JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
BAB 116


__ADS_3

πŸ€ SENJA DAN CINTA πŸ€


Matahari mulai turun dari singgah sana tertingginya. Semburat berwarna oranye dan merah berpadu menghiasi langit yang tadinya berwarna biru. Senja. Begitulah keindahan alam yang terjadi sebelum kegelapan malam datang.


Senja, selalu datang dan membawa keindahan tersendiri. Meski hanya sesaat ... tapi fenomena senja selalu dinanti banyak orang. Termasuk Ningsih yang termangu di teras rumah. Menghela napas dan membayangkan suaminya berada di sisinya saat ini. Tentu saja seharian ini Ningsih memikirkan Bima. Begitu juga Bima memikirkan Ningsih dari luar pembatas pagar gaib rumah istrinya.


Bima: [Kau memikirkanku? Hingga menikmati senja di teras sendirian.]


pesan diterima


Ningsih membuka handphone. Bima mengirim pesan singkat dengan kekuatannya. Meski dia tak mengubah wujud ke bentuk manusia, hal itu bukan hal yang sulit untuk dilakukannya. Ningsih tersenyum. Segera membalas pesan itu.


Ningsih: [Sejak kapan kamu di sana? Aku merasa di luar rumah, ada separuh hatiku yang menanti.]


Bima: [Sejak tadi. Bahkan cukup lama untuk melihat aktifitas kekasihku seharian.]


Ningsih: [Kenapa tak masuk?]


Bima: [Pagarnya masih kuat. Membuang energi jika menembusnya ....]


DEG! Bima teringat sesuatu. Bukankah sedari awal pagar gaib ini pun diketahui Kunti? Tentu saja dia tak bisa menembusnya dan mengganggu Ningsih serta keluarganya.


"SIAL! KALISTYA SEJAK AWAL MENIPUKU AGAR MEMBANTUNYA! MENGAPA BISA AKU TERTIPU SETAN SELEVEL DIA! HA HA HA HA ...." Bima justru tertawa. Terlebih ingat tentang orang yang membunuh Kalistya justru hidup dalam ketersiksaan.


Ningsih: [Bima, bagaimana kalau nanti kita pergi? Berdua saja.]


Bima: [Kangen aku?]


Ningsih: [Nggak. Hanya memastikan kamu tidak sibuk bersama yang lain.]


Bima tersenyum melihat tingkah istrinya yang cemburu. Bukankah manusia selalu berkata cemburu tanda cinta? Berarti Ningsih sangat mencintai Bima. Terlebih saat dia marah tak jelas ketika tahu Bima mengambil pengikut lainnya.


Bima: [Siap Tuan Puteri. Aku akan menjemput dengan penampilan tertampanku. Kamh siap-siap dan bawa mobil ke depan rumah, ya.]


Bima pun bergegas mengubah wujudnya. Tak ingin berlama-lama untuk segera bertemu pujaan hatinya. Sedangkan Ningsih segera masuk ke rumah untuk berganti pakaian.



Bima di tengah senja. Menikmati atmosfer yang berbeda. Perpaduan keindahan alam sebelum malam menjelang. Bukankah dunia begitu indah? Bahkan untuk makhluk seperti Bima.


"Tante, mau pergi ke mana?" tanya Santi kepada Ningsih yang baru saja keluar dari kamarnya, sudah berganti pakaian dan membawa tas selempang kecil.

__ADS_1


"Oh, mau keluar sebentar sama Om Bima. Santi dan Reno mau pergi nggak? Tante titip Wahyu ya?" jawab Ningsih sambil membenarkan sepatunya.


"Iya, Tante. Paling nanti kita keluar beli makan saja." ucap Santi singkat.


"Oke kalau gitu. Ini kartu kredit Tante. Pakai aja. Mau pergi sendiri atau diantar Joko?"


"Ada Reno kok, Tante. Biar Bang Joko pulang istirahat saja."


Ningsih pun mengangguk. Saat keluar rumah, dia pun sekalian mempersilahkan Joko pulang. Sebagai sopir pribadi tentunya Joko menunggu izin Bosnya untuk sekedar pulang atau tetap tinggal.


Ningsih membawa mobilnya dan keluar gerbang bersamaan Joko pergi dengan motor maticnya. Budi kembali menutup gerbang setelah Ningsih melaju pergi.


Bima sudah menanti Ningsih di seberang jalan. Entah mengapa jantung Ningsih berdegub kencang. Melihat lelaki yang dicintainya melangkah perlahan menghampiri Ningsih yang berada di dalam mobil.


"Mau ke mana Tuan Puteri cantik?" sapa Bima pada Ningsih yang membuka kaca mobilnya.


"Udah mulai belajar ngegombal ya?" ucap Ningsih sambil tertawa kecil.


"Oh, itu termasuk gombal? Biar aku yang menyetir, sayang."


Bima pun masuk ke kursi menyetir sedangkan Ningsih bergeser di sampingnya. Mereka pun pergi dengan berbincang-bincang banyak hal. Seharian ini apa saja yang Ningsih lakukan. Lalu Bina bergantian menceritakan apa yang dia lakukan. Ningsih pun tertarik menyimak cerita Bima tentang kejadian tadi mengantarkan Kalistya.


"Iya sudah kembali ke jalan menuju puncak. Entah tenang atau justru sedih melihat orang yang dahulu dia cintai dan yang membuatnya meninggal justru tertimpa karma saat ini," kata Bima sambil menatap jalanan yang ramai.


"Kasihan, ya. Pasti sebelumnya dia merasa ingin membunuh lelaki itu. Namun menjadi iba dan kasihan melihat hidup yang berbalik menyerang lelaki tersebut."


"Mungkin. Terkadang manusia itu aneh. Makhluk sepertiku atau seperti lainnya, tidak perlu membuat manusia jahat karena pada dasarnya mereka sudah seperti itu. Bahkan tak takut dengan kekuatan karma, manusia bertingkah semau mereka. Lihat maghrib seperti ini, perpindahan waktu dari senja yang indah menuju malam gelap, mengapa manusia masih sibuk sendiri tanpa memberi cela sejenak untuk makhluk lain menikmati waktu?" Bima menatap ke depan. Banyak mobil dan motor berhenti. Ternyata ada kecelakaan Bus pariwisata menabrak mobil.


"Hmm ... entah. Termasuk aku, bukan? Jika aku tak aneh, tak mungkin bertemu denganmu," lirih Ningsih sambil bergelanyut di tangan Bima. Bima menoleh ke arah Ningsih dan tersenyum. Cinta dua dunia yang berbeda. Sungguh manis dirasa. Namun, akankah semua menuju ke kata bahagia dan abadi?


"Ningsih, maukah kamu melihat yang terjadi di depan itu? Melalui mataku?" tanya Bima kepada istrinya. Ingin menunjukkan sisi lain dari kecelakaan di waktu maghrib.


"Boleh. Siapa takut!" Ningsih tertantang dengan perkataan suaminya. Bima pun menyuruh Ningsih memejamkan mata. Lalu tangan Bima menutup mata Ningsih dan mengucapkan beberapa kalimat yang tak diketahui artinya.


"Buka mata. Jangan takut, ya?" Bima tersenyum.


Ningsih menatap hal yang ada di depannya. Kecelakaan bus dan mobil itu beserta sesuatu yang ada di sana. Pasar! Ningsih bisa melihat dua dunia bersamaan. Ternyata di jalan itu ada sebuah pasar gaib yang muncul seusai senja padam atau yang disebut maghrib. Perpindahan sore ke malam itu termasuk waktu keluarnya makhluk gaib.


Pasar gaib itu berantakan karena kecelakaan di dunia nyata menabrak dimensi mereka. Korban makhluk gaib pun ada. Manusia yang tewas pun ada. Ternyata dua dimensi yang berbeda sama-sama dirugikan karena kejadian kecelakaan di dunia manusia ini.


"Kamu tahu kenapa ini terjadi?" tanya Bima setelah Ningsih mengamati kecelakaan itu bersamaan mobil Bima yang boleh melaju lagi dengan lalu lintas yang diatur warga setempat.

__ADS_1


"Kenapa Bima? Mengapa dua dunia terkena dampaknya?"


"Gesekan dunia gaib dan dunia manusia sangat besar diperpindahan senja menuju malam. Banyak orang dahulu berkata 'jangan keluar rumah ketika maghrib' itu semua ada landasannya. Terkadang kita tak mengindahkan dan membuat rugi dua dunia yang berbeda. Kecelakaan itu semata bentuk gesekan secara nyata," jelas Bima diiringi Ningsih yang manggut-manggut seakan paham.


"Bima ...."


"Ya, sayang?"


"Bisa tutup mata batinku lagi? Lama-lama kok serem ya wujudnya," bisik Ningsih sambil tersenyum dengan gigi rapi terlihat menggemaskan.


"Ha ha ha ha ... baiklah."


Bima pun menutup mata Ningsih dengan tangannya kembali. Membuat penglihatan Ningsih kembali normal. Melihat dimensi yang berbeda bukanlah hal yang mudah. Bahkan ada yang tak kuat dan menjadi gila.


Bima pun mengajak Ningsih ke Sky Lounge, makan malam romantis di atas hotel berbintang lima di pusat Kota Jakarta. Sungguh indah bagi sepasang kekasih yang semakin lama semakin erat mencinta.


***


Di sisi lain ... rumah Ningsih ....


"Mas Budi, bagaimana soal percakapan kita tempo lalu? Bapaknya Mas mau membantu Wahyu?" tanya Santi setelah memastikan Tantenya pergi jauh.


"Sudah, Non. Insyaallah Bapak dan saya pasti membantu. Namun, pertama-tama harus membawa Wahyu pergi dari sini. Semakin jauh dari Bu Ningsih, semakin baik. Karena tak mudah membersihkan yang sudah terbalut perjanjian iblis meski hanya keluarganya saja. Sepertinya Mak Sri pun juga harus dibawa pergi jika proses akan dilaksanakan," jelas Budi sambil menerawang jauh ke langit malam.


"Kalau soal itu, biar Santi mencari alasan dahulu. Mas Budi, bisakah membantu menyelamatkan Tante Ningsih juga? Kumohon."


"Insyaallah, Non Santi. Saya dan Bapak hanya perantara pertolongan Allah. Semoga semua bisa tertolong," jawab Budi yang sedikit meragu soal Ningsih.


Semakin lama, hawa kehidupan Ningsih semakin berkurang. Aura kehidupan dari tubuh Ningsih semakin memudar. Itu yang Budi lihat dan amati. Tumbal suami ketujuh akan menghantarkan Ningsih ke akhir perjanjian gaibnya dan membawanya pula ke dalam api neraka. Hal ini yang hendak Budi, Bapaknya, serta Santi cegah. Meski tak mudah, mereka akan berusaha yang terbaik.


Sedangkan soal Wahyu, anak itu masih lugu dan polos. Kemungkinan selamat lebih tinggi jika dijauhkan dari segala sesuatu yang berhubungan dengan Ningsih secepatnya. Jika perjanjian gaib Ningsib usai, tak hanya Ningsih yang dalam bahaya. Pun juga semua orang di sekelilingnya akan menerima getah. Pegawai maupun anaknya akan ikut terkena dampaknya secara langsung maupun tak langsung.


Bukan hanya kematian. Dampak itu bisa beewujud sakit parah, kecelakaan, maupun hal mendadak lainnya. Budi sudah tahu hal ini sejak lama. Maka dari itu sedikit demi sedikit Budi mencoba mencegah dan menangkalnya. Walau dia tahu kekuatan Budi tak sebanding dengan Iblis itu. Hanya saja Bapaknya selalu membantu dari pesantren.


"Terima kasih, Mas Budi. Aku sangat berharap Tante Ningsih bisa terbebas dan hidup normal. Aku takut jika Tante Ningsih bernasib sama dengan mendiang Ibuku. Meski mereka bukan saudara kandung, hanya sekedar sahabat. Namun sungguh, Tante Ningsih sudah seperti keluarga bagiku dan Reno." Santi pun tertunduk. Lagi-lagi hatinya selalu pilu mengenang Ratih. Rasa menyesakkan datang ketika mengingat kepergian ibunya yang tak wajar.


"Iya, Non Santi. Semoga semua bisa selesai dengan baik. Semua selamat." kata Budi sambil tersenyum.


Malam itu, Reno dan Santi mengajak Budi, Wahyu, dan Mak Sri untuk makan malam di luar dengan mobil milik Tante Ningsih. Mereka sudah seperti halnya keluarga. Santi berharap Bang Joko bisa ikut. Namun Joko menolak dengan halus karena sudah sampai di rumahnya dan ingin beristirahat. Dalam hati Santi, dia masih berharap Joko bisa sehangat dulu sebelum kecelakaan di Yogyakarta. Meski hanya harap, yang tak sesuai dengan kenyataan.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2