
Pertempuran antara Bima dan Frans Gumelar berlangsung sengit. Dunia lain dan dunia nyata mempunyai waktu yang berbeda. Kadang lebih lama, dan tak jarang lebih cepat. Namun kali ini, satu jam di dunia lain sama dengan satu minggu di dunia nyata.
"Hanya segitu kemampuanmu, ha?" ucap Frans dengan angkuh.
Bima terpental kesekian kalinya. Konsentrasinya terbelah ketika Ningsih berkali-kali menyebut namanya.
Bima bergumam dengan lafal yang tak dipahami oleh Frans. Seketika cahaya merah membara muncul dari dalam tanah.
"K-kau ... kepar*t! Kau memanggil atasanmu, ha?" Frans mulai gemetar melihat sosok yang datang dari Kerak Neraka.
Sosok mengerikan dengan empat tangan dan mata merah menyala. Aura kejahatannya menusuk hingga ke tulang. Bahkan manusia siluman seperti Frans pun gemetar berhadapan dengan salah satu iblis berpangkat di alamnya.
"Yang Mulia, maafkan hamba membutuhkan bantuan Yang Mulia," ucap Bima sambil menunduk di hadapan Chernobog, sang Iblis perbudakan dan penguasa malam.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata apa pun, Iblis itu mengarahkan telunjuknya ke Frans. Frans tak sanggup menghindar, pertempurannya dengan Bima menguras energinya. Seketika Frans terbalut kobaran api neraka.
"Aaaa .... TIDAK!" teriak Frans hilang terlalap api dan ikut masuk ke dalam neraka bersama menghilangnya Chernobog. Frans Gumelar musnah.
"Terima kasih, Yang Mulia Chernobog." Bima masih menunduk melihat kejadian itu.
Api neraka itu kembali ke dalam perut bumi. Bima dengan luka parah, kembali ke dunia manusia. Namun ada harga yang harus dibayarkan.
***
"Aku berada dimana?" ucap Ratih saat tersadar dari belenggu Frans.
"Mama, akhirnya Mama bangun. Aku takut sekali." Mona memeluk erat tubuh Ratih.
__ADS_1
"Siapa kamu? Aku bukan ibumu!" Ratih mencoba melepaskan diri.
"Mama kenapa membuatku takut? Aku Mona Mah, anak Mama." air mata tumpah saat Mona memeluk Ratih yang disangkanya masih Ceacil.
"Bukan. Tolong dek, lepaskan." Ratih bingung dan takut.
Tak disangka, Bima muncul tiba-tiba. Menyantap sukma Mona, tubuh gadis yang pernah dinikmati keperawanannya. Ratih pun pingsan melihat kejadian itu.
'NINGSIH, BERTAHANLAH! AKU SEGERA DATANG.' ucap Bima dengan mantab setelah menyantab sukma Mona, kekuatannya kembali menjadi 75% siap menuju ke Ningsih.
***
Ningsih sudah keluar dari rumah sakit. Dia akan melangsungkan akad nikah dengan Satria untuk menutupi kasus dan membersihkan nama baik pemilik Restu Hotel tersebut.
"Hmm, kau cantik sekali, Ningsih. Aku makin berselera untuk menyiksamu." bisik Satria kepada Ningsih yang terbalut gaun pengantin berwarna putih.
'NINGSIH, BERTAHANLAH! AKU SEGERA DATANG.'
Ningsih terbelalak mendengar suara Bima, suami tak kasat mata yang menghilang berminggu-minggu lamanya. Secerca harapan muncul dalam hati Ningsih.
"Jangan melamun saja, cantik. Ayo bergegas ke depan. Tamu sudah menunggu." Satria menarik tangan Ningsih untuk melakukan akad dan resepsi di aula hotel.
Ningsih hanya terdiam. Berharap Bima segera datang. Ningsih tak bisa gegabah karena Wahyu serta Santi dan Reno berada dalam cengkraman anak buah Satria.
Tamu menatap takjub pada Satria dan Ningsih.
"Pasangan yang selasi."
__ADS_1
"Tampan dan cantik. Pas sekali. Sempurna."
"Tuan Satria pandai mencari pasangan."
Kalimat demi kalimat pujian terdengar lirih dari mulut para tamu undangan. Hingga akad selesai, belum ada tanda kedatangan Bima. Resepsi pun berjalan mewah dan megah. Wartawan pun mulai berdatangan meliput berita pernikahan itu.
Satria tersenyum puas. Langkah awal memiliki Ningsih sudah tercapai. Pikirannya melayang dalam hasrat ketika menatap tubuh Ningsih.
"Istriku, baiknya kau turuti apa mauku nanti malam, karena besok anakmu akan berkunjung." tatapan Satria sangat buas membuat Ningsih takut.
Tak ada yang bisa Ningsih perbuat selain pasrah. Saat setumpuk acara sudah usai, Satria bergegas menariknya ke kamar pengantin. Meski waktu masih panjang, napsu buas tak bisa Satria bendung.
Gaun putih yang menutupi tubuh Ningsih dengan mudah disobek Satria dengan gunting besar. Dilepasnya ikat pinggang dan beberapa kali cambukan mendarat di tubuh Ningsih.
"Hentikan. Kumohon. Sakit." Ningsih memohon meski ia tahu itu percuma.
"Merintihlah lagi. Memohonlah! Sebut namaku!" Satria kembali memecutkan sabuk ke tubuh Ningsih yang menggelepar kesakitan.
***
Santi dan Reno disekap dalam gudang oleh anak buah Satria. Melihat tubuh Santi, anak buah Satria pun tergoda. Mereka berencana akan memperkosa Santi. Santi yang ketakutan melihat wajah para preman itu pun mundur perlahan. Reno mencoba melawan, namun sia-sia. Melawan satu lelaki berotot pun Reno tak sanggup, apalagi lima.
Bersambung ....
***
Dukung Author dalam berkarya ya! Semangat selalu dalam LockDown bersama. Semoga para pembaca diberi kesehatan serta dijauhkan dari wabah yang melanda negara ini. amin
__ADS_1