JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
JERAT IBLIS - 2 - BAB 60


__ADS_3

...🔥 Rasa yang Tak Seharusnya 🔥...


Sepanjang malam Budi merasa tidak tenang sehingga tidak bisa tidur nyenyak. Dia masih memikirkan keadaan Ningsih yang terlihat murung. Di dalam hati Budi, masih teringat dengan jelas semua soal masa lalu. Saat Budi memilih untuk menjadi penjaga di rumah Ningsih dan juga menjadi tukang kebun agar dekat dengan Ningsih. Dia seperti itu untuk melindungi Mak Sri. Namun, perlahan tetapi pasti rasa itu muncul. Ya, sudah sejak lama Budi mengagumi Ningsih dan sebenarnya ingin membuat Ningsih kembali ke jalan-Nya.


Budi ingat betul seperti apa Ningsih setiap harinya saat menjalani kehidupan di Jakarta. Wanita itu terlihat kesepian meski banyak orang di sekelilingnya. Dia hanya fokus pada pekerjaan dan pengembangan bisnis demi mencukupi segala kebutuhan anaknya. Itulah yang menjadi salah satu alasan Budi menjadi sangat menyayangi Wahyu. Dia masih ingat saat Wahyu masih kecil dan begitu disayangi oleh Ningsih. Selain itu, almarhum Kyai Anwar-Ayah Budi pun menyayangi Wahyu seperti cucunya sendiri.


Jika boleh dikata, sebenarnya ada sebuah perasaan di hati Budi yang masih tersimpan rapat. Perasaan yang berbeda jauh dengan apa yang dia rasakan bersama Santi yang sudah menjadi istrinya saat ini. Selama ini, Budi hanya memendam dan terdiam karena dia mengikuti apa yang dikatakan mendiang ayahnya sebelum meninggal. Ya, Pak Anwar menginginkan Budi untuk menikahi Santi-seorang gadis yang soleha yang dianggap pantas menjalani hidup dengan Budi. Padahal di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Budi tidak menginginkan hal itu. Dia menaruh rasa kepada Ningsih, tetapi tak bisa mengungkapkan dan akhirnya terpendam dalam hati saja. Rasa yang tak seharusnya ada dan dikenang hingga saat ini.


"Astaghfirullahaladzim ... mengapa aku memikirkan hal itu? Ampuni hambamu ini, ya Allah ... tetapi tidak bisa dipungkiri. Hatiku ini merasa cemas melihat wajah Ningsih tadi. Apakah aku harus menghubunginya?" batin Budi bergejolak saat mengingat tentang Ningsih.


Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam dan lelaki itu belum bisa tidur. Sedangkan istri dan anaknya sudah terlelap. Boleh dikata hal ini karena Budi yang khawatir dengan Ningsih. Lelaki itu pun segera mengambil ponselnya. Seketika dia mengetik beberapa kalimat untuk dikirim ke nomor ponsel Ningsih. Dia memastikan jika Santi sudah terlelap agar tidak menimbulkan salah paham. Budi tahu jika Santi cemburu dengan tantenya itu. Dahulu soal Reno dan Joko saja sudah membuat Santi hampir kehilangan akal sehat. Apalagi saat ini?


Budi: [Assalamualaikum ... apakah sudah sampai rumah, Ningsih?]


Beberapa saat Budi merasa cemas karena belum ada balasan. Dia mencoba mengirim pesan kembali kepada Ningsih.


Budi: [Malam, Ningsih. Apakah sudah sampai rumah? Aku khawatir.]


Belum juga ada tanda balasan dari Ningsih. Budi semakin cemas. Hingga sampai lima menit kemudian, ponselnya pun bergetar tanda ada sebuah pesan masuk. Budi langsung semangat membuka ponselnya. Benar tebakannya, Ningsih membalas pesan itu. Budi sangat senang membaca pesan itu.

__ADS_1


Ningsih: [Waalaikumsalam ... Selamat malam, Budi. Iya, aku sudah sampai tadi sekitar pukul sembilan malam. Maaf belum mengabari karena aku langsung tertidur. Ini baru saja bangun. Ada apa Budi?]


Ningsih terlalu lelah bersedih dan menangis hingga ketiduran tadi sepulang perjalanan. Dia melihat handphonenya untuk memastikan jam berapa saat ini. Ningsih langsung membalas pesan di ponselnya ketika terbangun dari tidur. Ya, pesan dari Budi.


Budi: [Alhamdulillah ... syukurlah kalau sudah sampai di rumah. Maaf ya, Ningsih, aku hanya menanyakan saja karena sejak tadi perasaanku tidak tenang. Syukurlah kalau kau sudah sampai di rumah. Beristirahatlah, segera mandi dan makan malam.]


Budi merasa tenang Ningsih sudah membalas pesannya. Dia pun mengirim pesan kembali. Tentu saja tanpa sepengetahuan istrinya. Karena takut menjadi salah paham yang menimbulkan pertikaian.


Ningsih: [Iya Budi. Terima kasih perhatiannya.]


Budi: [Ningsih, apakah kamu sungguh-sungguh tidak ingin menceritakan apa yang sedang kau pikirkan? Sepertinya ada beban berat yang kau pikirkan saat ini. Jika kau sudah bersedia untuk menceritakan, kirim saja pesan kepadaku atau telepon aku. Aku pasti menyediakan waktu untuk mendengarkan keluh kesahmu. Kalau perlu, aku ke sana ... ke rumahmu, jika kau berkenan.]


Budi mengirimkan pesan itu sambil tersenyum-senyum, merasakan hal yang membuatnya senang sendiri. Mencurigakan dan aneh jika ada yang melihat ekspresi wajahnya. Namun, berhubung Santi sudah tidur pulas, semua berjalan mengalir begitu saja. Budi tidak paham jika hal itu bisa menjadi sebuah masalah. Pesan yang dia kirim sudah membuka suatu perasaan yang tak semestinya ada.


Ningsih pun melangkahkan kaki menuju dapur karena perutnya terasa sangat lapar. Dia masih membawa ponsel untuk berbalas pesan dengan Budi. Setelah membalas pesan Budi, Ningsih meletakkan ponselnya di meja ruang makan. Dia pun bergegas mencari makanan di dalam kulkas.


Membaca jawaban itu dari pesan singkat yang Ningsih kirim membuat Budi merasa sangat senang. Seakan-akan dirinya merasa terbang melayang.Dia senang mendengar pujian dari Ningsih. Budi pun langsung memegang jantungnya yang berdebar kencang. Perasaan apakah itu? Perasaan yang tidak seharusnya ada padanya. Saat ini Budi sudah memiliki istri dan anak. Perasaan itu hadir kembali saat tak tepat.


Budi: [Baiklah kalau begitu, Ningsih. Selamat malam dan selamat istirahat. Jka ada apa-apa, besok hubungi aku, ya.]

__ADS_1


Setelah mengirim pesan terakhir itu Budi langsung mencoba memejamkan matanya. Dia membatasi untuk tidak mengirim pesan lagi karena sesuatu yang aneh dia rasakan. Terdengar detak jantung yang tak menentu membuatnya merasa sedikit sesak, tetapi tak apa karena dia merasa lebih tenang sekarang setelah memastikan Ningsih sudah sampai rumah dengan keadaan baik-baik saja. Perasaan apa ini? Mengapa Budi merasa gugup dan bingung?


Ningsih pun merasa senang diperhatikan oleh Budi. Dia pun teringat saat pertama kali Budi masuk bekerja. Mak Sri sangat baik pada Ningsih hingga mencarikan pekerja yang ternyata adalah ponakannya. Sebuah kenangan, memori yang indah beralun perlahan di pikiran Ningsih. Flashback menjadi kenangan yang indah.


Budi seorang pemuda yang sopan dan baik hati. Dia pun menolong Ningsih dan juga Wahyu tanpa pamrih. Tidak seperti lelaki lainnya yang penuh dengan trik dan modus. Budi sangat berbeda walaupun pada saat itu usia Budi dan juga almarhum Joko hampir sama. Terlihat sangat jelas berbeda jauh sifatnya. Itulah yang membuat Ningsih sempat simpatik kepada Budi. Namun, menyadari dirinya yang berlumur dosa, sedangkan Budi ternyata anak dari Kyai terpandang yang akan mewarisi pesantren ayahnya, Ningsih tidak berani untuk mendekati Budi apalagi dirinya sudah menjadi milik Bima. Karena itu, Ningsih mencoba bersikap sewajarnya dan biasa saja. Dia menghindari kontak mata atau kontak fisik dengan Budi selama lelaki itu bekerja dengannya.


"Terima kasih ya, Budi, kau sudah menjaga anakku. Membuat anakku menjadi lelaki yang sholeh dan juga sekarang kamu memperhatikanku. Sebagai ponakan, kamu cukup baik. Aku bersyukur Santi mendapatkan suami sepertimu. Semoga kalian selalu bahagia," gumam bibir Ningsih sambil meletakkan ponselnya di atas meja makan setelah selesai berbalas pesan dengan Budi.


Ningsih membuka kulkas dan menemukan salad sayuran serta spaghetti. Ningsih pun menghangatkan spaghetti itu di dalam microwave dan menyantap salad sayuran terlebih dahulu. Setelah sudah selesai memakan salad, dia bergegas mengambil spaghetti di dalam microwave dan memakan secara perlahan.


Teringat kembali pikiran Ningsih dengan canda tawa Wahyu sewaktu kecil. Wahyu sangat suka spaghetti, tetapi yang menjadi makanan favoritnya adalah makan di McD. Sudah berapa kali dia makan di sana? Tak terhitung lagi. Sangat menggemaskan dan membuat Ningsih tersenyum sendiri. Andaikan waktu bisa diulang dan semua bisa diperbaiki, tentu saat ini ini tidak akan sesunyi ini. Begitu yang Ningsih pikirkan karena pada kenyataannya sekarang Ningsih hanya sendirian. Usaha sukses tidak menjamin kebahagiaan seseorang, bukan? Begitulah yang Ningsih rasakan. Rumah mewah, usaha sudah berjalan, ada pembantu dan juga satpam, anak berada di pesantren terkenal, sedangkan dirinya merasa kesepian.


Kesunyian itu menggerogoti hatinya perlahan. Terlebih jika mengingat Bima dan Alex yang sudah tidak ada bersamanya. Hal itu membuat Ningsih semakin sedih. Begitukah kehidupan? Sekejam itukah perasaan yang menghantuinya? Setelah menyelesaikan makan, Ningsih pun bergegas untuk mandi air hangat. Menyegarkan kembali tubuh dan pikirannya sebelum kembali tidur.


Di dalam kamarnya, terdapat kamar mandi yang menggunakan shower dan juga bath up. Ningsih pun mengucurkan air dari shower. Air hangat itu mengalir ke atas tubuhnya yang sudah tak berpakaian. Air hangat itu bergemericik menyentuh kulitnya dan membuatnya merasa segar dengan bulir-bulir sabun yang dia gosokkan ke seluruh tubuh. Sangat segar baginya. Merefresh semua pemikiran dan kesedihannya.


Selesai mandi, Ningsih pun memakai baju tidur dan segera berbaring di ranjangnya. Dia menghela napas panjang dan mencoba memejamkan mata. Banyak hal yang sudah terjadi, tetapi kali ini Ningsih memusatkan kepada segala kebahagiaan yang sudah dia alami. Dia melakukan itu agar tidak merasakan kesedihan yang terlalu dalam. Apalagi saat ini dia hendak tidur.


"Selamat malam dunia. Selamat malam Bima, Alex , dan juga Wahyu-anakku. Meski kita saat ini tidak berada dalam satu jangkauan, aku yakin kalian pasti merasakan hal yang sama. Itulah arti rindu keluarga," gumam Ningsih yang kemudian memejamkan matanya.

__ADS_1


Di tempat yang berbeda, Wahyu pun memikirkan Ningsih, Bima, dan Alex setelah sujud tengah malam. Meski dia tahu hal ini tak wajar memiliki keluarga manusia dan iblis, tetapi Wahyu masih mendoakan mereka semua agar Allah memberi jalan terbaik.


Dalam neraka, Bima dan Alex pun memikirkan Ningsih dan Wahyu. Benar yang Ningsih katakan, dalam waktu yang sama dan tempat berbeda, mereka bisa saling memikirkan satu dengan yang lainnya. Arti keluarga yang sangat mendalam.


__ADS_2