
Joshua seorang pembunuh bayaran yang selama delapan tahun belakangan ini bekerja pada Tuan Lee. Lee memanggilnya dengan nama Josh, dan dia pun terbiasa dengan panggilan itu. Josh termasuk orang yang mempunyai gangguan kejiwaan, dia tak bisa hidup bersosialisasi layaknya orang lain. Hidupnya selalu misterius dan sendirian.
Banyak orang taut dengan Josh. Namun dia melampiaskan kesakitan jiwanya sebagai pekerjaan yang menjanjikan. Penculik dan pembunuh bayaran, membawa Josh pada kenikmatan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Sensasi yang menenangkan jiwa nan kacau.
Awal mula Josh bertemu dengan Lee, saat tak sengaja mereka berjumpa di Rumah Sakit DreamLand (khusus kejiwaan). Lee periksa pertama kali di sana. Sedangkan Josh sudah menjadi pasien rawat jalan sudah beberapa tahun yang lalu.
Lee merasa kalut karena harta kekayaan ternyata tak bisa menutup sakit hatinya terhadap perlakuan ibunda di masa lalu. Lee cemas setiap harinya bahkan insomia akut menjangkitinya. Josh yang melihat Lee, mencoba mengabaikannya. Namun Lee memulai percakapan.
"Hei... kamu sudah sering ke sini?" ucap Lee perlahan, membuka percakapan.
Josh menengok ke arah Lee yang terlihat berantakan. Jauh lebih mengerikan dibanding penampilannya waktu itu. Padahal sekilas, orang pun tahu jika Lee lebih kaya dibanding Josh.
"Sering. Ini kali pertama untukmu?" jawab Josh dengan santai.
"Iya, bro. Aku tak bisa tidur dan sering mendengar dengungan kalimat dipikiranku. Aneh. Mungkin aku sudah gila," jelas Lee sambil duduk mendekat di tempat duduk Josh.
"Itu hal yang wajar. Depresi? Putus cinta?"
"Tidak... bukan hal itu..."
"Lantas?"
"Entah... hanya saja aku ingin membalas semua kesakitan yang kurasakan pada ibuku," kata Lee sambil menunduk. Frustasi.
"Apa yang akan kau lakukan? Mau kubantu?" ucap Josh membuat Lee menemuian secerca harapan.
"Benarkah?"
Sejak saat itu, mereka menjadi dekat. Lee selalu menceritakan apa yang dia dengar dari bisikan tak jelas di dalam kepalanya. Seperti membakar ibunya, menyiksa ibunya, atau menculik kedua putri ibunda agar hidup ibunya tersiksa selamanya.
Josh yang memang sudah sakit jiwa, mengabulkan satu keinginan ketidak warasan jiwa Lee.
"Akan kuculik anak-anak ibumu. Siksa mereka agar ibumu merasakan yang kau rasa," kata Josh sambil menghirup minyak aroma terapi yang selalu dibawa dalam sakunya..
"Ide bagus, Josh. Aku akan mengandalkanmu. Sebagai gantinya... hartaku bisa kamu gunakan," jawab Lee sambil tersenyum sadis.
Penculikan itu berjalan lancar. Awalnya Lee hanya ingin menyekap kedua anak ibundanya. Namun mengingat perlakuan ibunya membuat Lee berteriak dan kehilangan kendali. Rumah sederhana di pinggir hutan menjadi saksi bisu saat Lee mencabik-cabik tubuh mungil gadis itu. Bahkan mulut mereka sudah dilakban dan tangan serta kaki diikat agar tidak bisa melawan.
Itulah awal kanibalisme yang dilakukan Lee. Tak sengaja atau entah malah justru diinginkannya, dia melahap tubuh gadis kecil itu dengan membabi buta. Baginya, rasa sakit itu akan segera hilang setelah membalaskan dendam.
Menghilangnya kedua gadis kecil itu membuat ibu Lee frustasi. Kewarasannya pun terganggu sehingga suaminya membawa ke rumah sakit jiwa. Lee kira semua itu akan membawanya ke dalam bahagia kehidupan. Ternyata tidak.
Lee masih terlarut dalam dendam dan amarah. Dia pun terbujuk rayuan setan yang terus membisikinya untuk melakukan hal yang sama.
"Culik anak-anak kecil seumuran anak ibumu dan bunuh mereka seperti kau melahap kedua putri kesayangan ibumu. Hal itu akan membuatmu merasa lebih muda, tampan, dan bahagia," bisikan gaib itu berdengung di pikiran Lee setiap harinya.
Sejak itu, Josh menjadi kaki tangannya. Mengerjakan sesuai perintah Lee. Dia menculik gadis seusia 7-10 tahun serta kesayangan orang tua, agar bisa di makan oleh Lee.
****
Sepulang dari rumah sakit... Ningsih merebahkan sejenak tubuhnya di kasur empuk, kamarnya. Tiba-tiba Bima datang....
"NINGSIH! PERGILAH DARI RUMAH SELAMA SEMINGGU. AKAN ADA ORANG YANG MENCARIMU. JANGAN TINGGAL DI HOTEL BERBINTANG ATAU VILLA. SEWALAH RUMAH SEDERHANA. AKU AKAN MENEMANIMU SEGERA." kata Bima lalu menghilang.
__ADS_1
Kembali Ningsih bingung dengan perkataan Bima. Namun apa daya dia tak bisa menolak perkataan suami gaibnya. Dia tak sadar jika semakin menurut, kehidupannya semakin melambung dan bersiap terjatuh dengan keras.
Ningsih pun keluar kamar dan menuju ke kamar Santi.
"Santi... Tante kemungkinan mulai besok akan ada perjalanan bisnis lagi selama seminggu. Tante titip Wahyu ya. Kamu dan Reno tinggallah di Jakarta lebih lama," bujuk Ningsih pada keponakannya.
Santi yang sedang dekat dengan keluarga Joko dengan mudah mengiyakan perkataan Tantenya. Dia pun yakin Reno setuju juga.
"Baik, Tante. Tak apa. Serahkan saja padaku."
Pagi harinya....
Ningsih bergegas menata tas yang akan dibawanya pergi selama seminggu. Dia pun menelepon bodyguard untuk menjaga rumahnya dan keluarganya selama dia pergi.
"Santi... selama Tante pergi, akan ada empat bodyguard berjaga di sini. Kalian jaga diri ya." pesan Ningsih sebelum pergi dengan taksi untuk meminimalisir kemungkinan dilacak dengan nomor play mobil
Santi dan Reno sudah merasa curiga terhadap Ningsih. Namun mereka menyimpan dalam benak saja.
Dalan perjalanan Ningsih teringat sebuah rumah kontrakan di dekat pelabuhan. Dia pun ke sana. Perjalanan sangat jauh dengan taksi pun Ningsih tempuh.
Sesampainya di sana, Ningsih mencari pemilih kontrakan dan dia diijinkan untuk tinggal di sana dengan membayar sejumlah uang sewa untuk seminggu saja.
"Waah... pemandangan yang indah. Cocok sekali untuk berlibur. Udara segar, serta bau air laut yang membuat semangat. Pelabuhan ternyata tempat yang tenang," gumam Ningsih sambil meletakan tas bawaannya di dalam rumah.
"PILIHAN YANG TEPAT. MEREKA TIDAK AKAN MENEMUKANMU SAMPAI SINI." kata Bima mengagetkan Ningsih.
"Sebenarnya siapa yang mencariku, Bima? Apakah tak bisa kita hadapi saja?" tanya Ningsih dalam hati.
"Inginkan apa? Harta?"
"LEE MENYEMBUNYIKAN SESUATU DI APARTEMEN YANG MEREKA CARI. KUNCI HARTA YANG DIKUBUR DALAM RUMAH PINGGIR HUTAN. KUNCI ITU LEE TARUH DI APARTEMENMU."
"Benarkah? Apa baiknya kuambil saja?"
"JANGAN! BIARKAN SAJA. HARTA ITU MEMANG TIGA KALI HARTAMU, TETAPI TAK USAH KAU HIRAUKAN."
Bima pun memutuskan untuk tak membahas harta Lee. Baginya cepat atau lambat harta itu akan membuat orang saling membunuh demi mendapatkan. Bima senang jika hal itu tiba. Kuota pencarian jiwa akan segera tergenapi.
Ningsih melepas penat di rumah sederhana itu. Bima menemaninya sepanjang hari. Tentunya dengan selalu menyentuhnya setiap saat.
***
Singapura....
"Josh... kamu yakin Lee menyimpannya di sana?"
"Ya... kemungkinan besar. Apa kamu mempunyai ide yang lebih masuk akal?"
"Tidak... Namun, rumah itu... kamu bilang Lee memakan korbannya di sana."
"Iya, tenang saja. Lee pasti menyimpan hartanya dengan baik."
Josh dan Lily mengendarai mobil menuju ke rumah misterius Tuan Lee. Hanya demi segumpal kekayaan, mereka mencari di mana yang warisan lainnya tersimpan.
__ADS_1
"Itu dia rumahnya. Aku pernah melihat Lee membuka ruang bawah tanah seusai mengambil deposito. Aku yakin dia menyembunyikan sebagian hartanya di sana," ucap Josh dengan yakin.
"Josh... kamu sangat jeli dan pintar. Pantas saja Lee mempercayaimu menjadi kaki tangan," lirih Lily sambil merangkul lengan Josh.
Setelah kejadian Lily diinterograsi polisi, Josh dan Lily memiliki hubungan yang lebih intens. Mereka terlibat dalam hubungan tanpa status. Saling memuaskan setiap malam, tanpa ada kata cinta. Lily menikmati itu... terlebih dia sangat penasaran tentang harta peninggalan Lee yang tidak tercatat di wasiat. Dia merasa pantas mendapatkan harta itu dibanding Josh.
Josh keluar dari mobil. Lily mengikutinya. Lelaki itu tak sadar jika wanita yang bersamanya tidak betul-betul ingin bersanding dengannya. Hanya menunggu saat yang tepat hingga Lily menghempas Josh.
"Aku buka dulu rumahnya. Tuan Lee selalu mengganti kode kuncinya, tetapi aku sudah mengecek semuanya. Dan.... terbuka," kata Josh sambil menekan tombol angka kunci rumah.
"Josh, aku heran kenapa kamu menutup diri dari orang lain... padahal kamu pintar dan memuaskan," sanjung Lily, tanganya meraba tubuh Josh.
Hal itu membuat hasrat Josh terpancing. Tanpa kata, Josh membalikan badan dan memeluk Lily. Dia ******* bibir tipis yang ada dihadapannya. Tak memperdulikan rumah tempat kanibalisme yang Tuan Lre lakukan... mereka justru menuntaskan gelora asmara di sana. Tanpa disadari, ada sepasang mata kuning menatap kedua insan yang memadu kasih berbalut napsu dunia.
"Grrr... manusia memang makhluk yang mudah hanyut dalam dosa. Nafsu salah satu dosa kesukaanku. Terlebih keserakahan... Mereka akan menjadi pengikutku," ucap makhluk mengerikan bernama Asmodeus Sang Penguasa Nafsu.
Saat Josh mencumbu Lily, dia merasa ada yang aneh. Dibalik almari terlihat sepasang mata. Josh menghentikan aktivitasnya.
"Josh... kenapa berhenti?" lirih Lily, tertahan.
"Ada orang lain di sini... ssst...." Josh mengenakan pakaiannya.
"Siapa?" Lily langsung meraih pakaiannya dan segera mengenakan.
"Hei! Siapa kamu?" Josh mendekati ke arah almari.
"Grrr... sudah lama aku menanti manusia ke sini lagi. Aku Asmodeus ...." ucap makhluk itu sambil menunjukan wujudnya.
Josh terkejut dan mundur seketika. Lily juga ketakutan dan mundur hingga terjatuh.
"Alien!" teriak Lily, panik.
"Bukan Alien... itu mumi!" Josh ikut menerka.
"Manusia bodoh! Aku ini Iblis dari Neraka!"
Seketika Lily pingsan. Josh mencoba membangunkan Lily... namun Asmodeus mencengram leher Josh dan membuatnya kerasukan.
"Manusia ini menyimpan banyak dosa. Menjadi tubuh yang nikmat untuk kutinggali. Aku akan berada di sini." ucap mulut Josh yang sudah kerasukan Asmodeus.
Siang harinya, Lily membuka mata dan menjerit ketakutan. Josh menenangkannya.
"It's ok, Honey... hanya mimpi buruk," Josh memeluk Lily yang berada di balik selimut putih tebal.
"Kenapa aku bisa di kamar ini? Tadi makhluk aneh itu ada di mana?" tanya Lily dengan kebingungan.
"Tenang sayang... itu hanya mimpi buruk. Kita di hotel semalaman. Kamu lupa ya? Semalam kita mabuk parah... dan kamu melakukan itu dengan berbagai gaya hingga terbentur meja. Maafkan aku, sayang..." ucap Josh mencoba meyakinkan Lily.
Lily memegang kepalanya, memang terasa sakit. Namun dia sama sekali tak ingat apa yang menimpanya.
Bersambung....
__ADS_1