
...π₯ BOY DAN TENTANG PENGAMPUNAN π₯...
Dinda bersemedi dan memusatkan pikiran serta energinya pada suara yang didengarnya. Suara dari Boy. Wanita iblis itu langsung seperti tersedot dalam arus peralihan ruang dan waktu. Dia merasa terlempar jauh di tempat dan waktu yang berbeda.
Saat membuka mata, Dinda sudah berada di daerah yang sangat asing. Korea Selatan, negara tempat Boy berpulang. Dinda berada di sana dan segera mengikuti kata batinnya. Rumah megah berwarna dominan putih dan cokelat muda itu dijaga ketat beberapa lelaki berbadan tegap dengan setelan jas hitam.
Dinda pun masuk ke sana. Dia melihat ke sekeliling dan menemukan sesuatu yang mengejutkan. Dia pun diam sejenak mendengar percakapan dua orang asing itu. Tanpa disadari, tangannya mulai mengepal, tanda amarahnya berkobar.
...****************...
Boy masih dalam ketidakberdayaannya karena berada dalam segel malaikat yang dibuat oleh Park Kim, yang tidak lain adalah teman sekaligus sahabat dan saudara yang sudah dipercaya oleh Boy. Lelaki itu berkhianat hanya karena menginginkan harta yang dimiliki Boy, hasil dari perusahaan yang dirintis mereka berdua. Hal yang sangat menyakitkan hati karena kepercayaan hanya sebatas harta kekayaan di mata sahabat Boy tersebut.
Boy kesulitan untuk bergerak. Bahkan, sama sekali tidak bisa bergerak. Dia hanya bisa melihat dan berbicara, tetapi tidak bisa menggunakan kemampuannya sama sekali. Hanya satu yang diandalkan, yaitu ikatan batin dirinya dengan Dinda. Boy sangat berharap wanita yang beberapa tahun ini menemani hidupnya mendengar apa yang dia rasakan dan apa yang dia katakan lewat ikatan batin.
Park Kim sengaja menutup segala akses cahaya di dalam ruangan itu. Tentu saja karena dia sudah mengetahui titik lemah dari Boy. Selain menggunakan segel malaikat, sahabat Boy itu pun menutupi cahaya agar Boy semakin lemah karena energinya dimakan kegelapan.
"Dinda ... tolong, Dinda. Tolong aku. Kumohon ...." lirih Boy yang mulai merasa sesak.
Manusia setengah malaikat itu merasa semakin terhimpit dalam kegelapan. Akankah dia bertahan menunggu bantuan dari Dinda datang? Atau justru Boy tidak selamat karena perbuatan sahabatnya? Seakan nasibnya diambang jurang. Boy pun berdoa kepada Tuhan. Andaikata dia tak selamat, hanya satu pintanya, melihat Dinda bahagia.
"Joon, kau sudah mengecek ruangan tempat kita menahan Boy, bukan?" tanya Park Kim memastikan apa yang Joon lakukan sepanjang hari ini.
"Tentu saja. Aku sudah mengecek ruangan itu setiap kali dalam dua jam. Tenang saja. Tidak ada suatu hal yang mencurigakan. Boy masih di sana karena tidak bisa bergerak sama sekali. Lagi pula ruangan itu cukup tertutup untuk adanya akses cahaya. Aku sudah mengaturnya," ucap Joon dengan percaya diri. Dia sudah menjadi orang kepercayaan Park Kim selama Boy tidak di Korea. Tentunya mereka berdua mulai terhanyut dalam keserakahan karena bermain saham dan menang.
"Sudah malam, aku mau istirahat. Kau pastikan penjaga tidak lengah," kata Park Kim memerintah.
"Baik, Park Kim. Joon bisa kau andalkan!" seru Joon sambil mengacungkan jempol tangannya.
Malam itu, mereka tertidur nyenyak. Sangat nyenyak. Karena Dinda sudah mengetahui di mana Boy berada. Tepat di halaman rumah Boy, wanita iblis itu berdiri dan membuat semua orang di rumah itu tertidur nyenyak. Dia mengepalkan tangan dan geram dengan kelakuan manusia. Andai saja dia bisa memusnahkan mereka semua tanpa harus lewat tumbal, pasti sudah dilakukan.
"Awas saja kalian! Dasar manusia jahat! Manusia licik! Bisa-bisanya kalian menahan manusia berhati malaikat itu!" gumam Dinda yang langsung mencari di mana Boy berada.
Dinda masuk ke satu ruangan ke ruangan lainnya. Berharap kekasihnya dalam keadaan baik-baik saja. Sampai di kamar tempat Park Kim menyegel Boy, Dinda pun terkejut dan segera menyalakan lampu ruangan.
"Boy! Boy! Apa yang terjadi?" Dinda langsung memeluk tubuh kekasihnya yang lemas. Boy tidak bisa bergerak dan tubuhnya tidak bisa diangkat.
"Din-Dinda ... aku senang kau datang. Kupikir Tuhan sudah memintaku pulang," jawab Boy lirih sambil tersenyum.
"Jangan berkata konyol! Kamu akan baik-baik saja. Katakan bagaimana cara aku bisa menolongmu," ucap Dinda yang panik.
"Segel malaikat ... di bawah ranjang ini ada darah kucing hitam dan segel malaikat. Bakarlah itu, aku akan bisa bergerak jika segel itu musnah," jelas Boy dengan lemah.
Dinda langsung memusatkan api pada bawah ranjang agar tidak mengenai Boy. Benar adanya, saat segel itu terbakar, Boy bisa menggerakan tubuhnya lagi. Dinda langsung memeluk Boy dan membawanya keluar dari kamar itu.
__ADS_1
"Dinda ... padamkan apinya terlebih dahulu," pinta Boy.
"Untuk apa? Biar saja rumah ini dan orang jahat yang ada di dalamnya mati terpanggang!" seru Dinda dengan kesal.
"Jangan. Kita tak boleh membalas hal itu. Tolong padamkan apinya," ucap Boy yang akhirnya membuat hati Dinda luluh.
Dinda memadamkan api itu. Dia pun mengatakan jika semua orang di rumah itu posisi tertidur karena pengaruhnya. Dia pun kesal dan ingin membunuh semua orang di sana. Namun, Boy mencegahnya.
"Dinda, aku berterima kasih kau telah ke sini, tetapi jangan bunuh mereka. Kumohon, Park Kim ini sahabatku. Dia satu-satunya orang yang dekat denganku. Lalu, semua penjaga dan asisten rumah tangga di sini juga tak bersalah," kata Boy yang masih membela orang yang melukainya.
"Boy, kamu tahu kenapa kamu dijebak? Kau itu terlalu baik. Jangan lembek seperti itu. Kau tak boleh seperti ini. Manusia-manusia ini sifatnya buruk dan tak akan bisa berubah!" Dinda terlihat emosi.
"Sayang, cukup. Aku tahu kau marah, tetapi kumohon jangan. Aku mengampuni mereka. Aku memaafkan mereka meski mereka tak meminta maaf. Tolong, lepaskan mereka. Aku akan membuat mereka hilang ingatan daripada harus melenyapkan mereka," jelas Boy yang tak bisa diterima akal sehat dalam pemikiran Dinda.
Boy memang baik dan terlalu baik. Dia memilih menghapus ingatan daripada memusnahkan nyawa orang-orang yang melukainya. Dinda kesal dan langsung keluar dari rumah megah itu. Meninggalkan Boy yang sedang menghapus ingatan semua orang yang di rumah itu. Menghapus ingatan dari mereka jika Boy pernah pulang dan disekap. Menghapus ingatan iri, keserakahan, dan benci di benak Park Kim dan Joon. Boy memberi mereka kesempatan kedua. Setelah menyelesaikan hal itu, Boy langsung menyusul ke arah Dinda yang sudah menunggu di luar.
"Dinda ... aku sudah membereskan mereka," kata Boy sambil menghapiri Dinda dengan senyum di wajahnya.
"Membereskan? Membunuh mereka? Bagus, deh!" sahut Dinda yang masih marah kemudian tersenyum karena salah presepsi.
"Sayang ... tidak. Aku tidak membunuh mereka. Aku hanya menghapus ingatan mereka, termasuk rasa iri, serakah, dan benci. Agar semua menjadi seperti semula," jawab Boy yang membuat Dinda sebal.
"Lihat saja kalau nanti mereka sadar atau merasakan hal itu lagi, pasti kamu dalam masalah. Manusia selalh mengulangi kesalahannya, bukan?" ucap Dinda yang kemudian berjalan pergi.
"Jangan pergi, Dinda. Aku tahu kamu kecewa atau marah, tetapi mereka masih layak hidup dan mengubah nasib. Aku memberi mereka pengampunan agar hidup mereka lebih baik lagi dari sebelumnya." Boy mencoba memberi penjelasan yang tak bisa dimengerti oleh Dinda.
Boy langsung menarik tangan Dinda dan memeluknya. Dia tahu jika Dinda marah. Boy tak ingin kehilangan Dinda.
"Aku mencintaimu Dinda. Meski perbedaan seperti jurang bagi kita, tetapi aku sungguh mencintaimu. Tetaplah bersamaku, Dinda. Kita bisa memulai semuanya bersama," bisik Boy pada wanita yang ada di pelukkannya.
Dinda terdiam. Dia hanya menikmati hangat pelukkan Boy. Terlalu takut untuk berkata apa pun karena Dinda sadar mereka tak akan bisa bersatu. Seperti air dan api yang tak akan bersama.
Sepasang kekasih beda dunia itu terhanyut dalam rasa rindu dan pemikiran masing-masing. Mereka berpelukkan di tengah gelap malam dan embusan angin yang membuat mereka semakin terhanyut dalam rasa cinta yang mendalam.
...π΅π΅ Cinta adalah misteri dalam hidupku...
...Yang tak pernah 'ku tahu akhirnya...
...Namun tak seperti cintaku pada dirimu...
...Yang harus tergenapi dalam kisah hidupku...
...'Ku ingin selamanya mencintai dirimu...
__ADS_1
...Sampai saat 'ku akan menutup mata dan hidupku...
...'Ku ingin selamanya ada di sampingmu...
...Menyayangi dirimu sampai waktu 'kan memanggilku...
...'Ku berharap abadi dalam hidupku...
...Mencintamu bahagia untukku...
...Karena kasihku hanya untuk dirimu...
...Selamanya 'kan tetap milikmu...
...'Ku ingin selamanya mencintai dirimu...
...Sampai saat 'ku akan menutup mata dan hidupku...
...'Ku ingin selamanya ada di sampingmu...
...Menyayangi dirimu sampai waktu 'kan memanggilku...
...Di relung sukmamu, 'ku melabuhkan seluruh cintaku...
...Di hembus nafasmu, 'ku abadikan seluruh kasih dan sayangku π΅π΅...
...****************...
Di tempat lain ....
Evan yang kesakitan dan sekarat karena luka dari Dark Zatan pun berusaha mencari pertolongan. Tepat saat Evan hampir tak sadarkan diri, Alex datang.
"Paman Evan!" seru Alex yang mengikuti feelingnya menemukan Evan. Tentu saja setelah mendapatkan izin dari Tuan Lucifer.
"A-Alex ... tolong Paman ...." lirih Evan yang kemudian terjatuh.
Alex langsung memapah Paman Evan dan membawanya ke neraka seperti pesan Yang Mulia Penguasa Neraka. "Kau kuizinkan pergi dengan satu syarat, bawa dia ke sini jika sudah bertemu. Sepertinya ada pembangkang di neraka. Aku akan membereskannya."
Pesan itu terngiang di telinga Alex. Dia langsung membawa Paman Evan ke neraka untuk menghadap Tuan Lucifer. Saat perjalanan, Alex tak lupa memberi energi untuk Paman Evan agar bisa bertahan sampai di neraka.
"Bertahanlah Paman Evan. Semua akan baik-baik saja. Percayalah, semua akan segera membaik," ucap Alex sepanjang perjalanan untuk menghibur Paman Evan.
Evan sadar jika dirinya diambang bertahan atau musnah. Dia pun berpesan pada Alex.
__ADS_1
"Alex, andai kata Paman tidak bertahan, tolong sampaikan Papamu untuk selamatkan Lily. Dia dibawa oleh Dark Zatan. Paman tidak kenal siapa iblis itu, tetapi dia mencari Papa Mamamu. Kalian harus waspada," lirih Evan yang kemudian memejamkan mata.
"Paman ... Paman bertahnlah. Sebentar lagi kita sampai!" Alex sangat takut karena Paman Evan memejamkan matanya.