
π PERPISAHAN YANG KACAU π
Hari berlalu dengan cepat. Matahari terbit dan menyisakan raga yang lelah setelah melepas rindu semalaman. Ningsih pun turun dari ranjang. Melangkahkan kaki ke kamar mandi, melepas kain di tubuhnya, dan menikmati guyuran air hangat dari shower. Setelah selesai mandi, dia berganti pakaian dan segera keluar kamar.
Jam dinding menunjukkan pukul 07.00 saat Ningsih turun dari lantai dua. Dia hendak ke sekolahan Wahyu. Mengurus berkas-berkas untuk pindah sekolah. Tentunya berpamitan juga kepada teman sekelas. Sebelumnya, Ningsih sudah memesankan 50 kotak makan siang bento untuk diantar ke sekolah Wahyu.
"Wahyu, sudah siap berangkat?" panggil Ningsih pada puteranya.
Ningsih menggenakan dress pressbody biru tua di atas lutut dengan blezer warna hitam yang membuat penampilannya soft dan kalem. Riasan wajah yang natural menambah daya pikat kecantikan Ningsih maksimal. Joko melihat bosnya tanpa berkedip. "Memang sangat cantik," gumamnya pada diri sendiri.
Wahyu pun berlari ke mamanya, "Sudah, Ma! Ayo berangkat untuk pamitan."
Seperti biasa putera Ningsih itu selalu ceria dan energik. Ningsih lantas menggandengnya menuju keluar rumah. Joko pun segera keluar, membukakan pintu mobil untuk Ningsih dan anaknya. "Silahkan Nyonya cantik." lirih Joko sambil tersenyum menatap wajah Ningsih.
"Ah, apaan sih Joko. Sering panggil ganti-ganti mulu. Bos lah, Bu lah, Nyonya lah ... dah dibilang panggil Ningsih aja nggak apa," kata Ningsih membuat Joko salah tingkah.
"Iya, Ningsih. Maaf."
Mereka pun memulai perjalanan dengan kecepatan sedang. Santi, Reno, Budi, dan Mak Sri memang tak ikut karena mereka semua sibuk membereskan barang atau pakaian yang hendak dibawa pulang serta menyiapkan milik Wahyu juga. Tak lupa membersihkan kamar mereka karena lusa sudah hari Minggu.
Sesampainya di sekolahan, waktu menunjukkan hampir jam delapan karena Ningsih dan Wahyu sempat mampir di coffee shop untuk membeli kopi dan susu hangat serta cokelat hangat untuk Joko. Mereka terlalu sibuk dan bersemangat hingga lupa sarapan.
"Joko, kamu ikut masuk saja. Soalnya nanti ada Bento datang 50 box untuk perpisahan. Jadi kamu bantu kalau petugasnya datang, ya." ucap Ningsih pada supir pribadinya.
"Baik." Joko pun memarkirkan mobil berwarna hitam di tempat parkiran sekolah. Untung saja hari ini dia memakai kemeja terbaik yang dia punya. Berwarna hitam dengan corak biru tua. Seakan malah couple dengan Ningsih. Tanpa mereka sadari, orang-orang di sekolah mengira Joko adalah ayah Wahyu.
"Selamat pagi, Nyonya Ningsih." sapa Pak Hansen saat melihat Ningsih menggandeng anaknya.
"Selamat pagi juga, Pak Hansen." jawab Ningsih sambil mengulurkan tangan untuk menjabat kepala sekolah itu.
"Nyonya Ningsih, semua berkas sudah disiapkan oleh wali kelasnya Wahyu. Sekarang Wahyu bisa ikut ke kelas untuk perpisahan. Nyonya ikut saya ke kantor ya." jelas Pak Hansen yang usianya masih kepala empat.
"Terima kasih, Pak. Sebentar saya ke sana dulu." kata Ningsih hendak memanggil Joko. "Joko, temani Wahyu perpisahan ya. Sekalian nunggu Bentonya datang jam 10an. Aku mau urus berkas dulu."
Joko pun mengiyakan dan melaksanakan tugasnya. Wahyu bersama Joko pergi ke kelas 1-A sedangkan Ningsih mengikuti Pak Hansen ke ruangan kepala sekolah. Pindah sekolah pun diberi kemudahan menjadi kelegaan bagi Ningsih.
"Silahkan masuk, Nyonya Ningsih." ucap Pak Hansen membuka ruangannya.
__ADS_1
"Panggil Ningsih saja tak apa, Pak. Terima kasih sebelumnya sudah membantu." Ningsih melangkah masuk ke ruangan itu.
Pak Hansen mengeluarkan satu map berkas dan juga menyeduh teh. "Suka minum manis atau tawar, Ningsih?" kata Pak Hansen yang menyiapkan teh di cangkir dengan dispenser air panas.
"Tawar saja, Pak. Soalnya baru saja saya minum kopi. Terima kasih." Percakapan selanjutnya menjadi lebih santai. Bahkan Pak Hansen menceritakan prestasi Wahyu dan nilainya yang bagus. Bahkan memberi rekomendasi beberapa sekolah terbaik di Yogyakarta. Ningsih senang bercakap dengan Pak Hansen. Dia pun menghabiskan teh buatan Pak Hansen. Tanpa diketahui, Pak Hansen mencampurkan sesuatu di minumannya.
Setelah berbincang beberapa menit, tubuh Ningsih seketika lemas. Bahkan untuk bicara atau bergerak pun susah. Pak Hansen langsung tersenyum lebar.
"Akhirnya, hari yang kuimpikan terwujud. Sejak pertama masuk ke sekolah ini aku sudah menyukaimu, Ningsih. Namun karena kamu janda yang angkuh, kepala sekolah sepertiku takut mengungkapkan rasa. Pastinya akan ditolak, bukan? Hari ini kemungkinan terakhir kita bisa bertemu. Maka dari itu tak akan kusia-siakan. Aku juga ingin menikmati tubuhmu seperti mantan suami-suamimu," bisik Pak Hansen di telinga Ningsih.
Jelas saja Ningsih sangat ketakutan tetapi tak bisa menggerakkan tubuhnya atau berbicara. Pak Hansen tahu betul celah ini dengan obat lumpuh sementara. Dia bergegas menggerayangi tubuh molek Ningsih.
Ningsih menjerit dalam hati, "Bima ... tolong! Bima ... ada lelaki gila hendak memperko*aku. Tolong Bima ...."
Pak Hansen menyentuh tubuh Ningsih dari atas sampai bawah. Dia semakin menginginkan Ningsih. Pak Hansen yang sudah meninggi segera membuka celana hitam miliknya. Saat gendak melakukan pelecehan, pintu ruangan di dobrak seseorang.
Bruaaak!
Pintu yang terkunci itu pun terbuka. Pak Hansen ketakutan karena ketahuan aksi bejatnya. "Lepaskan istriku!" gertak Bima yang mendobrak pintu.
"Ada apa ini?"
"Kenapa dia memukuli Pak Hansen?"
"Astafirullah Pak Hansen celananya ...."
Joko pun menuju ke sana dan terkejut, "Bu Ningsih!" Tanpa melerai Bima yang memukuli Pak Hansen, Joko langsung melepas kemejanya dan menutupi tubuh Ningsih. Joko selalu memakai kaos di balik kemejanya.
"Cepat panggil polisi," kata seorang guru.
Menunggu polisi datang, satpam pun melerai Bima dan Pak Hansen yang sudah babak belur. Bima sangat geram melihat kelakuan manusia. Terlebih pelecehan seperti ini. Beda cerita jika sama-sama suka dan mau. Hal ini membuatnya sangat marah.
Ningsih yang masih lemas dan tak bisa berkata apa-apa langsung dipeluk oleh Bima. "Ningsih ... kamu tak apa, Sayang? Ningsih ...." ucap Bima yang lalu membuat Ningsih bisa bergerak dan berbicara. Bima mengambil racun pada tubuh Ningsih dengan sentuhannya.
"Bima ... dia hampir menodaiku. Hu hu hu hu ...." kata Ningsih yang membuat semua orang terkejut.
Wali kelas Wahyu mengamankan Wahyu dan anak-anak kelas 1-A agar tidak melihat kejadian itu. Tak baik untuk anak sekolah melihat hal buruk yang dilakukan kepala sekolahnya. Bisa jadi malah anak-anak yang lugu meniru perbuatan tercela itu.
__ADS_1
Setelah ditengahi, Pak Hansen sangat malu. Reputasi yang selama ini dia bangun hancur seketika karena napsunya yang ceroboh. Meski banyak yang menanyai Pak Hansen, dia hanya terdiam. Tak berani berbicara apapun sampai pihak kepolisian mengamankan dan membawa Pak Hansen, Ningsih serta Bima ke kantor polisi.
Sebelum pergi, Ningsih menyerahkan perpisahan Wahyu kepada Joko. Berharap semua akan berjalan dengan lancar meski tanpa Ningsih. Ningsih dan Bima dibawa untuk dimintai keterangan, sedangkan minuman yang dibubuhi racun pun dibawa untuk uji lab. Jika semua terbukti, Pak Hansen terancam dipecat dan dipenjara.
"Tenang, Ningsih. Aku akan selalu bersamamu." ucap Bima, mengusap tangan istrinya.
Sesampainya di kantor polisi, mereka diinterogasi dengan ruangan yang berbeda. Tentu saja semua bukti menunjukkan Pak Hansen melakukan tindak pelecehan dan membahayakan nyawa Ningsih. Hukuman pun akan diputuskan setelah sidang. Ningsih dan Bima dipersilahkan untuk pulang. Mereka akan dipanggil jika hendak sidang hukuman.
Waktu menunjukkan pukul 13.00 saat mereka selesai interograsi. Ningsih menelepon Joko untuk menanyai soal perpisahan Wahyu.
Ningsih: "Joko, apakah sudah selesai acara perpisahannya?"
Joko: "Sudah, Bu. Eh ... Ningsih. Sekarang saya baru mengambil map berkas pindahan di Wali Kelas Wahyu. Lalu segera pulang. Tapi ini Wahyu minta mampir makan dulu karena lapar. Tadi dia sudah makan bersama dengan lunch box bento, cuma sekarang lapar lagi."
Ningsih: "Iya nggak apa, Joko. Terima kasih ya. Kamu ajak Wahyu ke MCD aja yang biasanya. Aku susul ke sana dengan Bima. Nanti kuceritakan di rumah saja pas nggak ada Wahyu. Kasihan dia ntar sedih. See you ya."
Joko: "Baik, see you too Ningsih."
Ningsih pun menutup teleponnya. Dia mengajak Bima ke MCD tempatnya janjian dengan Joko dan Wahyu. Tentunya menggunakan taksi karena Bima tak membawa mobil.
Sesampainya di MCD. Wahyu senang melihat Mamanya dan Om Bima. Dia pun bercerita soal teman-temannya yang menangis karena Wahyu berpamitan. Karena mendadak, teman-teman meminta alamat Wahyu atau nomor telepon untum mengirim kenang-kenangan. Wahyu tidak tahu alamat di Yogyakarta jadi Joko memberi alamat rumah Ningsih yang di Jakarta dan nomor handphone Ningsih.
Melihat puteranya bercerita dengan antusias, Ningsih pun tersenyum. Setidaknya perpisahan ini tak menggores luka di hati puteranya. Ningsih tahu setelah ini hidupnya tak akan sama seperti dahulu, tetapi semua harus dijalani berikut dengan konsekuensinya. Tak terasa air mata menetes ke sudut mata Ningsih.
"Mama kenapa nangis?" tanya Wahyu dengan lugu.
"Mama nggak nangis. Ini kelilipan doang. Wahyu makan yang banyak ya. Ini semua khusu buat Wahyu," ucap Ningsih mengalihkan perhatian.
"Ya, Ma. Wahyu sayang banget sama Mama." kata putera mungilnya sambil memeluk.
Seorang anak hanya memikirkan hal yang sederhana. Itulah yang membuat Ningsih selalu bahagia di samping puteranya. Sekarang, Ningsih harus melepaskan puteranya demi keselamatan hidup Wahyu. Ningsih tak ingin menjadi ibu yang kejam dan egois karena semua ini ada konsekuensinya. Dia hanya ingin Wahyu bahagia menjalani hidupnya. Meski tanpa Ningsih. Sudah terlalu jauh Ningsih berbuat dosa. Dia tak ingin anaknya juga menjadi korban. Meski dia tahu Bima tak mungkin mengambil Wahyu, tetapi apa jaminannya jika Tuan dari Bima tak mengambil puteranya Ningsih? Tak ada jaminan hal itu. Maka dari itu Ningsih mengikuti saran Budi dan Santi. Semua demi kebaikan Wahyu. Keselamatan Wahyu.
"Selamat tinggal, anakku. Semoga kamu bahagia kelak di Yogyakarta tanpa ibumu yangbtak berguna ini," batin Ningsih sambil mengusap kepala anaknya.
Bima memperhatikan Ningsih dan bersedih. Jika bisa, dia pun ingin melindungi keduanya.
Bersambung ....
__ADS_1