
...🔥NINGSIH DAN PUTRA TERSAYANG🔥...
Wanita itu menjalani hari-hari yang sepi tanpa kekasihnya di sisi. Sudah dua bulan kepergian Bima, Wahyu harus kembali ke pesantren karena tertinggal pelajaran. Mau tak mau, Ningsih mengantar putranya tersayang untuk ke pesantren milik Budi. Setelah sampai sana, dia pun berpesan kepada Budi dan Santi.
"Tante titip Wahyu, ya. Sekarang Tante akan fokus mengurus minimarket yang sudah berkembang di Yogyakarta dan akan membuka cabang di Kota Magelang, Solo, dan Salatiga. Doanya, ya, Budi dan Santi," ucap Ningsih dengan senyum palsu di wajahnya.
"Mengapa wajah Ningsih menyiratkan kesedihan? Apakah ada masalah di benaknya?" batin Budi menatap wanita yang dahulu dia cintai.
Meski waktu berjalan, Ningsih masih saja memikirkan tentang Bima. Berapa lama pun waktu itu berjalan, rasa cinta dan kesedihan yang masih terngiang di dalam benak Ningsih. Meski dia mengetahui hal itu tidak baik bagi kehidupan, tetapi apa boleh buat. Apa daya dia tidak bisa untuk mengelak dari perasaan itu.
"Baik, Tante. Tenang saja. Wahyu juga sudah dewasa. Jadi, semua akan baik-baik saja," jawab Santi dengan mantab. Dia tak tahu masalah soal Bima dan Alex karena memang disembunyikan.
"Iya, Mbak. Tidak usah khawatir. Wahyu itu anak yang hebat dan sudah dewasa. Tidak usah khawatir. Dia akan baik-baik saja," kata Budi sambil tersenyum mencoba menghibur Ningsih. Lelaki itu menatap lekat wanita di hadapannya yang tidak bertambah tua meski usia bertambah. Awet muda adalah salah satu anugerah yang Bima berikan selain kekayaan.
Melihat wajah Ningsih yang menyimpan kesedihan, membuat Budi bertanya-tanya dalam hati. Saat Santi mengantar Wahyu ke kamarnya di asrama pesantren, Budi pun mengajak bicara Ningsih. Dia ingin tahu apa yang mengganjal hati mantan bosnya itu.
"Mbak, ada apa, kok, kelihatannya sedih?" tanya Budi to the point membuat Ningsih terkejut.
"Eh, nggak, kok. Aku nggak sedih," jawab Ningsih mengelak. Dia menutupi kesedihannya karena tak ingin Budi ikut campur lagi.
"Mbak, eh, Ningsih ... jangan menyembunyikan sesuatu. Kamu tidak pandai berbohong. Aku tahu kamu sedih. Ada apa?" desak Budi yang masih khawatir pada Ningsih.
__ADS_1
"Budi ... mungkin aku tidak pintar menyembunyikan perasaan sedih, memang benar. Namun, aku juga tidak bisa cerita padamu. Maaf, ya," ujar istri Bima yang tetap bertekad tidak akan menceritakan hal ini pada Budi dan Santi.
"Suami dan anakmu di mana?" Budi menatap ke mobil yang tak ada siapa-siapa. Hanya Ningsih yang mengantarkan Wahyu balik ke pesantren. Tidak seperti biasanya.
"Mereka pergi sementara waktu. Jadi, setelah Wahyu kembali di sini, aku akan sendiri di rumah. Setidaknya bisa fokus mengerjakan semua kepentingan pekerjaan." Ningsih mencoba tegar dan menutupi semua yang sesungguhnya terjadi. Wanita itu berjuang untuk move on meski sangat sulit.
"Pergi ke mana? Mereka berpamit? Apakah ada masah?" cerca Budi dengan segudang pertanyaan. Seketika keadaan menjadi hening.
Ningsih terdiam sejenak. Menghirup napas dalam dan menghempaskan perlahan. Memikirkan jawaban apa yanh tepat untuk menghadapi pertanyaan Budi. Memang Alex membuat Budi dan Santi lupa akan Bima sebagai iblis. Hanya Reno dan Nindy yang masih ingat karena mereka juga sudah berjanji tidak akan membocorkan kepada Budi yang menjadi penerus Kyai Anwar. Jadi, Ningsih juga tak bisa menceritakan yang sebenarnya, bukan?
Setelah kepergian Bima, keluarga Reno pun jarang mengunjungi Ningsih. Memang disadari, hidup Ningsih menyusahkan banyak orang. Menjalani hidup baru tanpa makhluk gaib yang selama ini menemani hidupnya, sungguh rasanya berat. Dia pun masih menerka sampai kapan dia bisa bertahan menahan kesedihan dan kerinduan yang perlahan menggerogoti hati dan pikirannya.
"Ningsih, kau tidak apa-apa? Jika ada suatu hal, cerita padaku saja. Kau bisa kirim pesan atau telepon aku. Kita sudah menjadi bagian keluarga sekarang. Jangan tertutup seperti itu. Nanti bisa menjadi penyakit. Aku tak mau Wahyu tidak fokus belajar karena khawatir," imbuh Budi yang membuat alibi dari rasa cemasnya. Dia kemudian melihat ke belakang karena Santi dan Wahyu sudah membereskan barang ke kamar dan kembali ke depan pesantren.
"I-iya, Ma. Tidak apa. Minggu depan kita ke sana, ya. Sekalian ke rumah Reno." Seakan mengetahui keinginan istrinya, Budi pun mengiyakan keinginan Santi. Memang berkunjung ke Reno yang menjadi keinginannya.
"Terima kasih, ya. Kalian sangat perhatian dengan Tante dan keluarga. Tante titip Wahyu, ya. Wahyu ayang ... Mama pulang dulu, ya. Kalau liburan lagi, pokoknya pulang menemani Mama, ya. Mama sayang kamu," kata Ningsih yang kemudian memeluk erat putranya tersayang setelah berpamit.
Saat memeluk tubuh Wahyu, terlintas bayangan anak bungsunya dalam benak. Bagaimanapun, Bima dan Alex adalah bagian dari hidupnya yang tak akan pernah terlupa meski waktu terus berjalan. Ningsih teringat semua kenangan yang dilewati bersama dengan keluarga kecilnya. Terlebih ketika Wahyu mau menerima Bima dan Alex, hal itu menjadi kenangan terindah baginya.
"Iya, Ma. Wahyu juga sayang Mama. Mama jaga kesehatan, ya. Kalau ada apa-apa hubungi Wahyu atau Om Budi biar kami langsung ke sana," jawab Wahyu yang juga mengkhawatirkan mamanya yang akan pulang sendirian. Dia tahu jika suasana hati dan pikiran ibunya belum stabil.
__ADS_1
Setelah berpamitan, mereka pun berpisah. Ningsih pulang sendirian dengan mobilnya. Dia menyetir mobil dengan segala rasa berkecamuk di dada.
"Tak kan pernah habis air mataku bila kuingat tentang dirimu ... mungkin hanya kau yang tahu mengapa sampai saat ini kumasih sendiri. Apakah di sana kau rindu padaku, meski kita kini ada di dunia berbeda? Bila masih mungkin waktu kuputar, kan, kutunggu dirimu ... Biarlah kusimpan sampai nanti aku kan ada di sana tenanglah dirimh dalam kedamaian dengarlah cintaku, kau tak terlihat lagi ... Namun cintamu abadi ...." Ningsih menyanyikan sebuah lagu yang mewakili perasaannya. Air mata jatuh mengalir deras dari sudut matanya, membasahi pipi.
Selama ini, dia menutupi kesedihan dari anaknya. Namun, saat ini rasa itu menyeruak tanpa bisa ditahan. Ningsih menangis tersedu-sedu. Dia merasa sakit merindukan Bima dan Alex. Sepanjang perjalanan pulang hanya air mata dan nyanyian galau yang bergema di mobil Ningsih.
Setelah perjalanan yang cukup jauh, Ningsih sampai juga di rumahnya. Dia memarkirkan mobil dan bergegas ke kamar. Membasuh wajahnya yang lelah karena tangis, lalu dia berbaring di ranjang. Tanpa disadari semua kesedihan dan air mata itu membuat Ningsih lelah dan akhirnya tertidur seketika. Waktu menunjukkan pukul sembilan malam, Ningsih ketiduran padahal belum menghubungi putranya jika sudah sampai rumah.
...****************...
Wahyu merasa khawatir saat mamanya pulang sendirian. Dia tahu jika mamanya masih bersedih. Kehilangan sosok yang disayangi adalah hal yang berat. Meski Wahyu tahu hal itu justru yang terbaik untuk mamanya karena cinta beda dunia tak seharusnya bersama.
"Ya, Allah ... lindungilah Mamaku dalam perjalanan pulang. Juga dampingilah Mamaku agar bisa kembali di jalan-Mu. Sesungguhnya hanya Engkau yang mampu membolak-balikkan hati seseorang," gumam Wahyu dalam hati sesak.
Seorang anak yang mencoba mengubah nasib dengan mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Seorang anak yang selalu berdoa agar Allah meluputkan musibah dan siksa neraka dari keluarganya. Meski Wahyu tahu orang tuanya jatuh dalam lembah dosa, dia tak ingin menyerah, dan selalu mendoakan agar Allah mengampuni dosa-dosa mereka.
Banyak orang mengatakan tak mungkin jika seorang yang bersekutu dengan iblis bisa bertobat. Namun, bagi Wahyu tidak ada suatu hal yang mustahil karena Bima pun sudah mau melepaskan Ningsih. Wahyu tahu jika ini semua jalan dan ketetapan Allah yang mendengar permohonan doa Wahyu selama bertahun-tahun. Saat semua sulit, seakan Allah belum mendengar doa Wahyu, dia tidak menyerah atau putus asa. Dia justru terus memanjatkan doa dan mengucap syukur kepada Sang Pencipta. Hingga akhirnya setelah doa yang cukup lama, Allah mengabulkan dengan peristiwa yang tak terduga.
Bima kembali ke neraka dan melepaskan Ningsih, menjadi awal mula agar mama dari Wahyu itu kembali pada jalan-Nya. Ningsih bisa kembali bertaubat asal terlepas dengan Bima karena perjanjian pesugihan sudah terhenti.
"Allahuakbar. Allah Maha Baik. Allah Maha Tahu. Allah Maha Adil. Aku percaya, ya Allah, Engkau tidak kurang dengar untuk mengabulkan setiap seru doa hamba. Engkau tidak akan membiarkan hambamu terus tersesat." Wahyu pun tersenyum menatap foto di handphonenya. Terlihat foto berempat menjadi wallpaper handphonenya. Ningsih, Bima, Wahyu, dan Alex saat pergi ke Gembira Loka. Menyenangkan ingat kebersamaan mereka meski berakhir sedih karena tahu akan berpisah dengan ayah dan saudara lelakinya yang berasal dari alam yang berbeda.
__ADS_1
Wahyu pun menata barang-barangnya di almari. Seharusnya, dia tidur sekamar dengan berisi empat orang seperti santri lain, tetapi karena almarhum Kyai Anwar selalu mengistimewakan Wahyu pun tidur sendirian di kamarnya. Pak Anwar tahu jika kelak Wahyu akan menjadi santri yang terdidik dan berilmu baik, sehingga bisa membantu Budi menjalankan pesantren itu. Ilmu Wahyu pun sudah terasah sejak kecil. Pak Anwar berharap Wahyu bisa menyelamatkan hidup ibunya yang sudah masuk dalam JERAT IBLIS. Kini semua mulai terlihat saat Wahyu berusia tujuh belas tahun. Dia memperlihatkan kemajuan yang berarti dalam ilmu agama maupun kepandaian.
Wahyu yakin jika dia bisa membimbing ibunya kembali ke jalan yang Allah tetapkan. Jika bukan sekarang, dia yakin akan segera mendapatkan petunjuk dari Allah untuk menjemput ibunya dalam dekapan jalan mulia yang seharusnya. Teringat akan semua hal yang terjadi, sudah bertahun-tahun Ningsih lupa akan Allah dan segala ketetapannya. Dia menjauh dan hidup dengan apa yang dia inginkan tanpa memikirkan kesulitan yang terjadi karena kesesatannya. Bahkan, cinta dua dunia itu pun tak seharusnya terjadi. Wahyu tak pernah berhenti meminta bantuan serta ampunan dari Allah untuk orang tuanya.