JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
JERAT IBLIS - 2 - BAB 70


__ADS_3

...šŸ”„DENDAM MEMBAWA PERMASALAHANšŸ”„...


Gilang segera menyusul Nindy yang berlari keluar dari rumah makan. Terpaksa Gilang meninggalkan Reno yang jauh lebih emosi untuk tetap di dalam ruangan dengan Gio yang penyabar. Suasana menjadi canggung karena rasa sakit di hati Nindy belum hilang apalagi ditambah tamparan dari Reno yang makin melukai perasaannya. Semua kebaikan Ningsih dan keluarganya tertutup oleh kesalahan yang tak bisa diubah karena masa lalu yaitu Joko sudah meninggal dan memang menjadi tumbal ketujuh. Mungkin bagi yang lain, semua akan baik-baik saja setelah berlalu, tetapi tidak bagi Nindy.


Setelah sampai di samping tempat parkir yang agak sepi, Gilang langsung menarik tangan Nindy untuk menghentiannya berlari. "Mbak, sabar. Jangan seperti ini. Kasihan Lisa kalau dengan Papa Mamanya berdebat di hadapannya." Gilang mencoba menghentikan langkah Nindy. Benar saja Nindy berhenti melangkah. Dia pun mulai menangis. Sedih karena merasa tak ada yang mengerti perasaannya. Justru tamparan yang mendarat di pipi Nindy.


"Aku mengerti kamu kesal dan kecewa, Mbak. Tapi apa yang terjadi di masa lalu memang tak bisa diubah. Kita juga memiliki kesalahan dan masa lalu buruk, bukan? Mbak, istigfar. Sebut asma Allah agar lebih tenang. Jangan sampai hal buruk menguasai hati karena secuil pesakitan dan dendam," kata Gilang kembali mencoba membuka mata hati Nindy. Karena sedari tadi, dia melihat makhluk gaib berwarna hitam dengan seringai menakutkan mendekati Nindy. Ya, makhluk itu mencium aura Nindy. Menghisap segala rasa sedih dan dendam yang dia rasakan. Jika tidak ada orang lain yang menghentikan rasa sedih itu, bisa jadi makhluk mengerikan akan mengikut Nindy dan membuatnya semakin terpuruk.


Gilang pun membaca doa dan membuat pagar gaib untuk Nindy dalam hati. Dia pun menepuk pundak Nindy untuk menempelkan pagar gaib itu pada tubuh Nindy. Makhluk hitam yang menyeringai mengerikan itu menatap tajam ke arah Gilang. Mengerang karena sebal Gilang menghalangi maksud buruknya.


"Grrr ... berani-beraninya kamu menghalangi niatku! Awas saja nanti tunggu pembalasanku! Wanita itu sudah kutandai!" geram makhluk hitam dengan mata merah dan taring tajam menyeringai lalu menghilang.


Nindy pun menatap Gilang dan berkata, "Terima kasih sudah menasehatiku. Bahkan suamiku sendiri tidak menyusul ke sini, justru bersama Tantenya. Hiks hiks hiks ... aku sedih sekali jika ingat Bang Joko yang meninggal jadi tumbal. Bukannya mengerti, tetapi tamparan yang dia beri. Hiks hiks hiks ...." Nindy menangis dan beberapa kali mengusap air matanya sendiri.


"Sabar, Mbak Nindy. Mas Reno juga sedang menenangkan diri didampingi Gio. Maka dari itu, aku menyusul ke sini. Mbak Nindy mau pulang duluan atau ke restauran lagi? Biar aku temani, Mbak," ucap Gilang yang waspada karena makhluk tadi sudah menandai Nindy yang berarti menunggu pagar gaib melemah untuk menempel pada calon korbannya.


Manusia yang diincar makhluk gaib, akan sulit terlepas. Jika sudah berhasil didapatkan, manusia yang ditempeli makhluk gaib itu akan menarik diri dari pergaulan, semakin tenggelam dalam kesedihan atau amarahnya, perlahan tetapi pasti hawa kehidupannya memudar karena dimakan oleh makhluk itu. Maka dari itu, banyak kasus orang depresi yang berujung bunuh diri karena tidak ada yang menolong. Mereka dengan mudah masuk dalam bujuk rayu makhluk gaib yang menyesatkan.


"Gilang, aku mau pulang rumah saja. Aku pusing dan lelah. Biar aku naik taksi. Kamu sampaikan saja sama Reno dan Lisa kalau aku pulang duluan." Nindy memutuskan pulang sendiri, tetapi Gilang khawatir dan tidak mengizinkan.


"Kalau begitu, aku antar saja, Mbak. Sebentar, aku pamit sama Gio biar dia ke kantor duluan. Sama izin Mas Reno dulu. Mbak tunggu sini, ya." Gilang memilih mengantarkan Nindy pulang karena takut makhkuk tadi mengikuti. Dia yakin kalau Nindy tidak akan menolak untuk diantar pulang karena hatinya sedang kalut.


"Eh, i-iya, Gilang," jawab Nindy yang menatap lelaki itu berlari meninggalkannya sejenak. Gilang masuk ke rumah makan untuk meminta izin ke Reno dan menyampaikan maksudnya pada Gio.

__ADS_1


Terlihat Reno sedang memegang keningnya karena pusing dan menyesal sudah menampar istrinya dindepan umum, terlebih di depan anaknya. Sedangkan Ningsih sengaja mengajak Lisa berjalan ke sudut ruang makan yang terdapat akuarium ikan untuk mengalihkan perhatian gadis kecil itu dari pertikaian orang tuanya.


Ternyata Gio juga menasehati Reno. Memberi andai-andai kata jika Reno yang dalam posisi Nindy pasti tetap ada rasa sesak. "Benarkan, Mas? Kalau Mas jadi Mbak Nindy pasti merasa donkol karena hal itu. Aku tidak bermaksud membela, tetapi semua itu memang logis. Sabar ya, Mas. Tenangkan diri dahulu agar tidak jadi keributan yang akan membuat hati Nindy makin terluka," usul Gio yang bijaksana membuat Reno merada bersalah merenungkan hal itu. Reno menyesal sudah bertindak kasar pada istrinya.


"Iya, Gio. Terima kasih, ya. Aku jadi menyesal sudah menampar Nindy. Apa aku susul saja dia, ya?" tanya Reno pada Gio.


"Tidak usah, Mas. Kita tunggu Gilang dulu. Pasti dia juga menenangkan Mbak Nindy. Nah, itu orangnya datang," ucap Gio yang melihat kawannya datang.


"Mas Reno, Mbak Nindy minta pulang duluan. Bagaimana kalau aku antar pulang saja? Kalau boleh, nanti Gio kembali ke kantor duluan izinkan aku telat masuk," kata Gilang yang terlihat panik.


"Iya, Gilang tak apa. Kenapa kamu terlihat panik? Nindy baik-baik saja?" tanya Reno yang khawatir. Terlihat kesedihan dan rasa bersalah di wajah ayah satu anak itu.


"Nanti aku ceritakan semua, Mas. Sekarang aku antar Mbak Nindy dulu, ya." Gilang langsung pergi setelah mengambil tas dan kunci motornya. Dia khawatir jika terlalu lama pergi bisa-bisa Nindy dalam masalah. Setelah ini, Gilang akan membuat pagar gaib di rumah Nindy juga.


Setelah mengambil motor di tempat parkir, Gilang langsung ke tempat Nindy yang sudah menunggu. Lelaki itu segera mengulurkan helm milik Gio ke Nindy. "Ini pakai dulu, Mbak. Setelah itu kuboncengkan pulang ke rumah. Mas Reno sudh memberi izin."


Sepanjang perjalanan, Gilang tak henti-hentinya memanjatkan doa. Dia tahu jika makhluk tadi memperhatikan dan mengikuti Nindy. Makhluk hitam itu menunggu saat Nindy lengah dan pagar gaib menipis untuk menempel ke dirinya.


Setelah selesai makan siang, Ningsih dan sopirnya berpamit pulang pada Reno, Lisa, dan Gio. "Aku pulang duluan ya, semua. Maaf jika membuat makan siangnya kacau. Titip salam dan mohon maaf ke Nindy dan Gio, ya." Ningsih pun segera pergi dari restauran itu.


Sepanjang perjalanan, dia termenung memikirkan Nindy. Memang dosa dan kesalahan Ningsih sangat banyak, hingga pasti ada orang yang tak menerima taubatnya.


"Nyonya, Allah tidak akan memberikan cobaan melebihi kekuatan umat-Nya. Nyonya semangat, ya. Anggap saja ini hari baru dan langkah awal untuk mendapatkan hidup yang lebih tenang dan nyaman. Saya akan bantu doa agar Nyonya mampu jalani semua," kata Pak Samsul sambil menyetir mobil.

__ADS_1


Ningsih langsung menatap lelaki tua itu dengan mata berkaca-kaca. "Terima kasih banyak atas dukungannya, Pak. Insyaallah aku akan berjuang menjadi pribadi yang lebih baik," jawab Ningsih yang senang mendapat dukungan.


"Sama-sama, Nyonya."


Sedikit dukungan pun sangat berarti bagi orang yang bertaubat. Orang yang bertaubat terlihat bukan hanya dari ucapannya saja, tetapi tingkah laku atau perbuatannya. Sang Pencipta saja Maha Pengampun, apakah mau jadi manusia keras hati yang tidak mendukung manusia lainnya bertaubat? Pak Samsul menjadi teladan yang kadang terabaikan. Meski dia hanya sopir, pegawai di rumah Ningsih, dia mengamati dan turut mendoakan Ningsih agar menjadi pribadi yang terbaik. Seperti halnya Wahyu yang selalu mendukung ibunya untuk kembali ke jalan Allah.


Sesampainya di rumah, Ningsih segera mengambil wudu dan melaksanakan salat. Dia bersujud dan tak henti-hentinya memohon ampun atas segala kesalahan yang pernah diperbuat. Setidaknya, rasa tenang itu mulai hadir di hatinya. "Ya Allah, sesungguhnya Engkau yang Maha Mengerti perasaan hamba-Mu. Ampunilah hamba yang selama ini berlumur dosa. Mampukanlah hamba tetap berada di jalan yang Kau tetapkan. Amin."


Sedangkan Nindy yang sampai di rumah bersama Gilang pun mengajak untuk masuk terlebih dahulu. Gilang mengiyakan karena dia perlu membuat pagar gaib di rumah Nindy.


"Aku akan membuatkan minum dulu. Gilang, kamu di sini dulu, ya," kata Nindy mempersilakan Gilang duduk.


Gilang pun memulai memagari rumah itu dengan doa-doa tertentu. Setelah itu, dia pun terdiam karena energi yang dikeluarkan cukup besar untuk memagari rumah dari gangguan gaib. Saat Nindy ke ruang tamu membawa minum, Gilang terlihat pucat dan lemas. Baru saja Nindy meletakkan gelasnya, Gilang pun pingsan karena energinya terkuras memagari tubuh Nindy dan rumah milik wanita.


Seketika, Nindy berteriak meminta tolong dan histeris. "Tolong! Bibi ... Pak ... tolong Gilang pingsan!" seru Nindy berkali-kali. Lelaki itu pingsan di sofa. Nindy segera menolong meski sangat panik.


"Sabar, Nyonya. Kita coba bangunkan terlebih dahulu," kata Pak Sopir pada Nindy.


Bibi pun segera mengambil minyak angin untuk diserahkan ke Pak Sopir agar bisa mengusap ke tubuh Gilang. "Tenang dulu. Semoga Mas Gilang segera bangun," ucap Pak Sopir yang langsung mengusap tubuh Gilang dengan minyak angin yang Bibi berikan. Tubuh Gilang sangat dingin. Seakan tidak makan seminggu dan sakit, karena wajahnya pucat dan tubuhnya dingin. Nindy pun takut karena tadi Gilang membahas soal makhluk gaib. Jangan-jangan ... ada kaitannya? Mereka pun harus waspada karena tak ada yang tahu kapan masalah akan datang atau makhluk gaib yang dimaksudkan itu mengganggu mereka, bukan?


...****************...


...Jangan lupa VOTE serentak setiap Senin pukul 00.00 WIB ya untuk mendukung Author^^ love you all...

__ADS_1


...Bagi para pembaca JERAT IBLIS yang ingin masuk ke GRUP CHAT, baiknya memberi password saat masuk agar diterima. Sebutkan 3 pemain di Novel JERAT IBLIS. Lalu tulis itu saat hendak masuk grup. Hal ini diadakan karena mengikuti usul para admin demi kenyamanan sesama penghuni Grup Chat, mohon diperhatikan ya guys. Thanks^^...


......Jangan lupa baca karya Author Rens09 berjudul The Hunter (Gambar Lee Min Ho) Terima kasih^^......


__ADS_2