
...π₯ HAMPA SETIAP HARI π₯...
Hari pertama setelah kepergian Bima, Ningsih sudah tersadar meski masih terpukul dalam kesedihan. Mau tak mau harus melanjutkan kehidupan. Seperti dalam pesan Bima, saat lelaki itu membawa pergi Alex. Saat itu juga, Dinda dan Boy harus pergi dari kehidupan keluarga Ningsih. Lauren dan Daniel pun ikut pergi dan melanjutkan hidup mereka.
Reno dan Nindy kembali di rumah dan menjalani apa yang ada. Sedangkan Wahyu, sementara menemani mamanya yang masih terluka. Dia meminta izin lebih lama di Yogyakarta kepada Budi selaku pemilik pesantren. Demi niat baik Wahyu mengajak mamanya bertaubat, Budi pun memperbolehkan dia di sana sejenak.
"Ma, nanti kita pergi belanja, yuk! Kebutuhan bulanan sudah mau habis," ajak Wahyu agar mamanya mau bersemangat.
"Hmm ... minta bibi belanja saja. Nanti Mama beri uang dan daftar belanjanya," jawab Ningsih masih bersedih.
Wahyu tidak menyerah. Dia masih membujuk mamanya. "Ma ... Wahyu ingin beli sepatu. Mama pilihin, ya? Sudah lama Wahyu nggak jalan-jalan sama Mama," ucap pemuda itu dengan memajang wajah pura-pura sedih. Seperti yang dia perkirakan, mamanya langsung menatap pemuda itu dan luluh.
"Oh, Sayang ... maafkan Mama, ya. Iya, ayo kita ke mall sekalian belanja bulanan. Mama sampai lupa kalau banyak yang belum mama belikan untukmu selama sembilan tahun ini," kata Ningsih yang langsung memeluk tubuh anaknya.
Meskipun dalam hati masih bersedih, Ningsih tak bisa mengabaikan keinginan putra pertamanya. Semua yang Ningsih jalani semata untuk anaknya yang tercinta. Wahyu pun merasa senang mamanya mau tersenyum dan ikut ke mall. Perlahan tapi pasti, Wahyu mencoba membuat mamanya lupa akan kesedihan.
Ningsih dan putranya masuk ke mobil. Ningsih yang mengendarai mobil itu. Melaju perlahan ke arah kota. Pergi ke mall yang paling lengkap di sana.
"Mama ... terima kasih, ya," lirih Wahyu sambil menatap mamanya.
"Sama-sama, Sayang. Ini tanggung jawab Mama dan tugas Mama. Sudah seharusnya kamu juga mendapatkan kebutuhan yang kau perlu," jawab Ningsih dengan senyum manis menghiasi wajahnya.
"Bagaimanapun sedihnya aku, aku harus tetap tersenyum di hadapan putraku. Dia adalah yang terpenting bagiku. Sembilan tahun dia tak ingin pulang, tetapi kini Wahyuku sudah besar dan bersamaku. Aku harus berusaha yang terbaik," batin Ningsih sepanjang perjalanan ke mall.
Mobil hitam yang menjadi saksi bisu segala kenangan indah Ningsih dengan suami dan anaknya itu, kini terasa luas dan sepi. Hanya dia dan Wahyu yang menggunakan, serasa ada yang hilang, serasa ada yang berkurang. Apakah Bima dan Alex di sana merasakan hal yang sama? Apakah mereka juga kehilangan seperti yang Ningsih dan Wahyu rasakan?
Sepanjang perjalanan pun, Wahyu merasakan hal yang sama. Sepi dan seperti ada yang hilang. Dia pun menyadari kehadiran Bima dan Alex memang sangat berarti, tetapi bukankah itu dilarang oleh Sang Penguasa? Sama saja menyekutukan Tuhan karena hidup bersama Iblis tidak seharusnya bagi manusia. Berawal dari ingin hidup kaya dan lebih mudah segala sesuatunya, Ningsih masuk ke dalam JERAT IBLIS. Seiring berjalannya waktu, hal itu membawa rasa cinta yang makin hari makin menjerat sepasang kekasih beda dunia.
Wahyu memikirkan hal itu, mungkin memang perpisahan yang terbaik untuk keduanya. Harapan jika mamanya akan bertaubat pun muncul dalam benak Wahyu. Sebagai anak dan satu-satunya keluarga Ningsih, tentu saja pemuda itu ingin membawa mamanya ke jalan yang semestinya.
Tak terasa perjalanan tiga puluh menit pun berlalu. Mereka sudah sampai di mall. Ningsih dan anaknya pun keluar dari mobil. Berjalan bersama ke dalam mall.
"Kamu mau beli apa saja, Wahyu? Bilang ke Mama. Kita pilih bersama, ya. Seperti waktu Wahyu kecil dulu. Kita sering jalan-jalan dan belanja dengan Reno dan Santi, 'kan?" ujar Ningsih sambil menggandeng tangan Wahyu seperti saat masih kecil.
Ternyata banyak waktu yang terlewat dalam hidup Wahyu ketika marah dengan mamanya. Dia masuk ke pesantren dan tahu apa yang mamanya lakukan. Dia kecewa waktu itu dan mencoba menimba ilmu agama demi membawa mamanya kembali ke jalan yang diridhoi Sang Penguasa. Namun, seiring berjalannya waktu, Wahyu mulai dekat dengan Alex. Terlebih saat dia memutuskan pulang ke rumah. Dia menyadari bahwa Bima-iblis yang dahulu Wahyu benci, sudah berubah drastis menjadi seperti manusia. Bukan hanya wujud saja, tetapi sikap dan pemikirannya sangat manusiawi.
Sejak itu, Wahyu mengurungkan niat untuk memisahkan orang tuanya. Dia hanya bisa meminta kepada Allah jalan mana yang harus ditempuh. Ternyata, jalan ini yang terbaik. Orang tuanya berpisah karena takdir Sang Pencipta yang luar biasa.
...****************...
__ADS_1
Hari demi hari berlalu. Ningsih menjalani hari yang hampa dan sepi dengan sebaik mungkin. Dia tak ingin kelihatan sedih karena Wahyu ada bersamanya. Dia bersyukur karena Wahyu mengambil libur cukup lama pada Budi selaku pemilik pesantren untuk menemaninya.
Malam itu, Ningsih menatap langit gelap di angkasa yang bertabur bintang. Dia teringat saat menatap langit malam bersama Bima.
Saat itu, Bima berkata, "Jika kelak kau merindukanku, tataplah langit malam. Lalu pejamkan matamu sejenak. Setelah itu, tataplah langit dan kau akan temukan aku melihatmu dari bintang yang terlihat paling terang."
Ningaih mengingat itu dan melakukannya. Dia menatap langit malam dan belum melihat bintang terang yang Bima maksud. Dia pun memejamkan mata. Membayangkan suaminya berada di sisinya. Setelah itu, perlahan dia membuka mata dan terlihat satu bintang yang bersinar sangat terang. Ningsih pun terkejud.
"Bima ... apakah benar itu kamu? Seperti yang kamu pernah katakan padaku?" gumam Ningsih sambil menatap bintang yang paling terang itu dengan mata berkaca-kaca.
...π΅π΅ Kupejamkan mata ini ... mencoba tuk melupakan...
...Segala kenangan di jiwa tentang dirimu ... tentang mimpiku .......
...Namun kini kau menghilang bagaikan ditelan bumi ......
...Tak pernahkah kau sadari arti cintamu untukku .......
...Entah di mana dirimu berada ......
...hampa terasa hidupku tanpa dirimu...
...Seperti diriku yang selalu merindukanmu...
...Selalu merindukanmu .... π΅π΅...
Ningsih menangis. Dia sangat tersiksa dalam kehampaan hidup dan rasa rindunya. Meski sudah sebulan berlalu setelah kepergian Bima, Ningsih masih memikirkannya. Masih mencintainya. Masih tersiksa dalam rindu dan segala tanda tanya.
Bintang yang bersinar terang itu pun seakan berkelip. Seperti mengisyaratkan rasa yang sama dengan Ningsih. Wanita yang merasa hampa setiap harinya pun mengusap perlahan air mata yang membasahi pipi. Dia teringat juga jika Bima tak ingin melihatnya menangis dan sedih.
"Sayang, aku harus tegar demi kamu. Demi anak-anak kita. Aku akan mencoba meski sakit. Lagi pula Alex juga akan baik-baik saja bersamamu, bukan?" gumam Ningsih tanpa jawaban.
Hanya desir angin malam yang membelai lembut dirinya. Membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Ningsih sadar betul jika Alex akan lebih baik bersama ayahnya. Bagaimana lagi? Karena pertempuran terakhir membuat Alex, Wahyu, dan Bima terluka parah. Bahkan, Alex tak bisa menolong saat Nindy diculik karena kondisinya yang belum pulih. Ningsih yang mencegah anaknya menggunakan kekuatan lagi karena takut akan berakibat fatal.
Ningsih hanya yakin satu hal. Rasa cinta Bima dan Ningsih akan tetap sama. Kemarin, hari ini, dan sampai selamanya akan tetap sama. Cinta yang mereka rasakan akan abadi. Seperti janji mereka yang akan selalu menjaga meski jarak memisahkan.
...****************...
Di sisi lain dalam neraka ....
__ADS_1
Bima menjalani hari-hari dengan hampa. Dia hanya mengikuti perkataan Tuan Lucifer. Di sana, waktu lebih cepat berlalu. Beda dengan dunia manusia. Bahkan tak ada penentu karena tak ada malam atau pagi. Semua sama saja.
"Alex, berlatihlah sebaik mungkin. Tuan Lucifer sudah bermurah hati pada kita." kata Bima pada anaknya yang memiliki potensi tinggi menjadi salah satu panglima neraka.
"Iya, Pa. Alex akan berikan yang terbaik." Alex berlatih keras karena dia ingin bisa mencari celah untuk membawa orang tuanya bersama lagi.
Saat itu, Tuan Lucifer mempersiapkan Bima dan Alex untuk menjadi pasukkan terbaik di neraka. Tuan Lucifer mulai mempersiapkan hal itu untuk membuat neraka kembali jadi satu kesatuan. Tidak terpisah dan saling bersain seperti saat ini. Keputusan membuat tujuh lapis neraka dengan dosa yang berbeda ternyata bukan hal yang baik. Ribuan tahun berjalan, ternyata tidak makin baik, malah makin kacau.
Para panglima neraka yang berada di sana justru saling bersaing. Mereka pun diam-diam menghimpun energi untuk melakukan pemberontakan demi memperluas wilayah mereka. Segala kelicikan dan rencana itu sudah tercium oleh penguass neraka yang murka. Dia justru memiliki rencana yang lebih baik.
Bima juga berlatih untuk memulihkan energi dan menaikan energinya sesuai yang dikatakan Tuan Lucifer. Dia yakin jika semua ini akan ada akhirnya. Dia masih berharap bisa kembali dengan Ningsih.
"Ningsih, semoga kau baik-baik saja di sana. Wahyu pasti akan mengasuhmu dengan baik. Aku yakin kita bisa bersatu lagi," gumam Bima yang merasakan istrinya sedang bersedih.
...****************...
Di sebuah tempat ....
"Jangan tangkap dia! Dia tidak ada kaitannya dengan ini!" seru Evan saat hampir terbunuh.
"Kalau kau tak ingin wanita iblis ini kumusnahkan, cari keberadaan Bima dan keluarganya!" gertak iblis yang marah.
"Mengapa ganggu aku dan Lily? Kami tidak ada sangkut pautnya dengan mereka!" gertak Evan yang kemudian bangkit dan coba menyerang kembali.
Iblis itu pun makin marah dan menyerang Evan. Membuat Evan jatuh dan terguling.
"Ingat pesanku! Bawa Bima dan keluarganya atau kumusnahkan kekasihmu!" Iblis itu berseru dan kemudian menghilang.
Evan terluka parah. Darah hitam mengalir dari sudut bibirnya. Dia terluka dalam dan harus segera mencari pertolongan.
"Lily ... tidak!" teriak Evan yang melihat kekasihnya dibawa pergi.
Lily sudah tak sadarkan diri karena Iblis itu membuatnya seperti tertidur. Lily sengaja dijadikan tawanan karena iblis itu tahu Evan sangat menyukai Lily dan bisa dimanfaatkan untuk meraih keinginannya.
Pada dasarnya, mencintai segala sesuatu janganlah berlebihan. Jika berpisah, pasti meninggalkan luka. Jika tak bersama, pasti akan meninggalkan pesakitan di hati. Mencintai dengan sewajarnya, akan membuat makhluk bisa berpikir rasional dan tidak mudah dimanfaatkan.
...****************...
......Hai guys, jangan lupa like dan share agar makin banyak yang membaca JERAT IBLIS.......
__ADS_1
...Vote serentak hari Senin ya^^...