JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
BAB 146


__ADS_3

🍀SENGSARA DALAM NIKMAT - PART 2🍀


Malam pertama dilalui oleh Ningsih dan Joko, meski sebenarnya Bimalah yang berada dalam tubuh Joko. Pagi itu, ketika matahari mulai menembus sela jendela ... Joko terbangun dengan tubuh yang lemas dan terasa sakit di beberapa sendi tubuhnya. "Ni-Ningsih ...." lirih Joko memanggil istrinya yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Ningsih sudah terlihat segar dan semangat untuk menjalani hari pertama dari ketujuh hari yang harus dia selesaikan demi Bima. Semalaman, Ningsih bertaut kasih dengan suami gaibnya dalam tubuh Joko. Tentu saja energi Joko terkuras banyak. Bahkan, bagi manusia yang sering dirasuki makhluk gaib, bisa berakibat fatal karena semakin lama hawa kehidupannya meredup.


"Selamat pagi, Joko. Kamu hebat sekali semalam. Hari ini banyak pekerjaan menantiku. Kamu segera mandi, ya. Kita berangkat ke resto dan sebelum buka bisa sarapan dulu." ucap Ningsih sambil mengecup pipi Joko. Bukan keinginan Ningsih melakukan itu, Bima yang menyuruhnya. Seperti percakapannya semalam saat Bima masih dalam tubuh Joko.


"Ningsih, bersikap baiklah pada Joko. Pura-puralah bahwa dia yang menyentuhmu sepanjang malam. Buat agar dia bingung karena tubuhnya pasti melemah karena kupakai sepanjang malam. Hal ini untuk melancarkan aksi kita." kata Bima yang setengah memerintah. Mau tak mau, Ningsih harus turuti demi kebaikan bersama.


"Hmm, baiklah. Apa yang nggak buat kamu, Bima. Tapi janji jika hal ini hanya tujuh hari. Aku tak mau berlama-lama dengan Joko," celetuk Ningsih yang sebenarnya risih dengan tubuh Joko.


"Aku berjanji."


Ningsih mengingat betul percakapan semalam, jadi dia berpura-pura seakan Joko yang melakukan semuanya. Joko pun mengernyitkan dahi, seakan tak mengerti apa yang Ningsih katakan.


"Maksudmu? Apa yang aku lakukan semalam? Kurasa, tadi sore itu ... emm, kemarin sore seakan aku pingsan." tutur Joko sembari bangkit dari tempat tidur dan melangkah ke kamar mandi dengan gontai. Tubuhnya seakan lemas, dan kehabisan tenaga.


"Sayang, mengapa kamu justru balik bertanya? Jadi sepanjang sore hingga subuh yang kita lakukan telah kamu lupakan? Malam pertama kita setelah menikah, kamu tak ingat, ha!" teriak Ningsih seakan emosi lalu bersedih. Ningsih pun duduk di depan meja rias dan menangis. Dia hanya berpura-pura agar Joko tak bertanya lagi.


"Maaf, sayang. Maafkan aku. Aku kecepekan ini. Maaf, ya. Aku mandi dulu, lalu kita segera berangkat. Jangan sedih." lirih Joko sambil mengelus pundak Ningsih, khawatir jika istrinya merajuk.


Ningsih jelas hanya terdiam agar Joko merasa bersalah. Semua berjalan sesuai yang Ningsih harapkan. Seusai mandi, Joko langsung bersiap dan mengajak Ningsih berangkat karena mereka hendak sarapan. "Ayo berangkat, Ningsih. Sudah jam tujuh." ucap Joko yang kemudian menggandeng tangan wanita yang menjadi miliknya sekarang.


"Puaskan saja menggenggam tanganku. Hari ketujuh, semua penderitaanku akan berakhir. Nikmati saja semua ini yang berujung pada kesengsaraan," batin Ningsih sambil menatap Joko kesal.


Joko dan Ningsih sarapan terlebih dahulu. Herannya, Joko tak pernah merasa selapar ini. Dia makan sangat banyak. Bahkan sudah dua porsi habis, tetapi belum juga kenyang. Akhirnya Joko memesan satu porsi lagi. Setelah selesai makan pun, Joko terlihat seperti orang kurang tidur. Matanya terlihat berkantung dan agak menghitam seperti orang kelelahan.


Sesampainya di restauran, Joko belum berani masuk karena malu akan kejadian yang terjadi tempo hari. "Ningsih, bagaimana kalau aku menunggu di luar saja. Atau aku mengunjungi tempat yang sedang kuincar sebagai tempat kerja?" tanya Joko saat Ningsih hendak turun dari mobil.

__ADS_1


Ningsih ingin sekali menjawab terserah, tetapi sesuai perkataan Bima, dia pun menjawab, "Tidak usah bekerja. Temani aku saja. Kalau tidak ingin masuk, pulang ke rumah juga nggak apa. Istirahatlah, kamu capek, 'kan, sayang?" lirih Ningsih yang sangat menyakinkan Joko jika istrinya mencintai lelaki itu.


"Baik, sayang. Aku pulang rumah saja. Hubungi aku jika hendak pulang." jawab Joko yang kemudian berlalu. Sepanjang perjalanan, Joko tertawa bangga atas pencapaiannya.


Joko berbicara dengan diri sendiri sambil tertawa terbahal-bahak. "Joko ... Joko ... pintar sekali kamu! Dapat istri cantik, bahenol, kaya raya, dan baik hati pula! Beda jauh, 'kan, sama Tante Silvimu yang justru meninggalkan begitu saja dan mencoba membunuhmu! Ha ha ha ...." Saat Joko asyik dengan pemikirannya sendiri, dia lupa jika sejak kemarin Santi mengiriminya pesan dan belum dia baca.


5 Pesan diterima


Santi: [Asalamualaikum, Bang Joko apa kabar?]


Santi: [Bang, semoga baik-baik saja di sana dengan Abah, Ibu, dan Nindy. Santi beberapa hari ini mimpi buruk. Tolong Abang beri kabar jika sudah membaca pesan ini.]


Santi: [Bang, kenapa Nindy juga nggak tahu Abang di mana? Tolong balas. Sebenarnya ada apa? Jangan dekat-dekat Tante Ningsih, Bang. Santi tak mau Bang Joko celaka.]


Santi: [Bang, apa benar kalau Bang Joko menikah dengan Tante Ningsih? Jangan lakukan itu! Baru saja PakLek Darjo menerawang, tolong katakan kalau itu salah, Bang.]


Pesan yang belum dibuka itu akhirnya Joko baca setelah sampai di rumah Ningsih. Joko menyeduh kopi dan duduk di teras sambil membuka gawainya. Saat membaca satu per satu pesan itu, bukannya segera hubungi Santi, justru Joko tertawa. "Ha ha ha ha ... nasib mujur aku ini. Disukai tante dan ponakan sekaligus. Maaf, ya, Santi. Bang Jokomu ini lebih memilih yang tinggal petik. Sudah terbukti kwalitasnya. Ha ha ha ...."


Joko pun kembali menyeruntup kopinya. Lalu dia masuk dan mengambil beberapa cemilan yang ada. Hidup sebagai raja sangatlah enak. Tanpa Joko pahami dia sedang sengsara dalam nikmat yang cepat atau lambat dituainya.


Joko dengan santai membalas pesan Santi. Seakan tak terjadi apa pun dengannya.


Joko: [Maaf baru membalas karena kesibukan. Jangan percaya penerawangan dan sebagainya. Bang baik-baik saja hanya sedang tak enak badan. Santi jaga kesehatan di sana.]


Joko tersenyum saat mengirim pesan itu. Sedangkan dari dekat Joko, ada Bima yang memperhatikan.


"MANUSIA SATU INI TERLALU PERCAYA DIRI. KESOMBONGANNYA MEMBUAT LANGKAH KAKI SEMAKIN DEKAT DENGAN NERAKA. CUKUP TUJUG HARI SAJA, MAKA AKU AKAN MENUAI JIWAMU YANG PENUH DOSA. APA YANG KAU LAKUKAN DAHULU AKAN SELAMANYA MENGHANTUIMU!" gumam Bima saat melihat kelakuan Joko. Bima menyukai segala kejahatan Joko yang pastinya akan menambah energi Bima.


Joko pernah mengelabui beberapa wanita, menghamili dan tak bertanggung jawab. Dia juga menyebabkan seorang gadis bunuh diri, bahkan membuat keluarga menjadi tak harmonis. Pemikirannya yang penuh napsu dan memaksa Ningsih melakukan apa yang dia mau. Kemudian membunuh orang secara tak langsung. Dosa yang tak disadari maupun yang disadari tetapi tak dimohonkan ampun kepada Sang Pencipta, semakin menumpuk dan membuat Iblis senang menuainya.

__ADS_1


***


Hari Ketujuh ....


Sudah tujuh hari Joko memiliki Ningsih. Dia selalu berpikir akan bahagia bersama wanita yang diidamkannya. Namun, kenyataan berbalik. Semakin hari, kondisi Joko semakin lemah. Tubuh Joko semakin ringkih dan kurus. Bahkan dia selalu tak ingat apa yang terjadi malam hari saat bersama Ningsih. Hal yang mulai tak wajar ini membuat Joko bertanya-tanya dalam hati.


"Ningsih, aku hendak ke rumah Abah. Kamu mau ikut?" tanya Joko pada istrinya saat hendak pergi ke resto.


"Nggak, ah. Hari ininada penerimaan barang juga. Kamu sendiri aja yang ke rumah. Salam ya untuk keluarga di rumah," jawab Ningsih yang mulai cuek.


Hari ini sengaja Joko minta untuk pulang ke rumahnya. Ningsih mengiyakan saja tetapi tak ikut dengan alasan sibuk di resto. Semua itu Ningsih lakukan karena hari ini waktu yang Bima dan Ningsih tunggu. Joko mengendarai mobil sendirian menuju rumahnya. Tangannya gemetar saat mengendarai mobil.


"HARI INI, SAATNYA AKU MENUAIMU. TUMBAL KETUJUH!" kata Bima sebelum mencabut nyawa Joko dengan cara yang mengerikan.


Seketika, saat Joko menguap karena letih dan kantuk, sebuah mobil pengangkut bahan bakar minyak menabrak mobil Joko. Dalam sekejap, mobil yang digunakan Joko ringsek dan membuat Joko terhimpit antara body mobil dan kursi. Dia tak bisa melepaskan diri dari sana. Mobil BBM itu pun mengeluarkan cairan dari tangkinya yang besar. Entah percikan api dari mana yang akhirnya menyulut ledakkan.


Joko yang masih sadar dan hidup mencoba keluar dan berteriak, tetapi tak ada yang mendengar atau menolong. Dia terbakar hidup-hidup. Merasakan panas dan perih ke sekujur tubuhnya saat terbakar dan akhirnya meninggal dalam sengsara yang amat dalam.


Bima masih di sana. Dia menghirup semua energi dan dosa Joko. Lalu melemparkan Joko ke neraka lapis ketujuh. Bima pun tertawa karena energinya penuh. "HA HA HA ... AKHIRNYA TENAGAKU PULIH 100% SELAMAT TINGGAL LELAKI MESUM TAK BERGUNA! SEMOGA BAHAGIA DI NERAKA MILIK TUAN CHERNOBOG!" kata Bima dengan senang.


Ningsih merasakan hal itu. Dia pun tersenyum karena lemari sesajinya akan penuh dengan uang dan emas. Seperti biasa, tumbal yang dia berikan akan diganti dengan kekayaan. Kali ini, semua akan berubah karena Tuan Chernobog tak akan menunggu lama untuk mengambil si pembuat perjanjian yaitu Ningsih.


Kecelakaan tragis Joko langsung masuk berita terkini. Santi dan Reno yang melihat televisi saat hendak pergi dari pesantren. Betapa terkejutnya mereka saat melihat mobil yang memiliki plat nomor seperti milik Tante Ningsih terbakar dan mereka mendengar jika korbannya lelaki seumuran Joko. Santi langsung panik dan pingsan. Ridho dan Budi langsung menolongnya.


Mereka semua memang berencana akan ke Jakarta untuk menolong Ningsih setelah beberapa hari ini melakukan semedi untuk mencari petunjuk dari Sang Pencipta. Tak disangka, Iblis yang menjerat Ningsih sudah mengambil tumbal ketujuhnya. Hal ini semakin membahayakan nyawa Ningsih. Meski Iblis itu mencintai Ningsih, tetapi tidak berlaku dengan tuan dari si Iblis itu.


Kyai Anwar, Budi beserta kelima santri, serta PakLek Darjo akan mencoba menyelamatkan Ningsih. Mereka tak akan menyerah begitu saja. Seperti halnya Bima yang tak akan menyerah pada keadaan untuk tetap bersama Ningsih.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2