"Kak, serius yang Kakak bilang?" tanya Reno penasaran.
"Ya serius, mana mungkin Kakak bercanda. Dari tadi Kakak sampai merinding dan takut saat Om Bima melihat ke arah Kakak. Sepertinya Om Bima sudah menaruh curiga kalau kita menyelidikinya."
"Kalau gitu, langkah selanjutnya apa? Jangan bilang kalau Kakak belum ada rencana."
"Dua hari lalu Kakak sudah berbicara dengan Mas Budi yang ternyata juga sudah tahu hal ini. Mas Budi anak seorang Kyai terkenal di Wonogiri. Dia dan Bapaknya akan membantu kita. Namun soal Tante Ningsih ...." Santi tertunduk.
"Tante Ningsih kenapa, Kak?"
"Kalau Tante Ningsih tak mau diajak bertaubat, dia tak bisa diselamatkan," jawab Santi kelu.
Sedih mengingat Tante Ningsih satu-satunya keluarga yang mereka punya semenjak Ratih meninggal. PakLek Darjo dahulu sudah memperingatkan Santi dan Reno agar menjauhi Ningsih. Namun apa daya mereka sudah terlanjur simpatik.
"Kak, apa ada cara lain?"
"Ada. Memusnahkan suami gaib Tante Ningsih. Tapi kemungkinan selamat 50:50 saja ...."
"Apanya yang 50:50?" kata Bima membuat Santi dan Reno terkejut setengah mati.
"Aaaaa!" teriak Santi reflek terkejut.
__ADS_1
Orang-orang pun memperhatikan mereka. Membuat Santi dan Reno malu.
"Maaf. Maaf," ucap Reno sambil membungkukan badan.
"Kalian dicari Ningsih. Mau diajak ke puncak." Bima pun dengan santai berjalan ke arah Ningsih menunggu.
Santi dan Reno masih kaku dan kaget. Mereka terdiam.
"Ayo nunggu apa lagi? Mau lihat Om Bima asli?" sindir Bima pada kedua ponakan Ningsih yang makin merinding dan ngeri melihatnya.
"Eh iya, eh nggak. Ya kami ke sana, Om," jawab Santi menggandeng Reno.
"MEREKA LUCU SEKALI. MENYELIDIKIKU TAPI TAKUT DENGANKU. DASAR ANAK LABIL. HA HA HA ...." batin Bima tersenyum melihat tingkah Santi dan Reno yang dianggapnya sebagai hal yang lucu.
Setelah selesai dari mall, mereka menuju ke puncak. Bima sudah membelikan sebuah villa di kawasan puncak untuk Ningsih. Tentunya agar mereka leluasa bersama tanpa gangguan orang lain. Namun kali pertama ini, Bima ingin memperlihatkan villa kepada yang lain juga.
"Bu Ningsih beruntung ya punya calon suami seperti Tuan Bima," kata Joko saat menyetir kepada Reno dan Santi.
"Beruntung apanya, Bang?" tanya Santi yang duduk di samping Joko.
"Ya beruntung. Tuan Bima itu tampan, perhatian, baik, dan kaya raya. Pasti banyak wanita yang mengidamkan lelaki seperti itu," jelas Joko yang masih serius menyetir mobil.
"Ah, nggak semuanya dihitung dari parameter kaya raya sama dengan beruntung, Bang."
Reno asyik mendengarkan lagu dari headset bluethootnya. Sedangkan Santi masih berbincang dengan Joko sepanjang perjalanan ke puncak. Santi merasa was-was, tetapi setidaknya Budi sudah memberi pesan agar mereka sebisa mungkin bertingkah biasa saja di depan Bima.
Ningsih berada di dalam mobil Bima. Menikmati perjalanan bersama Wahyu dengan penuh canda tawa. Sepanjang jalan membicarakan andai-andai mereka dan harapan si kecil Wahyu. Ningsih merasa bahagia bagaikan keluarga utuh bersama suami gaibnya. Meski dia sadar semua di dunia ini tak ada yang abadi, termasuk kebahagiaan.
"Wah, villanya bagus sekali Bima sayang," ucap Ningsih terpesona dengan bangunan khas Belanda nan megah.
"Bagus sih, tapi kesannya horor banget Tante," celetuk Reno bersambut cubitan di lengannya.
"Jangan ngomong sembarangan. Ini kan pemberian Om Bima. Kamu juga bakalan nginap di sini besok," kata Ningsih sambil mengedipkan mata ke Bima. "Terima kasih ya Bima sayang. Villanya bagus sekali."
"Sama-sama Ningsih. Semoga kalian suka. Ayo kita masuk. Lihat isinya dahulu. Sudah diisi beberapa perabot. Kalau tak cocok boleh ganti kok," kata Bima dengan santai melangkah ke pintu utama villa.
Santi mengamati sekitar dan tiba-tiba bulu kudunya meremang. Aura mistis masih terasa kental di sekitar Villa. Seakan di kelilingi makhluk gaib.
"Kamu kenapa, Non Santi?" tanya Joko yang berada di samping Santi.
"Nggak apa, Bang. Cuma rasanya aneh aja. Seperti banyak mata menatap ke arah kita."
"Udah jangan mikir macam-macam. Kita masuk aja ke Villa. Nggak ada apa-apa kok."
Joko menggandeng tangan Santi dan mengajaknya menyusul yang sudah di depan. Feeling Santi memang tajam. Para penghuni Villa yang diusir Bima sebagian besar masih berkeliling di sekitar Villa. Menanti waktu yang tepat untuk kembali ke hunian nyaman mereka.
Mereka berkeliling melihat setiap ruangan di villa berlantai dua. Perabot lama sengaja disimpan dalam gudang oleh orang suruhan Bima. Bima memberikan hadiah ini untuk menghibur hati Ningsih setelah kejadian Alex dan Hartono.
Sesudah selesai berkeliling, Bima mengajak mereka kembali ke kota. "Sudah puas kelilingnya? Kalau sudah, pulang yuk. Sekalian makan malam dulu nanti di jalan." kata Bima dan semua menyetujuinya.
Santi sudah was-was karena hari menjelang maghrib. Hawa negatif di sekitar villa semakin terasa. Saat hendak masuk ke mobil, Bima pun menepuk pundak Joko. "Joko, hati-hati di jalan turun nanti. Jangan sampai salah lihat." ucap Bima memberi peringatan agar lebih waspada.
"Baik, Tuan Bima. Terima kasih sudah menasehati," jawab Joko sambil menunduk. Lalu masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Bima memberi perlindungan pada mobil yang dikendarai Joko. Dia tahu banyak makhluk gaib di sekitar puncak yang mempunya energi negatif besar. Mereka sering menyesatkan dan menyebabkan kecelakaan pada hari-hari tertentu.
"Sayang, ada apa sama Joko?" tanya Ningsih penasaran.
"Tidak ada apa-apa. Cuma ada yang mengincar mereka. Kalau kamu dan Wahyu pasti aman bersamaku di sini." Bima tersenyum menatap Ningsih dan puteranya.
Mereka pun kembali ke Jakarta. Perjalanan yang mulai sepi karena maghrib datang membawa gelap malam. Bima santai melaju dengan mobilnya. Namun Joko merasa sesuatu yang aneh sejak tadi.
"Non Santi, ucap doa ya. Percaya atau nggak, ada yang ngikuti mobil kita," kata Joko membuat tak hanya Santi yang takut, pun juga Reno.
"Kirain cuma aku yang ngerasa. Ini juga Santi doa dalam hati, Bang." jawab Santi.
"Kakak ama Bang Joko ngapain sih ngomong begituan. Reno jadi takut nih duduk sendirian pula," celetuk Reno yang memajukan posisi duduknya.
"Maaf, soalnya kakak juga kerasa sih. Oh iya, sejak kapan kamu bawa tas itu, Reno?" tanya Santi menengok ke kursi Reno.
"Tas? Tas apa sih Kak?"
"Itu sebelahmu warna put ...." Santi terdiam tak berani melanjutkan perkataannya. Tas tak mungkin ada rambutnya, bukan?
"Kakak bercanda sih. Nggak ada apa-apa hlo."
Reno tak melihat sosok putih di samping kursi tempat duduknya. Sosok itu kemudian duduk tegak dengan rambut terurai. Santi tak berani melihat ke arah Reno.
"Non Santi, doa jangan putus," bisik Joko yang ternyata juga melihat penumpang tak kasat mata itu.
Mereka melanjutkan perjalanan dengan perasaan tegang dan takut. Reno merasa bingung dengan Santi dan Joko yang terdiam serta pucat. Namun kebingungan itu terjawab saat Reno mengarahkan kamera handphone ke kursi sampingnya. Sosok putih samar-samar terlihat dengan rambut panjang.
"Ka-kakak ...." lirih Reno.
"Ya, Reno. Ada apa?"
"Tukeran kursi donk. Aku mual nih di belakang. Pusing."
"Duh, kan ini di tengah jalan turun. Nggak mungkin berhenti kan? Nanti aja kalau dah sampai bawah, ya?" jawab Santi sebiasa mungkin. Meski rasa takut menyeruak.
"Duh Kak. Aku pusing nih. Mabuk darat."
"Tumben kamu mabuk darat?" selidik Santi yang curiga.
"Mabuk darat apa sudah lihat saya? Hii hii hiii hiii hiii ...." suara makhluk gaib itu terdengar melengking.
"Waaaaa! Setaaaan!" teriak Reno langsung pingsan.
"Aaaaaaa!" Santi pun berteriak lalu tak sadarkan diri.
Joko yang ketakutan dan berkeringat dingin, mau tak mau tetap menjalankan mobil di belakang mobil Bima dan Ningsih.
"Kok sopirnya nggak teriak. Saya kurang seram ya?" tanya makhluk itu yang tiba-tiba berada di sepan kaca mobil.
"SSSEEEEETAAAAAAAAN!" teriak Joko sangat kencang bersamaan mengerem mobil secepatnya.
Bersambung ....
__ADS_1