
Satria terpaksa mengerem mobil sebelum menabrak salah seorang lelaki bertubuh kekar itu. Ningsih semakin takut saat seorang lelaki preman itu mendobrak dan menodongkan sebilah senjata tajam.
Bima ... please, aku takut.
Ningsih berulang kali menyebut nama Bima di dalam hati. Satria pun bergegas memundurkan mobilnya dan melaju ke jalan raya. Ketiga preman itu tak tinggal diam, mereka mengejar dengan dua motor di tengah hujan lebat.
Seketika, dua motor di belakang mobil Satria tertabrak truk besar. Suara benturan truk dengan motor terdengar dalam balutan gemuruh dan hujan. Satria sempat berhenti dan menengok ke belakang. Ningsih pun melihatnya, dua motor bersama tiga preman itu berada di bawah roda truk. Darah mulai mengalir bersama air hujan.
"Astaga!" Ningsih menutup mulutnya yang menganga karena kaget.
"Sudah jangan lihat itu Miss. Everything is ok. Pelan-pelan saja kita lanjutkan perjalanan." Satria mengelus pundak Ningsih, lalu melanjutkan perjalanan.
Mereka terdiam. Seakan masih belum percaya dengan apa yang mereka lihat tadi. Kecelakaan yang sangat mengerikan! Namun dalam hati, mereka bersyukur terlepas dari gangguan preman itu.
Bima, sebenarnya apa yang terjadi?
Ningsih masih memikirkan Bima yang beberapa waktu ini tak nampak. Entah mengapa, hati Ningsih diselimuti gundah.
"Ningsih, are you right?" ucap Satria, membuyarkan lamunan Ningsih.
"Iya, aku baik-baik saja." Ningsih terpaksa tersenyum di hadapan Satria.
"Benarkah? Miss takut dengan kejadian tadi? Maafkan saya, Miss."
__ADS_1
"Hlo? Kamu kan nggak salah apa-apa."
Satria kembali terdiam. Beberapa saat kemudian, mereka sampai di Hotel dan Resto milik Satria. Sebenarnya, Satria tidak keberatan untuk mengantar Ningsih sampai Kudus. Namun Ningsih menolak begitu saja. Lebih baik mengambil mobilnya dan melanjutkan perjalanan.
Saat di lobby, Ningsih menunggu seorang pegawai Satria mengambil mobilnya. Sambil menunggu, Ningsih melihat beberapa foto yang di pajang.
Serasa hendak berhenti detak jantung Ningsih saat melihat foto Satria bersanding dengan seorang lelaki.
"Mbak, ini foto siapa ya?" tanya Ningsih kepada seorang pelayan.
"Itu foto Tuan Satria pemilik usaha ini dengan Ayahnya." jawab pelayan dan berlalu.
Deg!
Tak mungkin! Bagaimana bisa?
"Miss, bawalah ini. Saya menyiapkan khusus untukmu."
Ningsih menatap Satria dan mundur selangkah, "Maaf tidak perlu. Aku mau segera pulang."
Satria menatap aneh pada Ningsih, lalu melihat ke arah foto yang terpampang di dinding.
"Oh, sudah lihat Miss?" Satria tersenyum mendekati Ningsih lalu membekap Ningsih dengan sebuah sapu tangan.
__ADS_1
Seketika Ningsih kehilangan kesadarannya. Satria membawa Ningsih ke salah satu amar di hotelnya.
***
"Reno, aku mau bicara denganmu!" ucap Santi sambil menarik tangan adiknya.
"Apa-apaan foto ini?" Santi melotot sambil menunjukkan sebuah foto di ponselnya.
Reno tak mampu berkata apapun. Melihat foto adegan panas dirinya dengan Ningsih.
"Kamu ngapain sama Tante Ningsih! Dasar Reno!" Santi dengan amarah memukul adiknya.
Entah siapa pengirimnya, yang jelas, foto itu benar Reno dan Ningsih. Santi merasa sangat jijik dengan kelakuan adik dan tantenya.
Reno hanya bisa tertunduk malu. Berkata apapun percuma untuk saat ini. Sepertinya hal ini akan menjadi masalah besar!
Bersambung ....
***
JANGAN LUPA LIKE ya guys! KOMENTAR berbalas yuk^^
Kira-kira siapa ya pengirim foto itu?
__ADS_1
Lalu, siapakah Satria sesungguhnya?
Ada yang tahu nggak, Bima ada di mana?