
Sebelum membaca, jangan lupa VOTE, LIKE, dan SHARE ya guys^^ dukung Author tetap semangat menulis^^
π PENYELIDIKAN - PART 1 π
Pagi harinya ....
"Kak, jadi ke Jakarta?" tanya Reno melihat kakaknya sedang memegang handphone.
"Jadi. Ayo kemasi barang. Mak Sri juga sudah di Jakarta sejak kemarin pagi." jawab Santi meletakkan gawainya.
"Terus, bilang sama Tante Ningsih nggak?"
"Nggak usah. Nanti aja yang bilang kalau sudah mau sampai rumahnya. Kita kan juga khawatir kondisi Tante Ningsih." lirik Santi sambil membereskan pakaian.
"Kak, kalau Tante marah kita ke sana gimana?" Reno juga bergegas membereskan pakaiannya juga.
"Nggak deh. Reno tahu kan kalau kita selalu diterima di rumah Tante Ningsih. Kakak sudah punya rencana untuk menyelidiki suami gaib Tante Ningsih. Kali ini, kita nggak boleh lengah. Jangan sampai nasib Tante Ningsih seperti Ibu kita," tegas Santi yang matanya mulai berembun.
Reno pun terdiam mengingat kepergian Ratih. Sudah diputuskan untuk nekad membantu Tante Ningsih.
Mereka pun berangkat ke Bandara Adi Sucipto untuk terbang ke Bandara Soekarno Hatta, Jakarta. Sesampainya di sana, mereka pun naik taksi menuju rumah Tante Ningsih. Santi mengambil gawainya dan menelepon Tante Ningsih.
Santi: "Assalamualaikum, Tante."
Ningsih: "Hallo Santi, Walaikum ... salam."
Santi: "Tante, gimana keadaannya?"
Ningsih: "Sudah mulai membaik kok, San."
Santi: "Tante, ini Santi sama Reno sudah sampai Jakarta. Sementara kami menemani Tante ya."
Ningsih: "Hlo kok mendadak? Biar Joko jemput kalian ya?"
Santi: "Nggak usah Tante. Ini sudah naik taksi hampir sampai rumah Tante."
Ningsih: "Oh, begitu. Ya, kalian hati-hati di jalan ya. Sampai jumpa nanti."
Ningsih menutup pembicaraan ditelepon lalu pergi ke dapur. Mak Sri di sana bersama Wahyu membuat makan siang.
"Mak Sri, jangan terlalu capek ya. Nanti malan beli makan di luar aja," kata Ningsih sambil mengelus bahu wanita tua yang selama ini mengabdi padanya.
"Iya, Bu. Terima kasih perhatiannya."
"Oiya, berhubung Santi dan Reno datang mendadak ke sini, Mak Sri bisa banyak istirahat. Wahyu pasti senang ada teman," jelas Ningsih.
__ADS_1
"Horee ... Wahyu ada teman! Mau main ke Playkids ya Ma," teriak Wahyu sambil lompat kegirangan.
"Iya, Bu. Terima kasih banyak. Mak tak apa kok. Sudah sembuh. Sudah pulih. Jadi bisa bekerja seperti biasa," kata Mak Sri membereskan dapur.
Setelah berbincang-bincang, bel rumah pun berbunyi. Ningsih dan puteranya segera berlari ke depan rumah. Budi membawakan tas milik Santi ke dalam rumah. Disusul Santi dan Reno di belakangnya.
"Wah, baru pisah belum genap sebulan sudah kangen Tante ya?" sapa Ningsih sambil membuka kedua tangannya.
Santi memeluk erat Tante Ningsih. "Tante baik-baik aja kan? Kami khawatir banget saat Bang Joko cerita kejadian itu."
"Tenang saja, Tante baik-baik saja. Santi dan Reno istirahat dulu. Capek kan dari Yogyakarta," ucap Ningsih tersenyum menatap Santi dan Reno.
"Tante, apakah Om Bima ke sini?" tanya Reno secara spontan.
"Ehm, kemarin waktu di rumah sakit nemenin Tante sih. Terus sekarang lagi ada acara di luar kota."
"Oh, Om Bima sibuk banget ya. Emang kerjanya juga beda-beda kota ya, Tan? Atau kebetulan bareng juga ke Jakarta? Waktu itu kan di Yogyakarta juga." Rasa penasaran Reno membuatnya tak berhenti mengajukan pertanyaan. Santi mencoba memberi kode dengan kedipan mata agar Reno diam.
"Ehm, iya baru ada urusan di Jakarta. Hari ini pergi ke luar negeri. Mungkin kalau sudah selesai baru ke sini lagi. Tumben nanyain Om Bima? Kangen adiknya ya? He he he ...."
"Ah, nggak Tante. Cuma tanya aja," jawab Reno sambil menggaruk kepala.
Setelah itu mereka mengobrol santai dan makan siang bersama karena Mak Sri sudah selesai memasak. Ningsih pun istirahat karena masih meminum obat untuk memulihkan kondisi fisik dan psikisnya yang terguncang karena kejadian pemerkosaan itu.
Wahyu bermain dengan Reno di taman. Sedangkan Santi berjalan keliling rumah.
"Santi tahu sesuatu tentang pantangan?" tanya Budi di belakang Santi membuat gadis itu terkejut.
"Eh, Mas Budi buat kaget saja. Em ... nggak kok cuma tumben ada bidara ini kan buat mengusir hal gaib ya?" jawab Santi yang gugup.
"Iya, saya yang menanam untuk pagar gaib di rumah ini. Biar rumahnya nyaman ditinggali."
"Ha? Pagar gaib? Tante Ningsih tahu nggak?" Santi terbelalak mendengar perkataan Budi.
"Sepertinya belum tahu. Atau sudah tahu tapi pura-pura tak tahu. Entah. Non Santi tahu sesuatu? Maaf saya lancang, hawa negatif di sini bisa membuat orang yang tinggal di sini lama kelamaan sakit. Saya tak mau Budhe kena imbasnya," jelas Budi membuat Santi makin bingung mau berkata apa.
"Mas Budi tahu kalau Tante Ningsih punya suami gaib?" selidik Santi dengan suara pelan.
Budi mendekati Santi untuk berkata lebih pelan, takut jika terdengar Joko atau yang lainnya. "Iya. Saya bisa merasakan dan melihatnya, Non. Mohon rahasiakan. Saya hanya ingin melindungi Budhe Sri."
Santi menutup mulutnya. Tak percaya jika selama ini Budi tahu dan bersikap biasa saja seolah tak tahu apa-apa.
"Mas Budi, bisa kita bicara sebentar soal ini? Banyak hal yang mengganjal."
Mereka pun berbicara secara serius di pojok taman yang tak terjangkau orang lain. Sedangkan Reno dan Wahyu masih bermain, Joko masih membereskan garasi. Tanpa mereka sadari, Mak Sri mendengar percakapan Budi dan Santi. Tangan Mak Sri gemetar, ketakutan.
__ADS_1
***
Di sisi lain, Bima sedang mengawasi pengikutnya ....
"Mas ... Mas Bagas ...." teriak Wati memanggil suaminya.
Bagas yang baru pulang kantor bergegas lari ke kamar. "Ada apa, Wati?"
"Mas ... kok perutku sakit ini? Sakit banget dan tiba-tiba membesar ini," kata Wati sambil menunjuk perutnya.
Bima tersenyum melihat hal itu. Ini salah satu janji yang akan Bima penuhi. Anak dari hasil hubungan Bagas dan Wati saat memulai perjanjian gaib dengan Bima, yang seharusnya tidak bisa terwujud karena Wati mereka mandul.
"Wah, ini benar terjadi? Tuan Bima memberi kita anak? Sesuai perjanjian itu berarti sebentar lagi aku jadi Direktur Perusahaan." Bagas takjub melihat perut Wati yang membesar padahal belum genap sebulan setelah istrinya telat menstruasi seusai ritual gaib.
"Kok malah bicarain jabatan? Ini gimana, Mas? Ayo ke dokter."
"Oh, iya. Ayo sini naik mobil."
Bagas memapah istirinya menuju mobil. Lalu melaju ke klinik kandungan. Bima mengikuti mereka. Tanpa mereka sadari, anak dalam kandungan mereka adalah hasil dari perpindahan janin milik orang yang menumbalkan anaknya.
Sesampainya di klinik, dokter segera memeriksa Wati. Bagas menemani istrinya dengan cemas.
"Usia kandungan sudah masuk 30 minggu dan ini kontraksi hebat serta sudah bukaan kedua. Akan dipersiapkan untuk persalinan," kata Dokter membuat Wati dan Bagas terkejut dan saling tatap.
"D-dok ... persalinan? Lahiran sekarang?" tanya Wati gugup.
"Iya, sabar Bu. Kami segera persiapkan ke ruang persalinan," kata Dokter.
Lalu bidan dan perawat datang membawa Wati ke ruang persalinan. Bagas berjaga di depan. Lalu suara Bima terdengar seperti berbisik, "BAGAS ... SATU PERMINTAAMU TERWUJUD. BESOK, KAU AKAN DIPROMOSIKAN MENJADI DIREKTUR SESUAI KEINGINANMU. LALU SETIAP PURNAMA, WATI AKAN BERSAMAKU DAN KAMU AKAN MENERIMA HARTA SEBAGAI GANTI SESAJI."
"Te ... terima kasih Tuan Bima," lirih Bagas yang tersenyum puas.
Beberapa saat kemudian terdengar suara tangis bayi. Bagas berdiri dan mencoba menengok ruang persalinan. Terlihat bidan menggendong bayi dan membawa ke ruang lain untuk dimandikan.
Bahagia di hati Bagas. Orang tua Wati pasti senang melihat cucu pertama mereka. Pastinya harta Wati akan bertambah karena orang tua Wati menjanjikan sebuah deposito ratusan juta untuk cucu pertamanya.
"BAGAS, HARI INI KUTUNGGU TUMBALMU SELANJUTNYA." kata Bima yang terdengar hanya oleh Bagas.
"B-baik Tuan Bima."
Bagas pun mengambil handphone dari waist bagnya. Menghubungi seorang wanita yang sudah lama tak berkomunikasi dengannya.
[Nanti malam jalan-jalan yuk.] Bagas mengirim pesan ke calon tumbalnya.
[Wah, sayang tumben hubungi aku. Share lock ya.] Balas wanita itu.
__ADS_1
Bagas pun menyeringai. Mudahnya mencari tumbal.
Bersambung....