
...🔥 NO ESCAPE 🔥...
Pagi itu, Mama Fani mengajak putranya pergi ke tempat di mana mereka menemui Dinda. Mereka pergi ke sebuah gunung dengan hutan lebat di mana banyak orang memuja demi mendapat harta, tahta, maupun pasangan. Mama Fani mencari di mana Dinda berada, pada sebuah pohon besar tempat memuja. Namun, mereka tak menemukannya.
"Dia tak ingin menemui kalian." ucap seorang nenek tua yang membuat Lukas dan Mama Fani menengok ke arah si pemilik suara.
"Maksud nenek apa?" tanya Mama Fani yang melihat nenek tua dengan rambut putih, mengenakan jarik, dan baju kebaya model zaman dulu.
"Kalian harusnya sudah tahu maksudku. Sekali saja kalian membuat perjanjian, apa lagi dengan menggunakan darah, maka tidak akan ada ada jalan keluar untuk kembali. Kalian sudah melakukan hal yang dilarang, terutama anakmu itu!" jelas nenek tua yang mengunyah sesuatu berwarna merah khas orang tua tanah Jawa dahulu kala.
"Nek, bisa bantu saya? Saya mohon, Nek." pinta Lukas mendekati nenek itu.
"Tak bisa. Kamu sudah terlalu jauh, Nak. Kamu tak hanya meminta pengasihan dan membuat wanita menggilaimu, kamu sudah bersekutu dengan Iblis dan memberinya darahmu serta membuat orang yang kamu cintai meninggal dalam pengaruh Iblis. Sekali kamu masuk JERAT IBLIS tidak ada kesempatan lain untuk membatalkan. Pulang saja dan siapkan dirimu. Karena wanita yang bunuh diri dalam pengaruh pengasihanmu akan selalu menghantui karena dia tak ikhlas meninggalkanmu." Nenek tua itu pun berjalan menjauh dari mereka berdua.
"Nek, tunggu!" Lukas mencoba mencegah Nenek itu pergi, tetapi Mama Fani memegang tangan Lukas.
"Nenek itu bukan manusia. Lihat kakinya tak menapak tanah. Jangan dikejar. Dia benar, lebih baik kita pulang sebelum malam." kata Mama Fani mengajak putranya meninggalkan hutan tersebut.
Lukas dan Mama Fani pun pergi. Mengendarai mobilnya melintasi beberapa kota hingga tengah malam sampailah kembali di Surabaya. Sepanjang perjalanan, mereka hanya terdiam. Bahkan untuk mampir membeli makanan pun tak mereka lakukan karena tak merasa lapar dan terlalu takut dengan apa yang akan mereka hadapi.
Sesampainya di rumah, Lukas memarkirkan mobil mamanya di garasi rumah. Mereka pun masuk ke rumah. "Lukas, mandi lalu istirahatlah. You need some rest," ucap Mama Fani.
"Terima kasih, Ma. Mama juga." Lukas langsung ke kamarnya.
Saat menyalakan lampu kamar, betapa terkejutnya Lukas melihat Dinda duduk di ranjangnya. Dinda pun berdiri dan menghampiri Lukas yang terdiam setelah menyalakan lampu kamar.
"Kamu ... mencariku? Ada apa lagi? Pesona sudah kuberikan, aura menarik pun membuat kau terkenal, lalu ... kamu bisa bercinta denganku setiap purnama. Apa yang masih kurang?" bisik Dinda sambil merangkul Lukas.
Lukas gemetar menatap Dinda. Meski Dinda sangat cantik dan menarik, tetapi tatapan matanya selalu menyimpan misteri. Lukas memberanikan diri untuk berkata, "A-aku ... ingin mengakhiri ikatan ini. Lagi pula Angel sudah tiada. Aku ingin ...."
Dinda meletakkan jari telunjukknya ke bibir Lukas agar pemuda itu tak melanjutkan perkataannya. "Harusnya kau ingat kembali saat perjanjian ini kita sepakati. Aku sudah mengingatkanmu, bukan?" lirih Dinda membuat Lukas flashback saat perjanjian itu dibuat.
...****************...
Flashback ....
Mama Fani membawa Lukas ke dalam hutan untuk menemui Dinda, Iblis wanita yang mempunyai daya tarik luar biasa. "Lukas, kamu harus berani menemuinya. Mama tidak bisa ikut ke pohon itu karena apa pun perjanjiannya, hanya si pembuat perjanjian dan Nyi Pelet yang tahu." pungkas Mama Fani melepaskan genggaman tangannya dari Lukas.
Lukas mengangguk paham. Dia pun masuk ke area pohon besar di mana Dinda tinggal dan dipuja. Mama Fani sudah memperingatkan Lukas agar tidak menggunakan perjanjian darah dengan Iblis itu karena pelet bisa diambil dengan menumbalkan ayam hitam atau kerbau. Perjanjian dengan darah efeknya lebih besar dari sekedar tumbal hewan.
Sesampainya di bawah pohon, Lukas pun memejamkan mata dan memanggil nama Nyi Pelet tiga kali. "Dinda Pratiwi, wanita mempesona dan penguasa ilmu pelet, aku butuh bantuanmu."
__ADS_1
Setelah tiga kali kalimat itu diucapkan, angin berembus kencang menerpa Lukas. Sosok seorang wanita dengan pakaian serba hitam menghampirinya. Wanita cantik yang sangat mempesona, membuat Lukas tak menyangka ada makhluk gaib sepertinya.
"Ada apa manusia? Mengapa kamu ke sini? Bukankah ibumu juga pernah ke sini?" tanya Dinda yang ingat Fani pernah ke sana untuk mendapatkan Nico kembali.
"A-aku ... aku ingin pelet pengasihan untuk memikat gadis bernama Angel." jawab Lukas yang agak gemetar.
"Pelet? Atau pengasihan? Atau keduanya? Atau yang lebih dahsyat lagi segala kemudahan, harta, tahta, dan wanita akan ada dalam genggamanmu?" Dinda memberi pilihan yang sangat sulit untuk Lukas.
Sebagai manusia biasa, Lukas pun tergoda untuk mendapatkan semua. Dia berpikir sejenak. Merasa jika dosa adalah dosa. Tidak ada dosa kecil atau dosa besar, oleh sebab itu Lukas tidak ingin menyia-nyiakan waktu dan kesempatan yang ada.
"A-apakah memilih yang terakhir sama saja dengan yang lainnya?"
"Pilihan yang bagus, manusia. Kamu ingin memperbudak para wanita di bawah tanganmu dengan senyuman yang kau beri? Hal itu sangat mudah. Namun, berhati-hatilah dalam memilih. Resiko dan pilihan berbanding lurus." lirih Dinda sambil mendekati Lukas.
Lukas menutup mata saat Dinda membisikkan sesuatu kembali di telinganya. "Pilihanmu itu harus menggunakan perjanjian darah. Darahmu dan darah wanita yang menjadi incaranmu. Kamu akan menjadi terkenal, semua wanita yang melihatmu akan menyukai bahkan menggilaimu, dan segala kemudahan akan menjadi nyata."
Lukas terbuai dengan perkataan Dinda. Wanita Iblis itu berhasil menjerat korbannya lagi. Dinda adalah salah satu dari sekian banyak Iblis penghuni Neraka Lapis Ketujuh yang berusaha menyesatkan manusia. Membawa jiwa-jiwa berdosa pada genggaman penguasa kegegalapan, lalu menyiksa mereka dalam keabadian api neraka.
...****************...
Waktu itu, Lukas memilih hal yang tak seharusnya dia pilih. Dan hari ini, Lukas menyadari kesalahannya. Menyesal pun rasanya percuma.
Lukas pun mulai menangis. "Ta-tapi Angel sudah bunuh diri. Itu salahmu!"
"Salahku? Bukankah Angel bunuh diri karena mendengar desahan permainanmu dengan Bella? Mengapa kau menyalahkanku? Manusia tak tahu berterima kasih!" pungkas Dinda yang mulai marah dengan Lukas.
"Ma-maksudmu?" tanya Lukas menatap Dinda seakan tak mengerti.
"Jangan berpura-pura bodoh! Malam saat Angel bunuh diri, kamu bercinta dengan Bella dari tengah malam hingga subuh. Kamu mengabaikan penampakan Angel yang bersedih demi memuaskan libidomu. Lantas, sekarang kau menyalahkanku?" tegas Dinda membuat Lukas terbelalak. Dia tak bisa berkata apa-apa.
Lukas ingat saat Mama Fani menceritakan di handphone Angel hanya ada satu panggilan dari nomor tak dikenal pada malam saat dia bunuh diri. Dalam ponsel, Angel mencoba menghubungi Lukas, tetapi tiada jawaban.
"A-aku penyebabnya?" Lukas pun berlutut. Dia menyesali perbuatannya waktu itu.
"Mengapa menangis dan berlutut? Bahkan sampai kau mati, Angel akan selalu bersamamu. Perjanjian darah tidak bisa dibatalkan. Aku sudah mengatakan itu, bukan?" Dinda berjongkok agar bisa menyejajarkan wajahnya dengan Lukas.
Dinda membelai wajah Lukas perlahan dan kembali berkata, "No escape ... tidak ada jalan keluar untukmu ... ikuti saja alurnya atau akhiri hidupmu sekarang."
Pilihan yang sangat sulit. Lukas ingin mengakhiri semua ini, karena penampakan Angel pun sangat mengerikan. Namun, dia belum ingin mati. Lukas masih ingin menjalani hidupnya. Lukas pun menatap Dinda. Dia berharap ada jalan lain untuk ditempuhnya agar Angel tenang.
"Apa yang harus aku lakukan agar Angel tenang di alam sana?" tanya Lukas pada Dinda.
__ADS_1
Dinda tertawa. Seakan semua bisa Lukas lewati begitu saja. "Angel masih terikat dengan darahmu. Tak akan bisa."
"Kalau begitu, buat aku tak bisa bersama dengan Angel lagi. Kami sudah beda dunia," kata Lukas meminta bantuan kembali.
"Persembahkan janin dalam kandungan Bella untukku. Akan kubuat Angel tidak menemuimu lagi." ucap Dinda yang kemudian mencium telinga dan leher Lukas.
Lukas tak paham, dia mengernyitkan dahi. "Janin apa? Aku tidak ...." Perkataan Lukas terhenti. Apakah perbuatannya malam itu membuahkan janin? Apakah itu yang membuat Bella mencarinya terus?
"Iya, Lukas sayang. Kau membuatnya. Ambil janin itu untukku. Aku akan membantumu. Bukankah dosa adalah dosa. Kau tidak takut, bukan?" bisik Dinda menggoyahkan hati Lukas.
Lukas memilih mengikuti perkataan Dinda. Dia bertekat akan mengorbankan janin dalam kandungan Bella jika benar dia mengandung anak dari Lukas.
...****************...
Pagi harinya, Lukas seperti biasa berangkat ke kampus seakan tak terjadi hal buruk padanya. Dia segera mengirim pesan ke Bella sebelum pergi.
Lukas: [ Hai, selamat pagi. Nanti aku ingin bertemu denganmu sepulang kuliah. Kau ada waktu? ]
Belum sampai lima menit, Bella sudah membalas pesan itu.
Bella: [ Tentu. Kau ingin ke rumahku, sayang? ]
Lukas: [ Boleh. Aku ingin bicara denganmu. ]
Bella: [ Baik. Aku tunggu kamu di rumah. Aku juga ingin bicara padamu. Penting. ]
Lukas pun meletakkan handphonenya dalam tas ransel di punggungnya. Dia segera melaju ke kampus setelah berpamitan dengan Mama Fani.
Sepanjang perjalanan, Lukas merasa ada yang menboncengnya. Namun, tiap menengok ke belakang, tiada suatu apa pun. Lukas merasa ada yang aneh.
Sesampainya di tempat parkir kampus, Lukas pun hendak ke kelasnya. Salah seorang teman Lukas menggampiri. Namanya Gio.
"Bro, tadi ama siapa? Kok nggak diajak masuk kelas bareng?" kata Gio membuat Lukas tak mengerti.
"Maksudnya? Aku nggak sama siapa-siapa. Berangkat sendiri." jawab Lukas yang penuh rasa bingung.
"Lah, tadi bonceng cewek, kan? Mirip sama Angel. Tuh, di sana," ucap Gio sambil menunjuk sosok di tempat parkir. Seketika Lukas merinding. Dia tak melihat apa pun, tetapi yakin jika ada hal aneh di sana.
"Gio, kau bisa lihat hantu, 'kan? Kamu yakin itu manusia?" Lukas menatap kawannya yang kemudian melihat kembali sosok yang tadi berada di dekat motor Lukas.
"Bro, itu Angel!" Gio terbelalak tak percaya dengan apa yang dia lihat.
__ADS_1