
...š„Kesempatan Baikš„...
Siang itu, Ningsih mengadapi kesulitannya sendirian. Wahyu dan Bima sedang sakit sedangkan Alex merawat mereka. Mau tak mau harus menghadapi semua itu dari pada membuat masalah baru berkepanjangan.
Saat dihadapkan dengan suami dan anak korban kecelakaan tersebut, Ningsih merasa iba. Dia sangat tak tega karena dokter mengatakan kemungkinan wanita itu selamat hanya lima persen. Luka di bagian kepala membuat saraf dan otak wanita itu terganggu. Jika hidup atau sadar dari koma, kemungkinan akan cacat seumur hidup.
Suami wanita tersebut membuat keputusan yang sangat berat untuk menghentikan pengobatan karena tak tega dengan kondisi istrinya. Sedangkan Ningsih masih berharap wanita itu bisa sembuh. Dia mencoba bernegosiasi untuk memperjuangkan kesembuhan wanita tersebut dengan biaya dari Ningsih. Namun, justru terjadi perdebatan.
"Kau tidak paham yang kurasakan! Kau juga tak paham apa yang aku khawatirkan tentang perasaan anakku! Jika istriku tidak bangun lagi, pengobatan ini hanya akan menyebabkan dirinya terlalu lama di dunia padahal sudah waktunya berpulang. Namun kalau istriku bangun, dia hanya akan menderita karena cacat seumur hidup. Dia pasti tak menginginkan hal ini. Kau tak akan paham!" Lelaki itu terlihat menyerah dan frustasi. Sedangkan anak mereka berada di depan ICU menatap di kaca jendela melihat ibunya yang terbaring lemas sudah berhari-hari belum sadar.
"Bukannya aku tak tahu atau tak mau tahu. Aku mengerti dan sangat paham arti kehilangan. Jangan seperti ini. Masih ada harapan ...." Ningsih yang mencoba menyemangati ternyata percuma.
"Apa pedulimu?! Kau hanya takut suamimu di penjara, bukan?! Kalian tidak benar-benar peduli pada kami!" Lelaki itu masih merasa sakit hati dan belum ingin berpisah dengan istrinya.
Ningsih tercengang dengan perkataan lelaki itu. Dia merasa jika semua menjadi serba salah. Dia memang melindungi Bima, tetapi di sisi lain juga memikirkan wanita yang berada di ICU itu. Ningsih merasa masih ada kesempatan untuk wanita itu hidup. Namun, suaminya ingin mengakhiri semua penderitaan istrinya.
Saat perdebatan itu terjadi, tiba-tiba wanita di ICU itu sadarkan diri. Petugas medis langsung berlari ke kamar ICU dan segera memeriksa Stefy. Sedangkan Richard langsung menghampiri putrinya--Lucy untuk menunggu di ruang tunggu. "Stay here. Tunggu Mami bangun dari tidur. Semoga semua baik-baik saja," lirih Richard kepada putrinya. Dia menjadi sangat menyesal hampir saja memutuskan untuk mengakhiri pengobatan dan segala alat yang terpasang di tubuh istrinya.
__ADS_1
Ningsih langsung bersyukur pada Tuhan karena sudah mengabulkan doanya untuk menyembuhkan wanita korban kecelakaan itu. Setidaknya dengan kesadaran Stefy, akan ada jalan yang bisa ditempuh untuk damai. Ningsih takut jika suaminya dituntut oleh keluarga dari Stefy.
Hal yang ajaib terjadi! Stefy melewati masa kritis. Wanita itu sudah terbangun dan membuka mata. Dalam sekejab, dia bisa menggerakkan jari jemari tangan dan juga menggerakkan tubuhnya. Dokter yang menangani kasus itu pun terheran-heran dan bingung karena dalam pemeriksaan terakhir luka di bagian kepala belakang Stefy tersebut mengakibatkan hal fatal di bagian saraf dan juga kecelakaan itu membuat beberapa tulang di bagian tangan dan juga kakinya patah. Beberapa kali harus operasi, kondisinya pun semakin kritis. Hal ini seakan seperti sebuah mukjizat yang datang tiba-tiba.
Setelah pemeriksaan dan penanganan kurang lebih satu jam, akhirnya dokter pun keluar dari ruang ICU. Dokter segera menemui Richard dan juga Ningsih. Saat itu, sebelum menyampaikan hal itu dokter meminta seorang perawat untuk mengajak putri dari korban untuk menjauh. Agar bisa mengungkapkan kondisi korban dengan baik.
"Suster, saya minta tolong Anda membawa Lucy untuk bermain ke tempat lain terlebih dahulu. Kami hendak berbincang mengenai kondisi dari pasien yang bernama Stefy," perintah dokter kepada perawat.
"Baik, dokter. Saya akan mengajak solusi untuk bermain di taman samping gedung ini." Perawat pun langsung cekatan mengenai hal itu. Dia mengajak Lucy pergi. Meski awalnya anak kecil itu tak mau, akhirnya dia pun menurut karena Richard juga memerintah hal yang sama. Setelah Lucy pergi agak menjauh dengan perawat, dokter pun mulai menjelaskan kepada Richard dan Ningsih keadaan yang terjadi saat ini.
Penjelasan dokter sungguh sangat mengejutkan bagi Richard. Hal itu sangat tidak mungkin, karena dia merasa kemarin memang kondisi istrinya kritis dan terlihat tidak ada kemungkinan untuk bertahan hidup. Sempat dia juga meminta untuk menghentikan semua akses kesehatan karena dipikir hanya akan menyiksa tubuh istrinya yang akan meninggal. Dia sudah pesimis seperti itu.
Namun bagi Ningsih, hal ini sangatlah ajaib. Doanya dikabulkan oleh Tuhan untuk menyelamatkan wanita tersebut. Meski tidak mengenal mereka, tetapi Ningsih percaya jika semua itu akan baik-baik saja. Terlebih jika melihat putri kecil dari pasangan itu selalu menangis dan khawatir melihat tubuh ibunya yang tergolek lemas di ICU.
"Be-benarkah, Dokter? Semua ini ... bagaimana bisa istri saya langsung sembuh?? Terima kasih, Dokter atas pengobatannya. Saya sangat bersyukur istri saya bisa sembuh dan pasti putri kami pun akan sangat senang melihat Maminya sudah kembali lagi," jawab Richard yang sangat bahagia.
Namun terlihat di balik kebahagiaan itu dalam raut wajahnya tersebut, Ningsih tahu jika ada rasa menyesal yang begitu dalam. Karena perdebatan tadi, membuat adanya kesempatan untuk Stefy hidup kembali. Bayangkan saja jika Richard dan juga Ningsih tidak berdebat, pasti lelaki itu sudah mengambil keputusan untuk mengambil semua akses kesehatan dan alat-alat kesehatan yang menempel di tubuh istrinya itu. Pasti akan membuat istrinya meninggal.
__ADS_1
"Terima kasih, Dokter atas informasi selengkap-lengkapnya. Saya juga berharap semua ini akan segera berakhir, karena saya di sini mewakili suami saya dan juga Putra saya. Pak Richard, saya harap Anda bisa menyikapi semua ini dengan bijaksana dan berpikiran lebih positif lagi. Saya tidak akan lari dari permasalahan ini. Saya akan membantu dan membiayai sampai istri Anda sembuh. Saya harap urusan ini tidak berlanjut di pengadilan atau pihak kepolisian. Terima kasih, Pak dokter atas sarannya. Saya sangat bersyukur, korban akhirnya sadar dan sembuh," ujar Ningsih yang begitu banyak pertimbangan.
"Iya Bu Ningsih dan Pak Richard. Dari pihak rumah sakit berharap kalau kejadian kecelakaan ini akan diselesaikan secara kekeluargaan dan baik-baik saja. Terlebih korban kecelakaan juga sudah bangun, sudah sembuh. Justru dari pihak Pak Bima yang masih harus pemulihan dan putranya juga. Kalau begitu, saya permisi dulu, ya." Dokter pun berpamitan dan meninggalkan mereka berdua.
Mereka sempat terdiam sejenak. Sampai akhirnya Richard pun berbicara dengan lirih. "Terima kasih banyak, ya. Jika tadi aku tidak berdebat denganmu ... mungkin saat ini istriku tidak akan bangun. Keputusan yang tadi aku ambil ternyata sangat salah." Richard pun membalikkan tubuhnya dan berlalu. Dia segera masuk ke ruangan ICU dengan meminta izin kepada perawat. Perawat pun mengizinkan Pak Richard untuk masuk ke ruang ICU sekalian untuk menandatangani administrasi pemindahan ke bangsal karena kondisi dari istrinya sudah membaik baik dan sudah melewati masa kritis.
Ningsih masih terdiam dan melihat ke arah ICU. Entah mengapa, saat menatap wajah dari Stefy, Ningsih langsung merinding. Tatapan mata Stefy seakan mengandung arti sesuatu. Namun lagi-lagi Ningsih langsung menyingkirkan perasaan negatif itu dan hanya mengucapkan syukur kepada Sang Penguasa karena wanita korban kecelakaan itu sudah kembali sehat.
...****************...
Kejadian sebelum Stefy sadarkan diri ....
Sebenarnya wanita yang bernama Stefy itu seharusnya meninggal. Benar sekali, harusnya dia tidak lagi sadar atau seperti yang dikatakan suaminya sudah tidak ada lagi harapan untuk sembuh. Namun melihat hal seperti itu, Snowice punya rencana yang lebih besar. Dia masuk ke tubuh wanita yang sudah lemas dan tak berdaya itu. Pantas saja tubuh Stefy langsung sembuh.
Snowice siap untuk menghancurkan kehidupan Bima dan Ningsih. Seperti yang dikatakan Tuan Abaddon, mereka memiliki rencana selanjutnya untuk mengganggu Bima dan juga Alex. Tentu saja semua itu untuk cobaan. Sebagai manusia itu tidak mudah. Hanya dua pilihan yang bisa mereka ambil, yaitu tetap menjadi manusia dan menyerahkan segala kekuatannya kepada Tuan Abaddon atau kembali menjadi iblis dan menjadi pengabdi Tuan Abaddon dalam Samudra Pasifik.
Snowice sangat senang melihat peluang tersebut. Karena saat ini dia sudah berada di tubuh manusia yang seharusnya sudah mati itu, dia bisa bertindak apa pun yang dia inginkan pada keluarga wanita itu dan kepada keluarga Bima. Tentu saja semua rencana yang iblis lakukan adalah membawa kesedihan, amarah, dan juga kebinasaan.
__ADS_1