
Gladys merupakan anak satu-satunya dari Gunawan dan Lina. Dahulu, Gunawan hanya karyawan pabrik dan Lina bekerja sebagai kasir di bengkel ternama di Yogyakarta. Karena bosan hidup susah dan sulit mendapatkan keturunan, Gunawan yang mengenal Broto pun curhat kepadanya. Setelah bercerita banyak hal, Broto pun memberikan solusi yang di luar dugaan, yaitu mengikuti pesugihan serta mengabdi ke Mbah Jombrang agar bisa mendapatkan keturunan.
Broto sudah lebih dahulu mengikuti Mbah Jombrang. Dia sukses di bidang pertanian dan beberapa usaha lainnya. Pastinya karena hasil bersekutu dengan iblis. Oleh karena itu Gunawan tertarik mengikuti jejak kawannya. Selama bersekutu dengan Mbah Jombrang, Gunawan sudah menumbalkan beberapa orang yang menjadi karyawannya. Dia tak segan-segan memilih korban karena semua itu demi kekayaan dan kejayaan.
Tak hanya itu, Gladys lahir saat Gunawan membuat perjanjian dengan iblis untuk memberi keturunan. Sebenarnya rahim Lina mengalami gangguan dan tak bisa mengandung apalagi melahirkan. Oleh sebab itu, Gunawan menempuh jalan gaib untuk mendapatkan keturunan. Saat Gladys lahir, bahagia melengkapi Gunawan dan Lina. Meski aneh sekali, Lina tidak merasakan mengandung, tiba-tiba perutnya membesar dan ingin melahirkan.
Bayi cantik nan mungil itu diberi nama Gladys yang berarti putri, bangsawan, pedang kecil. Cocok untuk motivasi hidup kedua orang tuanya. Sejak kelahiran Gladys, Gunawan semakin semangat berbisnis dan berambisi menjadi salah satu dewan pemerintahan.
Gladys tumbuh menjadi gadis periang dan manja karena semua yang dia inginkan pasti dituruti oleh Gunawan dan Lina. Hal itu membuat Gladys seenaknya sendiri dengan orang lain. Namun ada satu sifat sosialnya yang cukup baik sehingga memiliki banyak kawan. Tak hanya kaya raya, Gladys pun cantik dan pintar. Banyak lelaki menyukainya, tetapi Gladys belum menjatuhkan hati pada siapapun ... kecuali .... Wahyu.
Gladys menyukai Wahyu sejak pada pandangan pertama. Lelaki dewasa yang terlihat tenang itu membuatnya jatuh hati. Gladys bertekad ingin mendapatkan Wahyu sebagai kekasih bahkan menjadi suaminya.
Gladys sudah mencari info di mna Wahyu tinggal, bahkan apa saja yang berkaitan dengan Wahyu ... wanita itu sudah mengetahui karena memata-matai Wahyu.
Sepulangnya Gladys dari rumah sakit, dia sering menanyakan soal Wahyu. Baru saja sampai rumah, langsung menanyakan tentang pemuda itu.
"Papa ... Mama ... aku sudah di rumah, ya. Apakah Wahyu akan menjenguk ke sini? Aku sudah memikirkan dirinya sejak tadi malam," kata Gladys sambil tersenyum.
Pak Gunawan tak tega melihat putrinya penuh harap dengan orang yang tak mencintainya. "Sayang, jangan terlalu berharap. Kalau Wahyu memang ingin ke sini, dia pasti sudah di sini," jawab lelaki yang begitu khawatir dengan kondisi putrinya.
"Papa ... Papa itu nggak tahu yang Gladys rasakan. Tadi malam Wahyu mau ke rumah sakit aja rasanya seperti mukjizat. Siapa tahu Wahyu akan ke sini juga. Emm ... tapi Wahyu belum tahu rumahku. Ah, aku hanya bisa berandai-andai ...." lirih Gladys yang menyadari apa yang dia bayangkan tak berjalan dengan sesuai kenyataan.
"Gladys ... apakah kamu benar-benar menyukai lelaki itu?" tanya Pak Gunawan dengan serius menatap putrinya.
__ADS_1
"He he he he ... iya, Pa. Papa Mama tahu, kan, Gladys tak bisa berbohong kepada kalian. Dia lelaki yang mempesona," ujar Gladys yang sangat antusias membahas soal Wahyu.
Pak Gunawan semakin mantap untuk menemui Mbah Jombrang soal Wahyu dan Gladys. Siang itu ... Gladys merasa senang kembali ke rumah. Pak Gunawan pun izin keluar rumah dengan alasan bisnis penting mendadak. Lina menunggu anaknya di rumah.
...****************...
Hari ini Wahyu mengikuti beberapa seminar penting. Dia aktif dalam kegiatan yang dilaksanakan di Kota Yogyakarta. Sebagai psikiater muda, Wahyu selalu mendapat pujian karena bisa membuat klinik pribadi dan mengembangkan bantuan psikologi bagi yang membutuhkan.
"Selamat atas prestasinya selama ini, Wahyu."
"Sangat membanggakan. Psikiater muda yang penuh cemerlang masa depan."
"Selamat, Wahyu. Ibumu pasti bangga."
Setelah selesai seminar, sekitar pukul empat sore, Wahyu pulang segera ke rumahnya. Namun, ibu dan adik bungsunya tak ada di rumah.
"Bii ... Mama dan Cahaya ke mana, ya?" tanya Wahyu sambil ke dapur.
"Oh, Nyonya dan Non lagi ke mall diantar Pak Sopir, Den," jawab bibi yang segera menemui Wahyu.
"Oh, gitu. Iya, Bi. Wahyu mau istirahat dulu, ya." Wahyu bergegas ke kamarnya. Membuka pintu kamar dan masuk ke dalam. Lelaki itu segera meletakkan tasnya dan melepas pakaian satu per satu. Meraih handuk dan masuk ke kamar mandi.
Mandi sore dengan shower dan air dingin sangat menyegarkan. Wahyu menikmati setiap kucuran air yang mengalir. Setelah selesai mandi, dia pun mengenakan pakaian dan berbaring di ranjangnya yang empuk.
__ADS_1
Tidak seperti biasanya, Wahyu merasa sangat mengantuk. Dia pun memejamkan mata dan tertidur.
Di tempat lain ....
Pak Gunawan menemui Mbah Jombrang untuk membahas apa yang dia inginkan. Ya, untuk membuat Wahyu dan Gladys bersama.
"Mbah, apakah bisa menjodohkan putriku dengan lelaki ini," kata Pak Gunawan sambil menyodorkan handphonenya untuk memperlihatkan wajah Wahyu.
Mbah Jombrang terdiam sejenak karena Bima datang di sana. Bima menatap paranormal itu dan mengatakan, "Jangan ganggu pemuda itu! Kalau kau mengganggu, aku tak segan-segan akan melawanmu! Madame dan lima pengikutnya sudah menghadapi aku sebelumnya!"
Gertakan dari Bima tak bisa dikesampingkan. Mbah Jombrang tak berani mengambil risiko besar. "Maaf, kali ini aku tak bisa. Pemuda itu memiliki pelindung yang kuat. Sulit melawannya," jawab Mbah Jombrang.
"Paranormal sakti seperti Mbah kenapa takut sama pelindung. Seperti bias, lah, Mbah. Hancurkan saja. Aku berani bayar mahal, Mbah," ujar Pak Gunawan masih meminta.
"Tak bisa kali ini. Benar-benar tak bisa. Lebih baik kau pulang. Urungkan niat itu. Kalau bersikeras, nyawa keluargamu menjadi taruhannya," tegas Mbah Jombrang pada Pak Gunawan.
Pak Gunawan merasa kecewa dan sedih membayangkan putrinya. Dia pun berpamitan pergi dari tempat praktek Mbah Jombrang dengan tak semangat. Lelaki itu masih memikirkan bagaimana dia bisa membantu putrinya dekat dengan Wahyu kalau Mbah Jombrang tak mau membantu.
"Aku sudah menolaknya. Sana pergi. Aku juga tak mau ikut campur urusan asmara," ujar Mbah Jombrang pada Bima.
Bima mengangguk dan segera pergi setelah mengancamnya. "Aku akan pergi asal jangan ganggu putraku. Lelaki yang di foto tadi adalah keluargaku. Awas saja kalau ketahuan berbuat sesuatu padanya!"
Mbah Jombrang tak habis pikir. Bagaimana bisa iblis memiliki anak seorang manusia? Paranormal yang sudah tua itu bingung dengan apa yang terjadi.
__ADS_1
Pak Gunawan menyetir mobilnya melaju perlahan ke arah kota. Dia hendak ke klinik Wahyu lagi. Namun setelah sampai di sana, Wahyu tidak ada di tempat. Pak Gunawan pun kembali menyetir mobil mencari alamat Wahyu. Ada rencana di benaknya.