
Sore itu ... Wahyu sudah sampai klinik nya karena ada janji temu konsultasi dengan beberapa pasiennya. Salah satunya adalah Pak Gunawan. Saat melihat jadwal pasien, Wahyu pun merasa aneh. "Kenapa ada orang kaya raya dan hebat seperti Tuan Gunawan periksa di klinikku? Hmm ... aku harus berhati-hati bersikap," batin Wahyu.
Wahyu mempersiapkan diri karena menjadi psikiater untuk orang ternama, pasti penuh tantangan. Dia harus berhati-hati dalam bertindak dan berbicara karena bisa saja ada permasalahan yang terjadi.
"Selamat sore, Tuan Wahyu. Sudah bisa mulai? Ada Tuan Gunawan di depan. Beliau sudah menunggu untuk konsultasi," tanya wanita yang menjadi resepsionis di sana.
"Iya, silakan masuk saja. Sudah bisa dimulai," jawab Wahyu.
"Baik, Tuan."
Resepsionis pun keluar dan mempersilakan Pak Gunawan masuk ke ruangan Wahyu. Lelaki itu pun masuk ke dalam.
"Selamat sore, Tuan Wahyu," sapa Pak Gunawan.
"Selamat sore, Tuan Gunawan. Silakan duduk," jawab Wahyu. "Ada yang bisa saya bantu?" imbuhnya.
"Iya. Jadi begini ... saya bukan orang yang suka berbasa-basi. Saya ke sini karena mengetahui putri saya menyukai Anda. Tuan Wahyu masih sendiri?" tanya Pak Gunawan terus terang.
Wahyu menghela napas dan kemudian menjawab pertanyaan tersebut. "Siapa putri Tuan? Maaf jika saya belum memahami maksud Tuan Gunawan ke sini."
Lelaki berusia enam puluh tahun itu pun tertawa. Dia berdiri dari tempat duduknya dan menatap Wahyu dengan lekat. "Hmm ... anak muda, sepertinya Anda lupa dengan putriku, ya? Putriku bernama Gladys. Dia kuliah dan bekerja di Universitas Gajah Mada. Sepertinya kalian sudah saling kenal karena putriku bilang, Anda menjadi pembicara di seminar tempo lalu," jelas Pak Gunawan.
"Oh, iya. Maaf, Tuan. Gladys panitia di sana. Saya mengenal hanya namanya saja. Belum kenal lebih dari itu. Maaf, Tuan. Apa yang ingin Anda konsultasikan?" Wahyu merasa tak enak soal hal ini. Dia tidak mau dipaksa atau terpaksa berkomunikasi dengan wanita yang tidak dia kehendaki.
"Oh, bagus juga. Berkompeten dan profesional kerja. Apa perlu aku konsultasi kan soal putriku yang di ICU, sakit, dan menyebut namamu? Apa perlu aku konsultasi soal kekhawatiran seorang ayah yang melihat putrinya hampir menemui ajal? Sepertinya seorang psikiater lebih paham perasaan ini dan kenapa aku ke sini, bukan?" Pak Gunawan sudah kehilangan kesabaran berbicara dengan Wahyu yang seakan tak peduli dengan putrinya.
"Maaf, Tuan Gunawan. Baik. Apa yang bisa saya bantu?" Wahyu memancing lelaki itu.
"Wahyu, bagaimana kalau aku memintamu nanti malam ke Rumah Sakit Umum di ICU untuk melihat keadaan putriku? Hanya itu yang aku inginkan hingga merendahkan diri datang ke sini. Ini kartu namaku. Tolong dipikirkan lagi," kata Pak Gunawan sambil menyodorkan selembar kartu nama miliknya.
"Baik." Wahyu hanya mengambil kertas itu dan tak berucap lebih. Menolak pun pasti menjadi masalah.
"Satu lagi. Aku sudah tahu soal keluargamu. Ibumu yang menjanda lama, adikmu yang baru saja menikah, dan seorang adik perempuan yang sekolah umum tak bisa sehingga home schooling. Jadi ... baiknya berbuat baiklah pada Gladys," lirih Pak Gunawan mengancam Wahyu.
Wahyu hanya diam dan mencoba setenang mungkin. Setelah Pak Gunawan pergi, Wahyu mencoba menenangkan dirinya. Sebentar lagi masih ada lima pasien yang mengantri konsultasi.
"Huh ... aku harus bagaimana? Dia mengancamku? Mau tak mau ... aku harus ke rumah sakit menjenguk Gladys," gumam Wahyu sambil menatap jam dinding yang berdetik.
Pak Gunawan berjalan keluar dari klinik psikiater milik Wahyu setelah membayar biaya di kasir. Dia merasa puas sudah mengancam Wahyu. Lelaki itu segera masuk ke dalam Pajero Sport berwarna putih tersebut dan melaju pergi.
"Aku pasti mendapatkan apa yang aku mau dan Gladys harus bahagia. Bagaimanapun caranya!" gumam Pak Gunawan sambil menyetir mobilnya.
...****************...
Di rumah sakit tepatnya di ICU ....
Gladys terbujur lemas di ranjang dengan segala peralatan medis yang menempel di tubuhnya. Malam itu ... paranormal Mbah Jombrang menepati kesepakatannya dengan Pak Gunawan. Gladys pulih seperti sedia kala setelah Maghrib.
__ADS_1
Betapa kagetnya para perawat dan dokter di sana. Mereka langsung mengecek kondisi Gladys yang sudah sadarkan diri. Dia kaget karena di rumah sakit. Ibu Gladys pun segera mengabari suaminya agar datang ke rumah sakit sekarang juga.
Pak Gunawan sangat senang mendengar kabar putrinya sudah sadar. Dia bergegas ke rumah sakit sambil membawa cheese cake kesukaan Gladys. "Kau sembuh, Nak. Nanti ... kau akan bahagia, karena lelaki yang kamu inginkan akan datang," lirih Pak Gunawan.
Mbah Jombrang sudah mengalahkan Madame dan merebut ketiga makhluk gaib yang menyerap energi Gladys. Sebagai gantinya, Mbah Jombrang sudah memberikan tumbal satu keluarga yang hendak mengikuti pesugihan dan dibuat musnah kecelakaan mengenaskan. Ya, Mbah Jombrang tidak menepati janji untuk orang miskin dan memihak Pak Gunawan yang kaya raya karena mau memberikan sejumlah uang yang cukup besar nominalnya.
Mbah Jombrang: [Sudah beres, putrimu sehat dan pulih seperti sediakala. Jangan lupa separuh bagian yang belum kamu kirim. Aku tunggu hari ini.]
Mbah Jombrang mengirim pesan ke Pak Gunawan. Dalam perjalanan ke Rumah Sakit Umum, Pak Gunawan membaca dan membalas pesan itu.
Pak Gunawan: [Baik, Mbah. Segera aku kirim kekurangannya. Saat ini aku menuju ke rumah sakit memastikan putriku sudah baik-baik saja.]
Mbah Jombrang: [Baik. Tak perlu khawatir, aku tahu siapa lelaki yang diinginkan putrimu. Itu pun aku bisa mengaturnya.]
Pak Gunawan: [Baik, Mbah. Besok aku ke sana membicarakan ini.]
Pak Gunawan tersenyum. Mbah Jombrang mau membantu soal Wahyu dan Gladys. Pasti putrinya akan bahagia mendapatkan suami pria yang dia inginkan. Begitu yang berada dalam pikirannya.
Sesampainya di rumah sakit, Pak Gunawan segera ke ICU. Lelaki itu panik dan bertanya ke perawat. Ternyata Gladys sudah tidak di sana. Gladys dipindahkan ke bangsal VViP sesuai yang diminta oleh ibunya. Pak Gunawan senang dan berjalan cepat ke bangsal yang disebutkan oleh perawat tadi.
"Syukurlah! Putriku ... sembuh!" batin Pak Gunawan yang sangat bahagia.
Setelah sampai di kamar bangsal tempat Gladys dirawat, Pak Gunawan langsung masuk. "Gladys sayang?"
"Papa! Papa dari mana?" Gladys terlihat sudah segar dan tidak kurus kering seperti kemarin.
"Papa membelikan cheese cake ini untukmu. Sayang, syukurlah kamu sembuh," kata Pak Gunawan langsung memeluk tubuh putrinya yang sedang duduk di atas ranjang dengan punggung bersandar di bantal.
Pak Gunawan menatap istrinya. Seakan tahu apa yang istrinya rasakan karena ada hal aneh yang terjadi. Gladys yang tubuhnya kurus kering dalam waktu semalam, kembali menjadi sedia kala dalam waktu sekejap. Pasti hal gaib yang terjadi.
Mereka berbincang banyak hal, tetapi Pak Gunawan dan istrinya menyembunyikan kenyataan aneh yang terjadi. Beberapa saat kemudian ... seseorang mengetuk pintu.
Tok ... tok ... tok ....
"Assalamualaikum ...."
Ibu Gladys pun segera berjalan ke arah pintu dan membukanya. "Wa'alaikumsalam ... Loh, siapa, ya?"
"Apa ini kamar Gladys?"
"Iya, ini siapa?" Ibu Gladys bingung karena belum pernah melihat pemuda itu.
"Wahyu. Perkenalkan nama saya Wahyu," ucap Wahyu sambil mengulurkan tangannya.
"Silakan masuk, Wahyu. Gladys ... ada temanmu datang," ujar Ibu Gladys bahagia.
"A-apa? Wa-Wahyu??"
__ADS_1
"Malam, Gladys. Apa kabar?" Wahyu masuk dengan membawa sebuket buah dan bunga.
"Baik, Wahyu. Ke-kenapa kamu bisa tahu aku sakit?" tanya Gladys yang bingung lelaki idamannya berada di depannya saat ini.
"Aku tahu kamu sakit. Tapi maaf, baru datang sekarang. Bagaimana kondisimu sekarang?" tanya Wahyu dengan senyum manis di wajahnya.
Gladys langsung sah tingkah melihat wajah Wahyu yang sangat tampan dan manis. Bagaimana bisa apa yang diimpikan langsung terjadi? Gladys justru berpikir soal Madame yang membantunya mendapatkan Wahyu.
"Kondisiku sudah baik. Terima kasih sudah kesini, Wahyu. Hmm ... Aku mau pulang saja, Pa, Ma," kata Gladys yang terlihat sangat manja.
"Gladys ... lebih baik kamu istirahat dulu agar membaik kondisimu dan pulih," jawab Pak Gunawan yang masih khawatir dengan kondisi putrinya.
"Iya, Gladys benar kata Papamu. Om, Tante ... maaf Wahyu tak bisa lama di sini. Sudah malam dan saya belum pulang rumah, jadi saya pamit dulu. Gladys ... pamit dulu, ya. Lekas sembuh." Wahyu menjabat tangan Pak Gunawan lalu istrinya. Kemudian menjabat tangan Gladys pula.
"Iya, Wahyu. Hati-hati di jalan, ya." Gladys melambaikan tangan ke lelaki tampan itu.
Setelah Wahyu pergi, Gladys langsung berteriak girang seakan tak ingat ada orang tuanya di sana. "Yeay! Wahyu menemuiku!"
"Sayang ... kamu menyukai pemuda itu?" tanya Pak Gunawan berhati-hati.
"Iya, Pa. Aku suka sama Wahyu," jawab Gladys berapi-api.
"Kalau begitu ... kenapa tidak menikah dengannya?"
"A-apa? Mana mungkin Wahyu mau denganku, Pa." Gladys tertunduk sedih.
"Eh ... di dunia ini tak ada suatu apa pun yang mustahil, Sayang," kata ibu Gladys menambahkan.
"Iya, Ma, Pa. Tapi Wahyu mau menjenguk aja sudah ajaib banget."
"Kalau begitu ... Papa akan membuat keajaiban-keajaiban lainnya datang untuk putri Papa satu-satunya, bagaimana?" Pak Gunawan menggoda putrinya.
"Emang bisa, Pa?"
"Bisa! Kata Mamamu, kan, tidak ada suatu hal yang tak mungkin di dunia ini," ujar Pak Gunawan dengan mantap.
Tentu saja banyak hal yang dipikirkannya dan akan dilaksanakan. Lelaki itu berjuang keras untuk membahagiakan keluarganya. Terutama putrinya satu-satunya. Pak Gunawan tak ingin putrinya sedih.
...****************...
Wahyu sampai di rumah pukul sepuluh malam. Dia sudah letih dan penat. Melihat ibu dan adik bungsunya sudah terlelap membuat hati Wahyu tenang. Lelaki itu melangkah ke kamarnya. Tak pernah terbayangkan dia harus dekat dengan wanita yang tidak menarik sama sekali baginya.
Wahyu segera membasuh tubuhnya dengan kucuran shower air hangat. Setelah itu, dia berganti pakaian dan salat serta memanjatkan doa. Dia berharap Allah akan selalu melindungi keluarganya.
"Ya, Allah. Lindungilah hamba dan keluarga hamba dari segala yang jahat. Sesungguhnya hanya Engkau yang menjadi pelindung dan pembela kami."
Seusai berdoa, Wahyu segera merebahkan tubuhnya ke ranjang. Menatap langit-langit kamarnya dan berpikir mengapa Gladys seperti itu. Apalagi ayahnya yang datang mengancam keluarga Wahyu. Lelaki itu kembali berpikir. Tak mungkin ayah Gladys hanya menggertak dan meminta Wahyu untuk menjenguk putrinya saja.
__ADS_1
"Ya Allah, jangan biarkan hal buruk menimpaku atau keluargaku. Aku takut ... jika mereka akan memaksaku untuk menikahi wanita itu," gumam Wahyu sebelum tidur.
Mimpi buruk seakan datang di hidup Wahyu. Benar seperti yang dia pikirkan, Pak Gunawan ingin Gladys menikah dengan lelaki yang dia cintai yaitu Wahyu. Padahal Wahyu tidak menyukainya, sama sekali tidak.