JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
Cinta Tak Bisa Dipaksa


__ADS_3

Wahyu bermimpi bertemu dengan ayahnya. Bukan Agus, melainkan Bima. Dalam mimpi itu, banyak pesan yang Bima sampaikan kepada Wahyu.


Bima berjalan mendekati Wahyu dan berkata, "Wahyu ... anakku yang Papa jaga dan Papa sayangi sejak dalam kandungan ... Papa minta tolong, jangan menghukum dirimu lagi atas semua yang terjadi. Papa minta maaf harus meninggalkan kalian, tetapi sebenarnya Papa masih ada di sekitar kalian. Papa melindungi kalian dan menyayangi kalian. Wahyu ... Papa mohon ... lanjutkan hidupmu. Carilah jodoh yang kamu cintai seperti Alex dan Lisa yang sudah bersatu."


Wahyu melihat ayahnya yang nada bicaranya bergetar saat mengucapkan kalimat itu. "Papa ... Papa, kembalilah ke sini. Kasihan Mama. Mama merindukan Papa. Kami juga. Apalagi Cahaya," ujar Wahyu yang tak kuasa menahan tetesan air mata.


"Wahyu, kamu lelaki yang kuat dan tabah. Bawalah keluargamu ke jalan yang benar. Papa minta maaf tak bisa bersama kalian. Namun Papa janji tidak akan meninggalkan kalian tanpa pantauan," kata Bima yang kemudian menghilang perlahan.


"Jangan! Papa jangan pergi! Papa!!"


Wahyu berteriak sampai terbangun dari tidurnya. Keringat dingin menetes di dahi Wahyu. Lelaki itu segera duduk, napasnya tak teratur karena kaget dengan mimpi yang dia alami.


Setelah beristighfar, Wahyu pun bangun dari ranjangnya. Dia berjalan ke kamar mandi dan memutar kran untuk segera membasuh wajahnya. Sekiranya segar, Wahyu segera keluar dari kamar. Dia mencari di mana ibu dan adiknya. Waktu menunjukkan jam lima sore.


"Bi ... apa Mama dan Cahaya sudah pulang ya?" tanya Wahyu pada asisten rumah tangganya.


"Den, Nyonya ama Non pergi ke rumah Tuan Alex. Tadi mencari Den Wahyu, tapi Aden lagi istirahat. Pintu diketuk tapi tidak dibuka," jelas bibi pada Wahyu.


"Oh, iya, Bi. Kalau begitu, Wahyu menyusul ke sana saja."


Wahyu pun segera keluar dari rumah. Membuka gerbang dan berjalan ke arah rumah Alex. Dia sengaja jalan kaki karena jarak tempuh tidak begitu jauh. Tiba-tiba ada suara klakson mobil berbunyi di belakang Wahyu. Membuat lelaki itu terkejut.


...Tin ... tin .......


Wahyu menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. "Siapa, sih?!" Wahyu kesal karena mobil yang tak sopan itu.


Beberapa saat kemudian seorang lelaki turun dari dalam mobil yang pintunya terbuka. Lelaki yang sebenarnya malas untuk Wahyu temui, tetapi apa daya ... lelaki itu sudah berada di hadapannya.


"Wahyu, bisakah kamu ikut aku ke rumah?" tanya Pak Gunawan pada pemuda yang pasti menolaknya.


"Pak, saya baru saja pulang dan hendak menemui keluarga. Kenapa harus saya mengikuti Bapak?" Wahyu berusaha berbicara dengan nada datar meski sebenarnya dia sangat kesal dan menahan emosi.


"Wahyu, aku tak usah formal. Ini hanya ada kita berdua. Aku tahu kamu lelaki hebat yang pintar dan mandiri. Oleh sebab itu, bagaimana kalau ikuti saja alur ini. Dekatlah dengan putriku. Jika dalam waktu dua Minggu, tak ada rasa apa pun padamu ... aku tak akan meminta lagi. Tolong ... putriku baru saja keluar dari rumah sakit. Hanya kamu yang dia sebutkan sejak tadi," pinta Pak Gunawan yang merendahkan diri memohon.


Wahyu terdiam dan berpikir sejenak. Jika dia menolak, pasti Pak Gunawan tak akan berhenti begitu saja. Akan ada hal yang tak terduga dilakukan. Namun jika menerima, pasti akan ada hal buruk juga. Gladys pasti salah menerima apa yang terjadi dan semakin terobsesi dengan Wahyu.


"Sepertinya ini bukan pilihan, tetapi paksaan?" Wahyu menghela napas.

__ADS_1


"Bagaimana?" selidik Pak Gunawan yang menunggu jawaban Wahyu.


"Baiklah. Jangan lukai keluargaku jika dua Minggu ternyata tak ada rasa apa-apa. Aku ingin buat perjanjian dan kurekam," jawab Wahyu tegas.


"Baik. Silakan di dalam mobil. Sekarang juga kita ke rumah menemui Gladys." Pak Gunawan memaksakan kehendak pada Wahyu. Dia menginginkan lelaki itu segera bertemu putrinya.


"Nanti aku menyusul, Pak. Sekalian membuat perjanjian. Sekarang aku tak bisa," sanggah Wahyu yang tak ingin dipaksa-paksa.


"Kalau aku berkata tidak? Putriku sudah menunggumu. Jika kau tak mau. Baiklah, tak apa. Tapi kupastikan minimarket milik Ibumu yang berada dekat Candi Prambanan akan hancur besok pagi. Lihat saja!" gertak Pak Gunawan yang tak main-main.


Mau tak mau, Wahyu mengikuti lelaki kejam itu. Masuk ke dalam mobil Pajero Sport berwarna putih itu dan melaju pergi ke arah rumah Pak Gunawan. Pemaksaan. Ya, hal itu yang cocok menggambarkan keadaan yang Wahyu alami.


Bima melihat putranya di sana. Dia tak tega putranya diusik oleh manusia serakah, kejam, dan licik seperti Gunawan. Bima pun bertindak tegas. "Jika berbuat halus tidak bisa menghentikan langkahnya, maka aku harus berbuat kasar," batin Bima.


Saat perjalanan menuju ke rumah Gladys, ada mobil yang menabrak mobil Pak Gunawan. Mobil itu membuat Pak Gunawan terhimpit karena tepat bagian kanan yang tertabrak. Wahyu merasa pusing dan telinganya berdenging saat suara tabrakan itu membuat suasana Maghrib menjadi ramai. Orang-orang berdatangan ke arah kecelakaan itu. Herannya, Wahyu ditemukan selamat tanpa lecet sedikitpun. Sedangkan Pak Gunawan meninggal di tempat kejadian. Berita itu heboh dan ambulans datang memberi pertolongan.


Ningsih yang sedang di rumah Alex pun terkejut saat menerima panggilan dari nomor tak dikenal.


"Selamat petang, apakah ini ibunya Wahyu?"


"Ya, ini aku sendiri. Ini siapa ya? Ada apa?"


"A-apa??! Iya, kami segera ke sana."


Ningsih panik dan bingung apa yang terjadi dengan putra sulungnya.


"Ada apa, Ma?" tanya Alex.


"Ka-kakakmu kecelakaan di Jalan Sudirman."


"Ayo kita ke sana, Ma. Mama jangan panik. Tak apa, kita ke sana. Lisa ... kamu di rumah jaga Cahaya, ya. Aku dan Mama mau ke rumah sakit.". Alex terlihat sangat dewasa pemikirannya. Dia segera meraih kunci mobil dan mengajak Ningsih bergegas pergi.


Alex bingung dan khawatir. Dia mengendarai mobil secepatnya agar sampai di rumah sakit umum dekat Jalan Sudirman. Sesampainya di sana, Alex dan Ningsih langsung turun dari mobil dan berlari ke IGD.


"Suster ... mau tanya pasien yang baru saja kecelakaan. Namanya Wahyu," tanya Alex yang sudah kalut.


"Oh, iya. Ada. Silakan ke sini," kata perawat menunjukkan jalan ke arah IGD.

__ADS_1


Ningsih sangat khawatir memikirkan putra sulungnya. "Alex ... bagaimana ini Kakakmu."


"Sabar, ya, Ma. Kakak pasti baik-baik saja."


Mereka pun masuk ke ruangan IGD. Perawat membuka tirai satu bed di hadapannya. Ternyata Wahyu berbaring di sana dan memejamkan mata seperti orang tertidur.


"Wahyu! Kamu kenapa, Nak?" tanya Ningsih yang kalut.


Alex heran, kecelakaan tetapi Wahyu tidak ada lecet sama sekali. Perawat pun mengajak bicara Alex karena melihat Ningsih panik.


"Begini, Tuan. Pasien mengalami kecelakaan bersama seseorang yang ternyata bernama Pak Gunawan. Beliau meninggal di tempat saat kecelakaan dan pasien diketemukan pingsan."


"Pak Gunawan? Siapa itu?" tanya Alex yang bingung. Belum pernah dia mendengar nama lelaki itu.


Di tempat lain ....


Lina dan Gladys sangat terkejut mendengar kabar duka dari telepon rumah sakit. Mereka menangis histeris hingga pingsan. Satpam dan asisten rumah tangga yang mendengar segera datang menolong.


"Apa apa, Nyonya, Nona?" tanya para pekerja di rumah Lina.


"Panggil RT RW, Pak. Tuan Gunawan ... suamiku meninggal kecelakaan ...." kata Lina yang sudah tak bisa berkata-kata lagi.


Mereka pun segera ke rumah sakit umum menjemput jenazah Pak Gunawan. Pak Sopir mengantarkan Lina dan Gladys. Sedangkan para pekerja menyiapkan rumah untuk kedatangan jenazah. Mereka menangis, bersedih, dan merasakan luka yang mendalam atas kepergian Pak Gunawan.


Lina dan Gladys belum tahu soal kecelakaan Pak Gunawan bersama Wahyu. Jadi mereka fokus mengurus kepulangan jenazah. Meski waktu sudah mulai malam, mereka tetap membawa jenazah pulang. Pemakaman dilakukan pagi harinya karena usulan warga sekitar. Sudah terlalu malam karena mengurus kepulangan jenazah pun memakan waktu yang cukup lama.


...****************...


Cinta memang tak bisa dipaksakan. Seperti dengan yang Wahyu alami. Bima melindungi putrannya dengan mengorbankan nyawa manusia sampah seperti Pak Gunawan. Ya, manusia sampah karena manusia itu tega mengorbankan hidup dan nyawa orang lain demi kekayaan. Bima tahu jika lelaki itu mengabdi pada Mbah Jombrang dan pengikutnya yang merupakan bawahan dari penguasa neraka lapis ketujuh. Ya, Tuan Chernobog mantan atasan Bima.


Wahyu malam itu pulang dengan perasaan yang aneh dan bingung. Jika dia melayat ke tempat Pak Gunawan, pasti akan terjadi salah paham lagi dengan Gladys. Namun bila dia tidak melayat ke sana, kalau ada yang memberi tahu soal Wahyu di dalam mobil Pak Gunawan, bisa-bisa Wahyu menjadi tertuduh.


Ningsih dan Alex membawa Wahyu pulang ke rumah Alex di aman Lisa dan Cahaya menunggu. Mereka beristirahat di sana karena kondisi Wahyu yang masih terdiam saja. Ya, Wahyu belum bisa membicarakan hal itu. Sedangkan Alex yang mengetahui soal Pak Gunawan tak berani bertanya apa-apa.


"Kak, sebenarnya apa yang terjadi? Siapa itu Pak Gunawan? Aku sangat takut mendengar Kakak kecelakaan. Syukurlah Kakak tidak apa-apa," batin Alex menatap kakaknya yang duduk di sofa dan terdiam sejak tadi.


Ningsih tidak memaksakan untuk bertanya karena tahu Wahyu dalam kondisi terguncang. Mereka pun beristirahat malam itu di rumah Alex dengan perabotan yang masih minimalis.

__ADS_1


Wahyu bingung dan takut, tetapi ada juga perasaan di dalam dirinya mengatakan kalau itu perbuatan Bima--ayahnya. Wahyu tak habis pikir mengapa bisa Pak Gunawan meninggal mengenaskan di dekat Wahyu dan dirinya selamat begitu saja. Bagaimana mungkin bisa terjadi kecelakaan aneh seperti itu?


Wahyu pun salat untuk menenangkan diri. Meski dia tahu hatinya tak bisa dipaksakan, tetapi meninggalnya Pak Gunawan pasti membuat Gladys dan ibunya sangat sedih. Wahyu menjadi merasa bersalah atas hal yang terjadi pada mereka. Padahal, bukan Wahyu yang salah.


__ADS_2