
...π₯ KESEDIHANKU π₯...
...π΅π΅ Sepinya hari yang kulewati...
...Tanpa ada dirimu menemani...
...Sunyi kurasa dalam hidupku...
...Tak mampu aku 'tuk melangkah...
...Masih kuingat indah senyummu...
...Yang selalu membuatku mengenangmu...
...Terbawa aku dalam sedihku...
...Tak sadar kini kau tak di sini...
...Engkau masih yang terindah...
...Indah di dalam hatiku...
...Mengapa kisah kita berakhir...
...Yang seperti ini...
...Masih kuingat indah senyummu...
...Yang selalu membuatku mengenangmu...
...Terbawa aku dalam sedihku...
...Tak sadar kini kau tak di sini...
...Engkau masih yang terindah...
...Indah di dalam hatiku...
...Mengapa kisah kita berakhir...
...Yang seperti ini...
...Yang seperti ini...
...Engkau masih yang terindah...
...Indah di dalam hatiku...
__ADS_1
...Mengapa kisah kita berakhir...
...Yang seperti ini...
...Hampa kini yang kurasa...
...Menangis pun 'ku tak mampu...
...Hanya sisa kenangan terindah...
...Dan kesedihanku π΅π΅...
...****************...
Ningsih menatap langit malam yang gelap. Masih dengan rasa yang sama, kesedihan dan kerinduan akan Bima. Suami gaib yang telah mengukir banyak kenangan terindah.
"Bima ... apakah semudah itu kamu melupakan kenangan kita? Apakah mudah bagimu meninggalkan aku di sini? Bima ... tiap malam aku selalu memandang bintang paling terang di langit malam dan berharap itu sungguh kamu. Apakah kamu merasakan hal yang sama? Aku merindukanmu, Bima ...." gumam Ningsih pada diri sendiri. Dia masih termenung dalam kesendirian.
Sedangkan Wahyu sedang mengaji di dalam kamarnya setelah salat isya. Dia berharap keadaan bisa segera membaik. Tak lupa sebelum mengaji, dia mendoakan yang terbaik bagi orang tuanya serta memohonkan ampun kepada Allah atas segala hal yang terjadi. Menyekutukan Tuhan atau yang disebut syirik adalah dosa yang dibenci Sang Pencipta. Wahyu hanya bisa berdoa dan memohonkan ampun serta perlahan membujuk mamanya untuk bertaubat.
Banyak orang mengatakan, "Sekali masuk dalam JERAT IBLIS dalam bentuk apa pun itu, akan sulit terlepas dan bertaubat." Hal itu yang sepertinya terjadi di kehidupan Ningsih. Bahkan anaknya pun merasa sedih jika tak bisa menuntun kembali ke jalan yang diridhoi Allah.
Setelah selesai mengaji, Wahyu pun keluar kamar. Mencari di mana mamanya berada. Kamar Ningsih kosong. Wahyu segera ke ruang tamu dan ruang tengah, tetapi kosong juga. Dia ke dapur dan bertemu bibi.
"Malam, Bi. Lihat Mamaku, kah?" tanya Wahyu pada asisten rumah tangga di dapur.
"Oh, terima kasih, Bi. Bibi istirahat saja sudah larut malam. Besok bisa bekerja lagi," kata Wahyu yang memikirkan kesehatan asisten rumah tangga di sana.
"Terima kasih, Den. Bibi permisi dulu."
Wahyu pun berjalan ke arah taman belakang dengan perlahan. Dia tahu jika mamanya masih sedih memikirkan Bima. Meski jika dipikir-pikir, karena Bima dan mamanya, ayah Wahyu meninggal. Ya, Agus yang menjadi tumbal pertama pesugihan itu. Jika dipikir logika, sudah sewajarnya Wahyu marah. Namun, Wahyu tak ingin mendendam. Terlebih sudah tahu sikap dan kelakuan almarhum ayahnya semasa hidup. Bahkan Bima yang seperti itu jauh lebih baik dari ayahnya.
"Mama pasti bersedih lagi," batin Wahyu yang menengok ke taman belakang. Benar saja, terlihat Ningsih yang duduk di kursi taman dan menatap ke langit di angkasa. Seperti malam-malam sebelumnya, Ningsih mencari bintang yang paling terang untuk dipandang dan mengenang Bima.
"Bima ... andai kata aku bertaubat, akankah kita bisa bertemu lagi? Andai kata aku tetap menunggu, mungkinkah kita bersatu lagi? Bima ... tolong jawab pertanyaanku meski hanya dalam mimpi," kata Ningsih yang tak berbalas jawaban. Desir angin malam membelai lembut kulitnya yang mulai merasa kedinginan. Dia pun berdiri, lalu segera jalan menuju pintu untuk masuk ke dalam rumah.
Wahyu segera pergi saat mamanya terlihat akan masuk rumah. Dia tahu jika mamanya butuh waktu untuk menenangkan diri dan untuk bisa berpikir jernih atas keputusan yang akan diambil. Apa pun itu, Wahyu tahu Allah menyiapkan rencana terbaik dan terindah baginya dan bagi Ningsih. Malam itu, mereka terlelap dalam tidur dengan membawa sejuta tanda tanya di benak masing-masing.
...****************...
Setelah melepaskan diri dari kehidupan Ningsih dan keluarganya, Dinda memilih untuk mengembara lagi. Meski Boy sudah meminta untuk ikut dengan Dinda, wanita iblis itu menolak.
"Please, Dinda. Izinkan aku bersamamu," pinta Boy sambil berlutut.
"Bukankah kau sudah tahu risikonya? Jika kita bersama, tak ada bedanya dengan Kakakku dan Ningsih. Tidak bisa bersama pads akhirnya dan berpisah membawa segudang luka! Sebelum terlanjur kita jauh melangkah, lebih baik lupakan semuanya," tegas Dinda yang sebenarnya ketakutan jika kehilangan Boy setelah semua yang mereka lalui.
"Alasan konyol macam apa itu? Lantas kau menginginkan perpisahan ini hanya karena takut kemungkinan berpisah dimasa depan?" Boy berdiri dan memegang erat tangan Dinda.
__ADS_1
"Lepaskan tanganku! Aku ini iblis. Iblis itu tempatnya di neraka. Kau itu manusia setengah malaikat. Tempatmu di bumi dan di surga. Bukan di dalam bara api bersamaku! Sudahlah, Boy. Lupakan saja mimpi yang entah bisa terwujud atau tidak," kata Dinda yang langsung menepis tangan kekasihnya.
Boy merasa kecewa dengan perkataan Dinda. Mungkin, bagi kekasihnya itu tidak ada kenangan berarti bersamanya. Boy pun terdiam. Dia menyadari bahwa memaksakan kehendak itu tidak baik. Lelaki asal korea itu pun menyerah.
"Baiklah kalau itu keputusan finalmu. Aku akan kembali ke Korea saja. Aku harap kamu bahagia, Dinda. Aku mencintaimu," ucap Boy yang kemudian kembali ke rumahnya di Bali untuk berkemas.
Dinda hanya bisa menatap lelaki itu pergi. Dia tak ingin terlibat dengan perasaan yang tak berlogika untuk waktu yang lama. Mungkin terdengar seperti wanita yang tak punya hati, tetapi itu keputusan terbaik sebelum akhirnya perasaan itu saling melukai satu dengan yang lainnya.
Boy menelepon asisten yang menjadi sahabat sekaligus keluarganya yaitu Kim Park di Korea. Dia bertekat bulat untuk meninggalkan Dinda dengan kembali ke negara asalnya.
Boy: "Hello, Kim Park. How are you?"
Kim Park: "Fine, Brother! How are you? What's going on? It's long time I can't contact your number."
Boy: "Maaf, aku melawatkan banyak hal di sana. Aku akan segera kembali ke Korea. Terima kasih sudah melakukan tugas dengan baik selama aku di sini."
Park Kim: "No problem. Pulanglah. Kami senang kau kembali ke rumah."
Boy pun mengakhiri panggilan telepon internasional itu. Dia segera mengemas barang dan pakaiannya untuk masuk ke dalam koper. Dia memesan tiket pesawat via online. Beberapa tahun di Indonesia dan melakukan pekerjaan via online, tidak membuat Boy merasa aneh. Padahal berbeda dengan keadaan di Korea saat ini.
...****************...
Korea setelah Park Kim menerima telepon dari Boy ....
Keserakahan manusia membawa mereka rela melakukan banyak dosa. Dalam dunia ini, sebenarnya bukan makhluk gaib yang mengerikan, tetapi justru sifat-sifat jahat yang ada di diri manusia. Menghalalkan segala cara demi meraih keinginan. Ambisi yang akhirnya menghancurkan diri sendiri dan orang lain. Lantas, ketakutan dan kengerian melihat iblis atau hantu, sebenarnya tidak seberapa dibanding melihat sifat manusia yang tak ada habisnya untuk berselisih dan mencari cara untuk selalu menang.
Seperti halnya Park Kim. Dia dipercaya Boy untuk mengelola perusahaannya selama dia berada di Indonesia. Namun, kepercayaan itu mulai ternoda karena Park Kim tergiur keuntungan, tahta, dan kemakmuran yang dia dapatkan selama beberapa tahun ini tanpa Boy. Dia banyak mengeruk harta Boy tanpa sepengetahuan sahabatnya itu.
"Sial! Kenapa Boy harus pulang saat ini. Aku hendak mengikuti lelang saham awal bulan ini. Kalau dia pulang, pasti dia tidak akan mengizinkan membeli saham dengan dalih seperti judi. Padahal aku sudah untung banyak dari hal ini. Aku harus lakukan sesuatu, tapi apa?" ucap Park Kim yang gelisah karena Boy akan pulang.
Awalnya, Park Kim tidak berniat curang. Dia menjalankan perusahaan milik Boy sesuai dengan S.O.P yang berlaku, tetapi lama kelamaan, rasa serakah itu muncul karena Boy tidak kunjung pulang ke Korea. Meski Boy mengerjakan tugasnya secara online, Park Kim mulai gelap mata dengan segala kemudahan dan kekayaan yang dia peroleh dari uang perusahaan.
Park Kim adalah satu-satunya orang yang Boy percaya karena telah membantu membesarkan perusahaan yang dirintisnya. Lagi pula, Park Kim satu-satunya orang yang menerima Boy sebagai anak dari malaikat dan manusia. Hubungan mereka sudah berjalan bertahun-tahun. Jadi, tidak ada rasa curiga sekalipun kepada Park Kim di hati Boy.
Meski saat ini, kenyataan berubah. Harta dan kemudahan bisa mengubah sifat seseorang. Manusia begitu mengerikan. Berkhianat pun dengan mudah dijalankan demi meraih keinginan pribadi.
"Joon ... kita harus bersiap kemungkinan terburuk saat Boy kembali," kata Park Kim pada rekannya.
"Boy akan pulang? Bagaimana mungkin? Gawat, kita akan mengikuti rapat pembelian saham, bukan?" Joon pun panik.
"Iya, Joon. Kita harus membuat siasat sebelum Boy menendang kita dari perusahaan. Kau tangani dan manipulasi data keuangan perusahaan. Aku akan menangani soal rapat saham. Pastikan Boy tidak curiga jika lima puluh persen kekayaan perusahaan sudah berpindah nama. Aku akan memberikan sesuai perjanjian padamu jika semua ini berhasil," tegas Park Kim pada Joon.
Mereka pun bergegas menyiapkan semuanya dengan baik dan tertata rapi. Berharap Boy tak akan tahu kelicikan mereka. Park Kim sudah membeli beberapa saham atas namanya dengan uang perusahaan tanpa sepengetahuan Boy. Tentunya hal itu akan membuat perusahaan merugi jika saham yang dibeli turun. Namun, selama ini saham yang Park Kim beli selalu melejit. Jadi, dia merasa ketagihan untuk mendapat untung yang banyak.
Tanpa disadari, sifat buruknya membuat beberapa makhluk neraka mengikuti dengan seringai menakutkan. Berjaga-jaga untuk mengambil jiwa Park Kim saat waktunya tiba. Sifat buruk dan segala kelicikannya menjadi santapan yang lezat untuk para iblis. Park Kim tak tahu jika aura buruknya dimakan oleh iblis. Perlahan tetapi pasti, Park Kim akan dibawa ke neraka karena sifat buruknya selama hidup.
...Akankah Boy mengetahui semuanya? Mampukah Boy memaafkan, bahkan menyelamatkan jiwa Park Kim. yang diincar iblis? Nantikan kisah berikutnya^^ Salam dari Author Rens. Love you all readers πΉ...
__ADS_1