JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
JERAT IBLIS - 2 - BAB 72


__ADS_3

...🔥 HITAM DAN PUTIH 🔥...


Setiap orang pasti memiliki satu sisi hitam dan satu sisi putih. Tidak ada terkecualian orang luput dari dua sisi itu, karena ada yang rela menjadi sisi pertengahan yaitu abu-abu. Demi mendapatkan sesuatu, dia rela berubah menjadi baik atau buruk dalam sekejap. Iya, orang-orang tersebut adalah orang yang suka mencari muka, orang yang suka mengacau, orang yang suka mengada-ada, dan munafik. Pasti banyak sekali manusia yang melakukan hal seperti itu. Tidak hanya di lingkungan pekerjaan, bahkan di rumah ataupun di lingkungan sosial banyak manusia yang memakai topeng abu-abu demi keselamatan diri sendiri. Meski tindakannya secara langsung atau tidak langsung mengorbankan orang lain.


Saat ini, Ningsih yang sedang dalam pertobatan mencoba menjalani kehidupan lebih tenang dengan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Meski awalnya Ningsih ragu-ragu, tetapi beberapa hari ini dia menjalani salat lima waktu secara teratur. Hal itu membuat hatinya semakin tenang setiap harinya. Bahkan, Wahyu waktu mendukung apa yang dilakukan ibunya itu. Wahyu sangat bersyukur karena Allah sudah membukakan jalan agar ibunya bisa kembali ke jalan yang menjadi takdirnya.


Dalam setiap sujud sembah dan doa Ningsih, selalu terucap nama Bima, Wahyu, dan Alex. Ketiga lelaki yang menemani kehidupannya selama ini menjadi prioritas utama dalam setiap doanya. Apakah pantas manusia yang penuh dosa bertaubat, lalu meminta ampunan kepada Sang Pencipta untuk kedua makhluk yang bukan manusia? Mungkin terdengar sangat konyol, tetapi itulah yang dilakukan setiap selesai sujud salatnya.


Seperti malam ini, setelah salat Isya Ningsih kembali meneteskan air mata. Mengingat semua perbuatan di masa lalu, tak lupa kali ini dia mendoakan arwah yang sudah menjadi tumbalnya. Mulai dari Mas Agus yang tidak lain dan tidak bukan adalah ayah kandung dari Wahyu. Meski Mas Agus sering menyiksanya, Ningsih sadar jika tak seharusnya dijadikan tumbal. Ningsih meminta ampunan kepada Allah atas segala kesalahan dan dosa. Mungkin dengan cara seperti ini, bisa membantu meringankan siksaan mereka.


Kemudian Ningsih juga memohon ampun dan doa untuk Mas Tomi. Lelaki yang sebenarnya Ningsih sayangi karena sifatnya yang baik dan terpaksa menjadi salah satu tumbal agar Ningsh mendapatkan kekayaan. Air mata itu menetes dan doa itu terhenti. Rasa sesak di dalam hati terasa pada Ningsih. Dia tidak bisa melanjutkan doanya untuk tumbal selanjutnya karena rasa sakit sangat menghimpit. Meski terdapat tujuh tumbal yang diberikan untuk neraka, dia baru sanggup mendoakan dua orang yang sebenarnya dia sayangi.


"Ampuni hamba, ya Allah, hamba penuh dosa sudah mengorbankan orang lain demi kekayaan. Sudah mencintai makhluk yang bukan menjadi pasangan yang seharusnya. Oleh sebab itu, terimalah sujud dan juga permohonan maaf yang akan selalu hamba haturkan setiap harinya. Hamba ini orang berdosa, ya Allah. Hamba ini tidak pantas melihat Surgamu, tetapi izinkanlah hamba jalani hari-hari dengan tenang. Izinkanlah hamba untuk menjalani kehidupan yang tersisa dengan bahagia yang berasal dari Engkau. Sesungguhnya, hanyalah Engkau yang Maha Penyayang, Maha Melihat, Maha Mengerti, dan juga Maha Pengampun. Amin."


Setelah selesai berdoa, Ningsih pun merapikan sajadah dan juga melepas mukena. Wanita itu segera bergegas untuk istirahat. Memang besok pagi dia harus ke tempat pesantren karena Wahyu ingin pulang rumah saat libur akhir pekan. Perasaan Ningsih sangat senang karena anaknya terlihat antusias menanti untuk bertemu langsung dengan ibunya. Terlebih dengan penampilan Ningsih yang saat ini, dia semakin yakin pantas untuk bersama anaknya yang sholeh.


"Memang pertolongan Allah itu tepat pada waktu-Nya. Pertobatan pun tidak pernah terlambat. Asalkan sebagai umat betul-betul memasrahkan kehidupan kepada Sang Pencipta," gumam Ningsih sambil tersenyum melihat foto anaknya di atas meja.


Setelah membaringkan tubuh di ranjang, Ningsih menatap langit-langit kamar sambil membayangkan banyak hal indah. Sebelum akhirnya dia terlelap dalam tidur. Beristirahat yang cukup adalah salah satu hal yang bisa dilakukan untuk menghindari stres yang berlebihan. Itulah yang saat ini Ningsih lakukan agar tidak mudah stres. Apalagi perubahan yang Ningsih lakukan memancing kontroversi. Ada yang mendukung, ada yang mencibir, bahkan menghina jika busana yang dipakai tepat untuk Ningsih. Meski begitu, dia tak pernah menyerah karena sesungguhnya Allah yang paling mengerti hati manusia.

__ADS_1


...****************...


Pagi harinya ....


Ningsih sudah salat subuh, lalu persiapan berangkat ke tempat anaknya. Hari ini, Sabtu pagi sudah menjadi liburan cuti bersama dan Wahyu baru mulai kembali setelah seminggu libur. Waktu yang cukup banyak untuk bersama Ningsih.


Wanita itu dengan semangat mengendarai mobil menjemput anaknya. Sepanjang jalan, tak henti dia berdoa dan bersyukur karena bahagia bisa bertemu anaknya lagi. Ningsih mengenakan gamis berwarna merah marroon polos dan hijab putih dengan motif bunga-bunga. Terlihat anggun dan cantik.


Setelah sampai di tempat tujuan, Ningsih segera turun dari mobil. Tepat saat itu, anaknya sudah bersiap di depan pesantren ditemani Budi yang sedang berbincang. Ningsih keluar dari mobil dan melangkah perlahan ke arah mereka.


"Assalamualaikum ...." sapa Ningsih membuat Budi terkejut melihatnya.


"Wa'alaikum ... salam ... Ningsih, apakah itu kamu?" tanya Budi yang masih tak percaya dengan apa yang dia lihat.


"Subhanallah ... cantik sekali ciptaan Allah," batin Budi tak berani mengucapkan di depan wanita itu. Budi bersyukur Ningsih mau bertaubat dan langsung mengubah penampilannya.


Tidak seperti Nindy, Santi yang melihat penampilan baru Ningsih langsung senang dan mengajak berbicara. "Tante Ningsih? Masyaallah cantik sekali. Hampir saja aku tidak tahu kalau itu Tante," ucap Santi sambil menghampiri ibunya Wahyu. Dia langsung memeluk Ningsih dengan erat.


"Santi! Wah, senang sekali ketemu lagi. Maaf sudah banyak merepotkan. Wahyu liburan di Yogyakarta saja, ya," kata Ningsih sekalian meminta izin.

__ADS_1


"Iya, Tante tidak apa. Terpenting semua sehat dan bahagia. Santi senang sekali Tante sekarang makin cantik. Tante jaga kesehatan, ya?" Santi sangat takut satu hal. Dia sudah kehilangan ayah dan ibunya. Hanya Tante Ningsih keluarga yang tersisa di sini. Dia takut jika tantenya terjadi sesuatu.


"Iya, Santi. Kamu juga ya. Sekeluarga jaga kesehatan. Kami pamit dulu, ya. Soalnya perjalanan jauh."


"Tante tidak mampir dulu, sarapan?" Santi mencoba menahan tantenya untuk lebih lama di sana.


"Sudah siang ya, Wahyu. Kita pulang saja, ya? Pamit sama Santi dan Budi dulu sana," kode Ningsih sambil tersenyum.


"Baik, Ma. Kak Santi, Wahyu pulang dulu ya berlibur. Pak Budi, saya pulang dulu," ucap Wahyu dengan sopan.


"Iya, kalau tidak di kelas jangan terlalu formal. Panggil Kakak juga boleh biar awet muda. Ha ha ha ...." Budi tertawa sambil menatap ke arah Wahyu dan Ningsih.


Setelah berpamitan, mereka pun masuk ke mobil untuk melanjutkan perjalanan pulang ke Yogyakarta.


...****************...


...PENGUMUMAN...


...Jika suka karya ini, jangan lupa VOTE ya guys^^...

__ADS_1


...Bagi para pembaca JERAT IBLIS yang ingin masuk ke GRUP CHAT, baiknya memberi password saat masuk agar diterima. Sebutkan 3 pemain di Novel JERAT IBLIS. Lalu tulis itu saat hendak masuk grup. Hal ini diadakan karena mengikuti usul para admin demi kenyamanan sesama penghuni Grup Chat, mohon diperhatikan ya guys. Thanks^^...


...Jangan lupa baca karya Author Rens09 berjudul The Hunter (Gambar Lee Min Ho) khusus untuk DEWASA ya karena 21++ ada adegan hot dan bunuh-bunuhan. Terima kasih^^...


__ADS_2