
Sudah seminggu berlalu dari kejadian kecelakaan yang aneh menurut Wahyu. Lelaki itu berdoa dan meminta petunjuk Allah apa yang harus dia lakukan. Karena selama tujuh hari ini, dia merasa bersalah atas meninggalnya Pak Gunawan.
"Argh ... kalau begini terus, aku justru menyiksa hati dan pikiranku. Baiklah, aku akan ke rumah Gladys. Aku harus menghiburnya. Ya, aku tak mungkin diam saja padahal mereka dalam kesedihan," lirih Wahyu yang mengambil keputusan terbaik baginya.
Sore itu, setelah selesai bekerja, Wahyu langsung menyetir mobil dan segera menuju rumah Gladys. Meski perasaannya bergejolak dan berlawanan, tetap saja Wahyu memikirkan nasib Gladys dan ibunya. Dia sudah mencari info soal Pak Gunawan dan ternyata hanya Pak Gunawan yang mengurus semua perusahaan. Wahyu memikirkan pasti Gladys dan ibunya bingung dengan kondisi seperti ini.
Sesampainya di alamat rumah yang tertera di google, Wahyu pun memarkirkan mobilnya dan membuka pintu. Dia keluar dari mobil perlahan dan menghela napas untuk meyakinkan diri ini yang terbaik untuknya dan mereka. Lelaki itu menekan bel dan beberapa saat kemudian asisten rumah tangga pun keluar menemuinya.
"Selamat sore, Gladys ada, Bi?" tanya Wahyu dengan sopan.
"Oh, ada, Den. Silakan masuk. Namanya siapa, Den?" Bibi membukakan gerbang karena pak satpam sedang ke kamar mandi.
"Namaku Wahyu, Bi." Wahyu pun masuk ke mobil lagi dan melaju ke dalam gerbang yang sudah dibuka. Dia memarkirkan mobil di halaman rumah Gladys yang luas.
Bibi segera masuk ke rumah memberi tahu Gladys kalau Wahyu berada di depan rumah. Gladys terkejut dan tak percaya dengan apa yang dia dengar. Rasanya gemetar dan salah tingkah. Apakah itu Wahyu yang dia cintai?
Gladys langsung berganti pakaian dan makeup tipis natural, sebelum akhirnya ke ruang tamu menemui Wahyu yang duduk di sana. "Sore ..." sapa Gladys yang sebenarnya gugup.
"Sore Gladys ... maaf aku ke sini sekarang. Kamu apa kabar?" tanya Wahyu memulai percakapan.
"Iya, nggak apa. Terima kasih sudah ke sini. Kabarku seperti ini. Bagaimana kamu?" Gladys merasa canggung berbincang dengan lelaki yang dia sukai.
"Aku turut berbelasungkawa atas meninggalnya Ayahmu. Bagaimana kondisi ibumu?" Wahyu mencoba membuka pembicaraan.
"Kondisi Mama? Emmm ... sebenarnya Mamaku sakit sudah lima hari ini. Tadi malam acara tujuh hari Papaku dan aku sedih karena Mamaku sakit, belum sembuh. Oh iya, kamu tahu rumahku dari mana?" Gladys sebenarnya bingung kenapa Wahyu bisa sampai di rumahnya.
"Sudah dibawa berobat belum? Ayo kita ke rumah sakit saja. Di mana Mama kamu sekarang?" selidik Wahyu yang merasa curiga dengan kondisi Gladys dan ibunya.
"Wahyu ... hiks hiks hiks ... aku tak tahu mau cerita ke siapa. Para bibi di sini sudah aku larang cerita ke orang lain. Mamaku ... Mamaku sakit aneh yang tak diketahui penyebabnya oleh dokter. Mamaku tiba-tiba lemas tubuhnya dan tidak bisa berkata-kata lagi. Seperti orang stroke tetapi dokter mengatakan bukan penyakit stroke. Entahlah, Wahyu. Aku begitu menyedihkan mengalami semua ini. Papa tiba-tiba kecelakaan dan meninggal, sekarang Mama sakit. Aku tak tahu lagi harus bagaimana, terlebih perusahaan Papa juga aku tak bisa mengelola," jelas Gladys yang langsung menangis dan menutupi wajahnya dengan kedua tangan dengan tertunduk.
Wahyu langsung jatuh iba. Dia mendekati Gladys dan berjongkok di hadapan gadis yang sedang menangis itu. Wahyu dengan penuh kasih sayang mengusap rambut Gladys dan berkata, "Tenang dulu. Tenang. Aku boleh lihat kondisi Mamamu? Siapa tahu aku bisa membantu. Jangan takut. Kamu tidak sendirian. Aku akan membantu sebisaku."
Perkataan dari Wahyu bagai air yang menyiram tanaman yang tandus dan hampir layu. Pengharapan kembali muncul di benak Gladys. Setidaknya ada orang yang peduli padanya.
__ADS_1
"Iya, Wahyu. Mamaku di kamar," ucap Gladys sambil mengusap air matanya. Dia melihat ke wajah Wahyu yang terlihat tulus ingin membantu. Gladys langsung berdiri dan mengajak Wahyu ke kamar ibunya.
Wahyu mengikuti Gladys. Perasaannya tak enak akan sesuatu yang sepertinya terjadi pada pada keluarga Gladys. Benar saja saat Wahyu masuk ke kamar ibu Gladys. Wanita bernama Lina itu terbujur lemas tak berdaya di atas ranjang dan ... beberapa makhluk gaib menarik tubuhnya. Wahyu terkejut melihat itu.
"Gla-Gladys ... sepertinya Mama kamu bukan sakit karena hal medis. Kita bicara di luar saja," ujar Wahyu yang tak kuasa melihat hal itu. Pasti tubuh Lina sakit sekali karena ditarik oleh banyak makhluk gaib.
"Kenapa, Wahyu? Ada apa?" tanya Gladys yang curiga.
Setelah di ruang tamu, Wahyu pun menjelaskan. "Gladys ... Mama kamu sedang mengalami sakit karena gaib. Begini, aku sulit menjelaskan kepadamu. Tapi aku bisa membantu ruqyah agar Mama kamu setidaknya tidak ditarik beberapa makhluk gaib sekaligus."
"A-apa maksudmu, Wahyu? Aku tak paham."
Wahyu pun menjelaskan secara singkat apa yang terjadi. Setelah itu, dia pun menatap ke Gladys dan meyakinkan semua akan baik-baik saja. Andai kata memang ibu Gladys harus berpulang, setidaknya dengan ruqyah akan membuat beliau terbebas dari belenggu makhluk gaib yang menarik tubuhnya ke sana dan ke mari.
Wahyu memutuskan menelepon Om Budi untuk membantu. Ruqyah tidaklah mudah. Apalagi Wahyu sudah lama tidak melakukannya. Bantuan dari Budi sangat berarti untuk membantu ibu Gladys. Budi menerima telepon dari Wahyu dan bersedia membantu. Besok mereka akan melakukan ruqyah pada ibu Gladys.
...****************...
Keesokan harinya ....
Sesampainya di rumah Gladys, Wahyu menyambut kedatangan Budi. Dia pun menceritakan segala yang terjadi. Sebelumnya, Gladys tidak tahu soal pesugihan atau apa pun itu. Namun setelah Wahyu menerawang dan melihat semuanya, dia terpaksa menceritakan ke Gladys. Kemungkinan, kekayaan dari hasil pesugihan ayahnya pun akan lenyap. Wahyu seketika ingat saat dahulu bersama ibunya yang menghilang cukup lama. Ya, saat Wahyu harus masuk ke pesantren demi diselamatkan nyawanya dari ancaman pesugihan yang sudah ibunya lakukan.
"... jadi begitu, Om. Tolong bantu Mamanya Gladys, ya?" terang Wahyu setelah menceritakan semuanya.
"Baiklah. Kita mulai saja ruqyah nya. Kamu sudah paham seperti biasa, kan?" tanya Budi memastikan Wahyu tak lupa.
"Iya, Om Budi. Tenang saja. Gladys ... kamu di ruang tamu aja, ya. Kami akan bantu Mama kamu."
"Iya, Wahyu. Terima kasih sekali lagi Wahyu dan Om Budi," kata Gladys yang tak henti-hentinya bersyukur.
Wahyu dan Budi pun masuk ke kamar Lina. Wanita itu terbujur lemas tak berdaya di atas ranjang. Ruqyah pun dimulai. Para asisten rumah tangga berkumpul di ruang tamu menemani Gladys.
Cukup lama Budi dan Wahyu melakukan ruqyah. Satu per satu makhluk itu hengkang dari tubuh Lina. Mereka adalah makhluk yang selama ini membantu pesugihan Pak Gunawan. Budi dan Wahyu susah payah mengusir makhluk itu dan membiarkan mereka mengambil harta kekayaan Pak Gunawan daripada mengambil keluarganya.
__ADS_1
"Grrrr ... kalian mengganggu saja!" Makhluk itu mengeram.
"Pergi kalian! Ambil kembali saja uang haram itu. Jangan ganggu keluarga ini lagi!" gertak Budi pada makhluk itu.
Setelah proses panjang, akhirnya semua makhluk itu pergi. Bersamaan kabar berita kalau perusahaan Pak Gunawan bangkrut karena saham turun anjlok. Gladys yang menunggu di ruang tamu menerima telepon dari banyak pihak soal ganti rugi investasi, saham melorot, perusahaan bangkrut, dan beberapa aset harus ditarik. Syok dan bingung, itulah yang Gladys rasakan. Namun memang semua yang didapat hasil pesugihan pasti akan hilang dengan mudah.
"Terima kasih, kalian ... sudah membantu. Tolong aku titip putriku. Lindungi dan sayangi dia. Aku ... aku sudah tak kuat lagi," lirih Lina yang tubuhnya seakan terkoyak.
Wahyu langsung memanggil Gladys untuk ke kamar ibunya. Keadaan menjadi makin panik.
"Mama! Ada apa Mama? Mama tolong bertahan dan jangan tinggalkan aku," ujar Gladys sambil menangis memegang tangan ibunya.
"Gladys ... kamu gadis yang baik. Wahyu ... kamu pemuda yang baik. Tolong ... jagalah Gladys. Dia sudah tak punya siapa-siapa lagi .... aak ...." Lina pun berpulang ke Rahmatullah.
"Mama! Tidak! Mama jangan tinggalkan aku ... jangan pergi!" Gladys memeluk erat tubuh ibunya yang sudah meninggal.
Keadaan menjadi tak karuan. Gladys kehilangan keluarganya satu-satunya. Wahyu pun coba menenangkannya. "Sudah, ikhlaskan Mamamu, Gladys. Jangan menangis lagi."
Wahyu menyadari kalau apa yang dikatakan ibu Gladys itu adalah pesan terakhir. Amanah terakhir yang sebenarnya berat untuk dijalankan, tetapi Gladys memang sudah tak memiliki siapa-siapa lagi. Apalagi soal pesugihan, sebentar lagi semua kekayaan itu bisa hilang sekejap.
Hari itu, mereka memakamkan ibu Gladys setelah memanggil para warga dan dokter. Dokter mendiagnosa kematian ibu Gladys karena sesak napas. Setelah itu, pemakaman pun berlangsung cepat dan haru. Gladys beberapa kali pingsan. Apalagi ada kabar buruk soal semua usaha dan perusahaan Pak Gunawan.
Kenikmatan, kemudahan, kesusksesan, kejayaan, kekayaan, dan rasa bahagia yang didapat dari pesugihan ... semua hanya semu. Sekejap bisa hilang, tanpa ampun, tanpa sisa, tanpa menunggu waktu. Semua hak semu itu diambil dan dicabut begitu saja. Semua yang tersisa hanyalah luka, sedih, dan penyesalan. Keluarga yang tak tahu apa-apa pun ikut kena imbasnya. Begitulah pesugihan, bersekutu dengan iblis.
Gladys terpukul dengan kepergian ibunya. Bagi dia, semua itu diuar nalar dan logika. Dia tak tahu mengapa hal itu bisa terjadi.
"Gladys ..."
"Ya, Wahyu?"
"Gladys, aku mau ajak kamu tinggal di rumahku. Tidak aman di sini sendiri. Biar asistenmu semua ikut bekerja di rumahku atau rumah adikku. Aku akan bilang ke Mamaku," kata Wahyu dengan mantap. Jika Gladys ditinggal, bisa jadi akan mengalami kejadian buruk.
"A-apa? Wahyu ... kamu serius?" Gladys tak menyangka kesedihan yang menimpanya justru membawa kebahagiaan bagi dirinya.
__ADS_1
"Wahyu, kita tunggu sampai tujuh hari. Baru ajak Gladys pindah. Soal pindah ke mana, nanti Om akan bantu pikirkan. Tak baik kalau kalian belum menikah dan tinggal satu atap," ujar Budi menengahi maksud baik Wahyu.
..."Menikah??? Apa mungkin itu terjadi?" batin Gladys bahagia....