
Gladys mengikuti perkataan Wahyu untuk tetap di rumahnya. Selama seminggu itu, mereka mengirim doa untuk mendiang Lina. Para Bibi mulai ketakutan karena banyak suara aneh di dalam kamar orang tua Gladys.
Sedangkan Wahyu di rumah meminta pertimbangan Ningsih dan Alex. Mereka berbincang bersama, Lisa dan Cahaya bermain di taman.
"Begini, Ma, Alex ... Sebelum Mamanya Gladys meninggal, beliau berpesan kalau aku harus menjaga Gladys karena dia tak memiliki siapa-siapa lagi. Ma ... bagaimana kalau aku menikahi Gladys?" tanya Wahyu pada kedua orang di hadapannya dengan serius.
"Me-menikah? Alhamdulillah kalau putra Mama mau menikah. Tak apa. Niat baik lebih baik segera dilaksanakan," jawab Ningsih dengan senang.
"Ma ... tunggu dulu. Kalau Kakak menikah dengan wanita itu hanya karena kasihan, Alex tidak setuju. Pernikahan itu bukan hal main-main. Kak, apa alasan Kakak mau menikah?" Alex langsung memprotes tindakan Wahyu yang dianggap gegabah.
"Begini ... Mama ... Alex ... kalau aku tidak menikahi dia, aku sangat takut ada hal buruk menimpanya. Kedua orang tuanya meninggal karena efek pesugihan yang selama ini Papanya lakukan," ujar Wahyu yang kemudian tertunduk. Dia teringat kejadian masa lalu. Menerima kenyataan jika ibunya pun pernah melakukan pesugihan dan menumbalkan orang lain. Jika bukan karena Mak Sri yang baik hati membawa Wahyu ke pesantren milik Kyai Ridwan, mungkin nyawa Wahyu bisa saja melayang.
"Aku rasa ... tidak ada salahnya aku menikah dengan Gladys. Dia juga butuh bantuan. Aku akan menyelamatkan dia. Dia juga berhak hidup bahagia tanpa terikat kesalahan yang orang tuanya perbuat," imbuh Wahyu sambil menatap Ningsih dan Alex.
Perkataan itu seakan belati yang menghujam jantung Ningsih. Hal yang dahulu dia lakukan dan membuat nyawa Wahyu pun terancam. Ningsih merasa matanya panas dan sebentar lagi air mata pasti menetes. Tangannya langsung menyeka ujung mata. "Alex ... jika itu keputusan Kakakmu, kita dukung saja dan doakan yang terbaik. Wahyu, hatimu memang mulia, Nak. Semoga kamu bisa menjadi imam yang baik untuk Gladys. Amin," jawab Ningsih yang tak kuasa menahan tangis haru.
Alex merangkul pundak ibunya. "Sabar, Ma. Baiklah, Kak. Alex akan dukung apa pun keputusan Kakak. Alex yakin itu yang terbaik untuk masa depan Kakak. Kakak sudah cerita ke Om Budi juga?" tanya Alex memastikan apa yang sudah Wahyu persiapkan.
__ADS_1
"Sudah. Om Budi justru sudah tahu sejak selesai ruqyah Mamanya Gladys dan ikut mendengar pesan terakhir beliau. Om Budi juga berpesan untuk minta izin ke Mama dan bilang ke Alex dulu. Jika kalian mengizinkan, aku akan mulai mempersiapkan semuanya dengan baik. Soal tempat tinggal ...." Belum selesai Wahyu bicara, Ningsih langsung memotong perkataannya.
"Di sini saja, Wahyu. Kamu baru saja membeli rumah untuk adikmu. Lebih baik kamu dan istrimu nanti tinggal sama Mama dan Cahaya, ya. Mama mohon ...." pinta Ningsih menatap putra sulungnya.
Wahyu pun menghela napas panjang, lalu menjawab, "Ma ... kalau untuk itu, mungkin akan Wahyu pertimbangkan lagi. Saat ini, Wahyu sudah menyiapkan rumah di komplek C yang sedang dibangun. Jadi, kalau Mama menginginkan tinggal di sini, mungkin sampai rumah Wahyu jadi ya, Ma?"
"Wahyu, kamu sudah beli rumah lagi? Kenapa tak bilang Mama. Ya udah, nanti Mama bantu beli perabotan rumah milikmu," ujar Ningsih yang agak kesal putranya tidak membicarakan hal itu padanya dahulu.
"Maaf, Ma. Tapi Wahyu kan sudah dewasa. Mama tak perlu khawatir. Semua sudah Wahyu pikirkan dan tabungan Wahyu cukup. Apalagi Wahyu kan punya income tiap bulan," kata Wahyu kepada ibunya.
Percakapan itu berlangsung cukup lama. Wahyu, Alex, dan Ningsih berbincang banyak hal. Meski dalam hati Ningsih rasa sakit tersisa karena perbuatannya dahulu. Tetap saja tak bisa dipungkiri, jika tidak ada pesugihan itu, berarti tidak ada Alex dan Cahaya. Ningsih hanya bisa bersyukur atas hal yang Allah berikan. Ingatan Ningsih hanya sampai di hal pesugihan. Dia tak bisa mengingat soal neraka, para iblis yang mengganggu dan lain-lain yang berkaitan dengan neraka.
Setelah tujuh hari meninggalnya ibu Gladys, mereka pun pindah ke rumah kontrakan. Gladys tak tega memecat tiga bibi, seorang sopir, dan satu satpam yang selama ini mengabdi pada orang tuanya.
"Bi, Pak, bagaimana kalau kalian tetap ikut Gladys? Meski Gladys belum bisa menjanjikan berapa jumlah gaji yang bisa Gladys berikan. Terlebih semua usaha dan perusahaan Papa bangkrut. Rumah ini akan dijual untuk uang pesangon karyawan karena pemberhentian kerja. Bagaimana Bibi dan Bapak?" tanya Gladys penuh harap.
"Maaf, Non. Bapak undur diri saja mau balik kampung," jawab Pak Sopir.
__ADS_1
"Maaf juga, Non. Bibi mau balik kampung aja. Kasihan Non kalau nanggung Bibi," kata seorang asisten rumah tangga itu. Gladys terlihat bersedih tak ada yang mau bersamanya saat susah.
"Maaf juga, Non. Bibi sudah cerita ke anak Bibi. Mereka meminta Bibi pulang saja."
"Bapak juga minta maaf, tidak bisa ikut karena ada kerjaan lain dari PT. Bapak sudah cerita keadaan di sini. Maaf banget, Non," ujar Pak Satpam sangat mengecewakan.
Hanya satu Bibi yang tetap bertahan. "Non, jangan sedih. Bibi akan menemani Non. Tak apa mulai merintis. Nanti Bibi bantu." Secercah harapan terlihat saat Bi Munah menjawab akan ikut dengan Gladys.
Percakapan itu pun terhenti dan yang tak ingin tinggal segera berkemas. Bi Munah dan Gladys juga berkemas. Mereka akan pindah ke rumah kontrakan karena rumah besar itu akan dijual. Untungnya selama ini Gladys mempunyai uang tabungan.
"Bi Munah, terima kasih banyak mau menemani Gladys," lirih gadis itu sambil memeluk asisten rumah tangganya.
"Sama-sama, Non. Semangat, ya. Meski Tuan dan Nyonya sudah berpulang ke Rahmatullah, Non tak boleh putus asa," ujar Bi Munah memberi nasehat dan semangat kepada Gladys.
Gladys bersyukur masih ada satu pegawai yang mau bersamanya. Setelah semuanya selesai dan banyak hal yang Gladys relakan untuk dilepas. Perusahaan, rumah, mobil, semua habis karena bangkrut dan untuk membayar hutang perusahaan serta pesangon para karyawan. Sebenarnya Gladys sangat sedih, tetapi dia bisa apa? Dia hanya bisa mengikhlaskan itu semua karena sudah kehendak Sang Pencipta.
"Terima kasih, Bi. Hanya Bibi yang mau bersama Gladys meski sudah bangkrut."
__ADS_1
Gladys tidak melanjutkan kuliah S2-nya untuk sementara. Dia mengambil cuti satu semester. Dia mencari rumah kontrakan di dekat jalan raya agar bisa berjualan di sana. Memulai hidup baru karena banyak hal yang harus diperbaiki. Gladys mulai berpikir, jadi selama ini semua kemudahan itu karena pesugihan. Dia bersyukur masih hidup, meski harus merintis semuanya dari nol.
"Papa ... Mama ... semoga Allah mengampuni dosa kalian. Doakan aku agar bisa menjadi ornag berguna dan menjadi wanita yang lebih baik dari sebelumnya," batin Gladys saat membereskan kamarnya dan menatap foto keluarga.