
...🔥 NINDY DAN KEPUTUSASAAN 🔥...
Nindy hanya bisa terdiam di ranjang. Untuk berjalan, rasanya masih sulit meski tiap hari belajar dengan menggunakan tongkat. Dia memakai kursi roda untuk menghirup udara segar di sekitar bangsal, tentunya didampingi bibi---salah satu asisten rumah tangganya. Abah dan Ibu hendak menemani Nindy, tetapi Reno mencegah karena Nindy tak mau bersama orang tuanya karena malu dan takut. Malu karena semua kekacauan itu, sedangkan takut karena orang tuanya tak tahu luka serta cidera Nindy cukup parah.
Nindy tak ingin orang tuanya merasakan kesedihan lagi jika melihatnya dengan kondisi menyedihkan seperti itu. Dia merasa gagal menjalani kehidupan yang harusnya baik-baik saja. Pikiran Nindy semakin kacau dan banyak kalimat samar-samar terdengar di kepala Nindy.
"Nindy ... ayo keluar dari sini. Hidupmu sudah tidak berarti lagi. Semua orang menyalahkanmu. Tidak ada yang benar-benar peduli denganmu. Nindy ... akhiri saja semuanya sekarang. Kau hanya beban bagi Reno. Kau tak jauh beda dengan kakakmu. Kau sama-sama menyusahkan banyak orang. Lihat dirimu sekarang, patah tulang dan tak bisa berjalan. Menyedihkan!"
Kalimat-kalimat itu serasa terngiang di telinga Nindy. Wanita beranak satu itu langsung menutup telinganya dengan satu tangan dan berteriak histeris. "Tidak! Bukan salahku! Tidak!"
Bibi langsung panik melihat Nindy seperti itu. "Nyonya, ada apa nyonya? Sebentar, Bibi panggilkan dokter dan suster," ucap Bibi langsung menekan bel darurat untuk memanggil bantuan medis dari dalam kamar bangsal.
Bibi segera memegang tangan Nindy agar tidak banyak gerak. Bibi takut jika luka di tangan Nindy semakin parah. Namun, Nindy justru menampik tangan Bibi.
Beberapa saat kemudian perawat dan dokter datang. Mereka langsung meminta Bibi menunggu di luar karena akan segera menangani Nindy. Dokter memberi suntikan obat penenang dengan dosis rendah agar Nindy berhenti histeris. Hal itu bisa membuat cideranya makin parah.
"Suster, pantau pasien setiap dua jam sekali. Lalu untuk perawatan tambahan, sebaiknya dikonsultasikan ke psikiater. Sepertinya kondisi psikisnya terguncang setelah kejadian itu," ucap dokter yang kemudian hendak pergi.
Bibi masuk ke ruangan dan melihat Nindy sudah terlelap karena obat penenang. "Dokter, bagaimana kondisi Nyonya?"
"Nanti jika pihak keluarganya sudah datang, tolong diminta menemui saya. Terima kasih." Dokter segera berlalu setelah memberi pesan kepada asisten rumah tangga itu.
"Ya Allah, berilah kesembuhan pada Nyonya Nindy dan kekuatan untuk Tuan Reno menjalani semua cobaan ini. Semoga semua akan baik-baik saja. Amin," gumam Bibi saat menemani Nyonya Nindy yang beristirahat.
Saat ini, Nindy masuk ke fase depresi. Dia merasa bersalah atas segala yang terjadi bertubi-tubi. Bahkan karena cidera di kaki dan tangannya membuat wanita itu makin frustasi. Kesedihan mulai menggerogoti hati dan pikirannya. Itu yang menjadi celah makhluk gaib mempengaruhi pikirannya dengan bisikan yang mengintimidasi dan memerintah untuk bunuh diri.
Mengakhiri hidup dengan kematian yang disengaja akan menambah sederet daftar dosa dan juga membuat manusia menjadi penghuni neraka. Lantas, apakah terlalu lemah manusia yang putus asa atau terlalu hebat godaan makhluk tak kasat mata yang menjerumuskan? Nindy sedang di ambang kegelisahan dan rasa risau antara tetap bertahan hidup atau lari dari kenyataan dengan bunuh diri.
Reno bergegas jalan dengan cepat ketika sampai di rumah sakit. Rasanya ingin sekali menemani Nindy selalu. "Kak Santi, terima kasih banyak sudah membantuku. Mas Budi, terima kasih banyak, ya. Akhirnya aku bisa menemani Nindy masa pemulihan. Tempo lalu Tante Ningsih juga sudah membantu, tetapi kata polisi harus menunggu dua sampai tiga hari untuk menutup kasus. Ternyata adanya Kakak dan Mas Budi, aku langsung bebas," ujar Reno dengan bahagia. Dia segera masuk ke kamar bangsal sesampainya di depan. Budi dan Santi tersenyum menatap lelaki yang bersemangat menemui istrinya itu.
__ADS_1
Setelah di dalam kamar, Nindy ternyata memejamkan mata, tertidur. "Bibi, bagaimana keadaan Nindy?" tanya Reno pada asisten rumah tangga yang menjaga istrinya.
"Tu-tuan Reno sudah bebas? Alhamdulilah, ya Allah. Nyonya membaik, tetapi tadi sempat histeris dan akhirnya tadi mendapatkan obat penenang dari dokter. Kata dokter jika pihak keluarga sudah datang, diharap ke sana ada hal penting akan dibahas," jelas Bibi yang menyampaikan pesan.
"Baik, Bi. Jaga Nindy dulu, ya. Aku ke ruangan dokter dulu. Kak Santi dan Mas Reno duduk di sini dulu. Aku mau ke ruangan dokter." Reno bergegas pergi demi mengetahui perkembangan kondisi istrinya.
Reno sangat khawatir karena masa sulit ini membuat jiwa Nindy terguncang. Dia sama sekali tak ingat yang terjadi, tetapi tubunnya penuh luka dan menjadi tersangka penusukan. Hal itu membuat Nindy bingung dan kalut. Beberapa hari kemudian Reno menyerahkan diri ke polisi sebagai penjamin tersangka. Nindy semakin down saat itu. Reno melakukan itu demi Nindy tidak diinterograsi lagi.
"Selamat Siang, Dokter dan Suster. Saya Reno keluarga dari pasien atas nama Nindy. Bagaimana perkembangan pasien?" tanya Reno saat di nurse stasion.
"Oh, Tuan Reno. Baik silakan masuk ke ruang dokter di sebelah," jawab perawat yang mengarahkan Reno ke ruangan samping.
Reno pun masuk ke ruang dokter. Duduk di kursi dan berhadapan dengan dokter. Mereka membicarakan tentang kondisi Nindy yang cidera dan juga gangguan psikisnya.
"Begini, Tuan Reno. Istri Anda mengalami trauma dan guncangan yang membuat psikisnya terganggu. Saran saya, istri Anda baiknya ikut konsultasi psikiater. Kebetulan di rumah sakit ini ada layanan kesehatan jiwa. Anda bisa mendaftarkan istri Anda segera untuk konsultasi," saran Dokter kepada Reno.
"Baik, Dokter. Upayakan semua yang terbaik untuk istri saya agar segera sembuh dan pulih seperti sedia kala." Reno hanya bisa pasrah. Soal biaya semua tak jadi masalah, tetapi yang utama adalah kesehatan Nindy.
Setelah banyak hal disampaikan oleh dokter selesai, Reno pun berpamit untuk kembali ke kamar bangsal Nindy. Dia bergegas ke sana untuk menemani Nindy. Tak disangka, keributan terjadi di kamar tempat istrinya dirawat.
"Ada apa di sana?"
"Pasien itu sudah gila, mau bunuh diri lagi."
"Nyonya, jangan nekat nyonya!"
"Nindy, tolong jangan ke sana. Tolong, Nindy."
"Tolong panggil satpam dan suster serta dokter!"
__ADS_1
Reno langsung menyibak kerumunan orang dan masuk ke kamar bangsal istrinya. Ternyata pintu balkon terbuka. Terlihat wanita yang berjalan dengan tongkat dan terbalut perban di tangan dan kakinya sedang berdiri di pojok balkon sambil berteriak. "Jangan mendekat! Pergi kalian atau aku terjun!"
Nindy kali ini serius ingin terjun. Tidak ada yang berani mendekat karena takut Nindy lompat. Santi dan Budi pun khawatir dan takut. Mereka tak menyangka kalau Nindy senekat itu setelah bangun dari reaksi obat bius yang sudah menghilang.
Reno langsung mendekat. "Sayang! Jangan lakukan itu kumohon. Sayang ... aku sudah di sini. Masalah ini sudah selesai. Kumohon ke sini." Reno sangat khawatir karena saat ini kondisi istrinya terguncang.
"Jangan mendekati aku ... kamu berhak bahagia, Reno. Maafkan aku hanya menjadi beban bagimu." Nindy menangis, merasa putus asa.
"Tidak! Jangan katakan itu. Aku bahagia bersamamu, Nindy. Tolong jangan lakukan itu. Lisa dan aku membutuhanmu. Kumohon ...." pinta Reno sambil berjalan mendekati Nindy.
"Berhenti, Reno! Jangan mendekat lagi. Aku tak ingin kamu semakin sedih karena hal ini. Aku hanya menjadi beban dan membawa masalah bagimu. Maafkan aku. Aku titip Lisa. Bahagiakan dia. Aku sayang kalian," ucap Nindy sambil melemparkan tongkatnya dan hendak terjun dari atas balkon lantai enam gedung rumah sakit itu.
Reno langsung berlari sekencang mungkin meraih tubuh Nindy. Keadaan masih berpihak. Pinggul Nindy teraih oleh Reno. Lelaki itu berhasil memegang istrinya agar tidak terjatuh. "Bertahanlah Nindy. Aku sudah memegangmu." Reno berusaha menariknya.
Budi, Santi, Bibi, dan beberapa satpam serta perawat langsung masuk ke balkon untuk menolong menarik Nindy. Setelah terselamatkan, suster langsung memberi obat penenang kembali lewat suntikan karena Nindy histeris tak ingin ditolong.
"Jangan! Istriku sudah disuntik obat penenang tadi. Mengapa disuntik lagi? Kasihan dia," cegah Reno sambil meneteskan air mata.
"Maaf, Tuan Reno. Ini perintah dokter karena pasien bisa membahayakan kondisi diri sendiri dan orang lain. Setelah ini kemungkinan pasien akan dipindah ke ruangan isolasi karena sudah dua kali percobaan bunuh diri," terang perawat kepada Reno.
Satpam pun membubarkan kerumunan. Reno semakin sedih melihat kondisi istrinya. Keputusasaan sudah hinggap di hati Nindy dan tak bisa berpikir jernih. Mungkin ruang isolasi adalah saran terbaik agar Nindy tidak mencoba bunuh diri lagi. Reno sangat khawatir.
Berita itu heboh dan sampai terdengar oleh Wahyu. Dia ingin sekali menengok Nindy, tetapi apa boleh buat Nindy selalu mengusir saat Wahyu ke sana terlebih jika sambil mendorong ibunya di kursi roda. Seakan Nindy takut dan malu sudah melukai Tante Ningsih. Padahal semua tahu hal itu karena kerasukan. Namun rasa bersalah di hati Nindy membuatnya tertekan sendiri. Wahyu tidak menceritakan kepada ibunya karena takut menambah beban pikiran.
"Ya Allah, jagalah kami semua. Berilah Kak Nindy ketabahan hati. Semoga semua lekas membaik," batin Wahyu sambil menatap ibunya yang sedang tidur siang.
Reno menyetujui jika istrinya dipindah ke ruang isolasi. Meski Santi awalnya melarang karena kemungkinan Nindy akan makin tertekan jika di ruangan isolasi yang tertutup. Namun, Reno bersikeras jika ruangan tertutup jauh lebih aman bagi istrinya karena takut Nindy kembali melakukan percobaan bunuh diri dengan lompat dari balkon lagi.
Segera pihak dari rumah sakit memindahkan Nindy ke ruangan isolasi yang tertutup. Reno dan keluarga boleh menunggu di dalam agar menghindari dari rasa bosan atau kesepian pada pasien. Namun, di sana hanya ada jendela dan satu pintu keluar saja. Tidak ada balkon atau pintu lain. Reno merasa ruangan itu lebih aman untuk Nindy. Di samping ruangan pasien, ada tempat untuk menunggu pasien karena Reno mengambil ruang isolasi kelas VVIP. Mereka bisa menunggu Nindy dengan baik tanpa pisah ruangan. "Sayang, istirahat dulu, ya. Aku akan selalu menemanimu," lirih Reno.
__ADS_1