
π TAK MUDAH π
Hal yang tersulit dari sebuah hubungan itu bukan memulainya, justru saat mengakhiri. Apabila takdir berkata lain, mampukah manusia mengelak dan tetap di jalan yang diyakininya? Entah, hal itu terasa samar. Seperti yang Ningsih rasakan.
Ningsih bahagia bisa bersama Bima dan Alex, tetapi dalam lubuk hatinya yang paling dalam, dia merindukan Wahyu. Tak mungkin Ningsih bersama Wahyu, jika dirinya sendiri masih dalam gelapnya dosa. Dia tak ingin Wahyu ikut menderita dan menanggung kesalahannya.
Kesalahan yang diyakini sebagai kebenaran Ningsih dan Bima. Kebenaran yang membuat Alex ada dan terlahir dari cinta yang terlarang. Cinta beda agama, bisa diselesaikan. Cinta beda usia, sekarang tak jadi kendala. Namun, cinta beda dunia? Siapa yang mampu bertahan?
Setelah semalaman bercerita tentang kesesakan hati masing-masing, Ningsih pun terlelap dalam pangkuan Bima. Bima menatap wajah istrinya tanpa berkedip. Dia juga memikirkan hal yang bisa mereka jalani agar bisa menjadi keluarga yang harmonis.
"Ayah, apa yang engkau pikirkan? Sepertinya itu mengganggu sekali. Katakan pada Alex. Siapa tahu, Alex bisa membantu." ucap anak kecil yang begitu menyayangi keluarganya. Tak hanya menyayangi Bima dan Ningsih, Alex pun menyayangi Wahyu yang menjadi kakaknya saat ini.
"Hmmm, kamu anak yang pintar dan cerdas, Alex. Kamu juga perhatian terhadap orang tua dan kakakmu. Jadilah makhluk yang jauh lebih baik dari Ayah," lirih Bima sambil mengelus rambut anaknya.
"Memangnya, apa yang Ayah lakukan? Mengapa Alex harus jauh lebih baik? Bukankah Ayah sudah menjadi yang terbaik?" tanya bibir kecilnya yang penuh penasaran.
Bima terdiam sejenak. Mau tak mau, dia harus menceritakan kepada anaknya agar tidak menjadi makhkuk seperti Bima.
"Nak, Ayah tidak sebaik yang kamu kira. Ayah adalah manusia yang murka dengan takdir Sang Pencipta. Ayah akhirnya masuk ke dunia kegelapan setelah menerima tawaran penguasa Neraka Lapis Ketujuh. Ayah menjual jiwa dan kehidupan manusiawi, demi membalas dendam. Setelah itu, selama ratusan tahun Ayah tersiksa karena harus menyesatkan sebanyak mungkin manusia." jelas Bima dengan raut wajah yang sedih.
Alex pun memeluk Bima dengan erat. "Bagiku, Ayah tetap yang terbaik." ucap Alex membuat Bima terharu.
"Nak, Ayah sudah membuat banyak jiwa manusia masuk dalam api neraka. Dendam Ayah pada seseorang, justru membuat Ayah menghukum orang lain dan sangat banyak jumlahnya. Tak terhitung." sambung Bima yang menyesali semuanya.
Perasaan yang selama ini tak pernah dia rasa sebelumnya. Saat menjadi Iblis, semua melebur menjadi bara api yang teramat menyengat. Bima tak bisa merasakan sesal, sedih, maupun takut. Namun, semua berubah setelah Bima bertemu dengan Ningsih. Ningsih mengubah jalan pikirnya.
Bima mulai merasakan iba dan sedih, saat melihat Ningsih terluka. Bima mulai merasakan sesal, ketika tak bisa melindungi Ningsih dengan sebaik mungkin. Bima juga merasa takut, saat terpisah jauh dari Ningsih. Takut jika tak bisa berada di sisi Ningsih, pada saat yang tepat ketika Ningsih membutuhkan.
"Ayah, itu hanyalah bagian masa lalu. Sekarang Ayah adalah ayah terbaik sepanjang masa. Ayah juga menjadi orang tua yang baik dan suami yang baik untuk Ibu. Alex bangga jadi anak Ayah." kata Alex menyanjung Bima.
Entah dari mana anak sekecil Alex mengerti permasalahan serumit itu. Memang pemikiran makhluk gaib dan manusia berbeda jauh. Terlebih Alex yang menyerap energi besar di ruang gelap. Dia tumbuh lebih cepat dan lebih pintar serta memiliki kekuatan yang luar biasa.
"Anak Ayah pintar sekali berbicara. Siapa yang mengajarkan?" tanya Bima sambil mencium pipi anaknya.
"Ibu. Selama di ruang gelap, Ibu selalu membicarakan tentang Ayah. Meski Ibu berada di sana cukup lama, Ibu selalu menanti Ayah. Alex mendengar semua yang Ibu gumamkan." Alex pun tersenyum manis menjawab pertanyaan Bima.
"Benarkah? Ibu membicarakan tentang Ayah sepanjang hari di ruang gelap? Apa saja yang Ibu katakan?" Bima pun penasaran dengan pemikiran Ningsih saat Bima menghilang.
"Banyak sekali. Salah satunya, Ibu selalu berharap Ayah baik-baik saja dan segera datang menjemput Ibu."
__ADS_1
Bima pun mengusap kening Ningsih yang tertidur pulas karena lelah. Bima baru kali ini merasakan syukur menjadi Iblis hingga akhirnya bisa bertemu Ningsih dan bersamanya hingga saat ini.
Alex yang melihat kedua orang tuanya saling mencintaipun mempunyai ide. "Ayah, apakah Ayah mau jadi manusia lagi? Agar Ayah dan Ibu bisa hidup normal." tanya Alex dengan perlahan.
"A-Apa? Maksud Alex?" Bima terkejut dan bingung apa yang dimaksudkan anaknya.
Alex tersenyum. "Ayah mau jadi manusia lagi? Alex bisa bantu. Namun, sekali manusia menjadi Iblis, lalu kembali menjadi manusia, dia akan benar-benar mati dan musnah dari bumi saat meninggal."
Bagaikan cahaya di tengah gelap, perkataan Alex membuat Bima memiliki secerca harapan. Namun, apakah benar-benar bisa?
"Bagaimana caranya Alex? Mengapa kamu bisa tahu?" selidik Bima dengan penasaran.
Alex pun berdiri. Dia berjalan, lalu menutup pintu rumah karena hampir subuh dan angin semakin kencang. Alex pun berkata, "Alex tahu karena melihat gadis buta teman Ayah."
"Laurent maksudnya?"
"Iya, Ayah. Kak Laurent. Neneknya dulu penyihir dan sebenarnya Kak Laurent tahu cara mengubah manusia yang ikut Iblis menjadi manusia lagi. Hanya saja syaratnya berat." jelas Alex yang menatap tajam ke Bima.
"Syarat apa? Tunggu. Ayah masih bingung karena hal serumit itu, mengapa Alex bisa tahu?"
Mendengar pertanyaan Bima, Alex langsung tertawa karena geli. "Ayah lucu saja. Alex ini 'lan bisa lihat semua yang tersembunyi. Alex mempunyai hal yang tidak dimiliki Ayah, yaitu menembus masa lalu dan masa depan lewat tatapan."
"Alex, mulai sekarang kamu tak boleh pergi sendirian. Jangan jauh dari pengawasan Ayah dan Ibu. Kamu, paham?" Bima mencoba melindungi anaknya.
"I-iya Ayah. Ayah jangan khawatir. Alex bisa menjaga diri." ucap Alex menyepelekan perintah Bima. Hal itu membuat Bima kesal.
"Alex tak akan tahu hal buruk apa yang akan terjadi. Ikuti saja perintah Ayah."
"Baik, Ayah." jawab Alex terpaksa. Dia tak ingin membuat Ayahnya marah atau bersedih.
Setelah percakapan panjang itu, matahari mulai terbit perlahan. Adzan subuh pun berkumandang. Ningsih masih lelap di pangkuan Bima, sekan tak ingin kehilangan Bima lagi.
Bima sengaja tak meneruskan pembicaraannya dengan Alex karena tak ingin anaknya terluka demi mengubahnya menjadi manusia. Bima tak mau mengambil resiko yang besar jika salah memilih keputusan.
***
Di sisi lain ....
Reno dan Santi sudah bangun dan melaksanakan salat subuh bersama Nindy. Setelah itu, mereka berencana akan menghubungi Tante Ningsih.
__ADS_1
"Nanti jadi, 'kan, telepon Tante Ningsih, Kak?" tanya Reno sambil menyeduh kopi.
"Jadi, donk. Sekalian tanya rumah kontrakannya. Siapa tahu mau beri alamat. Jadi, kita bisa main ke sana." sahut Santi yang sedang membuat omellete.
"Loh, Tante Ningsih kontrak rumah?" tanya Nindy yang bingung.
"Iya, ceritanya panjang. Sudah beberapa hari ini Tante Ningsih belum beri kabar. Tetapi dia sudah dapat rumah kontrakan, kok." jelas Santi pada Nindy.
Nindy terdiam sejenak dan berkata dalam hati. "Orang sekaya Tante Ningsih saja bisa kena musibah, habis harta, dan bangkrut. Apalagi aku dan Abah serta Ibu. Maafkan aku, Tante Ningsih. Aku terpaksa mencari tempat tinggal Tante agar bisa mendapatkan uang untuk membeli rumah."
Reno menghampiri Nindy dan membawa segas teh hangat karena Nindy tak suka kopi. "Jangan melamun saja. Ini teh hangatnya, minum dulu." ucap Reno lembut membuat Nindy makin jatuh cinta.
"Terima kasih, Kak Reno." jawab Nindy sambil menerima secangkir teh hangat buatan Reno sedangkan Reno meminum kopi buatannya.
"Cie, mesra banget. Sini, bantu Kakak buat sarapan saja. Sama buatin Kakak green tea di kotak hijau itu," kata Santi memerintah Reno.
"Kakak sirik banget, nggak bisa lihat Reno senang, ya? Ha ha ha ha ...."
Mereka pun bercanda dan sama-sama membuat sarapan. Omellete, nasi goreng, dan minuman hangat yang disukai masing-masing. Setelah selesai memasak semua, mereka pun makan.
Setelah itu, mereka bersiap-siap untuk mandi dan bergegas ganti pakaian untuk menyiapkan kemungkinan bertemu dengan Tante Ningsih. Santi sudah mengirim pesan ke Tante Ningsih dan berharap segera dibalas.
Santi: [ Selamat pagi, Tante. Bagaimana kabarnya? Oh, iya, kalau boleh tahu di mana kontrakan Tante sekarang? Santi dan Reno mau berkunjung sekaligus membicarakan berita baik. Santi tunggu balasannya, ya. ]
Santi tetap optimis bahwa Tante Ningsih akan membalas pesannya. Dia juga berharap wanita itu baik-baik saja meski hidup sendirian. Padahal, Ningsih belum bangun dari tidur lelapnya. Sejak ada Bima dan Alex, mereka selalu menghabiskan waktu bersama dengan banyak hal yang perlu dibicarakan.
Nindy pun diam-diam mengirim pesan ke Tuan Evan. Dia tetap menjalankan apa yang menjadi tugasnya.
Nindy: [ Tuan Evan, seperti rencana kemarin. Hari ini akan ke rumah Tante Ningsih atau bertemu segera dengan Tante Ningsih. Nanti akan kukabari jika sudah tahu di mana dia dan Om Bima. ]
Pesan terkirim. Tak lama kemudian, Tuan Evan membalas.
Evan: [ Bagus sekali kerjamu. Jika kau berhasil menemukan mereka berdua hari ini, maka uang yang kujanjikan akan segera kugenapkan dan kuberi bonus. ]
Nindy: [ Baik, Tuan. ]
Nindy tersenyum, senang. Dia tak tahu apa yang akan terjadi jika Evan menemukan Ningsih dan Bima. Dia tak memikirkan sampai sejauh itu. Bagi Nindy, mungkin Tuan Evan memiliki kepentingan yang harus segera diselesaikan dengan Tante Ningsih dan Om Bima. Sedangkan di Jakarta, rumah dan tempat usaha Tante Ningsih sudah ludes dimakan si jago merah. Hangus dan rata oleh api yang membara.
"Aku tak salah langkah, 'kan? Semoga semua sesuai rencana dan aku bisa membeli rumah yang layak untuk Abah dan Ibu tinggali lagi. Aku harus bisa!" batin Nindy meyakinkan hatinya sendiri.
__ADS_1