
...🔥 AMARAH DINDA 🔥...
Dinda menatap tubuh Lukas yang penuh luka dan tak sadarkan diri karena hantaman keras di kepalanya berkali-kali. Dinda tak terima karena pengikutnya disiksa orang. "Dasar manusia biadab! Manusia terkutuk! Pemuda ini adalah milikku. Jika dia harus mati, berarti aku yang mengambil. Bukan malaikat maut!" geram Dinda dari dalam ICU.
Gio yang melihat dari luar pun mendekat ke kaca ICU. Dia mengusap matanya berkali-kali untuk meyakinkan apa yang ia lihat itu nyata atau salah penglihatan. Ternyata Dinda merasakan Gio bisa melihatnya. Dinda menengok ke belakang dan menatap Gio.
Seketika, Gio merasakan ketakutan yang luar biasa. Dia langsung memejamkan matanya agar tidak bertatap langsung dengan Dinda. Gio tahu, efek tatapan mata Dinda luar biasa memikat manusia. Apalagi bagi manusia yang lemah iman, akan mudah masuk perangkapnya.
"Ya, Tuhan ... ampunilah dosa sahahatku. Ternyata dia terlalu jauh bersekutu dengan wanita Iblis itu." batin Gio sambil memejamkan matanya.
Saat Gio membuka mata, justru wujud asli Dinda terpampang jelas di kaca. "Jangan ikut campur urusanku!" gertak Dinda membuat Gio jatuh tersungkur, ketakutan.
Sontak saja orang tua Gio dan Mama Fani segera menghampiri Gio dan menolongnya. Seketika itu juga, Dinda menghilang. Gio ketakutan hingga tubuhnya menggigil hebat.
"Gio ... Gio ... kamu kenapa, Nak?" tanya mama Gio khawatir.
"Ma-Mama ... Pa-Papa ... ayo kita pulang saja. Gio nggak enak badan ini," lirih Gio yang masih menggigil ketakutan.
"Iya, Nak. Ayo pulang," kata mama Gio terpaksa meninggalkan Mama Fani sendirian.
"Maaf, Fani. Kami pulang dulu, ya. Kamu yang sabar," ucap papa Gio berpamit pulang.
"Terima kasih bantuannya. Maaf kami merepotkan," lirih Mama Fani menghantar mereka pulang.
Mama Fani sendirian menunggu Lukas yang masih belum sadar. Dia menyesali semua hal yang telah terjadi. Menyesali perbuatannya yabg sesat dan sudah membawa anak semata wayangnya dalam kesusahan ini.
"Andai Mama nggak mengusulkan hal itu. Maafkan Mama, Nak. Lekas bangun, ya." gumam Mama Fani dari bali kaca ICU.
...****************...
Di waktu yang sama pada tempat berbeda ....
Keempat preman suruhan orang tua Angel sedang mabuk-mabukan di tempat persembunyian mereka.
"Pesta besar! Dapat duit banyak, dapat motor bagus pula. Bisa kita cairkan jadi duit, nih!" seru salah seorang preman sambil meneguk minuman alkohol di genggaman tangannya.
"Djancuk! Siti malah pergi! Nggak jadi pesta kita!" umpat seorang preman yang baru saja datang dan mebanting sebuah botol minuman.
"Welah, datang tiba-tiba macam orang kesetanan. Kalau tak ada wanita, cari aja di pangkalan sana!" celetuk seorang lainnya.
Sedangkan satu preman yang mabuk parah sudah tertidur lelap. Mereka pun berbincang banyak hal sampai ada suara yang menarik perhatian mereka.
"Tolong ... tolong ...." suara lirih wanita membuat para preman mencari arah suara itu.
Tengah jalan pada malam yang berkabut, ada seorang wanita yang jatuh dan kesakitan menahan kakinya yang terkilir.
"Bening, bos! Sikat aja. Lebih bagus dari Siti." bisik seorang preman yang bergegas menghampiri wanita itu.
__ADS_1
Wanita yang terjatuh itu terkilir dan tak bisa berdiri. "Mas, tolong aku, Mas." lirih wanita itu.
Ketiga preman yang menghampiri segera menggendong wanita itu ke markas mereka. "Kok, bisa jatuh tengah malam di sini, Mbak?"
"Tadi aku bonceng ojek, eh, jatuh tapi Mas ojeknya ga tahu. Aku ketinggalan motor, deh," kata wanita yang ternyata adalah Dinda.
"Kasihan banget. Ikut ke tempat Mas aja, nanti kami antar pulang," ucap seorang preman dengan seringainya menatap dua teman lainnya sebagai kode.
Sesampainya dalam rumah persembunyian, mereka bertiga bukannya menolong wanita itu. Namun, mereka segera meletakkan Dinda di kasur lapuk dan hendak memperkosannya. Dinda sengaja berpura-pura menjadi wanita tak berdaya untuk mengelabui preman-preman itu.
Saat ketiga preman itu hendak memperkosa Dinda, dia berubah wujud menjadi menyeramkan. Sontak ketiga preman itu ketakutan. Dinda pun membunuh mereka semua. Termasuk salah seorang preman yang tertidur, dengan mudah Dinda membunuhnya.
"Dasar sekumpulan sampah masyarakat! Sekarang giliran orang tua Angel yang menanggung akibatnya." geram Dinda yang kemudian menghilang.
Dinda pun pergi ke tempat orang tua Angel. Orang tua Angel sudah gelap mata dengan menaruh dendam pada Lukas. Mereka sekarang tinggal di rumah kontrakan karena tak kuasa tinggal di rumah lama tempat Angel mengakhiri hidupnya.
"Pa, kata preman itu Lukas mati. Tapi kenapa ini malah masuk ICU? Padahal Mama harap dia langsung mati saja," gumam mama Angel yang belum terima dengan kondisi yang ada.
"Sabar dulu. Itu si Gio 'kan indigo. Kita harus hati-hati. Kalau tak ingin ketahuan," kata papa Angel yang masih menyimpan dendam.
Arwah Angel ada di sana, menangis melihat orang tuanya yang saat ini justru tersiksa dendam. Angel tak menginginkan itu semu terjadi. Saat Dinda datang, Angel mencegah Dinda agar tidak melukai orang tuanya.
"Cukup aku yang menjadi korban. Jangan sakiti kedua orang tuaku. Kumohon," kata Angel membuat Dinda semakin marah.
"Arwah rendahan sepertimu tak pantas menyuruh Iblis sepertiku!" gertak Dinda pada arwah Angel.
Dinda pun memikirkan kembali hal itu. "Baik. Kulepaskan orang tuamu. Tapi katalan ke mereka jangan ganggu Lukas lagi!"
Dinda dan Angel pun mengadakan kesepakatan. Dinda pun pergi dari sana. Angel mendekati orang tuanya. Lalu, mefokuskan agar bisa tanpak pada papa mamanya.
"Mama ... papa ... Relakan Angel pergi. Angel tersiksa di sini jika kalian masih tak mengikhlaskan Angel." lirih Angel menghampiri orang tuanya.
"Pa-Papa ... itu ... itu Angel." kata mama Angel membangunkan suaminya yang hendak tidur.
"Mana? Mana?" Papa Angel pun langsung duduk menatap arwah anaknya yang datang menghampiri.
"Angel ... Mama kangen kamu ...." Tangis haru tak bisa dibendung. Mama Angel menangis tersedu-sedu.
"Jangan menangis, Ma ... Angel harap kalian mengikhlaskan Angel pergi. Jangan mengikuti dendam dalam hati dan lanjutkan hidup Papa Mama seperti biasanya menjadi orang baik dan tetaplah jadi orang baik." kata Angel yang mulai meneteskan air mata.
"Maafkan kami, Angel. Papa dan Mama mengira semua ini karena Lukas," jawab papa Angel yang mulai merasa bersalah.
"Angel tak ingin Papa Mama tersiksa dendam dan sakit hati. Ikhlaskan saja Angel pergi. Selamat tinggal Papa ... Mama ...." kata Angel yang memudian menghilang.
"Angel! Jangan tinggalkan Mama, Nak. Angel!"
"Sudah, Ma. Sudah. Ikhlaskan saja anak kita." Papa Angel mencoba menenangkan istrinya.
...****************...
__ADS_1
Tiga hari kemudian ....
Lukas yang berada di ICU selama tiga hari akhirnya sadar. Dia menggerakan jari jemarinya dan membuka mata. Bukan tanpa sebab, Dinda mengobati Lukas karena masih membutuhkan pengikutnya itu.
"Belum waktunya kamu mati. Bangun! Kau masih berhutang banyak hal padaku." kata Dinda membuat Lukas bangun dari komanya.
"Dokter, pasien di ICU sudah sadar," kata perawat yang mengecek keadaan Lukas.
Mama Fani pun bahagia dan bersyukur karena putranya sudah sadar dari koma. Dokter bergegas ke ruang ICU dan menangani Lukas. Setelah semua dicek dan normal. Dokter mengizinkan Lukas masuk bangsal rawat inap.
"Bagaimana keadaan putra saya, Dok?" tanya Mama Fani resah.
"Putra Ibu sudah melewati masa kritis dan bisa dirawat dalam ruang rawat inap biasa untuk beberapa hari ke depan. Kami akan melakukan pemeriksaan lagi. Jika hasilnya baik, anak Ibu sudah boleh pulang dua hari lagi." kata dokter menjelaskan.
"Syukurlah ya, Tuhan. Terima kasih, Dokter."
Mama Fani langsung menemui Lukas yang sedang dipindahkan ke bangsal. Perawatan di ICU yang cukup mahal membuat Mama Fani terpaksa menjual mobilnya. Tiga hari di ICU dan perawatan lainnya memakan biaya hampir dua ratus juta rupiah.
Setelah sampai bangsal, Mama Fani pun mencium anaknya dan memeluk tanpa henti. "Mama sudah takut. Takut sekali. Mama kira Lukas akan meninggalkan Mama sendiri," lirih Mama Fani berurai air mata.
"Maafkan Lukas, Ma. Lukas tidak kenal siapa orang-orang itu, mereka memukuli Lukas tanpa sebab." kata Lukas menjelaskan.
Pihak kepolisian pun datang saat mendapat kabar Lukas sadar dari koma. "Selamat pagi, Bu. Saudara Lukas bagaimana kabarnya?" sapa seorang polisi.
"Pagi, Pak. Maaf, anak saya baru saja sadar dari koma. Jika tidak keberatang, jangan diinterograsi dulu." kata Mama Fani khawatir.
"Aku nggak apa, Ma. Ada apa, Pak?" ucap Lukas.
"Kami mengucapkan turut berbahagia atas kesembuhan Saudara Lukas. Demi kelancaran penyelidikan, kami akan mengajukan pertanyaan besok. Melihat kondisi Saudara Lukas baru saja bangun dari koma, kami membawakan ini untuk Anda." kata polisi itu menyodorkan sebuah keranjang besar berisi buah.
"Terima kasih atas perhatiannya, Pak. Saya akan memberikan keterangan selengkapnya besok." jawab Lukas pada polisi itu.
Polisi itu pun berpamit pergi dari bangsal. Lukas dan Mama Fani bersyukur adanya kesempatan untuk Lukas hidup dan memperbaiki hidupnya.
Gio dan orang tuanya pun datang setelah mendapat kabar Lukas bangun dari koma. Namun, ada hal yang Gio takutkan saat sampai di bangsal tempat Lukas dipindahkan. Ruangan bangsal kelas satu, yang ditempati seorang pasien saja dengan fasilitas lebih baik dari kelas dua atau tiga.
"Lukas, welcome back, Bro ...." kata Gio terhenti saat melihat ruangan itu penuh dengan makhluk gaib di sekeliling Lukas. Seketika Gio tak sadarkan diri, pingsan.
Papa mama Gio langsung menopang tubuh anaknya. Mereka tahu jika ada yang tak beres dengan Lukas, membuat Gio selalu seperti ini di dekat Lukas.
"Gio! Ada apa?" Lukas pun panik.
"Tak apa, Lukas. Kami letakkan Gio di kursi dulu," kata papa Gio. Mama Gio lekas membantu sedangkan Mama Fani masih di dekat ranjang merawat Lukas.
"Pa, ini karena Lukas 'kan? Papa juga merasakannya, bukan?" lirih mama Gio yang curiga sejak awal Gio mencari Lukas dengan mata batinnya.
"Iya, diam saja, Ma. Hawa di sini makin mengerikan. Kalau kita ikut campur, kasihan Gio. Kita berdoa saja," jawab papa Gio dengan berbisik.
Mereka tidak sadar jika nyawa Gio dalam bahaya. Urusannya dengan Lukas sama dengan menentang kehendak Dinda. Wanita Iblis itu tak akan tinggal diam.
__ADS_1