
π KEGAGALAN π
Waktu yang ditetapkan Tuan Asmodeus hanya sampai sebelum purnama. Bima masih bersikeras menggapai hal itu dengan mengancam Hera dan Della. Sayangnya, sekeras apapun usaha kakak beradik mencari perawan selalu gagal karena gadis yang mereka dapatkan sudah tidak suci. Tuan Asmodeus marah besar ketiga kalinya tertipu gadis bukan perawan dan justru memusnahkan perempuan yang disentuhnya.
"Jangan kau beri aku gadis tak perawan lagi! Kalau tidak, kuambil semuanya!" gertak Tuan Asmodeus pada Bima dan segera disampaikan ke Hera dan Della yang gemetar ketakutan.
Mencari perawan yang mau terjun ke lembah kegelapan sangatlah sulit. Tidak semua orang memuja uang dan harta. Ada yang hidupnya pas-pasan tetapi selalu berjuang sebisa mungkin hidup di jalan yang benar.
"Tinggal dua hari waktumu, Bima! Kalau tidak, perjanjian kita BATAL. Lalu kuambil keempat wanita yang sudah kunikmati darah perawannya." ancam Tuan Asmodeus yang kemudian hilang ditelan api neraka, kembali ke singgahsananya.
Hera dan Della sudah tak bisa berbuat apa-apa. Mereka pun pasrah. "Tuan Iblis, kami sudah mencoba ... tetapi waktu yang diberikan sangat singkat. Mana bisa kami penuhi." ucap Hera kepada Bima yang berwujud Iblis.
"Ampuni kami, Tuan Iblis. Kami sungguh sudah berusaha apa pun untuk mencari tumbal perawan ... maaf." sahut Della yang gemetaran.
Bima tak kuasa menahan khawatir dan kekecewaan. Akhirnya dia marah kepada dua manusia itu. "KALIAN TAHU APA YANG AKAN KALIAN DAPATKAN JIKA TAK BISA MEMENUHI SYARAT INI? KALIAN AKAN DIBAWA KE NERAKA DENGAN TUAN BESAR! AKU SUDAH TAK PEDULI DENGAN KALIAN!" teriak Bima yang justru membuat Hera dan Della semakin ketakutan.
Bima langsung menghilang. Pergi meninggalkan dua manusia itu dan membiarkan perjanjian mereka tak berlanjut. Dalam pikiran Bima, terpenting adalah mencari cara lain. "APA KUTUMBALKAN SAJA ADIK JOKO?" batin Bima sambil mengingat gadis itu masih suci.
Bima bergegas ke Jakarta dengan sisa energinya yang ada. Soal Hera dan Della, Bima tak peduli lagi. Dalam pikirannya hanya kurang tiga gadis lagi untuk menyelamatkan Ningsih atau tidak sama sekali.
Sesampainya di tempat Ningsih, Bima sangat terkejut melihat Ningsih sedang bercumbu dengan seorang lelaki. Bima pun mengamuk dan membuat angin kencang yang memporak-poranda seisi kamar Ningsih.
***
Beberapa saat yang lalu ....
Ningsih masih berada di restaurannya karena ada hal tak mengenakan terjadi. Beberapa pelanggan komplain karena restauran Ningsih sering terlihat kotor, padahal tidak. Sepertinya ada yang sengaja bermain hal gaib pada Ningsih.
"Sabar, Ningsih. Semua akan baik-baik saja." kata Aldo menenangkan Ningsih.
"Pelanggan kita berkurang lebih dari 50% padahal belum genap sebulan buka. Kalau begini bisa kacau." ucap Ningsih yang makin bingung menghadapi hal gaib tanpa bantuan Bima.
Saat itu, Joko dan Nindy sedang izin karena Abah sakit dan berada di rumah sakit. Tentunya Ningsih pulang sendiri. Aldo pun mengajak Ningsuh pergi ke bar untuk menenangkan pikiran sejenak.
Malam itu ... Ningsih mabuk parah karena minuman keras yang dia tenggak sangat banyak. Aldo hanya tersenyum. Terlebih, dia sudah membubuhkan obat perangsan dalam tegukan Ningsih yang terakhir sebelum akhirnya Ningsih tak sadarkan diri. Aldo pun memapahnya untuk pulang dengan mobil.
Sepanjang perjalanan, Aldo beberapa kali meraba paha wanita itu dan tak ada respon. Entah karena Ningsih terlalu mabuk, atau justru diam karena menikmati. Pikiran Aldo semakin menjadi.
Sesampainya di gerbang, Aldo dengan santai meminta izin Pak Umar. "Pak, saya hendak antar Bos ke kamarnya. Tadi dia mabuk parah karena ada problem di restauran."
__ADS_1
Pak Umar tak curiga karena Aldo beberapa kali mengantarkan Ningsih. Aldo juga menjadi orang kepercayaan Ningsih di usahanya. Pak Umar pun mengizinkan. Beliau tetap di pos jaga.
Sesampainya di kamar, Ningsih yang sudah dalam pengaruh alkohol dan obat pun tak sadar. Dirinya dilecehkan oleh Aldo. Justru Ningsih sangat semangat menikmati hal itu dalam balutan napsu. Dalam ketidak sadarannya, Ningsih melihat orang yang mencumbunya adalah Bima.
***
Kembali saat Bima memergoki kejadian itu ....
"APA-APAAN INI! BERANINYA MENYENTUH ISTRIKU!" teriak Bima yang tak kuasa menahan amarah.
Seketika, Aldo yang sudah telanjang pun terhempas dan melayang membentur tembok kamar Ningsih. Ningsih yang masih teler tak sadar akan hal itu. Mukanya hanya memerah serta tak bisa membuka mata karena pengaruh alkohol dan obat.
"NINGSIH! MENGAPA KAU BEGITU?" Bima menyentuh Ningsih dan melihat apa yang terjadi sebelumnya.
Bima geram karena istrinya ternyata dilecehkan dan diperdaya oleh Aldo. Bima pun membunuh Aldo dalam sekali tebasan tangan. Darah bercucuran di mana-mana. Kepala Aldo menggelinding ke kolong meja. "INI BALASAN UNTUK ORANG YANG MEMPERDAYA WANITA DEMI NAPSU!" ucap Bima.
Bima segera mengecup bibir Ningsih, menyedot semua pengaruh alkohol dan obat. Seketika Ningsih sadar. Dia membuka mata tanpa teler lagi. "Bi-Bima?" lirihnya tak percaya suami tercinta ada di depan mata.
Namun, Ningsih belum paham mengapa dirinya telanjang. Belum sempat berpikir, Ningsih hampir teriak melihat tubuh Aldo dna kepala yang terputus dengan ceceran darah yang mulai menggenang. Saat hendak teriak, Bima langsung membekap mulut Ningsih.
"DIA MENIKMATIMU. MELECEHKANMU. MEMBERI OBAT PERANGSANG. AKU SENGAJA MEMBUNUH HAMA ITU!" tegas Bima yang mendapat anggukan dari Ningsih.
"Bima, apa yang akan kamu lakukan?" lirih Ningsih yang masih takut melihat mayat anak buahnya di kamar.
"Tunggu di sini. Aku akan urus semuanya," jawab Bima yang mengubah wujud sama seperti Aldo.
Bima pun meraih sebuah koper besar dan memotong tubuh Aldo menjadi beberapa bagian. Dia segera memasukkan potongan tubuh itu ke dalam koper. Setelah itu, Bima menutup koper dan membersihkan semua darah yang ada dengan kemampuannya. Dalam sekejap, semua bersih. Ningsih pun tak percaya hal itu. Bima membawa pergi koper besar seolah-olah dirinya adalah Aldo.
Turun ke lantai satu, Bima melangkahkan kaki tanpa ragu. Keluar rumah dengan koper besar yang dia bawa.
"Maaf, menunggu lama, Pak. Saya mengambil beberapa barang penting untuk dibawa ke restauran." ucap Bima dengan suara datar.
"Iya, Pak Aldo. Selamat malam, hati-hati di jalan," jawab Pak Umar yang kemudian membukakan gerbang.
Bima masuk ke dalam mobil dengan koper besar di bagasi. Lalu berkendara menjauh dari rumah Ningsih. Pak Umar pun menutup kembali gerbang dan beristirahat.
Bima tersenyum, lalu menyeringai. Dia mempunyai ide untuk menghilangkan jejak. Segera Bima berkendara ke daerah dekat jurang. Kemudian, mobil itu diterjunkannga ke jurang. Potongan mayat di dalam koper sudah Bima keluarkan dan diletakkan di kursi pengendara. Mobil jatuh terguling berkali-kali di jurang. Hingga akhirnya terbakar. Bima menambah api untuk membuat semuanya menjadi abu.
"SELESI SUDAH." gumam Bima lalu kembali ke kamar Ningsih.
__ADS_1
Bima sangat khawatir dengan keadaan istrinya. Bisa-bisa psikologis Ningsih terguncang jika hal buruk bertubi-tubi menimpanya. Bima langsung ke kamar Ningsuh dalam wujud aslinya
Ningsih masih gemetar dalam balutan selimut. Saat Bima datang, Ningsih pun tak paham apa yang terjadi sehingga Bima harus menjelaskan semuanya. Ningsih pun mulai menangis. "Bima ... untung kamu datang. Aku sudah memanggilmu berkali-kali. Bahkan saat ada makhluk mengerikan menggangguku. Bima ... jangan pergi lagi." ucap Ningsih dengan tangis yang terurai dan sesenggukan.
Bima mengelus rambut Ningsih dengan lembut. Bahkan keinginannya untuk mencari tumbal perawan pun urung. Bima sadar jika waktu yang berharga tak akan terulang kedua kalinya. Lebih baik menikmati semua bersama daripada berakhir luka dan tak sempat mengatakan sampai jumpa.
"Maaf ... maafkan aku Ningsih. Aku terlalu bodoh untuk memikirkan waktu esok yang entah seperti apa dan justru mengabaikan kemarin maupun saat ini. Maaf ...." jawab Bima yang tetap mendekap tubuh istrinya.
"Aku ingin terus bersamamu. Jangan pergi lagi, kumohon." Ningsih masih menangis karena membayangkan beberapa saat tanpa Bima sungguhlah sunyi.
"Iya ... maafkan aku." Bima pun menatap wajah istrinya. Mengusap lembut wajah Ningsih yang penuh air mata.
Bima pasrah dengan kegagalannya memenuhi syarat Tuan Amodeus. Malam itu, Bima dan Ningsih melepaskan rasa rindu dan tautan hati yang mendalam. Mereka memadu kasih seakan lupa semua kejadian tadi.
***
Tiga hari kemudian ... tepat saat Bulan Purnama ....
Hera dan Della ketakutan saat menghadapi Tuan Asmodeus. "Mana tiga tumbal perawan lainnya?" gertak Tuan Asmodeus kepada kakak beradik yang gemetaran dan tak bisa menjawab.
Mengetahui hak itu tak diwujudkan, Tuan Asmodeus pun mengambil nyawa Hera dan Della serta dua gadis lainnya, lalu pergi. PERJANJIAN BATAL!
Ibu Hera dan Della pun mendadak merasa sakit lagi. Semua harta yang anaknya dapatkan dari pesugihan pun tiba-tiba hangus terbakar. Semua berakhir dengan mengerikan. Ibu Hera dan Della meninggal karena penyakitnya, tanpa siapa pun merawatnya.
Tuan Asmodeus sungguh marah akan Bima. Kecewa jika tugas pertamanya tidak diselesaikan oleh Bima.
Sedangkan Bima ... dia harus memikul kesalahan demi kesalahan yang dia buat. Cepat atau lambat, Tuan Chernobog pasti tahu perbuatan Bima yang mencuranginya dan sempat bersekutu dengan Tuan Asmodeus.
Kegagalan Bima kali ini, menjadi gerbang kehancuran bagi dirinya sendiri dan Ningsih. Kehancuran yang bisa kapan saja menyerangnya. Tanpa disadari, usaha yang Ningsih bangun pun dalam ujung kehancuran karena orang yang iri padanya sangat banyak di kawasan N&B Resto.
Di samping semua itu ... Bima tak sadar jika dirinya sedang diincar oleh Pak Anwar, Budi, PakLek Darjo dan kelima santri. Mereka sedang berdzikir dan meminta petunjuk Allah untuk waktu yang tepat menggempur pertahannan Iblis yang menguasai hidup Ningsih. Apakah Bima bisa menghadapi semua itu? Mungkinkah cinta Bima dan Ningsih bersatu dan menjadi abadi?
Bersambung ....
***
PENGUMUMAN >_<
Hai, readers yang sangat kurindukan. Terima kasih sebelumnya selalu mendukung dan menyemangati Author dalam menulis kisah JERAT IBLIS. Semoga kalian semua selalu sehat dan diberi kemudahan dalam hal baik apa pun. Harap sabar, ya. Sudah masuk 20 bab terakhir menuju ending season satu. Semoga kalian suka^^
__ADS_1