
Ruangan sepi dan gelap. Itulah yang bisa Ningsih rasakan saat membuka matanya. Tak bisa bergerak! Tangan dan kaki Ningsih diikat di setiap sudut tempat tidur, mulut Ningsih dijejali kain tebal. Ningsih memandang ke semua sudur ruangan, kosong, sepi.
Bima ... tolong aku ... suamiku ... please, datang, aku dalam bahaya ....
Berulang kali Ningsih berteriak dalam batinnya. Namun tak ada respon dari Bima. Di manakah Bima?
Ningsih sangat takut ketika tersengar suara pintu terbuka. Ningsih memejamkan mata, seolah-olah masih pingsan.
Samar-samar, terdengar percakapan dua orang lelaki.
"Harusnya lekas kau bunuh perempuan itu."
"Tidak, aku ingin memilikinya. Biar dia di sinj bersamaku!"
"Dasar tak berguna! Kau lihat, dia perempuan berbahaya!"
"Aku tahu. Namun aku ingin bersamanya. Meski nyawa taruhannya."
"Gila kau Satria! Kau tahu kan, dia mempunyai suami Jin yang kuat."
"Tenang. Soal itu, sudah dibereskan oleh seorang kenalanku. Kebetulan, dia juga menaruh masalah pribadi dengan perempuan ini."
"Licik sekali kau Satria. Tak kusangka, akalmu jauh cerdik."
__ADS_1
"Tentu! Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya!"
Siapakah yang berbincang dengan Satria? Suara itu sangat familiar di telinga Ningsih. Namun, mungkinkah lelaki brengsek itu? Jelas-jelas Bima membakar mereka. Namun Ningsih sama sekali tidak tahu jika Sugeng memiliki anak pertama bernama Satria.
Ningsih makin ketakutan. Meski mencoba tenang, hal itu sangat susah dilakukan dalam situasi seperti ini.
"Perempuan iblis! Mencoba membunuhku, ha? Sugeng tidak mudah mati. Bahkan iblis sekalipun yang menginginkan kematianku, tak akan mudah!"
Tanpa diduga, Sugeng berjalan ke arah Ningsih. Sugeng selamat dari kebakaran itu. Meski luka bakar hampir di sekujur tubuhnya membutuhkan perawatan berbulan-bulan.
Satria merupakan anak dari hubungan gelap Sugeng dengan seorang pengusaha kaya di Semarang. Saat itu, Sugeng belum mempunyai dua anak lainnya. Satria sengaja disembunyikan dari public.
Ningsih tak menyangka, Satria menjebaknya, atau lebih tepat dalang semua ini adalah Sugeng.
Sugeng memegang betis Ningsih. Secara reflek, Ningsih bergerak meronta.
Ningsih berteriak meski tak mengeluarkan suara. Wajah Sugeng sangat menakutkan. Bekas luka bakarnya sungguh membuat Ningsih ketakutan.
"Jangan sentuh dia. Aku tak ingin kau lakukan itu." kata Satria.
"Lalu, mau kau nikmati sendiri tubuh mulusnya? Serakah!" jawab Sugeng.
"Silahkan tiduri perempuan lain. Aku akan menyewakan yang terbaik. Jangan sentuh Ningsih!" Satria serius mengatakan hal itu.
__ADS_1
Ningsih sedikit merasa lega tak disentuh lelaki tua menjijikkan itu. Ningsih masih meronta, mencoba melepas ikatan, namun percuma sangat susah.
***
Sementara itu....
"Hanya segitu kemampuanmu, Bima?" ucap seorang yang menyerang Bima berkali-kali.
Bima yang tersungkur, segera bangkit dan menyerang dengan api nerakanya. Namun lawannya dengan mudah menghindar. Bima merasakan Ningsih dalam bahaya, tetapi apa daya tak bisa berbuat apapun saat ini.
NINGSIH BERTAHANLAH!
Bima kembali bangkit dan melawan, meski berulang kali terpental melawan lelaki siluman itu. Frans Gumelar, buksn orang sembarangan. Bima berkelahi dengannya karena Frans hampir mencelakai Ningsih dengan mengirim guna-guna. Hampir seminggu, perang gaib Bima dan Frans belum berakhir.
Bersambung ....
***
**Menurut kalian, Bima mampu melawan Frans tidak?
Ternyata Sugeng masih hidup 😱 dan Satria anak dari Sugeng 😱
Lalu bagaimana nasib Ningsih selanjutnya? Mampukah Bima menolong Ningsih?
__ADS_1
Nantikan kisah kelanjutannya hari Senin ya guys!
LIKE KOMENTAR dan SHARE guys. Bantu Author agar tetap semangat. Thank You**^^