
...🔥 Reno dan Rasa Kehilangan 🔥...
Reno menangis tersedu-sedu. sambil memeluk tubuh istrinya yang seketika lemas dengan keadaan sudah menutup mata. "Nindy ... tidak! Ya Allah ... jangan bawa istriku. Kumohon ya Allah!" Reno yang tak bisa menahan rasa sedih berteriak sambil menangis.
Para asisten rumah tangga dan juga Pak Sopir langsung menelepon dokter untuk memeriksa nyonyanya. Bibi pun membawa Lisa masuk ke dalam kamar agar Lisa tidak ikut menangis karena bingung. Sedangkan bibi yang lainnya memanggil ketua lingkungan perumahan di sana untuk melaporkan nyonyanya yang kemungkinan sudah meninggal.
Beberapa saat kemudia suara sirine ambulans terdengar meraung-raung menuju ke arah rumah Reno. Benar saja, perawat dan dokter turun dari ambulans untuk memeriksa Nindy. Reno masih menangis dan histeris. "Dokter, periksa istri saya, Dokter. Tolong. Istri saya masih hidup, kan, Dokter? Dia hanya tidur, kan, Dokter?" seru Reno yang belum siap kehilangan Nindy.
Dokter mencoba memeriksa Nindy. Perawat pun menenangkan Reno agar tidak histeris. Dokter pun menatap Reno dengan iba. "Maaf, Pak. Istri Anda sudah berpulang. Sabar, ya. Semoga amal dan ibadahnya di terima Allah SWT. Amin," kata Dokter membuat pupus harapan Reno. Lelaki itu tersungkur lemas.
Bersamaan itu, Wahyu dan ibunya sudah datang begitu menerima telepon dan Bibi--asisten rumah tangga Reno. Sedangkan Budi dan Santi langsung dalam perjalanan menuju ke Kota Yogyakarta. Mereka tidak menyangka jika Nindy pergi secepat ini. Memang tiga bulan ini sifat dan sikap Nindy berbeda jauh dari sebelumnya. Seakan mendapat hidayah, dirinya berubah menjadi pribadi yang jauh lebih baik. Ternyata hal ini yang menjadi takdir Allah.
Nindy diberi waktu untuk bertaubat dan mengubah dirinya dari perilaku dan pikiran dosa. Wanita itu adalah satu dari sedikit orang yang beruntung. Mendapat kesempatan sebelum akhirnya berpulang. Meski hal itu pasti menyisakan luka dan duka bagi yang ditinggalkan. Namun, itulah takdir indah Sang Pencipta yang tahu jika Nindy bisa saja diambil oleh yang jahat karena selama ini sudah diincar.
Setelah dokter memberi surat pernyataan meninggal dunia, para tetangga dan ketua lingkungan perumahan pun datang untuk membantu proses pemakaman Nindy. Saat jenazah Nindy akan dimandikan dan disalatkan, Reno pingsan. Keadaan menjadi panik. Ningsih sengaja di dalam kamar menunggu Lisa dan memberi pengertian kepada gadis kecil itu agar tidak bersedih soal kepergian ibunya.
"Lisa sayang, sabar, ya. Allah sayang kepada Mama Lisa hingga mengambil Mama untuk berpulang terlebih dahulu. Lisa jangan bersedih, ya," ucap Ningsih dengan hati-hati karena takut gadis itu bersedih atau histeris seperti ayahnya.
Di luar dugaan, Lisa justru tersenyum dan menatap omanya. "Oma, Mama tadi pakai gaun bagus. Mama sudah pamit sama Lisa. Mama bilang kalau Lisa dan Papa harus bahagia dan hidup melakukan perintah agama agar kelak bisa bertemu Mama lagi. Lisa senang kalau Mama senang."
Ningsih langsung memeluk erat tubuh gadis kecil itu. Dia justru menangis mendengarkan perkataan cucu pertamanya itu. Sungguh bijaksana dan pengertian padahal usianya masih sangat muda. Sebenarnya Ningsih sangat sedih dan mencoba menutupi kesedihannya. Terlebih mendengar dan melihat Reno yang meraung-raung tak kuasa menahan diri karena perpisahan dengan istrinya sangat membuat terpukul. Ningsih pernah mengalami perpisahan, tetapi tidak sehancur Reno. Meski Bima dan Alex pergi, dia masih ada kemunginan bertemu meski di dunia lain. Sedangkan Nindy dan Reno? Mereka berpisah selamanya karena Reno tak mungkin menemui Nindy yang sudah berbeda dunia dan tak mungkin Nindy datang menemui Reno dan Lisa lagi, bukan?
__ADS_1
"Oma ... Oma jangan sedih. Kasihan Papa juga sedih. Padahal Mama bahagia pergi ke sana bersama malaikat," ujar gadis canting berhidung mancung itu. Dia memang memliki kemampuan lebih seperti Gio dan Gilang, jadi semua bisa terlihat jelas.
Ningsih menunggu pemakaman Nindy dimulai. Ya, mereka masih menanti Budi dan Santi datang. Terlihat para pelayat datang di sana memenuhi depan rumah yang sudah diberi kursi oleh warga. Reno duduk tertegun di dekat jenazah Nindy yang sudah dikafan. Nindy masih belum bisa menerima bahwa istrinya pergi untuk selamanya. Abah dan Ibu menangis tersedu-sedu seperti Reno. Mereka tak menyangka anaknya meninggalkan terlebih dahulu. Setelah kepergian Joko, hanya Nindy yang menjadi semangat hidup orang tuanya. Namun kini, mereka pun bersedih dan malu jika harus tinggal di rumah menantu tanpa sang anak.
"Nindy ... jangan tinggalin Abah dan Ibu seperti ini. Ya Allah ... mengapa bukan aku dahulu yang diambil," gumam Abah yang duduk di samping Ibu Nindy.
"Istigfar Abah ... Ibu juga tak menduga semua ini, tapi semua adalah kehendak Allah," kata Ibu di sela tangisnya.
Wahyu duduk di sana menenangkan kedua orang tua Nindy. Gio dan Gilang sudah datang. Mereka pun ikut di depan menerima kedatangan para pelayat yang kemudian duduk di depan rumah, tepatnya di halaman dan garasi. Banyak sekali rekan kerja Reno dan teman-teman Nindy datang melayat. Mereka tidak menyangka kepergian wanita muda itu secepat ini.
Tiga jam kemudian ....
"Reno, sabar, ya. Kakak juga sedih mendengar berita ini. Namun Allah mempunyai rencana di balik segals hal yang terjadi," bisik Santi sambil memeluk adiknya satu-satunya. Reno yang dahulu anak manja dan selalu bergantung hidup pada Santi, menjadi lelaki yang hebat dan bertanggung jawab pada istri dan anaknya. Santi bersyukur karena Reno menikah dengan Nindy yang lebih manja dari Reno membuat lelaki itu menjadi dewasa dalam berpikir dan bertindak.
Santi tak menyangka jika takdir bergitu kejam memisahkan dua manusia yang saling mencintai dengan usia yang masih muda. Memang soal usia dan kematian adalah hal rahasia Ilahi yang tidak bisa diprediksi manusia. Wanita muda yang tidak memiliki sakit pun bisa diambil ketika waktu kehidupan sudah habis.
Reno menarik napas dan melepaskan perlahan. Dia mencoba menenangkan diri setelah menangis dan merasa kehilangan. Sebentar lagi, pemakaman akan berlangsung dan Reno harus tegar mengantarkan istrinya ke tempat peristirahatan terakhir. Makam yang sudah disiapkan, telah menunggu jasad Nindy untuk masuk ke dalamnya.
"Te-terima kasih sudah ke sini, Kak," lirih Reno yang masih berat untuk mengangkat wajahnya. Dia masih menunduk, menahan air mata yang bisa kapan saja jatuh.
"Tak apa, Reno. Kakak ada di sini untuk menemanimu. Jangan khawatir, Reno," kata Santi sambil menepuk-nepuk bahu adiknya. Dia tahu jika hal ini sangat sulit untuk Reno lalui. Santi dan Budi sudah sepakat akan di sana sampai hari ketujuh untuk menghibur dan menguatkan Reno melalui masa tersulitnya.
__ADS_1
Rasa kehilangan itu amat dalam melubangi hati Reno. Saat pemakaman berlangsung, Reno mencoba tegar berdiri dengan kedua kakinya. Lisa menggandeng tangan ayahnya dengan erat. Gadis kecil itu tahu jika ayahnya dalam fase tersulit. Merelakan wanita yang menjadi seorang ibu sekaligus menjadi istri terbaik bagi keluarganya. Ya, meski awalnya banyak yang membenci Nindy karena sifatnya yang manja dan pendendam. Namun di bulan-bulan terakhir hidupnya, semua orang salut dan kagum dengan perubahan hidup yang Nindy perlihatkan.
Pemakaman itu berlangsung penuh air mata. Nindy mampu lolos dari naungan kuasa kegelapan yang selama ini bernaung di hidupnya dengan mengendapkan rasa benci dan dendam. Dia pun meninggal dengan damai tanpa menyisakan rasa benci. Sesungguhnya, Nindy sudah merasakan ajalnya mendekat dan meninggalkan surat di dalam laci kamarnya. Hanya saja Reno belum mengetahui hal itu.
Setelah selesai pemakaman, satu per satu pelayat meninggalkan makam. Sedangkan Reno, Lisa, Budi, Santi, dan Ningsih masih di sana. Gio, Gilang, dan Wahyu sudah terlebih dahulu kembali ke rumah Reno bersama para pelayat. Selain itu, Abah dan Ibu di rumah karena tak kuat mengantarkan putrinya sampai makam. Semua memahami jika orang tua Nindy bisa saja pingsan karena kesehatan mereka tidak stabil. Oleh karena itu, Reno mengizinkan mertuanya tetap di rumah saja.
Reno masih menatap batu nisan bertuliskan nama istrinya. Tanah merah yang bertabur bunga menjadi tempat terakhir untuk mereka yang akhirnya harus berpisah. "Nindy ... tenanglah kau di sana. Aku akan menjaga Lisa dengan baik seperti pesan terakhirmu dan juga segera mewujudkan panti asuhan yang ingin kamu bangun. Tenanglah di sana, Sayang. Tunggu aku ...." lirih Reno sambil mengecup batu nisan di hadapannya.
Mereka pun pulang ketika Reno merasa sudah cukup mengantarkan jenazah Nindy di makam karena dia tahu jika Nindy sudah tak lagi bersama mereka. Budi mencoba menghibur adik iparnya itu.
"Reno, setiap manusia yang lahir di dunia pasti akhirnya akan berpulang. Kita boleh sedih, tetapi jangan sampai terlarut dalam kesedihan karena saat kita lengah akan banyak hal buruk terjadi. Sabar ya, Reno. Allah menyayangi kalian. Jadilah Papa terbaik untuk Lisa," kata Budi yang merangkul pundak Reno sambil memagari tubuh lelaki itu.
Budi tahu jika banyak makhluk gaib yang melihat dan merasakan kesedihan Reno. Mereka mencoba mendekat dan ingin menghirup aura gelap kesedihan itu. Kehilangan memiliki rasa kesedihan yang teramat dan itu menjadi salah satu santapan lezat bagi makhluk gaib.
Lisa yang tahu banyak makhluk menakutkan pun meminta Oma Ningsih memeluk dan menggendongnya. Santi merasa ada yang tak beres, sepanjang jalan dia berdoa tanpa henti di dalam hati. Meminta Allah melindungi keluarga besarnya yang saat ini masih berduka.
Sesampainya di rumah, Budi menyarankan semua cuci tangan, wajah, dan kaki sebelum masuk ke rumah. Mereka pun menurut dan mencuci di halaman pojok dekat pos tempat sopir berjaga. Setelah itu, Budi memanggil Wahyu untuk bersama-sama memagari rumah.
"Wahyu, kamu lihat ke sekitar, banyak makhluk gaib yang hendak mengganggu Reno yang bersedih. Mari bantu aku memagari rumah ini," bisik Budi pada murid dan juga anak dari wanita yang dia cintai.
"Baik, Pak Ustad, eh, Om Budi." Wahyu pun mefokuskan diri untuk membantu memagari rumah Kak Reno.
__ADS_1