
π MASA LALU EVAN π
Dahulu Evan juga manusia biasa, tetapi lahir dengan kekurangan fisik membuatnya dijauhi banyak orang saat beranjak dewasa. Evan tidak memiliki kaki, hanya sebatas lutut. Kelahiran Evan membuat pertengkaran bagi orang tuanya.
"Sudahlah Surti, buang saja bayi itu! Bayi cacat seperti itu akan semakin menyusahkan hidup kita yang sudah melarat!" bentak Parto pada istrinya yang baru saja melahirkan.
Surti menimang bayi Evan yang menangis kencang, seakan takut jika dibuang orang tuanya. "Mas, aku tak bisa. Ini anak pertama kita. Kasihan, Mas."
Parto makin naik pitam melihat istrinya tak berniat membuang bayi cacat itu. "Kalau kamu tak mau membuang bayi itu, aku talak kamu! Sudah, aku tak mau hidup seperti ini dan makin susah lagi!"
Kalimar terakhir yang dikatakan Parto membuat Surti sangat terpukul. Suaminya menceraikan dan meninggalkannya bersama bayi berusia satu hari di sebuah gubuk kecil. Sejak saat itu Surti mengasuh anaknya dan bercocok tanam untuk kelangsungan hidupnya.
Meski dalam kekurangan fisik dan materi, Evan merasa bahagia hidup bersama ibunya. Waktu itu jangankan kursi roda, alat bantu berjalan lainnya pun belum ada. Sehingga banyak orang yang menjauhi Surti juga seakan kehadiran Evan adalah kutukan.
"Kasihan ya Surti, masih muda dan cantik, malah ngurus anak buntung itu. Pantas saja ditinggal suaminya."
"Sebenarnya anak Juragan Komar mau meminang Surti waktu anaknya masih berusia tiga tahun, tapi Surti tak mau karena harus membuang anaknya. Jadi ya gitu hidupnya dah susah makin susah."
"Harusnya buang saja anaknya waktu masih bayi ke hutan, beres 'kan?"
Kalimat-kalimat pedas dilontarkan ibu-ibu yang suka bergosip. Seakan mereka yang maha tahu dan maha benar. Evan hanya memiliki ibu di hidupnya, dan itu sudah lebih dari cukup.
Saat Evan berusia enam belas tahun, hal yang buruk terjadi. Ibu Evan meninggal dunia karena sakit panas. Satu-satunya orang yang memperhatikannya pergi dari dunia. Evan bingung dan bersedih. Dia mencari pertolongan untuk memakamkan ibunya, tetapi tidak ada seorang pun yang perduli pada Evan yang merangkak susah payah ke pusat desa.
Evan kembali ke rumahnya dengan hati kecewa. Dia menangis sedih merasa tak berguna. Ketika Evan melewati pinggiran hutan, ada cahaya merah menyala menyilaukan mata Evan.
"Hei manusia lemah! Apa yang membuatmu menangis?" cahaya merah bak api membara itu mengeluarkan suara.
Evan ketakutan dan gemetar. Dia berusaha pergi tetapi badannya seakan kaku tak bisa bergerak. "A-ampun ... saya hanya orang cacat tak berguna. Jangan apa-apakan saya."
"Ha ha ha ... ternyata hanya karena kaki? Kuberi kau kaki. Sekarang berdirilah!" kata makhluk yang belum menunjukkan wujudnya.
Evan sangat terkejut, seketika kakinya tumbuh sempurna. Evan bisa berdiri dengan kedua kakinya. "Apa? Ini ... ini mustahil! Apakah ini mimpi? Kalau iya, pasti kepergian ibuku juga mimpi, bukan?"
"Aku Asmodeus pemilik neraka lapis enam. Aku biss membantumu menghidupkan ibumu jika kau mau. Namun, ada syaratnya." kata Asmodeus menggoda iman Evan.
__ADS_1
Evan sadar dihadapannya bukan cahaya biasa. Itu iblis jahanam. Namun Evan tak ingin ibunya pergi secepat ini. Dia pun nekat bersekutu dengan Asmodeus.
"Apa pun syaratnya, aku mau. Hidupkan ibuku agar beliau bisa melihatku seperti manusia normal lainnya," pinta Evan pada iblis di hadapannya.
"Baiklah kukabulkan keinginanmu. Mulai hari ini kamu menjadi pengikutku. Aku akan menemuimu lagi nanti malam." suata itu menghilang bersama cahaya merah membara menyusut seakan masuk ke tanah.
Evan memegang kakinya dan mencubit pahanya. Meyakinkan diri sendiri jika hal itu bukan mimpi. "Aw ... sakit! Ini ternyata nyata. Aku akan segera pulang melihat ibu," kata Evan bergegas lari menuju gubuk tua tempat tinggalnya dengan Ibu Surti.
Sesampainya di sana, betapa senang sekaligus terharu melihat sosok ibunya di depan rumah duduk di kursi yang terbuat dari bambu. "Ibu! Ibu!" teriak Evan berlari menghampiri ibunya.
Surti pun terkejut dan tak percaya apa yang dia lihat, "E-Evan ... kamu ... Nak, ini ... kakimu ...." Surti terbata-bata melihat anaknya berlari. Lalu Surti memegang kaki Evan dari lutut ke bawah, memang nyata.
Evan memeluk erat ibunya. "Jangan pergi lagi, Bu. Jangan pergi. Evan rela melakukan apa pun agar tetap bersama Ibu," rengek Evan, meski sudah berusia remaja, Evan tetap tak bisa hidup tanpa ibunya begitu saja.
"Iya, Evan. Apa yang terjadi? Apakah tadi Ibu pingsan?" tanya Surti pada puteranya.
"Tidak Ibu. Tidak. Sudah. Semua baik-baik saja. Ayo Ibu masuk saja. Evan akan memetik buah dan sayur di kebun, lalu membuat makanan untuk ibunya. Hati itu, bukan hanya Surti yang kembali hidup, pun juga hati Evan menjadi hidup dengan semangat dan kepercayaan diri yang besar.
Beda dengan Evan dan Surti, warga yang tak sengaja melihat Evan mempunyai kaki dan Surti hidup lagi langsung membagikan info kepada seluruh warga desa. Orang itu mengeklaim bahwa Surti dan Evan memiliki ilmu hitam. Mereka berencana untuk mengusir Surti dan Evan nanti malam dari desa.
"Bu, Evan belum bisa cerita sekarang. Sekarang Ibu makan dulu saja terus istirahat." Evan menutupi hal itu dan hanya dia yang tahu soal perjanjiannya dengan iblis Neraka.
Malam harinya, suara kentongan dan langkah kaki banyak orang seakan berada di depan gubuk Surti. Evan pun terbangun dan membuka pintu dari anyaman bambu. Warga desa sudah berkumpul dan berteriak-teriak.
"Usir keluarga sesat itu!"
"Hancurkan gubuknya!"
"Bakar saja mereka berdua!"
Evan melihat orang-orang membawa obor dan melempari dengan batu kerikil. Evan takut dan membangunkan ibunya untuk kabur lewat pintu belakang. Surti pun ikut apa yang dikatakan Evan. Tiba-tiba, warga melemparkan obor ke gubuk tua yang mulai menyala karena terbakar api.
Untung saja Evan dan ibunya sudah berlari masuk ke hutan. Menjauh dari kerumunan orang. Berlari sejauh mungkin hingga kakinya terasa pegal dan sakit. Saat di tengah hutan nan gelap, ada suara auman singa. Evan ketakutan dan mengajak ibunya lari lebih kencang. Tak di sangka, singa menerkam tubuh Surti. Genggaman tangan Evan terlepas. Singa mengoyak tubuh Surti.
"Lari, Evan! Lari!" teriak Surti dengan kesakitan menahan koyakan Singa.
__ADS_1
Evan menangis melihat ibunya dimakan singa, lalu dia berlari entah tak tahu arah. Saat Evan berhenti, sudah jauh dari singa itu, Evan menangis kencang karena tak berdaya menolong ibunya.
Asmodeus pun datang. Menemui Evan dalam kesedihannya. Dia menawarkan hal yang jauh lebih baik dari pada memiliki sepasang kaki.
"Bergabunglah denganku. Hidup abadi, membalas dendam pada warga tak tahu diri itu. Hiduplah sebagaimana mestinya kau ditakuti semua orang. Jadilah Iblis yang mengabdi penuh padaku." penawaran Asmodeus pada Evan yang sudah putus asa, diterima begitu saja.
Evan pun berubah menjadi makhluk mengerikan. Dia mengorbankan jiwa dan kemanusiaannya demi membalas dendam. Mulai malam itu, Evan menjadi pengikut Asmodeus yang mengikat manusia dengan hawa nafsu.
"Tak akan kuampuni warga desa itu! Pembunuh ibuku!" geram Evan.
Beberapa hari kemudian, saat ada pentas hiburan di balai desa, Evan mendatangkan angin ribut. Memporak-porandakan semua yang ada. Seisi desa meninggal tertimpa pohon yang tumbang sana sini. Malam balas dendam itu, Evan membawa tujuh puluh lima jiwa kepada Tuan Asmodeus. Sejak saat itu, Evan berkelana keluar masuk Neraka dan Bumi untuk menyesatkan manusia sebanyak-banyaknya demi menyenangkan Tuan Asmodeus.
Setiap wanita yang mendapat ci*man Evan akan terbawa jiwanya ke Neraka. Hal itu berlangsung bukan hanya tahunan, puluhan tahu, tetapi hingga ratusan tahun lamanya. Banyak hal yang Evan lakukan dan ikut perkembangan zaman. Asmodeus sangat senang dengan ketangguhan hati Evan mengabdi sebaik mungkin.
Hal itu membuat Asmodeus menjadikan Evan salah satu Iblis kepercayaannya. Terlebih saat Asmodeus berselisih paham dengan Chernobog. Evan siap maju terlebih dahulu dan Bima pun maju membela Tuannya. Itulah awal Evan dan Bima menjadi musuh demi membela Tuannya di Neraka.
****
"Lily, andai kamu tahu masa laluku, asal usulku, apakah kamu tetap menyukaiku seperti ini? Masihkah kau menggilaiku layaknya kekasihmu? Atau kau akan pergi seperti orang-orang yang menjauhiku selama hidup?" batin Lee menatap wanita yang terlelap di pelukannya setelah puas bergelut dalan keringat.
Mungkin bukan hal yang mudah jika suatu tugas menjadi bawa perasaan. Namun Evan pun tak paham mengapa rasanya bisa seperti itu. Dia memilih diam dan menjalani yang ada sebelum dia kehilangan lagi.
Malam itu, Lee tak bisa tidur dan masih bergelut dengan pikirannya yang mencandu tubuh Lily. Meski wanita kesayangannya tertidur pulas, dia tak bisa berhenti menikmati setiap jengkal keindahan lekuk tubuh Lily.
"Jika aku mengakui diriku Evan bukan Lee, apakah aku masih bisa memelukmu seperti ini? Apakah aku masih bisa menikmatimu dan memberi kepuasan padamu? Aku ... entah rasa apa ini. Apakah mungkin ini yang dinamakan rasa cinta manusia?"
Lee pun mengatur napasnya yang memburu. Terlentang di samping tubuh Lily. Setelah napasnya mulai teratur dan keringat sudah berhenti mengucur, Lee pun meneluk Lily dan terlelap meski waktu sudah menunjukan pukul 05.00 subuh.
Mereka tidur nyenyak setelah menenggelamkan beberapa orang laki-laki dan wanita di Pantai Parangtritis tadi siang. Orang yang terobsesi dan mau dicium Lee dan Lily, mereka bunuh diri bersamaan masuk ke laut dengan suka rela. Atau bisa disebut terhipnotis? Kerja mereka sangat bagus. Tuan Asmodeus sangat senang mendapatkan banyak jiwa hampir setiap harinya.
"Kerja bagus, Lily dan Evan. Kalian sebentar lagi akan bertemu dengan Bima dan Dinda. Berhati-hatilah!" gumam Asmodeus dari Neraka. Tentu saja yang mendengar hanyalah Evan dalam wujud Lee. Lily belum bisa mendengar perkataan jarak jauh Tuannya. Kemampuannya masih di bawah rata-rata Iblis.
Bersambung ....
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Hai guys apa kabar? Semoga sehat selalu ya. Selain memberi Like dan Vote/Tip coin, kalian juga bisa membantu komentar di kolom Pembaca Elite milik Noveltoon dengan hanstag #pembacaelit pilihlah JERAT IBLIS karya Rens09 untuk menjadi favorit pembaca. Share juga ya Novel ini agar semakin banyak menjangkau penikmat cerita Horor Romance. Terima kasih! Author selalu semangat untuk kalian!^^