JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
JERAT IBLIS - 2 - BAB 53


__ADS_3

...🔥 VIA DAN TIPU MUSLIHAT IBLIS 🔥...


Via bangun dengan semangat pagi yang menggebu. Dia memikirkan banyak hal yang akan dia perbuat hari ini. Termasuk melancarkan pembelajarannya menyetir mobil, agar bisa leluasa pergi ke mana-mana sendirian dengan membawa mobil. Tentu saja untuk menyombongkan diri.


Setelah mandi dengan shower air hangat, Via bergegas berganti dengan seragam. Hari ini, dia memakai tas dan sepatu yang berbeda karena seragamnya pun berbeda. Bukan memakai OSIS seperti kemarin. Hari ini memakai seragam khas sekolahannya. Gadis itu pun bergegas ke ruang makan untuk menikmati sarapan bersama keluarganya. Via puas dan senang melihat senyum manis di wajah adik-adik, bapak, dan ibunya.


"Bapak, Ibu, Via berangkat dulu, ya. Theo dan Fafa diantar Bapak saja, ya. Kan, Bapak sudah punya mobil sendiri," ucap Via memerintah setelah menyelesaikan sarapannya.


"Iya, Nak. Hati-hati di jalan," jawab bapak yang pasrah mengikuti perkataan putri sulungnya.


Via pun mencium tangan bapak dan ibunya secara bergantian, lalu menyerahkan beberapa lembar uang seratus ribuan pada ibu untuk berbelanja kebutuhan makanan sebelum laundrynya mulai dibuka. Setelah itu, Via mengelus rambut kedua adiknya dan berpamit pergi berangkat ke sekolah dengan riang. Di depan rumahnya sudah menanti pak sopir yang siaga mengikuti perintah Via. Bak upik abu menjadi tuan putri. Begitulah hidup Via sekarang.


Via duduk manis di sebelah sopir pribadinya. Dia sangat percaya diri setelah mengikuti Dinda. Nyi Pelet itu berhasil mengubah hidup Via dalam sekejab. Gadis itu tak laginkhawatir soal kebutuhan duniawi. Segala kesusahan tentang uang, fasilitas, bahkan wajah, sudah diselesaikan dengan mengikuti Dinda. Ya, terselesaikan, meski hanya sementara. Via tidak tahu apa yang akan terjadi dikemudian hari.


Sesampainya di depan gerbang sekolahan, Via turun dari mobilnya. "Pak, nanti jemput seperti kemarin, ya. Lalu, ajari aku menyetir lagi. Terima kasih," ucap Via seraya menutup pintu mobil.


Gadis itu pun berlari kecil masuk ke gerbang sekolahan. Teman-teman yang dahulu menjauhi dan menghina dia, justru sekarang mendekati. Saat Via masuk gerbang sekolah dan lewat lapangan, beberapa siswi langsung menghampirinya. Mereka mengajak bicara Via dengan antusias. Namun, Via hanya menjawab dengan senyum atau sesekali menjawab dengan kata-kata singkat.


Hari ini, Via sudah pesan nasi bento untuk murid sekelasnya. Dia sengaja melakukan itu untuk mendongkrak popularitas. Sangat menyenangkan menjadi murid terkenal dan cantik, itu yang ada dipikiran Via.


Sesampainya di kelas, Rama sudah duduk di bangku samping tempat Via duduk. Gadis itu kali ini tersenyum dan tidak akan sedingin kemarin, karena dia sudah mempunyai rencana tersendiri.


"Selamat pagi, Via cantik," sapa Rama sambil tersenyum.


"Selamat pagi juga, Rama," jawab Via membuat jantung Rama berdetak tak karuan.


"Vi-Via sudah tidak marah?" tanya Rama yang tak percaya Via menjawabnya.


"Marah untuk apa? Rama tidak salah apa pun," jawab Via sambil tertawa kecil, lalu tangannya menutupi bibirnya yang mungil.


"Syukurlah kalau begitu. Kukira kemarin Via marah sampai menganggapku tak ada. Oh, iya, ini aku bawakan sekotak cokelat untuk kamu spesial dariku. Kamu suka cokelat, 'kan?" kata Rama dengan romantis memberikan kotak merah berisi cokelat pada Via.

__ADS_1


"Terima kasih, Rama," ucap Via singkat sambil menerima pemberian Rama.


Bel sekolah pun berbunyi. Tanda pelajaran dimulai bersamaan datangnya guru ke dalam kelas. Semua murid langsung duduk tenang di bangku masing-masing untuk memulai pelajaran.


"Berdiri. Beri hormat!" seru ketua kelas berdiri yang langsung diikuti para murid lainnya.


"Selamat pagi Bu Guru," ucap para murid serentak.


"Selamat pagi murid-murid silakan duduk," jawab Bu Guru yang membuat semua murid duduk dengan tenang.


Hari itu, pelajaran berlangsung seperti biasa. Tidak ada perubahan apa pun. Kecuali saat istirahat, banyak siswa-siswi yang berebut mengajak Via makan di kantin. Via senang sekali merasakan sensasi seperti artis. Dikerubuti banyak orang dan bahagia.


"Tenang, teman-teman. Aku nggak ke kantin. Aku sudah pesankan nasi bento untuk kalian semua yang sekelas denganku. Nah, ini pesanannya datang. Ayo pada ambil," kata Via bersamaan dengan pesanannya yang datang.


Para murid langsung senang dan berterima kasih padanya dengan girang. Mereka mengambil satu per satu dan memakan dengan lahap di dalam kelas. Via senang sekali mendadak kaya, hits, cantik, dan populer. Tak lupa, dia sudah membayar SPP hingga lulus agar tidak kena marah lagi dari pihak TU. Dia juga sudah melunasi milik Theo dan Fafa. Via itu cukup cerdas dalam mengelola uang meski dari makhluk gaib.


...****************...


Sore harinya, Via sudah memiliki janji dengan Rama. Mereka pergi ke mall untuk jalan-jalan, makan bersama, dan menonton bioskop. Hal yang tidak pernah Via lakukan sebelumnya. Kini, dia lakukan bersama Rama. Lelaki yang dia cintai dan pernah mempermalukan dengan menolak cintanya, akhirnya bertekuk lutut di hadapannya.


"Hmmm ... gimana kalau ke rumahmu?" jawab Via membuat Rama terkejut.


"Wah, Papa Mamaku baru di rumah. Nggak enak nanti banyak interograsi. Via capek? Apa mau booking hotel aja?" kata Rama to the point. "Eh, jangan marah dulu. Maksudku booking hotel buat istirahat aja," imbuhnya agar Via tidak marah.


"Mmm ... kenapa ke hotel? Aku punya apartemen pribadi." Via tersenyum menatap Rama. Dia lupa dengan pesan Dinda soal apartemen itu.


"Wah, keren sekali. Di daerah mana, Sayang? Apa kita ke sana saja?" Rama bersemangat. Dalam benaknya, penuh pikiran kotor melihat Via yang kini begitu cantik.


"Yuk, ke sana aja. Nanti kutunjukkan jalannya!" ajak Via tanpa ragu.


Mereka pun melaju dengan mobil yang disetir oleh Rama. Rasa gejolak nafsu itu melanda Rama. Dia tak bisa berhenti berpikir kotor ketika melihat Via. Terlebih penampilan Via yang baginya menggairahkan. Rok mini, baju ketat, jaket jeans, dan rambut digerai. Via terlihat seksi di mata Rama.

__ADS_1


Sesampainya di apartemen Via, mereka pun naik lift dan segera masuk ke sana. Apartemen yang cukup luas dan mewah untuk digunakan sendirian. Via tak tahu jika mengajak Rama ke sana adalah kesalahan fatal baginya. Dinda tidak mengizinkan orang masuk kecuali yang akan menjadi tumbal. Lelaki hidung belang yang melakukan hubungan badan dengan Via di apartemen itu akan menjadi tumbal dan menambah kekayaan serta pesona Via. Dinda tidak menjelaskan hal itu.


Malam pun tiba, Via dan Rama obrolan seru yang akhirnya menjurus pasa sesuatu yang diinginkan Rama sejak tadi. "Via ... maukah kamu jadi pacarku?" tanya Rama sambil menatap lekat wajah cantik gadis di hadapannya.


Via pun tersenyum. "Ya, Rama. Aku mau," jawabnya dengan lembut.


"Kalau begitu, maukah kamu tunjukkan sesuatu untukku sebagai tanda kita sudah berpacaran?" kata Rama merayu.


"Tunjukkan apa, Rama?" tanya Via tak mengerti.


"Mmm ... tunjukkan rasa cintamu, Via. Kalau kau sungguh-sungguh mencintaiku, lakukan sesuatu denganku," bujuk Rama membuat Via tak mengerti.


Tanpa banyak bicara lagi, Rama mencium bibir Via. Dia sudah tak bisa menahan nafsunya. Tak disadari, mereka hanyut dalam perbuatan dosa penuh nafsu di sofa apartemen itu. Rama yang sadar jika Via sudah tidak perawan pun jadi berpikir, mungkin gadis itu menjual keperawanannya untuk mendapatkan harta yang instan ini. Dia pun tak peduli. Dia melampiaskan nafsunya hingga puas. Mereka berdua pun melanjutkan perbuatan itu di dalam kamar. Hanya berjeda dua puluh menit, nafsu Rama sudah menggebu lagi. Dia terus melampiaskan hingga menjelang pagi.


Rama dan Via terlelap saat hari mulai pagi. Mereka pun tidak sekolah karena terlalu nyenyak tertidur. Saat mereka membuka mata, ternyata jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh menjelang siang.


"Astaga! Kita terlambat sekolah! Gawat ini," ucap Via yang panik. Takut jika kena marah guru dan mendapat pertanyaan dari orang tuanya.


"Sayang, tenang. Tak apa. Kita izin aja sehari. Jangan panik begitu," jawab Rama dengan santai sambil menatap dengan sayu ke arah Via.


Rupanya lelaki itu kembali ingin merengkuh tubuh Via. Gadis itu tak tahu jika dia dimanfaatkan oleh Rama. Namun, Rama juga tidak tahu jika dia akan menjadi tumbal. Tipu muslihat iblis sungguh mengerikan. Dua anak muda itu terhanyut kembali dalam kenikmatan sesaat. Meski mereka menikmati itu, nyatanya mereka sama-sama berjalan ke tepi jurang dan saling membunuh tanpa disadari.


Setelah siang hari merasa lapar, mereka pun pergi dari apartemen. Tentunya sudah mandi dan berganti pakaian. Via dan Rama pergi makan di sebuah restauran terkenal dan enak. Tidak rugi bagi Rama mengeluarkan uang untuk gadis secantik Via.


Aura hitam pun mengepung tubuh Rama. Dia otomatis menjadi tumbal karena bersetubuh dengan Via. Meski Via tak tahu jika aturan itu ada, semua tetap berlaku seperti yang Dinda tetapkan. Begitulah JERAT IBLIS yang menakutkan. Tanpa disadari memakan korban dan membuat pelaku semakin tenggelam dalam segala kemudahan.


"Kamu mau makan apa, Via?" tanya Rama dengan senyum manisnya.


"Mmm ... mau makan grilled aja," sahut Via memilih menu.


"Ok kalau begitu! Kita pesan makanan enak!" Rama bersemangat karena lapar.

__ADS_1


Setelah memesan makanan, Rama permisi untuk ke kamar mandi. Via pun mengizinkan. Ternyata, Rama tidak ke kamar mandi. Dia justru keluar restauran hendak membeli bucket bunga untuk Via karena di depan restauran ada toko bunga. Saat menyeberang dan sampai di toko bunga, dia memilih bunga yang bagus untuk Via. Agar semakin romantis dan Via makin cinta pada Rama. Begitulah pemikiran lelaki itu. Tak disangka, tiang listrik yang berdiri kokoh tepat di samping pintu toko bunga mengalami kerusakkan. Salah satu kabel listrik itu putus dan terjuntai ke bawah. Tepat sekali ada Rama di sana. Kejadian itu begitu cepat. Rama tersambar kabel yang menjuntai dan tersengat aliran listrik tegangan tinggi hingga hangus dan terpental. Seketika keadaan menjadi ramai dan orang yang melihat langsung histeris. Tiang listrik itu pun konslet dan membuat sekita menjadi mati listrik. Rama tewas seketika di sana.


Via yang melihat keributan di luar restauran pun penasaran. Dia segera keluar untuk mencari tahu. Betapa terkejut dan sedih saat melihat korban yang dikerubungi orang-orang adalah Rama.


__ADS_2