
...🔥 Dinda dan Keputusannya 🔥...
Melihat kehidupan keluarga mendiang Via menderita, Dinda sangat senang dan puas. Dia berhasil membuat korbannya semakin banyak dan menderita. Kesengsaraan, kesedihan, dan amarah menjadi sumber energi bagi wanita iblis itu untuk semakin kuat.
Pada dasarnya, setiap manusia memiliki pilihan. Bertahan menjalani takdir dan berjuang sebaik mingkin atau justru menyerah dan mencari jalan keluar dari kesusahan yang bersifat sementara. Tak hanya soal pesugihan, pelet pesona, atau santet, tetapi juga usaha curang manusia seperti korupsi, fitnah demi terlihat baik, dan tindak kejahatan membunuh atau mencuri juga menjadi tindakan jalan keluar sementara yang membuat orang lain sengsara. Ketika manusia memilih hal buruk itu, tak hanya dirinya sendiri yang masuk dalam jurang dosa, pun juga keluarganya yang ikut menikmati menjadi menanggung kesalahannya.
Seperti keluarga Via yang juga menanggung kesusahan bertubi-tubi setelah Via meninggal. Bapak dan ibu mulai ketakutan tinggal di rumah perumahan yang Via beli dengan hasil uang terima kasih yang katanya telah menyelamatkan Dinda.
"Pak, kalau seperti ini terus, mending kita pindah rumah saja. Sepertinya tidak beres ini rumah. Kasihan Theo juga sakit-sakitan terus," ucap ibu saat bersantai selepas makan malam di ruang makan bersama suami dana anak-anaknya.
"Iya, Pak. Fafa setuju. Fafa udah nggak betah diganggu hantu Kak Via di sini," sahut anak kedua mereka.
"Hust! Ngawur aja! Mana ada Kakakmu jadi hantu? Itu ulah jin yang menyerupai Kakakmu. Bapak juga lagi memikirkan mau jual rumah ini. Lagi pula sudah beberapa waktu ini usaha laundry Ibu dan taksi online Bapak tidak berjalan. Kalian tidak apa, kan, kalau pindah rumah?" kata Bapak sambil menyeruput secangkir kopi.
"Iya, Pak. Theo mau pergi dari sini. Serem lihat hantu. Mending rumah kita dulu nggak ada hantu," ujar anak bungsu mereka.
Saat membicarakan itu, tiba-tiba ada suara gaduh di dapur seperti panci yang jatuh. Lalu, terdengar sayup-sayup suara mirip dengan Via.
"Jangan tinggal aku ... tolong ... sakit ... panas ... tolong aku ...."
Seketika bapak, ibu, Fafa, dan Theo saling pandang dan langsung lari keluar rumah dengan berteriak.
"Hantu!"
"Se-setan!"
"Kyaaaaa!"
"Seeetaaannn!"
Mereka berempat seketika kompak menjadi penakut. Teror hantu Via sangat nyata sampai tidur pun mereka tak nyenyak. Saat keluar dari rumah, tak sengaja mereka menabrak seseorang. Lelaki tampan dan gagah dengan lesung pipi mempesona.
"Ada apa, Pak, Bu, dan adik-adik? Kok, lari-lari malam begini?" tanya lelaki itu dengan sopan.
"A-ada ... ada hantu, Mas!" sahut bapak yang masih mengatur napas karena habis berlari ketakutan.
__ADS_1
"Hantu? Di mana hantunya? Aku boleh mengecek ke sana?"
"Bo-boleh. Boleh banget, Mas. Kami ini sudah kena teror hantu sejak anak sulung meninggal kecelakaan dan terbakar di dalam mobil. Sekarang rumah kami jadi horor dan sering ada penampakan serta suara tak jelas," tutur bapak yang masih dengan napas memburu.
"Tenang, Pak. Aku akan pastikan hantunya pergi. Namaku Boy." Lelaki itu mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan bapak itu.
Ya, Boy kembali ke Indonesia saat tahu Dinda membuat ulah. Tentu tidak sulit baginya untuk pergi mencari tahu di mana Dinda. Namun, Boy merasa harus membantu keluarga itu. Mereka memang sudah ditakdirkan hidup sederhana, tetapi bukan berarti harus menderita karena ulah anaknya, bukan? Boy berpikir setiap manusia memiliki kesempatan untuk bertaubat. Apa pun keadaannya, apa pun agamanya, apa pun kesalahannya, mereka masih bisa ditolong dengan bertaubat.
Sesampainya di rumah yang pintunya terbuka lebar, Boy pun memeriksa. Ternyata hantu Via sudah pergi. Dia muncul karena tahu keluarganya berencana hendak pindah rumah dari sana. Via merasa belum ikhlas pergi sendirian dan tersiksa di neraka.
"Pak, Bu, lebih baik kalian bawa anak-anak untuk segera pindah dari sini. Malam ini, kemungkinan hantu itu tidak akan muncul. Namun, tidak menutup kemungkinan besok bisa kembali muncul," jelas Boy yang kemudian berpamit pergi.
Keluarga Via pun segera menghubungi pihak pemasaran rumah untuk menjual rumah itu dan mencari rumah yang lebih kecil untuk tempat tinggal. Setelah itu, mereka tidur nyenyak karena gangguan berhenti. Setidaknya malam ini mereka bisa memejamkan mata.
...****************...
Boy mencari keberadaan Dinda. Saat dua makhluk beda dunia itu bertenu, Dinda justru marah besar. "Apa-apaan, sih, ikut campur! Aku nggak suka! Kembali saja sana ke Korea Selatan!" gertak wanita iblis itu saat melihat Boy datang menemuinya.
"Maaf, Dinda ... aku tidak bermaksud membuatmu marah. Tapi ... aku tidak tega dengan keluarga itu. Kamu sudah mendapat tumbal banyak dan anak sulung keluarga itu sudah bersamamu. Tolong, lepaskan mereka," lirih Boy mencoba merayu Dinda agar berubah pikiran.
"Sayang ... kasihan mereka. Hidup mereka sudah cukup susah. Terlebih kehilangan putri sulung. Tolong jangan seperti itu," rayu Boy kembali tetapi tidak mempan.
"Terserah kamu mau bilang apa. Aku tak peduli! Ini keputusanku. Kamu tidak bisa memadamkan api neraka dengan bujuk rayumu!" Dinda pun hendak pergi. Boy langsung menahannya dengan memegang erat tangan kekasihnya itu.
"Baik. Baik. Aku tidak akan memaksa. Namun, kalau aku ingin bertukar tempat, apakah kau izinkan? Jiwa empat manusia itu tolong bebaskan. Sebagai gantinya, aku akan ikut kau ke neraka. Bagaimana?" Boy tak punya pilihan lain demi menyelamatkan keluarga itu.
Dinda terbelalak mendengar perkataan Boy. Dia pun menatap Boy dengan tatapan tak mengerti. Mengapa Boy rela menukar jiwanya demi empat manusia itu? Dinda pun memeluk erat kekasihnya.
"Jangan ... jangan, Boy. Aku memang jahat dan kejam. Namun, aku tidak bisa membawamu ke neraka. Tempat itu terlalu buruk untukmu yang terlalu baik," bisik Dinda yang menahan air mata. Dia merasa bersalah terhadap kekasihnya yang sudah datang demi menemui dirinya.
"Kalau begitu ... aku mohon, bebaskan mereka berempat. Kali ini saja, kumohon. Biarkan mereka menikmati hari yang tersisa dengan kehidupan yang sudah digarikan takdir," pinta Boy dengan serius.
Dinda pun gemetar untuk menjawa. Daripada kekasihnya yang dibawa ke neraka, dia memilih untuk mengubah keputusannya. "I-iya ... Iya, Boy. Aku akan melepaskan mereka berempat. Tapi semua harta dari Via akan kuambil paksa."
Boy pun memeluk kekasihnya lebih erat lagi. Dia merasa senang berhasil menyelamatkan empat jiwa itu. "Terima kasih, Dinda. Terima kasih, Sayangku. Aku mencintaimu," seru Boy dengan girang.
__ADS_1
Malam itu, keputusan Dinda si wanita iblis yang terkenal kejam sebagai Nyi Pelet akhirnya berubah karena rasa di hatinya. Rasa yang tak seharusnya ada bagi kaum iblis. Rasa cinta pada Boy melebihi segalanya. Dinda baru sadar jika cinta itu mematikan. Lebij bahaya dari racun atau cambuk. Cinta bisa mengubah segalanya. Lebih baik atau lebih buruk.
Keesokan harinya ....
Keluarga Via berkemas untuk meninggalkan rumah itu karena sudah dijual secara cepat oleh pemasaran perumahan. Mereka pun pindah ke rumah yang lebih kecil di pinggiran kota. Ibu Via memulai berencana untuk merintis usaha jualan lotek dan lotisan buah di depan rumah. Kemungkinan akan mulai minggu depan karena perlu pendekatan dengan warga sekitar terlebih dahulu. Sedangkan bapak Via memulai taksi online seperti biasa. Namun, ada satu hal yang mereka belum sadari, mobil dan uang hasil dari Via akan segera lenyap sesuai apa yang Dinda katakan.
Theo yang tadinya sakit-sakitan, sudah merasa lebih baik setelah pindah rumah. Hari pertama pindahan berjalan lancar. Mereka senang dengan rumah baru itu. Bangunan kecil, nyaman, dan asri. Cukup untuk tinggal keluarga kecil itu.
"Nak, mulai sekarang kita tinggal di sini, ya. Harus membiasakan diri," kata bapak setelah menata barang-barang di rumah baru.
"Siap, Pak. Theo suka di sini. Badan Theo tidak sakit lagi," sahut anak bungsunya.
"Iya, Pak. Lebih baik tinggal di rumah seperti ini. Ibu juga mau rencana jualan. Jadi pas kan di tempat padat penduduk seperti ini," ucap Fafa membenarkan ucapan adiknya yang suka di rumah baru itu.
Dari kejauhan, Boy tersenyum menatap keluarga itu. Dia senang jika bisa membantu jiwa keluarga itu selamat dan mereka bisa melanjutkan hidup dengan baik.
Dinda pun terdiam melihat kekasihnya yang begitu baik. Dia tak menyangka kebaikan hati Boy akhirnya membuat Dinda luluh dan mengurungkan niat untuk mengambil empat jiwa itu. Meski seharusnya dia tak berbuat demikian.
"Dinda, apa yang kamu rasakan melihat mereka aaat ini?" tanya Boy pada kekasih yang ada di sampingnya.
"Tidak merasa apa-apa. Hanya saja rasanya aneh. Kenapa?" Dinda balik bertanya pada lelaki tampan itu.
"Aneh bagaimana? Mereka terlihat bahagia, bukan?"
"Hmmm ... iya. Mereka terlihat bahagia. Meski sebentar lagi harta mereka akan kuambil lagi. Aku akan menyisakan rumahnya saja," ucap Dinda yang belum memahami perasaannya.
"Iya, tidak apa. Tapi ... apakah sekarang kamu senabg melihat mereka bahagia?" selidik Boy membuat Dinda terdiam sejenak sambil meraba dadanya.
"Aneh. Rasanya aneh."
"Iya, itu rasanya bahagia melihat orang lain bahagia. Kamu belum terbiasa merasakan itu, ya?"
Dinda pun terdiam dalam pergolakkan batinnya. Boy mampu mengubah keputusan Dinda. Mampu mengubah hati Dinda yang sekeras batu. Dinda merasakan bahwa hal yang disebut perasaan bisa saja berubah dengan ajaib. Wanita iblis yang sejak dulu sangat kejam menjadi luluh karena sikap dan sifat lembut dan baik hati dari lelaki yang menjadi kekasihnya. Perasaan dan cinta memang hal yang tak logis, tetapi selama memberikan dampak baik dalam hidup orang lain, bukankah tak apa?
Dinda merasa ada yang berubah dalam cara berpikirnya. Dia merasa hal itu salah, tetapi benar. Ternyata melihat orang lain tersenyum dan bahagia lebih baik dari pada melihat orang lain menangis dan hidup dalam penderitaan abadi.
__ADS_1