
...🔥 MINGGU PERTAMA - 2 🔥...
Setelah Bima, Ningsih, Wahyu, dan Alex selesai piknik ke Gembira Loka, mereka pun memutuskan untuk bersantap siang di sebuah restoran ternama di Kota Yogyakarta. Wahyu dan Alex menunggu waktu yang tepat untuk mendengarkan apa yang orang tuanya hendak bicarakan. Apa yang sebenarnya terjadi hingga kedua orang tuanya menangis? Mereka tidak ingin bertanya terlebih dahulu karena mereka tahu hal itu membuat kedua orangnya sedih.
Bima dan Ningsih sengaja berbincang banyak hal untuk mengalihkan perhatian tentang kesedihan yang mereka pendam. Tentu saja mereka berdua tidak ingin membuat kedua putra kesayangan bersedih jika mengetahui hal itu. Mereka memesan makanan terlebih dahulu. Sambil menunggu pesanan datang, mereka berbincang banyak hal. Setelah pesanan datang, makan bersama seakan tidak terjadi suatu apa pun. Padahal terlihat jelas kesedihan terpancar dari raut wajah Bima dan Ningsih.
Alex dan Wahyu masih santai makan dan berharap orang tuanya mau bercerita. Beberapa kali mereka saling menatap, tetapi belum ada kalimat apa pun yang terucap. Bima ragu hendak memberi tahu anak-anaknya soal kepergiannya. Namun, tetap harus memberi tahu cepat atau lambat.
"Ayo makan yang banyak! Kalian para lelaki harus makan yang banyak," ucap Ningsih dengan semangat mengambil makanan untuk tiga jagoan itu.
Ya, tentu saja tiga jagoan, karena Ningsih satu-satunya wanita dalam keluarga itu. Memiliki dua putra sangatlah menyenangkan bagi Ningsih. Meski sebenarnya dia menginginkan satu anak lagi yaitu perempuan, tetapi sepertinya itu tidak mungkin terjadi.
"Iya, Ma. Terima kasih," kata Alex yang menerima piring berisi makanan dari Ningsih.
"Terima kasih, Mama. Mama yang terbaik," ucap Wahyu yang juga tersenyum menatap orang tuanya.
Bima pun juga menerima piring berisi makanan dari istrinya. Mereka berempat makan bersama sampai kenyang. Seakan mereka adalah keluarga utuh dan keluarga normal seperti manusia pada umumnya. Tentu saja orang lain tidak bisa menebak dan menyadari, jika sesungguhnya Bima dan Alex adalah iblis. Mereka terlihat sama persis dengan manusia, jadi Ningsih dan Wahyu tidak perlu khawatir. Hanya saja jika seorang indigo yang melihat, tentu akan berbeda.
Setelah selesai makan, mereka pun minum jus dan juga minuman hangat yang sudah dipesan. Setelah itu, mereka berbincang hangat banyak hal yang dibahas. Sampai pada suatu pembicaraan yang mulai serius. Bima mau tak mau harus menyampaikan soal kepergiannya secara langsung ke kedua anaknya. Dari pada harus mengetahui dari orang lain. Lebih baik menyampaikan secara langsung, bukan?
"Wahyu ... Alex ... kalian ini, 'kan, sudah dewasa. Sudah melebihi usia dan masa anak-anak. Kalian dalam fase remaja menuju dewasa. Tentunya kalian tahu tanggung jawab seorang laki-laki itu begitu besar. Salah satunya, menjaga Mamamu, kecuali jika kalian sudah memiliki keluarga masing-masing. Hal itu mungkin akan sedikit berbeda. Papa pesan kepada kalian, jika suatu ketika nanti Papa harus meninggalkan kalian beberapa saat ... tolong jaga Mama kalian sebaik mungkin," ucap Bima mengawali pembicaraan yang serius kepada kedua anaknya.
Ningsih hanya menatap ekspresi wajah kedua putranya. Dia masih menahan perasaan agar tidak menangis saat membicarakan hal itu.
"Emangnya Papa mau ke mana?" tanya Alex menatap Bima.
__ADS_1
"Iya, Pa. Papa emangnya mau ke mana? Apakah ada yang Papa Mama sembunyikan dari Wahyu dan Alex?" imbuh Wahyu menanyakan hal itu kepada Bima dan Ningsih.
"Dua putraku yang kusayang ... Wahyu dan Alex yang Papa sayangi dan cintai ... maaf jika Papa baru membahas ini sekarang. Papa membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengumpulkan keberanian menceritakan hal ini. Saat menjemput Alex ke neraka lapis keenam, Papa meminta bantuan kepada Tuan Lucifer dan terpaksa mengambil perjanjian yang beliau tawarkan. Papa hanya mendapatkan waktu satu bulan untuk berpamitan dengan kalian, sebelum akhirnya Papa kembali menjadi pengabdi neraka di sana. Papa tahu ini sangat sulit, kalian pasti juga akan bersedih ... tetapi yakinlah ini hal yang terbaik yang Papa bisa lakukan untuk melindungi kalian. Semua karena Tuan Lucifer sudah berjanji jika Papa menjadi pengabdinya lagi, tidak akan ada satu pun penghuni neraka yang mengganggu keluarga kita. Kalian tidak akan ada yang mengganggu, keluarga Papa akan baik-baik saja. Apakah kalian bisa berjanji melindungi Mama kalian dan juga saling melindungi satu dengan yang lain?" jelas Bima yang terlihat matanya mulai berkaca-kaca menahan tangis dan sedih.
"Apakah ini serius, Pa? Apakah Papa sudah memikirkannya lagi? Rasanya sangat sulit untuk menerima. Maafkan Alex, Pa. Jika semua ini akhirnya terjadi, lebih baik aku tetap di sana daripada Papa Mama harus terpisah lagi," ucap Alex yang kemudian meneteskan air mata. Dia merasa bersalah. Meski semua ini karena ulah Nindy yang bersekutu dengan Zatan.
"Kamu nggak salah, Sayang. Semua ini keputusan Papa untuk mempertahankan keluarga kita dan menghindari bahaya yang kemungkinan akan terjadi lagi. Kalian harus kuat. Apalagi kau, Wahyu. Sebagai kakak, kamu harus bisa membimbing adikmu dan melindungi Mamamu. Papa percaya terhadapmu karena kamu jauh lebih dewasa daripada adikmu," ujar Bima dengan mengutarakan dengan logika yang tepat. Meski air mata mulai menetes di pelupuk mata.
Hari itu, mereka mengakhiri minggu pertama dengan tangis haru. Setelah bertamasya, justru mereka pulang dengan rasa sedih. Sedih karena tahu tinggal tiga minggu masa kebersamaan mereka sebelum Bima mengabdi.
Dalam perjalanan, Alex dan Wahyu saling berbalas pesan karena mereka memilih bungkam menjaga keheningan. Mereka membahas hal itu dalam chat.
Wahyu: [Mengabdi lagi di neraka maksudnya apa?]
Alex: [Maksudnya ya Papa balik ke sana. Nggak bisa di sini. Huh, kukira kamu tahu waktu tadi menangis.]
Alex: [Nggak bisa balik. Setahuku, dulu Papa pernah cerita kalau neraka ada tujuh lapis dan semua isi neraka itu milik Tuan Lucifer, seorang malaikat yang dibuang dari surga. Kalau jadi pengabdi Tuan Lucifer, ya, jadi iblis di sana terus. Nggak boleh ke dunia manusia lagi.]
Wahyu: [Kasihan Mama donk. Kamu ada ide nggak?]
Alex: [Ideku hanya akan menambah masalah. Mending nggak usah melakukan apa-apa. Papa tahu hal yang terbaik untuk keluarganya.]
Wahyu: [Baiklah kalau begitu. Hanya bisa mendoakan saja. Kasihan Mama.]
Alex: [Iya. Pantas saja tadi Mama menangis tersedu-sedu. Huh, andai bisa mengubah keputusan Tuan Lucifer.]
__ADS_1
Mereka pun berhenti berbalas pesan saat mobil yang dikendarai Bima sampai ke tempat parkir rumah. Mereka pun segera turun setelah mobil masuk garasi. Di sana terlihat masih ramai karena Dinda, Boy, Lauren, dan Daniel masih berada di sana.
Alex pun mempunyai ide untuk bercerita kepada om dan tantenya. Siapa tahu ada jalan keluar. Namun, Wahyu justru mencegah karena hal itu privasi orang tua mereka. Jika belum saatnya bicara, Bima dan Ningsih pasti akan menyembunyikan hal itu dahulu. Sampai mereka yakin untuk mengungkapkan.
Setelah berpikir sejenak, Alex pun merasa perkataan kakaknya adalah benar. Tak seharusnya mereka bercerita ke om dan tante jika orang tuanya masih diam saja. Malam itu, Alex dan Wahyu masuk ke kamar masing-masing. Mereka pun tertidur dalam kesedihan dan tangis.
...****************...
Gio dan Gilang sering main ke rumah Lisa untuk membimbing energi apa yang Lisa miliki untuk bisa memahaminya secara simple. Reno dan Nindy pun sudah seperti biasa. Mereka saling menyayangi satu dengan yang lain, meski tak dipungkiri hati mereka sama-sama terluka.
Reno kecewa karena Nindy bersekutu dengan iblis hanya karena cemburu. Reno merasa istrinya tidak kuat dalam pendirian dan selalu merasa cemburu dan curiga. Sedangkan Nindy pun kecewa kepada Reno karena ternyata suaminya menjemput Dinda di stasiun. Berarti benar yang Nindy khawatirkan. Reno dan Dinda menjalin hubungan lagi.
Hati yang kecewa dan pernah terluka akankah bisa kembali seperti sedia kala? Meski sikap bisa menutupi luka batin, akankah semua sama seperti dahulu? Meski mereka mencoba baik-baik saja, nyatanya mereka tidak baik-baik saja. Hanya demi Lisa, Reno dan Nindy terlihat akrab dan mesra. Luka itu tetap ada di hati mereka.
"Ma ... Pa ... Lisa sekarang sudah berani. Nggak takut sama makhluk jelek yang suka ganggu Lisa. Kak Gio sama Kak Gilang buat Lisa jadi berani," celoteh Lisa di siang hari saat Gio dan Gilang istirahat siang dan mengunjungi Lisa.
"Alhamdulilah, Sayang. Ini Mama sudah selesai masak. Ayo Gio, Gilang, Lisa, sama Papa makan dulu bareng," sahut Nindy yang sudah menyajikan aneka makanan di meja makan setelah memasak dengan bibi.
"Wah, wanginya enak banget. Ayo makan bersama. Terima kasih, Sayang atas masakkannya." Reno pun memeluk istrinya dan mengecup keningnya sekejab. Membuat Gio dan Gilang tersenyum geli. Sedangkan Lisa sudah terbiasa melihat orang tuanya saling menyayangi.
"Ayo makan semuanya. Terima kasih, ya Mas Reno dan Mbak Nindy," kata Gio yang kemudian mengajak berdoa sebelum makan.
Mereka makan siang bersama. Sudah seminggu ini, Gio dan Gilang selalu mengunjungi Lisa. Saat istirahat makan siang dan sepulang kerja. Mereka pun menjelaskan tentang hal kelebihan Lisa dan mengajari beberapa doa yang akan membuat Lisa lebih tenang ketika melihat makhluk gaib.
Indera keenam atau kelebihan yang sering disebut indigo memanglah hal spesial. Tidak semua orang bisa memiliki dan mampu menjalani kehidupan seperti itu. Namun, Allah memberikan kelebihan pasti ada rencana di balik semua itu. Gio dan Gilang mengajarkan kepada Lisa yang masih kecil untuk selalu bersyukur dan tidak boleh takut ketika melihat makhluk gaib yang beraneka bentuk dan rupa.
__ADS_1
Lisa memang memiliki energi yang besar. Gio dan Gilang menyadari satu hal, Lisa menjadi incaran karena tubuhnya masih kecil dan mudah diganggu. Mereka berdua pun memberi pagar gaib untuk tubuh Lisa dan setiap hari mengecek kondisinya. Demi keselamatan bersama, Lisa tidak boleh jatuh di tangan yang jahat.