JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
JERAT IBLIS - 2 - BAB 99


__ADS_3

...šŸ”„PIKNIK JADI PANIKšŸ”„...


Nuansa pantai yang tidak begitu ramai membuat Bima dan keluarganya senang bermain dan memikmati angin sore di sana. Menatap Ningsih yang tersenyum dan kedua putranya yang berlarian membuat hati Bima rasanya tenang dan nyaman.


"Manusia bisa saling mencintai dan bahagia jika bertemu dengan pasangan yang tepat. Semua yang Snowice perlihatkan adalah hal buruk. Jika salah pilih pasangan, mungkin bisa terjadi banyak kesedihan. Tapi tidak dengan hidupku dan Ningsih. Kami akan bahagia bersama anak-anak," batin Bima yang mantab dalam hatinya.


"Ayo ke sana! Kita balapan ke sana, ya?" ajak Wahyu pada adiknya.


"Ayo, Kak! Siapa takut!" seru Alex.


Mereka berdua pun berlari bersama menuju ke tepi laut perbatasan pantai. Wahyu dan Alex berlomba untuk memunguti kerang-kerang yang terlihat di pasir saat ombak surut. Saat sampai di sana, mereka langsung bergegas mengambil beberapa kerang yang sangat bagus dan berwarna-warni. Alex pun berminat pada satu kerang berwarna merah muda yang ukurannya cukup besar.


Alex berjalan lebih dekat ke air laut. Saat dia hendak mengambil kerang tersebut, tak disangka ombak datang begitu cepat. Wahyu mencoba menarik tangan adiknya, tetapi dia kalah cepat dengan ombak yang bergulung dan menerpa tubuh Alex yang sedang membungkuk.


"Aaa ... tolong!" teriak Alex saat ombak berderu menerpa tubuhnya.


Ombak itu menggulung tubuh Alex seketika. Wahyu segera menolong, tetapi dia juga kurang mahir dalam berenang. Mereka berdua terseret ombak.


Ningsih yang melihat kejadian itu langsung panik dan meminta Bima untuk menolong kedua putranya. Benar saja, Bima langsung berlari sekuat tenaga untuk menolong. Tak hanya Bima, ada beberapa orang pengunjung pun yang mencoba menolong Alex dan juga Wahyu yang terkena debur ombak. Meski usia mereka sudah remaja, tetapi memang ombak laut tidak bisa prediksi keganasannya.


Tanpa pikir panjang, Bima langsung menerjang deburan ombak itu dan mencari kedua putranya yang terseret arus ombak. Bima tak gentar atau takut, sebagai seorang ayah. Bima langsung meraih kedua putranya itu dan mencoba kembali. Salah seorang pengunjung pantai membantu Bima karena bisa berenang cukup baik. Setelah perjuangan yang cukup mendebarkan, Wahyu dan Alex bisa dibawa ke pantai. Bima dan seseorang yang menolong itu bergegas mengeluarkan air dari tubuh Wahyu dan juga Alex dengan menekan bagian perut dan juga dada.


"Uhuk ... uhuk ...." Wahyu dan Alex batuk-batuk dan kemudian sadar karena air sudah keluar dari tubuh mereka.


"Wahyu, Alex, syukurlah kalian selamat. Mama sangat khawatir," ujar Ningsih yang langsung mengelus kening kedua putranya bergantian.


Bima merasa lega anaknya selamat. Dia langsung berterima kasih pada semua orang yang sudah menolong. "Terima kasih bantuannya. Putra kami bisa selamat," kata Bima sambil menunduk berterima kasih.

__ADS_1


"Sama-sama, Mas. Itu anaknya dikasih tahu kalau di Pantai Selatan jangan pakai pakaian warna hijau. Rawan di sini, tuh. Tak percaya, sih, nggak apa. Tapi pasti ada aja kejadiannya," jelas lelaki yang tadi membantu menyelamatkan Alex.


Bima sebenarnya tak ingin membahas hal seperti itu, meski dia tahu benar yang dikatakan lelaki tersebut. "Iya, Mas. Maaf ya dan terima kasih sudah diingatkan," pungkas Bima yang kemudian membuat orang-orang pergi setelah memastikan kedua putra Ningsih baik-baik saja.


"Pa-Papa ... maaf," lirih Alex yang masih lemas.


"Kenapa minta maaf? Sudah tak apa. Terpenting kalian selamat. Sekarang segera mandi dan ganti pakaian, kita bergegas pulang saja, ya?" Bima mengambil keputusan untuk pulang. Dia tak bisa berbuat banyak karena seluruh kekuatannya hilang saat menjadi manusia. Dia pun takut jika ada hal buruk menimpa keluarganya.


Setelah mandi dan berganti pakaian, mereka bergegas perjalanan pulang. Keluarga kecil itu memutuskan untuk pulang dan makan malam di kota saja. Perjalanan dengan mobil itu terasa sepi karena Wahyu dan Alex tertidur karena kelelahan. Ningsih menemani suaminya yang sedang menyetir mobil.


Bima sangat takut kehilangan keluarganya. Sebenarnya apa yang dikatakan bapak-bapak yang menolong tadi adalah benar. Bima tadi melihat sosok bergaun hijau yang hendak membawa Alex pergi masuk ke dalam lautan lebih dalam. Saat Bima menolong Alex, dia hampir saja kehilangan anaknya itu. Bima hanya bisa menyakinkan diri bahwa dia mampu menarik Alex kembali pulang. Saat itu, Bima terpaksa berseru jika Alex adalah milik Tuan Abaddon dan tak ada makhluk lain yang boleh mengambilnya. Makhluk denhan gaun hijau itu langsung melepaskan Alex saat mendengar nama Tuan Abaddon.


Hal itu yang membuat Bima takut. Dia menjadi manusia biasa dan tak memilii kemampuan lebih. Bagaimana jika keluarganya dalam bahaya? Apakah dia bisa menolong keluarganya? Lamunan Bima sepanjang perjalanan terhenti saat Ningsih berucap.


"Papa, terima kasih, ya. Sudah menemani ke pantai dan menyelamatkan anak-anak tadi," kata Ningsih yang sangat terharu dengan tindakan suaminya menyelamatkan kedua putra mereka.


"Hmm, iya, Mama. Sudah kewajiban Papa seperti itu, kan?" jawab Bima sambil tersenyum.


"Mama, doa saja. Kita akan baik-baik saja. Setelah ini, kita makan malam lalu istirahat, ya? Pasti semuanya lelah," timpal Bima yang sengaja memutus perkataan Ningsih. Dia tak mau istrinya berpikir yang tidak-tidak.


...****************...


Malam hari pun semakin larut. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Ningsih dan Bima sudah bersiap tidur karena aktivitas seharian yang melelahkan. Alex dan Wahyu juga sudah tidur di kamar mereka masing-masing.


Bima membelai rambut istrinya perlahan. Dia senang bisa bersanding dengan Ningsih lagi. Wanita satu-satunya yang dia cintai. "Ningsih, apakah kau bahagia bersamaku?" tanya Bima membuat Ningsih mendongakan wajahnya menatap suami tercinta.


"Tentu aku bahagia. Mengapa tanya begitu, Pa?" Ningsih tak mengerti apa maksud Bima.

__ADS_1


"Aku takut tidak bisa membahagiakan atau melindungimu beserta anak-anak kita," jawab Bima yang sedikit gentar dengan perasaannya sendiri.


"Sayang, mengapa berpikir seperti itu? Kami bahagia bersamamu dan kamu adalah suami serta ayah terbaik untuk kami. Jangan berpikir seperti itu. Kamu sudah berikan yang terbaik untuk kami," kata Ningsih yang langsung duduk dan menatap suaminya.


"Ningsih ... bagaimana kalau kita tidak bisa selalu bersama? Bagaimana kalau suatu saat nanti kita terpisah?" Bima menerawang jauh dengan pandangan nanar.


"Sayang, kita akan selalu bersama. Jangan berkata seperti itu." Ningsih berusaha menghibur suaminya.


"Bagaimana jika tidak? Bagaimana kau tahun depan kita tak bisa bersama lagi?" Bima langsung menatap tajam istrinya. Wanita itu terdiam sejenak sebelum akhirnya angkat suara.


"Jika hal itu yang akan terjadi ... Bima sayang, hamili aku. Aku ingin memiliki anak perempuan yang cantik. Aku ingin kita memiliki seorang putri yang akan membuatmu terus bertahan di sampingku."


Mendengar jawaban Ningsih yang tak terduga membuat hati Bima luluh. Perasaan yang tadi berkecamuk karena takut dan bimbang, kini langsung hilang. Bima membelai wajah Ningsih perlahan. "Apakah ini yang kamu inginkan, Sayang?"


"Iya ... aku ingin kita memiliki seorang putri. Bima ... aku mencintaimu."


Bima pun langsung mengecup bibir istrinya. Mereka berpagut mesra. Cinta yang begitu mendalam bagi mereka adalah hal yang suci. Bima dan Ningsih terhanyut dalam perasaan dalam, lalu perlahan melepas satu per satu kain di tubuh mereka. Kali ini, Bima melakukan hubungan dalam kondisi manusia seutuhnya. Apakah mungkin anak yang akan dikandung oleh Ningsih juga manusia seutuhnya, tidak seperti Alex? Bima memikirkan hal itu.


Ningsih menikmati setiap sentuhan dan kecupan suaminya. Mulai dari bibir, leher, dan turun ke bagian bawah. Bima pandai membuat Ningsih meronta. Sebenarnya, dia memang menginkan anak perempuan untuk menjadi adik bungsu Wahyu dan Alex. Bagi Ningsih, keluarganya akan bahagia dan bisa bersama selalu. Bima pun segera memasukkan miliknya ke dalam Ningsih. Setelah cukup lama, mereka pun merasakan pelepasan bersama.


Bima menggenggam erat tangan istrinya. Berharap tak hanya setahun bersama Ningsih. Dia juga ingin merasakan menemani istrinya yang sedang hamil, menemani persalinan, dan menimang buah hati mereka seperti manusia pada umumnya. Saat Alex lahir, Bima tak bisa melakukan semua itu karena dia hanyalah iblis. Alex pun keturunan iblis. Tidak melewati fase pertumbuhan yang normal. Bima ingin merasakan menjadi suami dan ayah normal seperti manusia. Harapan yang tak berlebih, tetapi sangat sulit menjadi nyata.


...****************...


Snowice ternyata memperhatikan Bima dari kejauhan. Dia tahu jika Ningsih menjadi alasan utama Bima mau berkorban segalanya. Dia melihat Bima yang bergumul dengan Ningsih. Bukan karena nafsu, lelaki itu melakukan dengan cinta dan perasaan yang sangat lembut. Jarang ada manusia seperti itu karena sebagian besar melakukan hubungan dengan emosi dan nafsu yang besar. Entah ditunjukkan atau disembunyikan, Snowice tahu itu.


Snowice--iblis yang dingin itu pun tersenyum. Dia merasa Tuan Abaddon memang cerdik. Snowice kini paham mengapa Tuan Abaddon memberi kesempatan Bima dan Alex mengalami kehidupan menjadi manusia selama setahun.

__ADS_1


"Tuanku memang pandai dan cerdik. Dengan seperti ini, Bima dan Alex akan terjebak dalam pilihan yang tidak akan ada untungnya. Jika mereka menjadi manusia selamanya, kekuatan mereka akan menjadi Tuan Abaddon dan tidak ada yang menjamin perlindungan keluarganya. Namun jika mereka kembali menjadi iblis agar bisa melindungi keluarganya, mereka harus menjadi pengabdi Tuan Abaddon. Ha ha ha ha ... rencana ini sungguh matang dan mengasyikkan. Aku akan menjadi pengamat dan penonton terdepan," gumam Snowice yang memahami apa yang Tuannya kerjaakan. Iblis itu pun menghilang dan kembali ke Gunung Everest untuk menjaga wilayahnya.


Tugas Snowice memang menjaga wilayah puncak gunung tertinggi itu. Tuan Abaddon senang akan pengabdian iblis itu. Snowice adalah iblis murni. Dia dahulu adalah salah satu kawan Taun Abaddon selama menjadi malaikat sebelum dibuang. Snowice dahulu berwujud malaikat cantik yang selalu menemani ke mana Tuan Abaddon pergi. Saat tahu Tuan Abaddon dibuang dari Surga, Snowice rela mengikuti ke mana Tuan Abaddon pergi dan rela meninggalkan Surga.


__ADS_2